1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Maintenance Forum Indowebster: Jumat, 18 November 2016. Informasi mengenai maintenance ini baca di sini
    Dismiss Notice
  3. Dismiss Notice
  4. Halo IDWS Mania, forum Indowebster kedatangan Community Administrator yang baru, info lebih lanjut bisa di lihat di sini
  5. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  6. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  7. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice
  8. Ingin menjadi bagian dari Zona Music IDWS, Mari bergabung menjadi Moderator Zona Music (Indonesia, Asia, & West) Open Recruitment Moderator : Zona Music (Indonesia & West)
    Dismiss Notice

OriFic Spirit Conductor

Discussion in 'Fiction' started by NodiX, Nov 11, 2016.

  1. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,967
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,939 / -1
    si jhuro yashura cukup menarik karakternya. bikin mayan penasaran gima kelanjutan ceritanya dia.

    komen bt chapter2 xebelumnya ini kayaknya fokus nya ngelebar ke tempat2 lain selain shira padahal dia mcnya :???: mungkin bt kedepan bisa coba dikupas gimana dia fokus training sampe dia duel :bloon:
     
    • Like Like x 1
  2. Ghattotkacha Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.




    Promotional Content

  3. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    ini masih fokus si shira kok sebenernya, buat si jhuro ini rencananya saya tulis 1 chapter, tapi saya pisah jadi 2 ato 3 chapter
    alesan saya banting karakter yang di fokus buat siapin event pas diduelnya

    klo soal training shira, sebenernya saya gk terlalu pengen banyak-banyak, soalnya jobnya dia bukan warrior
    mungkin polishing setengah chapter buat level up, setelah itu siap ngeduel terus habis itu baru ceritanya yang beneran jalan

    seharusnya malem ini saya update sesuai jadwal, tapi daritadi siang di sininya mati lampu jadi saya tidur sampai malem tapi masih mati lampu juga sampe jam delapan tdi :aaaa:
     
    • Setuju Setuju x 1
  4. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    PERHATIAN:
    Chapter 2, karena kepanjangan, saya pecah menjadi 3 chapter yang punya judul sendiri-sendiri. Jadi untuk chapter 3 ke depan bakal naik urutannya.

    Untuk sekarang ini, list chapter Spirit Conductor sebagai berikut:
    Chapter 1 - Seorang Pemuda dari Desa Badril
    Chapter 2 - Harapan
    Chapter 3 - Harga Diri Keluarga Yashura
    Chapter 4 - Kelas Terunik Generasi Ini
    Chapter 5 - Gunung, Laut, dan Langit Menunggu
    Chapter 6 - Calon Murid Ketiga
    Chapter 7 - Mama Ross
    Chapter 8 - Panggil Abang Arwah Baik Hati
    Chapter 9 - Tembok Itu Bernama Jhuro Yashura
    Chapter 10 - Amukan Hewan Buas yang Terperangkap

    Untuk lebih lengkapnya bisa dilihat di blog saya
    http://gilegati.blogspot.com/p/spirit-conductor.html

    Nanti kalau ada kuota saya rapiin trit ini, tapi sekarang fup habis buka forum jadi berat :sigh:
     
  5. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0

    CHAPTER 10 – AMUKAN HEWAN BUAS YANG TERPERANGKAP

    “Hehe, katanya lagi sebentar tuan muda kita bakal duel sama anak cacat dari Yashura itu.”

    Kata salah seorang petarung Blackwood yang tengah mabuk di markas besar itu.

    “Hmph! Kalau aja Kepala Keluarga Malikh itu gak keras kepala, gak mungkin tuan muda bakal repot-repot datang ke desa kecil untuk berduel. Bikin repot Keluarga Blackwood aja. Mau diliat dari mana pun hasil duelnya sudah jelas dari awal.”

    “Bah! Denger nama Yashura aja rasanya seperti ketusuk duri yang nyangkut ke daging, ah!”

    Orang-orang mabuk itu hanya bisa komplain karena kebanyakan dari mereka tak bisa tenang menjalankan misi, bahkan fasilitas yang mereka dapatkan berkurang karena Keluarga Blackwood mengeluarkan banyak dana untuk membeli pengaruh total di regu para petarung ini.

    “Gara-gara masalah sepele seperti itu, Tuan Alex gak bisa ikut misi kali ini. Kalau saja dia ada di sini, gak bakalan pusing kita sekarang.”

    “Iya, iya. Kalau saja Tuan Alex di sini, Jhuro pasti langsung modar tanpa tau alasannya mati kenapa. Hmph! Walaupun dia itu kelas unik, dihadapan Knight level 52 seperti Tuan Alex sampah seperti dia cuma bisa menyingkir!”

    “Gak perlu Tuan Alex bertindak, mati lah si Jhuro itu sekarang! Sumur dan suplai makanan sekarang sudah kita kuasai. Berani kabur dia sekarang? Di tengah padang pasir begini? Yang ada mati kelaparan dia!”

    “Cih! Orang kampung yang namanya Jhuro itu beraninya sombong pas di dalem wilayah sekolah Hatim Malakas doank! Sekarang pas di luar begini, dia sudah terperangkap, mau bilang apa lagi dia sekarang. Haha!”

    Pria tiga puluhan yang mengatakan demikian tertawa, dan beberapa yang lain ikut tertawa karena sudah pada mabuk. Namun tawa mereka langsung berhenti ketika sebuah sosok gempal dengan tinggi dua meter lebih masuk ke dalam tenda.

    “Kalian terlalu meremehkan Jhuro Yashura. Walaupun yang di atas sepuluh level dari dia pun, hanya orang bodoh yang berani berhadapan dengannya tanpa membawa ramuan anti-racun tingkat tinggi.”

    Mendengar pria gempal itu berbicara, yang lain hanya mengangguk sambil tersenyum pahit. Walau nadanya terdengar santai, namun tak ada dari mereka yang berani berdebat dengan pria gempal ini.

    Ia adalah Hale Blackwood. Seorang petarung kelas Berserker berlevel 49.

    Berperawakan seperti dari suku barbar, terutama dengan bekas luka sayatan di tubuh dan wajahnya, Hale jauh berbeda dari penampilan orang-orang Blackwood yang memberikan impresi kebangsawanan. Konon katanya, sewaktu kecil Hale dipungut dari daerah yang dikuasai Clan Fireaxe Giant untuk dijadikan budak. Siapa yang menyangka Hale muda memiliki talenta yang bagus serta bakat dan insting yang baik dalam bertarung. Karena itu, Tuan Besar Blackwood generasi sebelumnya memberikan banyak ramuan dan ‘Scroll of Strength’ untuk mengembangkan potensinya. Tak lama kemudian, ia menjadi salah satu tombak terbaik di generasi muda Blackwood dan langsung memiliki pengaruh yang kuat di pemuda Blackwood. Tapi sayang, temperamennya yang liar dan candunya akan pertarungan membuat ia tak begitu populer di antara para bangsawan Blackwood. Karena itu, ia selalu berada selangkah di belakang Alex Blackwood, namun sampai sekarang ia sama sekali tak tertarik untuk memperkuat reputasinya.

    “Tuan Hale, tenda kita di bagian timur diserang kabut hijau tebal.”

    Lapor seorang pemuda dua puluhan tergesa-gesa masuk ke dalam markas besar.

    “Hm? Serangan monster? Atau ada yang bikin ulah?”

    “Lapor, Tuan Hale. Kami mengira kabut itu beracun, jadi kami gak tau pasti. Selain itu, empat orang kita menghilang semenjak dua jam yang lalu.”

    “Jhuro Yashura?”

    Mata Hale langsung berkilat ketika pemuda itu melaporkan kabut beracun.

    “Saya gak berani memastikan itu Jhuro, Tuan Hale. Kalau memang Jhuro menyerang, mungkin semua orang yang di tenda sudah mati sekarang.”

    Hale Blackwood mengerti maksud pemuda itu. Tenda bagian timur adalah tenda yang disediakan untuk generasi muda Blackwood yang ikut mencari pengalaman. Dalam ekspedisi misi ini, banyak anggota regu membawa murid atau pemuda bimbingan mereka mencicipi dunia luar. Sekolah seperti Hatim Malakas dan Samolhy Estangerd biasanya melakukan hal seperti ini tapi kali ini hanya satu atau dua sepuh yang membawa murid pribadi mereka.

    “Di mana tenda itu, tunjukannya jalannya,” tubuh raksasa Hale bangkit ketika ia baru saja duduk datang ke tenda markas besar itu. Kemudian ia melihat ke arah orang-orang yang sudah mabuk di tenda itu. “Apa ada Specialist di sini?”

    Mendengar pertanyaan tegas Hale, orang-orang mabuk itu tak berani menunda waktu pria gempal itu. Salah seorang langsung melompat ke pojok tenda dan menendang tubuh seorang pria berkacamata yang sudah setengah pingsan di lantai.

    “Hah? Hah? Ada apa? Ada apa?”

    “Kamu Specialist? Ikut aku cepat!”

    Melihat Hale Blackwood memerintah, pria berkacamata itu langsung melompat seperti ia sedang sehat. Jalannya sempoyongan dan matanya sudah berat, namun sama sekali tak berani ketinggalan Hale yang sedang melangkah terburu-buru.

    Lima belas menit kemudian, mereka tiba di sebuah tenda berukuran sedang yang bisa menampung belasan orang. Tenda itu sudah dipenuhi kabut hijau yang mengambang di udara.

    “Cepat periksa kekuatan racun itu!” seru Hale kepada si kacamata.

    Specialist itu langsung mengenakan cincin yang ia simpan di sakunya. Kemudian dari cincin itu muncul cahaya kuning sebesar bola tenis. Ia melempar bola cahaya itu ke dalam kabut beracun.

    Sedetik kemudian, layar bercahaya muncul di hadapannya. Ia membaca informasi yang tertulis di situ.

    “Kabut ini berasal dari magic item buatan Alchemist berlevel rendah tapi memiliki pengetahuan tentang racun yang sangat intensif. Bisa dilihat dari mana yang disisipkan sangat tipis tapi racikannya sangat rumit. Efeknya gak terlalu merusak fisik, tapi kalau terhirup bisa membuat emosi menjadi gak stabil. Jika digunakan dalam jangka luas menurutku item magic ini bisa membuat kondisi menjadi anarkis dan kacau.”

    Hale mengangguk mendengar laporan Specialist tersebut. Dalam pikirannya, hanya satu orang yang memiliki pengetahuan tentang racikan racun yang rumit namun memiliki talenta alkemis di bawah rata-rata. Kenyataannya, orang itu bukanlah seorang Alchemist, melainkan petarung biasa yang hobi membuat racun. Orang biasa pun bisa meracik ramuan dan mempelajari seni alkemi, namun tak mampu menyisipkan mana untuk membuat magic item atau ramuan tingkat tinggi. Karena itu sistem Specialist mengenalinya sebagai Alchemist berlevel rendah.

    “Ini item dibuat oleh Jhuro Yashura. Tapi kalau ditanya siapa yang melepaskannya di tenda kita, aku yakin bukan dia orangnya,” ujar Hale dengan ekspresi serius. Ia melihat ke arah Specialist itu dan berkata, “Apa kamu bisa melenyapkan kabut ini?”

    Pria berkacamata itu mengangguk. “Beri aku waktu setengah jam.”

    Dengan begitu Hale Blackwood langsung melangkahkan kaki dari situ.

    Sepanjang ia berjalan, wajah Hale yang penuh dengan bekas luka nampak serius menimbang sesuatu. Sorotan matanya tajam mengarah ke udara kosong, alisnya mengerut saling bertemu satu sama lain.

    Tanpa ia sadari ia sampai ke markas besar tadi.

    Melihat tenda besar di depannya, ia terdiam. Ia melihat ke arah tanah berpasir di depan tenda itu. Suara riang dan komplain setengah mabuk sudah tak ada lagi. Hening. Hale menoleh ke bawah, ada jejak tetesan darah di sana.

    *Bruug*

    Suara benda jatuh lembut terdengar dari dalam tenda. Hale yang waspada langsung mengeluarkan kapak berwarna perak dari mystic bag-nya.

    Langkah demi langkah ia berjalan ke arah tenda. Dibukanya tirai tenda itu perlahan.

    Dan ia melihat hampir semua tubuh yang tadinya mabuk sudah tak bernyawa. Darah berceceran di mana-mana.

    Hale menelan ludahnya. Ia tahu situasi seperti apa ia berada sekarang ini. Hewan buas yang mereka perangkap kini mengamuk di saat-saat terakhirnya. Sejak awal Hale sudah menduga ada kesempatan Jhuro akan membalas skema Blackwood untuk membunuhnya secara diam-diam.

    “Tu—tuan Hale...”

    Sebuah suara lemah terdengar tak jauh darinya. Hale menoleh dan melihat seorang pria paruh baya yang tadinya mabuk-mabukan kini sudah dalam kondisi berdarah-darah. Selain itu, kulitnya sudah berwarna hijau gelap dan bercak-bercak hitam pekat muncul di mana-mana.

    Orang itu sudah terkena racun yang sangat kuat. Ia mencari-cari mystic bag milik teman-temannya yang mati untuk meminum antidot racun seperti orang gila. Kini sudah lebih dari dua puluh botol antidot racun berserakan di lantai sekitarnya.

    “Jhuro Yashura?”

    “Iblis itu datang menerobos dan langsung membantai semuanya. Borrus sempat melawan dan melukainya, tapi akhirnya mati juga karena gerakannya melambat.”

    “Kemana dia sekarang?”

    “Dia...” orang itu nampak ragu menjawab. “Sebelum dia pergi, Jhuro sempat bertanya tentang letak tenda-tenda Blackwood yang lain...”

    Mendengar itu urat di leher dan kening Hale langsung menyeruak. Matanya menjadi tajam menatap orang itu. “Terus kamu menjawabnya?” tanyanya pelan dengan amarah yang ditahan di nadanya.

    “Tuan Hale, Tuan Hale! Mana mungkin orang rendahan seperti saya ini berani mengkhianati Blackwood... Si Risco! Risco tadi yang menjawab iblis itu!”

    Hale terdiam. Tak menjawab. Dari ekspresinya, tak bisa diketahui kalau dia percaya atau tidak ucapan orang itu.

    “Ampuni saya Tuan Hale... saya sama sekali gak mengkhianati Blackwood... demi apa pun, saya berani sumpah....”

    “Racun di tubuhmu hanya bisa disembuhkan oleh Healer tier-2 atau antidot khusus dari Alchemist tingkat menengah. Jika gak diobati, dalam dua minggu kamu bakal mati. Apa kamu bisa mengeluarkan seenggaknya lima ratus gold untuk menyembuhkan racunmu ini?”

    Mendengar itu ekspresi orang yang terkena racun Jhuro semakin kehilangan warnanya. Ia sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan Hale Blackwood.

    “Kalau begitu akan kuberikan kabar ke keluargamu kalau kamu sudah gugur dalam misi kali ini.”

    Tanpa mengucapkan sepatah kata tambahan, Hale mengayunkan kapaknya ke arah bahu orang itu dan langsung menembus ke dada kirinya.

    Ekspresinya membeku saat kapak menancap dalam di tubuhnya.

    Hale mendorong tubuh orang itu dengan kakinya untuk menarik kembali kapaknya yang menancap. Darah kental membasahi kapak peraknya. Ia mengeluarkan kain kusam berbau amis darah untuk mengelap kapaknya sambil memandangi orang yang baru ia bunuh dengan ekspresi wajah serius.

    “Jhuro Yashura...” bisiknya pelan-pelan di tengah malam yang sepi itu.

    ***
     
    • Like Like x 1
  6. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,967
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,939 / -1
    yg ini chapter nya mayan seru, cuman ending nya serasa kayak bukan satu chapter utuh tapi bagian pertama chapter nya :bloon:

    mungkin karena rada pendek kali ya.

    ngeliat gelagat nya jhuro yashura yg ini gw ngerasa ini ada kemiripan dikit ama mc nya drifters yg samurai. gw mayan suka ma karakter si samurai itu si.
     
    • Like Like x 1
  7. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    sebenernya chapter ini lebih panjang sedikit, tapi karena saya keasikan baca wn china jadi kelar nulisnya cuma 3/4 chapter (biasanya target saya per chapter antara 2000-3000 kata, tapi yang ini paling pendek di antara yang lain cuma 1500 kata)

    ini juga sebenernya sesuai jadwal yang saya buat sndiri ada update untuk proyek yang lain, tapi daritadi pagi gk ada mood nulis :madesu:

    btw drifters anime musim kemarin ya? musim kemarin saya ikutinnya cuma ajin sama haikyuu
    dari deskripsinya mayan seru kayaknya, mungkin bisa jadi referensi tambahan lagi
     
    • Like Like x 1
  8. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,967
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,939 / -1
    ya sebenernya bt gw sih gk perlu update sesuai jadwal. pas lagi ada mood nya aja baru nulis biar maksimal :top:

    fall 2016 ini sih :bloon: sekarang kayaknya udah masuk winter.
     
    • Like Like x 1
  9. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    awalnya sih gak ada jadwal, di forum sebelah ada yang ngikutin juga saranin pake jadwal
    saya juga niatnya taruh deadline biar sedikit lebih produktif soalnya udah jadi NEET gak ada kerjaan juga

    btw kayaknya chapter 10 nanti ada revisi versi ke dua, dibaca ulang deskripsi karakter Hale mau diperbaiki, sekalian tambah cliffhanger buat chapter berikutnya
     
    • Like Like x 1
  10. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,967
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,939 / -1
    hmm ya udah deh kalo mang dirasa lebih cocok pake jadwal :hihi:

    tetap semangat aja yah :top:
     
    • Like Like x 1
  11. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    sip sip :top:

    :hehe:
     
    • Setuju Setuju x 1
  12. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    satu minggu gk update, ini yang chapter 10 saya revisi dulu

    versi revisi:
    http://gilegati.blogspot.com/p/sc-chapter-10.html

    konten yang diedit; deskripsi Hale Blackwood sama minor editing, tambah scene untuk pengenalan karakter baru (rencananya tadi mau pake cliffhanger tapi sayanya gak jago)

    untuk chapter 11 nyusul tapi agak telat :lalala:
     
    • Like Like x 1
  13. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0

    CHAPTER 11 – BLACKWOOD MENJADI KACAU

    Besok paginya, kamp di padang pasir itu langsung menjadi ramai. Seratus petarung lebih yang datang dari sekolah dan kelompok lain saling bertanya-tanya dan menyebar rumor melihat wajah orang-orang Blackwood yang tiba-tiba menjadi buas. Untuk mereka yang menerima suap Blackwood sebelumnya hanya cengar-cengir melihat nasib Blackwood yang seperti ini.

    Sekarang, dengan terbunuhnya orang-orang Blackwood di markas besar, muka Blackwood sudah dilempar ke kubangan lumpur. Dengan pedang terhunus di tangan, mereka berkeliling dari tenda ke tenda mencari Jhuro Yashura.

    Tapi mereka tak bisa menemukan batang hidungnya. Bahkan jejaknya tiba-tiba menghilang begitu saja.

    “Ozhimon, kami tau kamu menyembunyikan anak itu. Serahkan dia dan kami gak akan membuat masalah denganmu!”

    Tiga petarung dengan wajah tampan dan perawakan elit berdiri di depan tenda kecil, berteriak gusar kepada seorang pria yang tengah duduk santai di mulut tenda.

    “Anak siapa? Sejak kapan aku nyembunyiin anak orang?”

    “Jangan pura-pura bodoh kamu Ozhimon! Kamu tau sekarang situasinya dengan Jhuro kayak bagaimana. Kalau kamu niat menghalangi kami mencari anak Yashura yang namanya Tharu itu, Hatim Malakas gak bakal bisa melindungimu dari pasukan Blackwood!”

    “Hmm? Tharu Yashura? Dia murid sekolah Hatim Malakas yang datang kemari mencari pengalaman. Kalau aku memberikan kalian Tharu cuma-cuma, nanti orang bakal bilang aku instruktur Malakas yang gak becus.”

    Salah seorang dari tiga petarung Blackwood itu mengeluarkan skill buff dari skill set Knight-nya.

    “Iron Will!”

    Ia mengangkat tinjunya ke udara, tubuhnya langsung mengeluarkan cahaya keemasan. Tepat pada saat itu juga, atribut defense-nya bertambah sebanyak 15%, serta strength dan endurance-nya pun bertambah 30% dari total atribut masing-masing. Skill ‘Iron Will’ petarung itu sudah mencapai level 5, karena itu kemampuannya tak bisa dianggap remeh walau pun ia baru naik tingkat ke tier-2 Knight beberapa bulan yang lalu.

    Melihat petarung itu bersiap bertarung, Ozhi diam-diam meraba gagang pedang yang tertidur dalam sarung di pinggangnya.

    “Delapan orang Blackwood dibunuh Jhuro tadi malam. Kami gak bisa membiarkan pembunuh berkeliaran di sini,” seru petarung yang mengeluarkan Knight itu meraung. “Kalau kamu mau perang, ayo kita perang!”

    Melihat rekan di sebelahnya sudah termakan oleh emosinya, pria yang berdiri di tengah mengerutkan dahinya. Blackwood bersiap-siap dalam rencana mereka untuk membunuh Jhuro, namun si Jhuro sendiri sudah melawan dan menyebabkan masalah. Pria itu pernah mengingat ucapan Hale Blackwood dulu, tentang orang-orang yang berbahaya untuk diajak mencari masalah. Salah satunya adalah Jhuro, dan kemudian ada pula Ozhimon. Mereka berdua adalah petarung yang disegani dan selalu mendapatkan kejayaan di masa-masa muda mereka.

    Petarung itu mengerti Blackwood berani menyentuh Jhuro karena ia hanya berasal dari keluarga di desa tingkat ke tiga. Akar yang menyokong keberadaannya tak cukup dalam untuk membuat Blackwood kecut. Jika Blackwood memiliki cara dari pintu belakang untuk berurusan dengan Jhuro Yashura, maka mereka tak akan ragu-ragu untuk menyingkirkannya.

    Tapi berbeda jika kita berbicara tentang Ozhimon! Walau status sepuh Jhuro lebih tinggi ketimbang Ozhi yang hanya menjabat sebagai instruktur di sekolah Hatim Malakas, namun konon katanya ia memiliki hubungan darah dengan kepala sekolah Hatim Malakas. Biar pun Ozhi tiba-tiba tewas tersambar petir, seluruh sepuh Hatim Malakas akan dikerahkan untuk menyelidiki alasan mengapa petir itu jatuh di atas kepala Ozhi!

    Mengingat hal tersebut, petarung Blackwood yang berdiri di tengah itu menarik bahu temannya ketika ia melangkah maju untuk mengintimidasi Ozhi.

    “Instruktur Ozhimon, kami sedang mencari kriminal Jhuro Yashura. Dia membunuh orang-orang kami tanpa alasan. Walau pun dia adalah sepuh di sekolah Anda, dengan gak menyentuh semua orang yang berasal dari Hatim Malakas yang ada di kamp ini sudah bisa dibilang kami memberikan hormat kepada kepala sekolah Anda. Tapi kalau kami mendengar kalian menyembunyikan Jhuro, jangan pikir kami akan terus-menerus bersikap sopan!”

    Ucapan petarung yang di tengah bisa dibilang diplomatik tapi nadanya masih terdengar tajam dan tak bersahaja. Ada ancaman yang tersirat di ucapannya tapi ia tak berani bersikap lebih dari itu.

    Untuk mencari musuh baru ketika musuh lama masih berkeliaran, hanya orang bodoh yang bertindak demikian.

    “Mm, mm,” Ozhi mengangguk mendengar orang itu. “Sejak kemarin aku gak melihat Jhuju. Dia gak balik ke tenda kami. Biarkan saja orang bodoh itu, nanti pas lapar juga dia pasti muncul!”

    Setelah itu ketiga orang itu tak ingin berlama-lama berdiri di depan tenda orang Hatim Malakas. Mereka pergi sambil memamerkan pedang tajam dan hawa membunuh mereka.

    “Paman Ozhi, terima kasih sudah menolongku.”

    Seorang pemuda kemudian terlihat dari dalam tenda tersebut. Ia adalah Tharu Yashura.

    “Menolong apaan. Aku dan Jhuju sudah mengemis ke kakek-kakek sialan itu untuk membawa kalian anak muda ikut kemari. Kalau kalian gak balik dengan nyawa kalian, kepalaku yang menjadi taruhannya!”

    Tharu hanya bisa menggeleng-geleng dalam hati mendengar ocehan Ozhi. Paman-paman generasi ini semuanya santai betul. Pagi ini Ozhi masih sempat minum kopi dan duduk santai seperti pagi-pagi sebelumnya. Berita kalau sahabatnya sudah membunuh orang-orang Blackwood seperti tak pernah sampai ke telinganya.

    Beberapa menit kemudian, sebuah sosok gadis langsing berkulit putih berjalan ke tenda itu. Ia membawa nampan dengan dua cangkir kosong dan teko yang mengeluarkan aroma teh dari dalamnya.

    Gadis itu menaruh nampan yang ia bawa di depan Tharu, kemudian menuangkan teh ke cangkirnya. Tatapan Tharu menjadi lembut melihat gadis itu tersenyum malu di depannya.

    “Uhuk, uhuk!”

    Batuk Ozhi yang dibuat-buat mencegah suasana asmara muda-mudi itu menjadi lebih pekat lagi.

    “Lihat, apa yang guru lakukan di sini?” tanya gadis itu dengan nada kesal.

    “Aku sedang ngopi. Biasanya juga setiap pagi begini.”

    “Paman Jhuro sedang dalam masalah. Dia membunuh orang-orang Blackwood semalam. Bahkan aku mendengar barusan Blackwood sudah berencana membunuhnya sejak beberapa hari yang lalu. Temannya sedang dalam situasi hidup dan mati, dan guru masih santai ngopi di sini?!”

    “Dalam masalah? Hmph! Jhuju si kambing itu berani mati tanpa melunasi hutang dulu? Kalau dia betulan mati nanti aku akan menggali kuburannya untuk menagih hutang!”

    “Guru!” gadis itu membentak mendengar ucapan Ozhi yang terlampau santai begitu di depan Tharu. Tapi pemuda itu sama sekali tak tersinggung, hanya tersenyum.

    “Besshyta, bukannya Paman Ozhi gak mau membantu Paman Jhuro, tapi Paman Ozhi gak bisa. Apa Besshyta lupa, anak Paman Ozhi baru saja ulang tahun yang kedua baru-baru ini.”

    “Aku mendengar petarung-petarung hebat yang selalu menjaga punggung teman mereka pas muda dulu. Ternyata itu cuma cerita saja.”

    Gadis yang bernama Besshyta itu menggerutu sambil melototi gurunya, Ozhi, yang tengah menguap dan menggaruk-garuk perutnya. Sama sekali gatak mengindahkan tatapan mengkritik muridnya.

    “Keluarga Yashura kami sudah menjadi target keluarga bangsawan dari desa tingkat kedua,” kata Tharu dengan nada mengeluh. “Kalau Paman Ozhi ikut campur, maka sudah pasti Hatim Malakas juga ikut masuk ke dalam kubangan lumpur ini. Besshyta, aku mengerti kamu juga khawatir dengan kami, tapi kumohon jangan ikut campur. Di belakang Blackwood masih ada keluarga-keluarga kerajaan. Bahkan jika Blackwood dalam masalah besar, sang raja sendiri bakal ikut campur dalam masalah ini. Hanya dengan fondasi Hatim Malakas selama ratusan tahun saja gak bakal cukup membendung tekanan Blackwood!

    “Karena itu, kami gak bisa membawa orang lain dalam masalah kami. Yang hanya kita bisa lakukan hanyalah mengikuti rencana Blackwood, jika semua ini berakhir mereka akan menggunakan pengaruh mereka untuk membuat kamp ini mengumumkan kalau Paman Jhuro tewas dalam misi. Dengan begitu, muka Hatim Malakas bisa terjaga jika kehilangan salah satu sepuh mereka, dan masalah bisa terhindari setelahnya.”

    Mendengar penjelasan Tharu Yashura, Besshyta terdiam. Ia bisa melihat amarah dan tekad yang tersirat di balik pancaran mata pemuda yang ia sayangi itu. Ada pula kekhawatiran yang bisa terlihat dari garis wajahnya. Melihat ekspresi Tharu pun Besshyta hanya bisa mendesah dan ikut cemas dalam hatinya.

    “Jangan terlalu dipikirkan,” lanjut Tharu. “Paman Jhuro bukan orang lemah. Di sisi lain Blackwood hanya kedengarannya kuat. Delapan orang hanya permulaan. Bahkan jika raja East Tiramikal Kingdom pun ikut turun tangan, mencabut nyawa Paman Jhuro gak bakal semudah yang mereka pikirkan!”

    Besshyta mengangguk melihat Tharu yang tiba-tiba tubuhnya tersembur oleh percaya diri.

    Melihat dua anak muda yang saling membagi khawatir di depannya, Ozhi berdecak.

    “Darah muda, ah! Jadi iri.”

    ***

    Setelah siang menjelang, keadaan belum juga lega. Blackwood sudah menyisir ratusan tenda, menyinggung banyak pihak hanya untuk mencari Jhuro Yashura. Mereka menyadari Jhuro sudah tak berada di kamp kelompok itu lagi, dan Blackwood mulai memecah bentuk regu-regu kecil untuk mencari keluar segala arah.

    Saat ini, petarung berlevel rendah dan mereka yang tak memiliki status di kelompok tersebut sudah pada tahu alasan orang-orang Blackwood menjadi tegang. Kini, bahkan mereka yang tak terlalu mengenal Jhuro sebelumnya, mulai mengerti bahwa sepuh Hatim Malakas itu bukanlah orang biasa yang bisa dibully begitu saja.

    Empat pria berseragam Blackwood berjalan menuju tenda kecil yang terbuat dari kain tebal yang sudah apek dan berdebu. Ketika mereka mendekat, seorang pria gempal gundul dan berwajah keras keluar dari mulut tenda.

    Pria gundul itu berperawakan lebih besar dan gempal daripada Hale Blackwood. Ketika Hale memberi salam kepada pria itu, ia dibalas dengan seringai yang tak ramah.

    “Heh, Berserker palsu, mau apa kamu datang kemari?” tanya pria itu dengan nada setengah mengejek. Pria gundul itu adalah salah satu empat petarung dari Clan Fireaxe Giant. Seorang Berserker level 51, tapi bukanlah yang terkuat dari keempat petarung tersebut.

    Clan Fireaxe Giant adalah sebuah suku barbar di mana kekuatan dan keberingasan sangat dihargai dan dikejar-kejar. Karena itu, kelas Berserker bisa dibilang ciri khas mereka. Melihat seorang Berserker seperti Hale muncul dari keluarga bangsawan bermartabat yang selalu menjaga muka dan reputasi mereka, tentu hal tersebut membuat mereka tak senang.

    “Urkdin, tentu Clan Fireaxe Giant kalian sudah mendengar kabar orang-orang Blackwood kami dibunuh oleh Jhuro Yashura, bukan?” ujar Hale Blackwood mengesampingkan ketidakramahan pria gundul tersebut.

    “Kalian mau diam-diam membunuh Jhuro, terus dia tau dan melawan. Terus apa hubungannya dengan kami?”

    Empat petarung dari Clan Fireaxe Giant tersebut sudah tahu agenda Blackwood selama beberapa hari ini. Mereka menerima uang titipan dari Blackwood untuk tak menghalangi urusan mereka, di saat yang bersamaan juga diminta untuk menutup mulut tentang hal ini. Namun mereka tak pernah janji uang tersebut dapat membeli mereka jika Blackwood terkena masalah. Bagaimana pun, suku barbar tersebut selalu dicaci dari belakang oleh bangsawan-bangsawan seperti Blackwood. Mereka memiliki dendam pribadi dan otomatis merasa puas jika kaum elit seperti Blackwood tersandung batu.

    Hale Blackwood tak ingin bermuka dua berhadapan dengan orang barbar seperti pria bernama Urkdin ini. Ia pun sebenarnya tak ingin mengemis, tapi menurutnya, satu-satunya orang di pasukan Blackwood di sini yang mampu melawan Jhuro hanyalah ia seorang. Yang lain mampu menahannya bila berkumpul dan menekan pergerakannya. Tapi jika hanya satu atau dua orang yang berani berhadapan dengan Jhuro, mereka sudah dipastikan mati oleh racunnya.

    Hale bukanlah seorang petarung amatir. Orang lain sudah mendengar reputasi racun dan kelas unik Jhuro Yashura tapi hanya beberapa orang seperti Hale yang mengerti betul keganasan pedang beracunnya.

    Jadi bagaimana pun juga, ia harus mendapatkan bantuan untuk menekan Jhuro.

    “Aku sudah mengira Jhuro bakal melawan seperti ini. Sekarang pasukan petarung Blackwood gak cukup untuk menghentikannya. Kalau Clan Fireaxe Giant mau membantu, Blackwood siap menyediakan ‘Abyssal Axe’ sebagai kompensasinya.”

    ‘Abyssal Axe’! Mendengar magic weapon tersebut, mata pria gundul tersebut bersinar-sinar oleh ketamakan. ‘Abyssal Axe’ adalah sebuah kapak yang ditempa oleh Blacksmith terkenal tiga ribu tahun yang lalu, yang kemudian dikubur bersamaan dengan seorang raja tiran di sebuah makam besar di dekat perbatasan East Tiramikal Kingdom. Empat ratus tahun yang lalu, kerajaan yang dulunya dikuasai tiran tersebut runtuh. Akibatnya, makam tiran tersebut mulai tak ada yang menjaga kecuali monster-monster peliharaan si raja tiran.

    Kemudian beberapa tahun yang lalu pasukan Blackwood melakukan ekspedisi dan mendapatkan banyak harta karun di makam itu. Salah satunya yang paling berharga adalah senjata andalan raja tiran yang bernama ‘Abyssal Axe’, sebuah kapak yang dialiri mana berafinitas elemen ‘chaos’ yang sangat langka.

    Karena syarat minimal untuk menggunakan kapak tersebut adalah level 60 dan strength yang melimpah, belum ada anggota Blackwood mampu menggunakannya.

    Menurut keputusan Dewan Besar Keluarga Blackwood, karena Hale adalah seorang Berserker dan pengguna kapak yang sangat cocok dengan magic weapon ini, setahun yang lalu Blackwood resmi menghadiahkannya kepada Hale.

    Karena itu, menggunakan harta tersebut sebagai kompensasi untuk membuat Clan Fireaxe Giant bergerak adalah hak Hale. Dan menurut perhitungannya, jika dalam beberapa hari ke depan ia tak mampu mendapatkan bantuan pihak lain, maka akan banyak nyawa orang-orang Blackwood yang jatuh di tangan Jhuro Yashura walau pun pada akhirnya mereka bisa membunuh seorang Blackfang Swordsman itu.

    Di hadapan tawaran menggiurkan tadi, Urkdin yang membenci Blackwood sempat tergiur!

    “Clan Fireaxe Giant gak sudi menurunkan derajatnya untuk membantu keluarga bermuka dua seperti Blackwood,” pada saat ini, sebuah suara serak terdengar dari dalam tenda. “Enyahlah! Perkara kalian dengan Jhuro Yashura bukanlah urusan kami. Walau kalian menghancurkan negeri ini dan membuat lubang di tanah benua Tiramikal ini, Clan Fireaxe Giant gak bakal bergerak untuk membantu Blackwood!”

    Hale tak membalas suara serak tersebut. Urkdin pun terdiam, sudah menyingkirkan ‘Abyssal Axe’ dari dalam hatinya. Mereka tak mengucapkan sepatah kata lagi, Hale kemudian menganjakkan kaki dengan wajah tertekuk gusar.

    Setelah gagal meminta bantuan kepada Clan Fireaxe Giant, Hale Blackwood pergi mengunjungi tenda para petarung terkenal lainnya di kamp kelompok itu. Awalnya, tiga wajah petarung yang mendampingi Hale Blackwood terlihat arogan menahan marah.

    Apa boleh buat, mereka adalah kaum elit dan seorang semut seperti Jhuro Yashura berani melawan kekuatan mereka.

    Tetapi ketika mereka mengunjungi tenda demi tenda, wajah arogan mereka berubah perlahan-lahan. Clan Fireaxe Giant wajar tak ingin membantu mereka karena suku tersebut tak pernah akur dengan kaum bangsawan. Namun saat pihak-pihak besar lain menolak, rasa cemas pun menjalar di dada mereka.

    “Aku sudah memperkirakan nasib kalian akan seperti ini. Namamu Hale Blackwood? Kamu cukup pintar untuk mencari bantuan saat korban di Blackwood masih sedikit. Jhuro Yashura bukanlah seorang petarung berlevel 46 sembarangan. Walau pun dia adalah seorang dengan kelas unik, tetapi potensi membunuhnya jauh lebih mengerikan...”

    Ujar seorang Martial Artist berlevel 50 dari Clan Chu. Ia adalah seorang pria tiga puluhan berkulit putih tampan dan berambut panjang, Chu Xiehao.

    Ketika seorang berkekuatan level 50 seperti dia mengatakan delapan orang Blackwood yang tewas ternyata dihitung masih sedikit, maka seberapa berbahayanya seorang sepuh dari sekolah Hatim Malakas ini?

    “Aku tau kekuatan orang itu seperti apa, dan aku pun gak berani meremehkannya,” ujar Hale pelan. “Tetapi yang mengambil keputusan untuk menargetkan Jhuro Yashura adalah para petinggi di keluarga Blackwood. Aku hanyalah petarung rendahan gak memiliki sama sekali suara untuk menentang keputusan mereka. Tuan Chu Xiehao mengerti, kan, agenda kami mempersiapkan kekuatan dalam beberapa hari ini? Untuk menyingkirkan Jhuro Yashura, pihak Blackwood mengirimkan bantuan dari Desa New Evershine Candy. Setelah bantuan datang, aku berani menjamin Jhuro Yashura gak bakal bisa bergerak lagi! Yang kami minta dari pihak Clan Chu adalah bantuan untuk mengendalikan suasana. Jika Blackwood mendapatkan bantuan Clan Chu, maka Jhuro Yashura akan berpikir dua kali untuk menyerang anggota kami!”

    Chu Xiehao hanya tersenyum mendengar ujaran Hale.

    “Tuan Chu Xiehao, mohon dipertimbangkan. Kami gak meminta Anda untuk berhadapan langsung dengan Jhuro. Kami hanya membutuhkan keberadaan Anda, dan kami akan memberikan kompensasi yang layak sebagai ganti jasa clan Anda!”

    Hale berputar-putar menjelaskan hadiah yang bisa ia tawarkan jika Clan Chu membantu Blackwood saat ini. Tetapi pria itu terus-menerus menggelengkan kepala.

    “Kalau kalian membayarku untuk pura-pura gak tau tentang skema kalian untuk membunuh Jhuro, aku tak masalah. Tetapi untuk menjadi perisai penghalang Jhuro? Hmm, hmm. Jhuro itu seperti ular berbisa yang licin. Kalau gak bisa memotong kepalanya, sekali tergigit bisa fatal akibatnya.”

    Setelah itu mereka terdiam sesaat. Chu Xiehao melihat tanda-tanda khawatir di wajah keras Hale.

    “Kalian mau dengar pendapatku? Mundur lah. Lupakan sesaat untuk membunuh Jhuro. Kemudian kembali bersama bantuan yang kamu bilang tadi. Kukira masih ada orang bijak di Keluarga Blackwood, tetapi berani menginjak ekor ular berbisa seperti Jhuro Yashura... ck, ck ck.”

    Meminta bantuan seperti ini sudah memalukan bagi seorang Blackwood seperti Hale. Tapi jika mereka harus mundur, mereka akan ditertawai oleh semua orang di kamp kelompok ini dan akan kehilangan muka mereka.

    Hanya karena ancaman seorang Jhuro Yashura.

    Yang benar saja!

    ***
     
    • Like Like x 1
  14. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    • Like Like x 1
  15. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,967
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,939 / -1
    semakin ke sini gw semakin tertarik ma jhuro yashura, side chara di arc ini juga bikin gw acung jempol :top:

    penasaran bt liat kelanjutan arc nya, semoga bisa berakhir dengan mantap :hihi:
     
    • Like Like x 1
  16. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    kayaknya masih lama itu, soalnya sebentar lagi saya mau pindah lagi ke scene si shira dulu dia hunting momon buat naekin level (karena rencananya awalnya sih bagian si Jhuro emang pendek 1-3 chapter tapi jadi melar :sigh:)

    klo beres baru balik lagi, sekalian juga adegan Shira hunting jadi latihan nulis buat saya atur scene battle untuk si Jhuro sama Hale di klimaks nanti :hahai:
     
    • Like Like x 1
  17. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0

    CHAPTER 12 – MENANTANG ANJING PENJAGA BLACKWOOD

    “Seharusnya mereka ada di sekitar sini.”

    Kata seorang Pathfinder kepada ketiga temannya. Dengan dexterity yang tinggi untuk kelas Pathfinder berlevel 35, matanya yang tajam bisa menerawang hingga satu kilometer saat fokus. Ia melihat ke empat arah berbeda, tapi di segala penjuru padang pasir ini ia tak menemukan orang-orang yang ia cari.

    “Kambing! Hale sudah bilang kita harus balik sebelum gelap. Kalau kita kelamaan di sini, bisa dihajar habis-habisan kita.”

    Gerutu seorang Knight yang menggunakan armor berat dan mengkilap di belakang Pathfinder itu. Knight itu jelas adalah orang dari Blackwood, perlengkapan mahal sekedar untuk petarung di bawah level 40 seperti itu hanya Blackwood yang bisa membelinya. Di sebelahnya, berjalan seorang Mage berlevel 39 dengan wajah yang nampak sangat teredukasi. Ia mengenakan jubah berwarna biru tipis dan ada tongkat sihir sepanjang dua meter di tangan kirinya.

    “Kita cari sebentar lagi. Kalau tiga puluh menit gak ketemu mending kita balik.”

    Ada rasa takut di wajah Mage itu saat ia berkata demikian. Untuk para petarung Blackwood yang sering keluar untuk berpetualang sepertinya tentu mengenal betul bagaimana sifat Hale. Jika mereka benar-benar membuat Hale marah, bisa-bisa mereka dihajar sampai tak mampu bergerak lagi selama tiga bulan.

    “Oi, apa kamu sudah melihat jejak mereka? Sampai kapan lagi kita mutar-mutar begini terus?”

    “Untuk apa kami membayarmu mahal-mahal kalau kerjamu sama sekali gak ada hasilnya. Sejak tadi siang kamu hanya bilang sudah dekat, sudah dekat terus! Tapi batang idung si Walter sama anak-anak itu pun gak muncul juga.”

    Kedua petarung Blackwood itu mengeluarkan nada tak puas dengan kinerja Pathfinder yang menuntun di depan mereka.

    Mendengar itu, Pathfinder itu tak bisa lagi membuat alasan. Ia bukanlah seorang petarung dengan kelas yang memiliki kemampuan bertarung di bawah rata-rata. Dan bila kedua Blackwood ini meminta uang mereka kembali, ia tak bisa berbuat apa-apa. Lagi pula fraksi yang menampungnya hanyalah sebuah organisasi mercenary kecil yang menyelip ikut misi kali ini.

    Komplain terus-menerus dilontarkan yang membuat Pathfinder itu frustasi. Ia ingin sekali memukul mulut dua orang itu sampai gigi-gigi mereka rontok. Tapi dibandingkan dengan kekuatan Blackwood yang terasa seperti raksasa elit, petarung sepertinya hanya bisa dihitung sebagai kutu air semata.

    “Ada bukit berbatuan di sebelah timur,” kata si Pathfinder dengan nada setengah pasrah. “Barangkali regu yang kalian cari sedang beristirahat di situ.”

    Untuk seorang Pathfinder serta Tracker, mencari jejak adalah kemampuan utama mereka. Kini, setelah berjam-jam tak melihat jejak kaki yang ia cari di padang pasir itu sama sekali, si Pathfinder hanya bisa menebak saja.

    “Kamu yakin?”

    “Di radius tiga kilometer gak ada orang lain selain kita. Tempat yang gak bisa kulihat hanya di bukti bebatuan itu.”

    Siang tadi, Blackwood kehilangan kontak dengan sebuah regu kecil terdirikan empat orang yang dikirim untuk mencari Jhuro Yashura. Orang yang memberikan perintah kepada regu-regu ini adalah pemimpin Blackwood pada misi kali ini, seorang tier-2 Swordsman berlevel 47.

    Walau pun resminya Swordsman itu diakui sebagai pemimpin pasukan misi kali ini oleh Dewan Keluarga Blackwood, tetapi yang memegang otoritas ketika mereka berada di dunia luar adalah Hale Blackwood. Sebagai petarung nomor dua di Blackwood tak ada yang berani membantah perintahnya. Oleh karena itu, ketika Swordsman itu memberi perintah untuk mencari Jhuro, ia menghadap dulu kepada Hale untuk mendapatkan izin.

    Hale setuju dengan perintah tersebut. Namun ia melarang keras semua anggota Blackwood untuk berhadapan dengan Jhuro serta memerintahkan mereka semua untuk kembali sebelum malam. Jika saja ada regu kecil yang mendapatkan jejak Jhuro, mereka diperintah untuk kembali melapor dan sebisa mungkin tak membuat Jhuro sadar hawa keberadaan mereka.

    Awalnya, regu yang sedang dicari-cari mengatakan mereka mendapat jejak kaki seseorang. Setelah berkata demikian ke regu lain mereka pergi untuk menelusuri jejak tersebut. Dan sampai sekarang mereka menghilang seperti ditelan angin.

    Ketiga orang yang tengah mencari itu berjalan ke arah bukit berbatuan di arah timur. Tapi belum sampai setengah jalan, si Pathfinder tiba-tiba terdiam menghentikan langkah kakinya. Ia melihat ke arah pasir dua puluh meter di depannya. Matanya berkilat menyadari sesuatu.

    Melihat Pathfinder itu berhenti, kedua orang Blackwood saling bertukar pandang.

    “Pasirnya!” seru si Pathfinder seraya berlari tergopoh-gopoh ke arah pasir yang ia perhatikan tadi.

    “Ada apa?” sahut si Mage.

    “Aku menemukan jejak!”

    Si Mage mengerutkan dahi mendengar jawaban Pathfinder tersebut. Ia sama sekali tak melihat ada jejak kaki di sekitar sini. Begitu pun dengan si Knight. Wajahnya sudah tertekuk menahan kesal karena tingkah si Pathfinder itu.

    “Jangan mengada-ngada. Kita orang memang berniat bakal menagih kembali setengah uang tadi kalau kerjamu gak ada hasilnya. Tapi kalau kamu nekat membodohi kami, hmph, cari mati!”

    Mendengar ancaman Knight itu yang bernada tak sabaran, si Pathfinder langsung berusaha meyakinkan mereka.

    “Ini, lihat dekat-dekat pasirnya,” katanya sambil menyendok segenggam pasir dengan telapak tangan kanannya. Kemudian ia memberikan pasir itu kepada si Knight.

    “Ada apa dengan pasir ini?”

    Pasir itu adalah pasir biasa. Tak berbeda dengan milyaran butir pasir yang lain.

    “Pasirnya gak terlalu kering,” jawab Pathfinder itu singkat.

    “Hah?”

    “Pasirnya kurang kering,” Pathfinder itu ingin menjelaskan, jadi ia menyendok sembarang pasir lain beberapa meter dari tempat ia mengambil pasir tadi. Kemudian ia memberikan pasir itu juga kepada Knight yang melihatnya dengan sorotan bingung. “Seharusnya panas matahari mengeringkan permukaan padang pasir. Tetapi pasir ini baru terkena cahaya matahari gak lebih dari dua jam!”

    Knight dan Mage dari Blackwood langsung mengerti mendengar ucapan Pathfinder yang mereka sewa. Terutama si Knight, yang merasa pasir pertama memang sedikit lebih sejuk daripada pasir yang lain.

    “Seseorang mengacak pasir ini untuk menghilangkan jejak,” si Mage langsung mengambil kesimpulan.

    Pathfinder yang ahli dalam hal seperti ini mengangguk sambil memasang senyum bangga di wajahnya. Akhirnya setelah berjam-jam usahanya membuahkan hasil. Sekarang jika dua orang Blackwood ini ingin komplain dan menagih uang bayarannya, si Pathfinder tentu bisa mengelak.

    “Ayo kita periksa bukit itu.”

    Mereka bertiga melanjutkan langkah lagi.

    Beberapa puluh meter kemudian, si Pathfinder berhenti lagi. Dua petarung Blackwood tak bersuara memberikan komplain. Mereka tahu Pathfinder itu menemukan jejak yang lain.

    Si Pathfinder melihat ke arah kanannya, kepalanya sedikit dimiringkan. Ia lalu melangkah pelan ke arah itu. Dengan kakinya, ia menyapu pasir di bawahnya.

    Dan ia melihat tumpukan pasir di bawah permukaan diwarnai oleh cairan merah yang mengering.

    “Darah!”

    Kedua orang Blackwood tak terkejut. Kurang lebih mereka sudah menduga hal yang seperti ini akan terjadi.

    “Kamu diam di sini,” kata si Knight kepada si Pathfinder sambil menarik pedang dari sabuknya.

    “Iron Will!” sahut Knight tersebut dengan nada sedikit di tekan. Kepalan tangannya langsung bercahaya. Sekejap atribut strength, endurance, dan defense-nya naik beberapa persen. Kini ayunan pedangnya lebih kuat daripada sebelumnya dan kulitnya pun ikut mengeras.

    “Stone Skin!” Mage itu juga mengeluarkan beberapa buff.

    “Arcane Boost!” “Haste!” “Elemental Harmony!”

    Mage itu juga sempat memberikan buff kepada si Knight. Dengan Arcane Boost, mana-nya beregenerasi lebih cepat dan memberikan kesempatan untuk menggunakan skill beberapa kali lebih banyak. Haste dan Elemental Harmony adalah skill buff yang bisa dibeli di Magician Asocciation dan berguna untuk segala jenis petarung, karena kedua skill ini menambah kelincahan serta elemental resistance—orang yang mendapat buff ini akan terkena damage lebih sedikit bila terserang sihir berelemen.

    Belum selesai persiapan mereka, si Knight mengeluarkan ramuan dari dalam mystic bag-nya. Botol ramuan itu adalah ‘Greater Poison Immunity Potion’, menambah secara mudah poison resistance orang yang meminumnya namun sangat sulit didapatkan dengan harga murah. Kurang dalam satu menit, poison resistance Knight itu bertambah dari 22% menjadi 47%. Efek ini hanya berlangsung selama dua jam per botol, tapi dua jam itu akan sangat berharga bila mereka bertemu dengan Jhuro.

    “Kukira ramuannya sudah mulai ampuh. Masih ada buff lain yang kamu simpan?” tanya si Knight kepada Mage di sebelahnya.

    “Aku hanya sedikit mempelajari skill buff. Tapi kalau skill ‘Poison Dispel’ kualitas tinggi, aku punya scrollnya.”

    Mata Knight itu langsung berkilat-kilat. ‘Poison Dispel’ bisa langsung menghapus efek racun dan sangat berharga. Apalagi untuk yang berkualitas tinggi. Bila magic scroll itu digunakan, walau pun hanya bisa dipakai sekali tetapi jika melawan seorang ahli racun seperti Jhuro Yashura, scroll bisa saja menyelamatkan nyawa.

    “Apa kamu punya scroll cadangan?”

    Mage itu mengangguk sambil tersenyum. “Aku cuma punya satu.”

    Si Knight tak bertanya lagi. Mereka lalu maju dengan langkah mantap, namun sama sekali tak mampu menanggalkan rasa cemas di hati mereka.

    Di belakang mereka, Pathfinder mencoba untuk mengikuti sambil menjaga jarak. Ia yakin Jhuro bukanlah orang yang terlampau keji untuk menyakiti orang luar sepertinya, jadi ia bertekad untuk menonton dari jauh.

    Dua petarung Blackwood itu mendekat ke arah bukit berbatuan di depan mereka. Mereka memeriksa jika ada yang bersembunyi di sana, tapi tak menemukan siapa pun.

    “Masuklah. Kulindungi dari belakang.”

    Knight itu mengangguk. Ia memperkuat cengkeraman pedangnya, telapak tangannya berkeringat. Ia melangkah lagi, setiap langkah sedikit lebih pelan daripada yang sebelumnya.

    *Brug brug brug dug... dug...*

    Tepat pada saat itu juga, sebuah tubuh terjatuh dari atas, berguling-guling di berbatuan dan akhirnya tersungkur di kaki bukit. Kulit tubuh itu sudah memucat dan warna urat-urat nadinya pun menggelap dan nampak jelas. Matanya melotot dan mulutnya menganga, tapi air mukanya jelas sudah mati. Lehernya sudah hampir putus digorok dengan belati.

    “Tyrell!”

    Sontak kedua petarung Blackwood itu menyerukan nama salah seorang teman yang mereka cari. Amarah yang tak tertahan mulai merayap dan menyedak kerongkongan mereka.

    “Siapa yang berani melakukan ini?!”

    “Bapakmu!”

    Tepat pada saat itu juga, seorang pria tiga puluhan menampakkan batang hidungnya. Ia mengenakan baju berkain tanpa perlindungan. Mukanya terlihat bosan karena terlalu lama menunggu orang yang datang.

    “Jhuro Yashura! Sudah kuduga!” raung si Mage. Matanya sudah memerah karena marah.

    “Hmph! Kalau sudah kamu duga buat apa tanya barusan?” ejek si Jhuro dengan nada santai. Ia berdiri dengan menopang berat tubuhnya di kaki kirinya. Rupanya, celana di bagian lutut kanannya sobek dan berdarah-darah.

    “Si bangsat itu kakinya terluka! Kalau kita kembali untuk melapor dia pasti akan kabur dari sini!”

    Kata si Mage sambil menunggu keputusan dari si Knight. Ia tak ingin menjadi orang yang memutuskan untuk mengejar Jhuro. Jika mereka gagal, orang yang bertanggung jawablah yang lebih banyak dihajar oleh Hale Blackwood.

    “Perlambat gerakannya!” seru Knight itu seraya berlari ke arah Jhuro.

    Mage itu mengangguk. Ia mengarahkan tongkatnya ke arah Jhuro, dan cahaya hijau menyembur dari kepala tongkatnya.

    “Entangling Roots!”

    Tepat pada saat itu juga, akar menjalar tebal menyeruak dari tanah di bawah kaki Jhuro. Akar tersebut melilit kakinya, merayap-rayap ke atas tubuhnya hingga tangannya pun tak bisa digerakkan.

    Si Knight melompat-lompati berbatuan untuk mencapai ke atas. Dalam waktu beberapa detik, ia sudah hampir sampai ke Jhuro.

    “Mati kamu bangsat!” ia mengangkat kedua tangannya ke udara, bersiap untuk mengayunkan pedangnya saat ia sudah beberapa meter di depan Jhuro yang terlilit ‘Entangling Roots’.

    “Mountain Slashing Sword!”

    *Wuuuuusshhh*

    Sayatan pedangnya menghasilkan gelombang energi mana tajam yang membelah udara. Tebing bukit berbatuan yang di laluinya langsung terpotong dan terpecah-pecah.

    Saat gelombang itu hampir mengenai sosok Jhuro yang terikat, air mukanya langsung berubah tak percaya.

    “Jangan!”

    “MATI KAMU!!!”

    Pada saat itu juga si Jhuro berusaha melepaskan diri dari ‘Entangling Roots’, akar-akar melilit di tubuhnya langsung melemas terbakar oleh api biru.

    “Flame Shield!”

    Raung si Jhuro. Knight itu langsung terkejut. ‘Flame Shield’ yang melindungi permukaan tubuh Jhuro akan bereaksi balik kepadanya jika serangan pedangnya menyerang Jhuro.

    “Keluarkan kekuatan terbaikmu! Aku akan membalas kematian teman-temanku!” teriak si Jhuro Yashura sambil membuat bola api di tangannya.

    Melihat Jhuro mengeluarkan sihir api, Knight itu terkejut lagi bukan main. Bukannya Jhuro adalah seorang Swordsman? Petarung dengan elemental affinity poison? Sejak kapan dia bisa menggunakan sihir api?

    Tetapi ia terkejut hanya sebentar. Cepat ia membulatkan tekadnya kembali untuk membunuh Jhuro.

    “Jadi kamu menggunakan sihir api karena melihatku meminum ramuan poison resistance? Kamu kira menggunakan senjata lain bisa dengan mudah membunuhku?”

    “BACOT!!!”

    Si Knight dan Jhuro langsung saling serang dan bertukar jurus terus-menerus. Mana mereka hampir kering, namun hal itu tak menciutkan semangat mereka untuk memperlihatkan serangan terbaik mereka.

    Pathfinder yang sejak tadi menonton air mukanya tiba-tiba menjadi aneh. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain menyeringai melihat pertempuran itu.

    Jika Knight itu melihat Jhuro mengeluarkan sihir api, apa yang dilihat oleh Pathfinder benar-benar berbeda. Awalnya, mereka saling berteriak ke arah bukit yang kosong. Kemudian si Mage malah melilit tubuhnya sendiri. Melihat temannya mengikat dirinya sendiri, si Knight malah langsung bersemangat melompat-lompat di tempat....

    Kemudian keadaan menjadi semakin aneh. Knight itu berteriak ingin membunuh temannya sendiri. Ia menggunakan skill serangan terbaik yang dimiliki seorang Knight dan si Mage sontak bereaksi dengan mengeluarkan sihir pelindung. Akhirnya, mereka menggila dan saling serang-menyerang satu sama lain.

    “Sobat, kamu sepertinya bukan dari Blackwood.”

    Tiba-tiba sebuah suara tenang terdengar dari belakang Pathfinder itu. Ia terenyak dan langsung berbalik, mengeluarkan belati dari sarung yang terpasang di pinggang kirinya.

    “Kalem, kawan. Kalau situ gak cari masalah denganku, situ bisa balik tanpa jadi korban luka-luka.”

    Pemilik suara itu adalah seorang pria berjanggut dan berambut panjang, tengah tersenyum sambil berjalan ke arahnya. Ia jelas adalah Jhuro Yashura. Di bahunya, ia membawa karung berisi yang merembes darah dari dalamnya.

    “Apa mereka sedang terkena halusinasi?” Pathfinder itu tak berbasa-basi. Ia penasaran melihat tingkah dua petarung Blackwood itu.

    “Aku hanya punya sedikit racun mematikan yang tersisa. Membuang-buang racun untuk anak buah bakalan mubazir.”

    Jhuro tak segan menjawab santai sembari mengangkat bahunya.

    Mendengar itu, si Pathfinder tersenyum masam. Dari sikap Jhuro nampak ia benar-benar tak berencana untuk membuat masalah untuknya. Dalam hati ia bernapas lega.

    Jhuro menaruh karung berdarah di hadapan si Pathfinder. Kemudian tanpa malu-malu mengeluarkan kantung uang dan menaruh beberapa koin emas di telapak tangan Pathfinder itu.

    “Apa kamu melihat Hale Blackwood keluar dari kamp?” tanya si Jhuro setelah menaruh emas di tangan Pathfinder itu.

    Si Pathfinder mengerti, jadi ia menjawab sambil menggeleng. “Dia berjaga di depan tenda Blackwood. Semua anggota mereka yang berlevel rendah berada di situ.”

    Jhuro menggaruk-garuk kepalanya setelah mendengar itu.

    “Anjing penjaga Blackwood kali ini merepotkan betul, ah!”

    “Tuan Jhuro—“

    “Jhuro saja gak apa-apa.”

    “Jhuro... apa yang Anda ingin lakukan dengan karung ini?”

    Pathfinder itu sebenarnya tak ingin tahu tentang urusan Jhuro. Tapi pria itu menaruh karung tersebut tepat di depannya. Seakan-akan Jhuro membuat karung tersebut berpindah tangan begitu saja.

    Jhuro masih memperlihatkan ekspresi senyumnya yang santai. Ia mengeluarkan koin emas yang lain. “Bawa karung ini ke Hale dan bilang padanya aku gak main-main akan menantangnya di tempat ini. Ingat, ucapkan seolah-olah aku menyiksa mereka sebelum orang-orang ini mati!”

    Pathfinder itu mengangguk dan menerima uang dari Jhuro. Ia lalu meminta izin untuk melihat karung tersebut, Jhuro benar-benar tak peduli. Saat dibukanya karung itu, ia melihat empat kepala manusia.

    Ia melihat ke arah Jhuro dengan tatapan tak percaya. Jhuro hanya menjulurkan lidahnya usil, kemudian menghadap ke arah Knight dan Mage yang saling bertarung mati-matian.

    “Lihat itu. Sekitar dua jam lagi, mereka akan berhenti. Kalau gak mati, mereka bakal pingsan. Kalau ada dua kepala lebih, bakal jadi hadiah besar buat Blackwood. Hahaha!”

    Berkata demikian, Jhuro melempar kantung uang itu kepada si Pathfinder, lalu berbalik pergi dengan suasana hati gembira.

    Sedang si Pathfinder hanya bisa tertawa pahit. Jika saja ada orang lain yang melihatnya menerima uang dari Jhuro, sudah bisa dipastikan hidupnya hanya bisa bertahan kurang lebih dua hari.

    Ia melihat punggung Jhuro yang melangkah menjauh. Dalam benak ia mengingat cerita kaptennya tentang Jhuro Yashura.

    Kata orang, Jhuro Yashura saat muda adalah seorang yang serius dan jarang membaur. Tetapi jika seseorang menghabiskan waktu beberapa hari satu regu dengannya akan mengerti jika Jhuro adalah pribadi yang santai dan agak pemalas. Semua orang juga bilang kalau Jhuro memiliki tempramen buruk dan pemarah.

    Tapi kaptennya pernah bilang, saat-saat Jhuro menjadi paling mengerikan adalah ketika pria itu tiba-tiba jadi periang. Jika ia sudah bersemangat, ia tidak akan peduli dari mana kamu berasal, siapa orang yang akan melindungimu, dan apa pun konsekuensi setelahnya... ia akan memastikan semua orang yang menyinggungnya mati asalkan hatinya puas!

    Mengingat itu, si Pathfinder gemetaran. Saat ini ia lebih takut Jhuro Yashura ketimbang Blackwood. Jadi ia menunggu si Knight dan Mage itu selesai bertarung, kemudian memenggal kepala mereka untuk dikirimkan ke Hale Blackwood.

    ***
     
    • Like Like x 1
  18. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,967
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,939 / -1
    semakin ke sini gw baca gw jadi tau hal2 yg baru juga, rasanya ini cerita banyak ngambil referensi dari sana sini makanya detil ceritanya mayan kaya jg.

    dari plotnya sendiri jhuro yashura awesome as usual, sepertinya bt chapter terakhir bakal jadi penutup yg manis untuk kembali ke arc utama.

    kalo mau nebak plot, spekulasinya mungkin kek gini

    Jhuro bakalan meninggal di tangan Hale, lalu Tharu ngasih tau Shira tentang hal itu. Dengan semangat bt membalas dendam ke Blackwood, hidden potential nya Shira bakal bangkit. Mungkin sekitar lompat level secara tiba-tiba dan dapet kelas unik.

    Mungkin alesan dari teori ini ya, kematian Jhuro bisa memicu konflik baru untuk perkembangan chara mc tsb. Tapi bisa aja Jhuro nya sekedar menghilang habis membunuh Hale dan si Shira nya yg jadi target berikut dari Blackwood.
     
    • Like Like x 1
  19. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    kalo ambil referensi kayaknya saya ambilnya banyak dari wn cina, game rpg, sampe film-film samurai klasik
    dan selebihnya saya juga banyak mengada-ngada :haha:

    jujur aja untuk chapter berikutnya yang jadi penutup untuk balik lagi ke shira saya belum kepikiran yang bagus, ada dua alternatif sih, yang satu bakal ada hunting Blackwood lagi besar-besaran tapi ada di satu titik yang bertolak belakang sama karakternya, udah mikir puter-puter tapi klo diilangin yang janggalnya bakal ada plothole

    alternatif lain cocok sih cuman rada-rada antiklimaks, mau mikir scene baru yang bagusan malah jadi pusing sendiri kepala saya :dead:

    iya, ceritanya si Jhuro di sini pasti mati, cuma masalah berapa banyak orang yang dia bunuh dulu sebelum matinya. Tapi klo micu konflik baru sih kayaknya cuma benih konflik doank, yang micu ntar karakter lain
     
    • Like Like x 1
  20. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0

    CHAPTER 13 – JHUJU, AYO KITA BERMAIN LAGI SEPERTI DULU!

    Semua orang langsung tahu tentang enam kepala Blackwood yang dikirim Jhuro kepada Hale Blackwood saat malam tiba. Kamp yang tadinya terasa kelam oleh para petarung yang bosan jauh dari rumah selama berbulan-bulan kini suasananya kembali menjadi bersemangat dan hidup. Semua orang menjadi tertarik dalam masalah ini. Kini, setelah semua orang tahu konflik Jhuro dengan Blackwood, mereka pun melihat hal ini sebagai hiburan melepas penat. Lagi pula, banyak orang yang ingin melihat seberapa hebatnya seorang Jhuro Yashura setelah mendengar banyak rumor tentangnya.

    Orang yang paling bersemangat adalah Ozhi. Saat semua orang tiba-tiba tertarik pada Jhuro Yashura, ia dengan senang hati menceritakan petualangan-petualangan mereka saat masih muda dulu. Ada yang fakta, ada yang dilebih-lebihkan, bahkan tak jarang Ozhi mengada-ngada.

    Tetapi mereka yang mendengarnya hanya mengangguk-angguk takjub mendengar kisah petualangan Jhuro dan kawan-kawan. Mereka mencerna semuanya tanpa mengunyahnya pelan-pelan. Mereka sudah melihat Jhuro membunuh empat belas orang dari Blackwood dengan mudah, kemudian menantang petarung dengan tiga level lebih tinggi darinya dengan santainya, sekarang apa lagi yang bisa membuat mereka tak percaya?

    Setelah itu, tenda Ozhi pun ramai kedatangan petarung-petarung lain. Kini, mereka datang untuk membicarakan tantangan duel Jhuro dengan Hale. Tak sedikit mereka yang sinis merasa tantangan ini adalah jebakan untuk Blackwood, berpikir Jhuro sengaja membawa keluar harimau dari sarangnya supaya bisa dengan mudah membunuh anak-anak harimau di situ. Hal ini tentu tidaklah mustahil jika kita berbicara tentang Jhuro Yashura. Pria itu sudah melakukannya sebelumnya, ia sengaja memancing Hale keluar dari markas besar lalu delapan orang Blackwood dalam hitungan menit.

    Benar tidaknya Jhuro hanya menggertak memberikan tantangan kepada Hale Blackwood, itu bukanlah masalah. Semua orang sudah terlanjur bersemangat tentang hal ini. Bahkan Ozhi pun mengambil kesempatan untuk menjadi bandar judi tentang pertemuan Hale dan Jhuro nanti. Lebih dari lima puluh orang langsung menggerogoti lapaknya.

    Berbeda dengan suasana kamp yang bersemangat dan tertarik oleh kejadian baru-baru ini, wajah orang-orang Blackwood terlihat muram. Terutama Hale Blackwood, yang melihat enam kepala manusia dalam karung yang ada di depannya.

    “Hale, bagaimana menurutmu? Semua orang sudah tau tentang hal ini. Jhuro menantang dan kalau kita menolaknya orang-orang akan menertawakan kita.”

    Mendengar Swordsman berlevel 47 di sebelahnya bertanya dengan nada cemas dan tak bisa berbuat apa-apa, dahi Hale semakin berkerut namun ia tak berkata apa-apa.

    Swordsman itu hanya bisa mendesah mengeluarkan rasa pahit dibenaknya.

    “Seharusnya aku gak mengirim anak-anak untuk mencari Jhuro. Kamu sudah memperingatkan tapi aku hanya mendengarnya dengan kuping kiri keluar ke kuping kanan. Ah!”

    Dengan itu, Swordsman itu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar tenda.

    “Joshua...” panggil Hale pelan, matanya masih tak lepas dari kepala-kepala itu.

    “Ya?”

    “Suruh semua orang berkumpul di satu tempat yang aman. Gak ada yang boleh keluar, bahkan kalau ada yang mau kencing pun potong burungnya kalau dia masih nekat!”

    “Kamu akan menjawab tantangan itu?”

    Hale menoleh ke arah Swordsman yang bernama Joshua itu. Mata Joshua sudah berkilat-kilat, berharap Hale mengembalikan muka Blackwood setelah diinjak-injak oleh Jhuro.

    Tetapi Hale hanya menggeleng-geleng kecil dan membuatnya kecewa.

    “Akunya yang bodoh kalau menjawab duel yang lokasinya dipilih oleh Jhuro. Dia sudah membuat kita malu dan mengira kita sudah terpojok untuk masuk jebakannya, tapi ia gak tau kalau setelah bantuan kita datang, satu hal yang menunggunya adalah kematian! Apalah artinya reputasi jika pada akhirnya kita bisa memenggal kepala Jhuro untuk membalas kematian teman-teman kita!”

    Joshua tersenyum masam sambil mengangguk-angguk. Menurut Hale, membalas dendam adalah prioritas utama. Tapi tetap saja, Joshua berharap mereka bisa melenyapkan masalah ini tanpa harus melempar harga diri mereka ke kubangan lumpur.

    “Oh? Kamu gak suka dengan keputusanku?” tanya Hale Blackwood ketika melihat senyum Joshua yang dipaksakan.

    “Bukan begitu. Hanya saja...”

    “Kalau kamu masih ragu, ayo kita kabari kejadian ini kepada orang itu. Hanya dia yang tau keputusan terbaik. Mari kita lihat apa balasannya.”

    Hale bangkit untuk menulis sesuatu di secarik kertas, kemudian menempelkannya di kaki elang peliharaannya. Setelah memberi sedikit daging dan mengelus-elus bulu elang itu, Hale membawa elang itu keluar dan melepaskannya.

    Elang itu terbang ke arah selatan. Di tengah-tengah kegelapan malam, tak ada yang tahu ia mengepak sayap pergi dari kamp tersebut. Setelah beberapa jam kemudian terbang dengan kecepatan penuh, elang tersebut melihat sosok tiga pria yang berjalan di tengah padang pasir dan kemudian menukik tajam ke bawah.

    “Itu elang Hale,” sahut seorang pria dengan bujur panah di tangannya. Ia adalah seorang Ranger yang mengeluarkan aura berlevel 48.

    “Sesuatu terjadi di kamp itu,” imbuh seorang Knight berpakaian santai dengan level sama di sebelahnya.

    Saat elang itu mendekat, ia mengarah kepada seorang pria yang lain. Pria itu berperawakan kurus kering dan mengenakan jubah longgar berwarna hijau gelap. Wajahnya yang putih pucat asli dan kantung hitam di matanya memberikan kesan kelam pada pria itu, namun ia selalu membawa senyum tipis di wajahnya.

    Saat elang itu hendak mendarat, ia melindungi tangannya dengan kain tebal jubah untuk memberikan tempat singgah kepada elang tersebut.

    “Hmm? Pesan dari Hale?” kata pria berjubah itu, matanya langsung bersinar.

    “Apa yang ditulis di situ?”

    Pria berjubah terdiam sebentar membaca surat itu, kemudian senyum tipis di wajahnya langsung bermekar menjadi senyum riang.

    “Dia akhirnya melawan sebelum mati. Hehe.”

    “Jhuro Yashura melawan? Apa rencana kita sudah ketauan?”

    “Apa boleh buat, persiapan kita terlalu ceroboh. Sudah kubilang menargetkan Jhuro akan terlalu merepotkan hanya demi seorang gadis kelas unik. Tapi kakek-kakek tua itu gak pernah mau mendengarkanku,” keluh si Ranger mengingat Dewan Keluarga Blackwood sama sekali tak mengindahkan kata-katanya, bahkan salah satu dari mereka sempat mencemoohnya karena menjadi takut hanya karena seorang Jhuro Yashura.

    Tapi pada umumnya, seorang Ranger pasti akan sering berada di luar untuk menjalankan misi atau pun memburu monster. Otomatis ia pun sangat tahu tentang informasi-informasi serta rumor tentang dunia luar. Rumor tentang Jhuro yang tak banyak diketahui oleh orang-orang beredar dari mulut ke mulut dan sempat ia mendengar cerita tentang Jhuro yang membuatnya takjub dari seorang teman terpercaya. Oleh karena itu, ketika Blackwood secara arogan ingin menargetkan Jhuro karena ingin melepaskan seorang gadis dengan kelas unik dari genggaman keluarga di desa tak terkenal, ia langsung tahu masalah ini akan menjadi rumit nantinya.

    “Hehe. Bukan hanya merepotkan. Dia sudah membunuh orang-orang kita, dan gak ada yang tau di mana dia sekarang.”

    “Apa?! Manusia kampung itu berani membunuh orang-orang kita!” raung si Knight murka.

    Berbeda dengan si Knight, Ranger itu sudah mengantisipasi hal seperti ini. Jadi ia nampak lebih tenang, dan bertanya kepada pria berjubah itu dengan nada pelan.

    “Berapa korban dari kita?”

    Pria berkulit pucat itu melihat ke arah si Ranger. Sambil mempertahankan senyumnya ia menjawab:

    “Empat belas orang.”

    “APA?!”

    Mendengar jawaban pria itu, si Ranger dan Knight pun tak mampu menyembunyikan keterkejutan mereka. Empat belas orang mati di tangan seorang Jhuro? Empat belas orang adalah separuh dari orang-orang yang Blackwood kirimkan ke sini. Untuk membunuh empat belas orang begitu saja, perkara macam apa ini?

    “Ngapain kalian terkejut seperti itu? Jhuju biasanya memang begini. Bahkan pernah waktu itu, dia membuat seisi desa saling bunuh hanya dengan sebotol racun berelemen chaos. Kemudian dia menyapu bersih orang-orang yang selamat dengan gas beracun. Semenjak itu, Jhuju membantu menambah koleksi mayatku. Hehehe.”

    Mendengar pria itu tertawa kecil, si Knight dan Ranger itu hanya bisa merundukkan kepala dengan air muka masam. Mereka berdua adalah petarung berlevel 48. Tetapi di depan pria ini, seorang dengan level 45, mereka sama sekali tak berani bersikap angkuh dan arogan.

    Karena walau pun memiliki level yang tak begitu mengagumkan, pria ini begitu kuat sampai-sampai disandingkan dengan Hale Blackwood serta Alex Blackwood yang disebut-sebut terhebat di Blackwood pun tak berani macam-macam dengannya!

    Seorang petarung misterius Blackwood, tak banyak yang mengetahui keberadaannya. Situasinya pun mirip seperti Hale, ia adalah pribadi eksentrik yang sikapnya sangat bertolak belakang dengan mayoritas Keluarga Blackwood yang merupakan tipikal kaum elite arogan dan angkuh.

    Jika dibilang Jhuro Yashura sama sekali tak takut dengan Blackwood, itu tak benar sama sekali. Karena kalau saja ia tahu pria pucat berjubah ini datang ke kamp itu, ia akan berpikir dua kali untuk provokasi Blackwood dan menginjak-injak muka mereka di depan mata ratusan petarung yang lain seperti saat ini.

    Itu karena ia mengenal pria ini. Bagi seorang petarung dengan kelas unik yang memiliki metode khusus untuk bertarung, Jhuro pun mengakui kekuatan petarung dengan kelas unik lain yang memberikannya kesan berbahaya padanya.

    Ya. Pria ini adalah satu-satunya petarung dengan kelas unik Blackwood dan adalah senjata rahasia keluarga itu, walau pun mereka jarang menggunakannya karena tak menyukai kepribadian dan cara bertarungnya.

    Bahkan mereka selalu mencoba untuk menyembunyikan fakta keberadaan tentang pria itu dari dunia luar.

    Karena kekuatan dan aura pria itu sangat kental dengan hawa-hawa jahat serta juga aura kematian.

    Ia adalah seorang Necromancer!

    Seorang yang bisa membangkitkan mayat berjalan untuk dijadikan pasukannya. Ia adalah petarung dengan kelas Summoner unik yang bisa berkomunikasi dan memerintah orang-orang mati.

    “Jhuju juga menantang Hale untuk berduel setelah mengirim enam kepala orang-orang kita,” katanya pelan dengan nada sedikit bersemangat. “Hehe. Empat belas orang kita mati dan ia langsung menantang Hale. Tapi si bulldog itu hanya bisa duduk diam manis sambil menunggu kedatangan kita.”

    “Kenapa? Jhuro Yashura sudah membunuh empat belas orang kita. Mengapa dia menjadi kecut tiba-tiba? Ini bukan seperti Hale! Biasanya dia langsung berlari keluar dengan kapak di tangannya,” kata si Ranger sambil menaruh jari di dagunya.

    “Apalagi alasannya? Hale bukanlah seperti Tuan Alex yang selalu menjaga harga diri Blackwood. Cuma di luar saja dia kelihatan ganas dan berbahaya, tetapi ketika Blackwood menghadapi masalah seperti ini dia sama sekali gak berani maju.”

    Knight itu masih marah ketika mendengar empat belas orang mereka mati. Jadi ia mencaci nama Hale untuk melepaskan rasa kesalnya.

    “Uhuh. Hale sudah benar. Kalau kita bermain sambil mengikuti aturan yang dibuat si Jhuju, cepat atau lambat kita akan kalah walau pun dia bakal mati pada akhirnya. Jhuju bukan petarung biasa yang menghargai kejayaan dan gak terlalu mementingkan harga diri petarung pula. Jadi kalau dia bilang bakal menantang duel sampai mati Berserker level 49 seperti Hale sebelum tujuannya menginjak-injak muka Blackwood sampai habis tercapai, maka berarti aku juga bisa bilang sudah pernah mencicipi janda kembang seperti Ratu Eliza. Hehe.”

    Mendengar itu si Knight pun terdiam. Ranger yang semenjak tadi tak bisa berbuat apa ikut tertawa dengan nada pahit bersama dengan Necromancer itu.

    “Aku akan menulis balasan untuk bilang ke Hale untuk tetap menunggu kita. Berapa hari kita akan sampai ke situ?” tanya si Necromancer.

    “Kira-kira dua hari jika kita mengambil istirahat,” jawab si Ranger.

    “Kalau kita bergegas?”

    “Satu hari bisa sampai.”

    Necromancer tersebut menulis surat balasan dan mengirim kembali elang Hale. Ia menepuk-nepuk jubahnya dari pasir kemudian melangkahkan kaki kembali. Dua petarung yang lain langsung mengikutinya tanpa mengucapkan kata-kata tambahan.

    Angin malam yang berhembus di padang pasir itu terasa sangat dingin. Wajah si Knight dan Ranger semakin lama semakin tertekuk muram karena disambar angin itu. Tapi berbeda dengan si Necromancer. Wajah pucatnya semakin berseri-seri ketika mengetahui ia mendekat ke arah tujuan mereka.

    “Aku mendengar Ozhi juga ada di sana,” si Necromancer berbisik pada dirinya sendiri. “Aku sudah lama gak melihat si gendut itu. Mungkin dia sudah agak kurusan sekarang. Lama sekali aku gak ketemu lagi sama anak-anak dulu, sudah berapa tahun ya?”

    Matanya berkilat-kilat penuh harap.

    “Kali ini, Jhuju... Hehehe. Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Reunian kita bakalan seru. Jhuju, ayo kita bermain lagi seperti dulu!”

    ***

    Malam itu, kediaman Malikh sangat tenang dan hanya dihiasi suara jangkrik. Di sebuah ruangan yang diterangi beberapa lilin di sudut ruang, seorang pria seumuran Jhuro Yashura lagi terkulai lemah di kasur. Tubuh yang sebelumnya kekar dan sehat itu kini sudah mengering hampir tersisa tulang saja. Rambutnya yang sebelumnya hitam legam kini sudah menjadi putih lemas disinari cahaya lilin.

    Di sebelah kasur, duduk seorang wanita cantik yang lagi memijat-mijat telapak tangan kering pria itu. Di wajahnya ada tanda kesedihan yang dalam saat ia melihat nasib suaminya sudah seperti ini. Pria yang terbaring itu tersenyum ingin menghibur istrinya, namun melihat senyum lemah itu hanya membawa lebih banyak rasa sesak di dada wanita itu.

    *Tok tok tok*

    Suara pintu diketuk dan dibuka, seorang gadis muda mengenakan gaun putih muncul membawakan nampan dengan bubur dan teh beraroma herbal pekat yang bisa tercium sampai beberapa belas meter jauhnya.

    Sekilas, gadis itu mirip sekali parasnya dengan wanita yang lagi bersedih di samping suaminya. Ia adalah Bhela Malikh yang satu setengah bulan yang lalu muncul di depan kediaman Yashura.

    “Ayah, Mama, teman Bhela tadi berkata ingin menjenguk,” kata Bhela dengan nada pelan dan gugup.

    “Gadis Blackwood itu?” tanya ibunya dengan nada ketus. Kesedihan di wajahnya berubah menjadi marah. Ia sama sekali tak menyembunyikan rasa bencinya pada niat baik teman anaknya.

    “Gak apa-apa. Tapi sekarang ayah lagi ingin beristirahat. Mungkin besok kamu bisa membawa Nona Muda Blackwood kemari.”

    “Mm. Ayah beristirahat yang baik. Semoga lekas sembuh. Bhela permisi dulu,” Bhela tak ingin berlama-lama di ruangan itu. Dalam hatinya, ia tahu alasan ayahnya terkulai lemah di kasur. Ada rasa bersalah yang dalam di hatinya, sangat sulit rasanya untuk menghadap kedua orang tuanya lagi.

    Orang tuanya terdiam menunggu ia berjalan pergi. Ayah Bhela hanya bisa mendesahkan napas panjang melihat sikap istrinya.

    “Kenapa kamu begini terus. Bhela dan Nona Muda Blackwood bermaksud baik. Mereka berhati polos dan gak tau apa-apa. Kenapa harus kamu ikut membenci anak kecil segala?”

    “Kenapa? Apa harus ditanya lagi? Kalau saja Blackwood gak pernah datang kemari, kamu gak bakal pernah diracuni.”

    Pria itu tersenyum lagi dan menggeleng-geleng. “Sudah berapa kali kubilang. Healer dan Specialist yang kita sewa gak pernah mendeteksi ada racun ditubuhku. Barangkali ini hanya kutukan yang kudapatkan saat berpetualang dulu menyala lagi.”

    “Siapa yang mau kamu bodohi? Aku gak bodoh. Bhela juga gak bodoh. Seratus kali pun kamu menjelaskan kami gak bakal percaya kebohonganmu. Tapi mereka terus mencoba menarik Bhela keluar dari sini. Kakek-kakek sialan itu juga selalu menjilat kepada Blackwood. Suatu hari nanti aku akan mengusir Blackwood dan juga para kakek-kakek pengkhianat itu dari Keluarga Malikh kita. Kalau saja.... kalau saja....”

    Ayah Bhela membelai wajah istrinya dengan tangannya yang lemah. Wanita itu mulai menangis terisak-isak.

    “Mengapa semua ini terjadi ke keluarga kita?” tanya wanita itu dalam tangisnya. Awalnya, walau Malikh tahu Blackwood sangat ingin mengikat anak mereka, Blackwood tak akan berani melukai dan memutuskan tali hubungannya dengan Bhela. Begitu yang dipikir oleh wanita itu dan juga suaminya.

    Tetapi tiba-tiba semuanya mulai menjadi kacau. Kepala Keluarga Malikh yang secara tegas tak mengindahkan ketamakan Blackwood malah beberapa hari yang lalu langsung menjadi lemah dan tubuhnya menjadi kurus dan menua seperti energi ruhnya dihisap habis oleh udara.

    Healer dan analisis Specialist semuanya menunjukkan bahwa ini adalah penyakit alami tanpa gangguan dari pihak luar. Tetapi orang-orang Malikh bukanlah orang bodoh.

    Para sepuh dan Dewan Keluarga Malikh yang sudah menjilat Blackwood hanya bisa tersenyum pahit melihat nasib kepala keluarga mereka.

    Tapi yang lebih parah lagi adalah Tarin Malikh. Semenjak sikap arogannya di depan gerbang Yashura waktu itu, hampir semua Dewan Keluarga di Keluarga Malikh tiba-tiba menjauh dari kubunya. Pengaruhnya di Keluarga Malikh langsung turun drastis, orang-orang selalu mencari kesalahan-kesalahannya dan menjadikannya kambing hitam dalam segala hal.

    Belum berlalu sepuluh hari semenjak kejadian itu, posisinya melemah dan dengan mudahnya ia dicopot dari jabatannya dari Dewan Besar Keluarga Malikh. Dua anaknya pun yang bertugas di luar untuk sebuah fraksi tiba-tiba menghilang begitu saja. Cucu-cucunya tak bisa lagi mendapatkan ramuan dan bantuan dari Keluarga Malikh, kondisi mereka sudah seperti anak yatim yang tak diinginkan oleh dunia lagi.

    Rupanya, tindakan Tarin waktu itu sangat menyinggung Blackwood. Dan ia pun meninggal karena depresi dua minggu yang lalu.

    Ayah Bhela merenung sesaat. Dalam benaknya ia mengingat suatu kejadian di masa mudanya. Kejadian itu adalah kejadian yang mengubah seluruh hidupnya.

    “Ini adalah ujian bagi Keluarga Malikh,” katanya pelan, ada percikan api tekad di matanya yang melemah.

    Waktu ia muda dulu, ia sempat terjebak dalam suatu gua bersama Jhuro. Untuk bertahan hidup, mereka memakan serangga dan tak sedikit dari serangga-serangga itu yang beracun. Jika saja Jhuro bukanlah seorang Blackfang Swordsman, barangkali mereka sudah kelaparan waktu itu.

    Tetapi para Dewa mempunyai rencana lain untuk mereka. Di saat-saat harapan sudah tak terlihat lagi, mereka bertemu dengan seorang kakek tua di dalam gua itu.

    Berapa persen kemungkinannya bertemu dengan seorang kakek asing dalam gua tak berpenghuni? Setelah berminggu-minggu berusaha bertahan hidup dari kelaparan?

    Ia dan Jhuro muda langsung tahu itu adalah sebuah pertanda. Benar saja, kakek tersebut ternyata menunggu kedatangan mereka. Terutama kedatangan Jhuro.

    Lebih tepatnya lagi, kedatangan anak dari Jhuro yang saat itu belum lahir.

    Kakek itu mengatakan suatu ramalan untuk memberikan harapan bagi mereka untuk bisa bertahan hidup dalam gua itu. Ramalan tersebut adalah bentuk apresiasi si kakek tersebut kepadanya dan Jhuro muda setelah mampu bertahan hidup seperti kecoak.

    Ramalan yang mengatakan datangnya seorang Spirit Conductor!

    Ia dan Jhuro tak mengerti apa-apa tentang Spirit Conductor. Tetapi kakek itu berkata lagi. Sebagai Spirit Conductor, suatu hari anak Jhuro akan memahami dan membangkitkan kembali rahasia terbesar Keluarga Yashura.

    Mendengar itu, ia dan Jhuro langsung terkejut bukan main. Ia adalah teman terdekat dan terpercaya Jhuro. Sebagai sahabatnya, ia pun mengetahui rahasia terbesar yang dipendam Jhuro.

    “Keluarga Yashura bukanlah keluarga biasa. Leluhur mereka adalah korban yang selamat dari sebuah keluarga yang dihancurkan oleh serangan gabungan clan-clan monster dari segala penjuru dunia dan akhirnya mengganti nama dan bersembunyi ke desa ini. Kalau saja Shira berhasil mendapatkan kejayaan leluhur mereka, maka pada saat itu bukan saja Blackwood tak berani bersikap arogan di depannya, bahkan sang raja dan pemimpin-pemimpin fraksi besar itu pun harus memberi hormat kepadanya!”

    Ayah Bhela berbisik pada dirinya sendiri untuk memperkuat tekadnya lagi untuk menyatukan keluarganya dengan Keluarga Yashura. Karena ramalan ini, ia memutuskan untuk berhenti mengejar impiannya menjadi petualang terhebat dan mencoba untuk mendaki posisi terpuncak di keluarga ini, agar suatu hari ketika ia memutuskan untuk menikahkan anak gadisnya dengan anak Jhuro, maka tak ada satu pun anggota lain yang bisa mempertanyakan keinginannya.

    Dan sekarang tekanan dari keluarga seperti Blackwood belaka tak akan mampu menggoyahkan tekadnya.

    Istrinya yang masih terisak tak jelas mendengar gumamannya. Tetapi wanita itu mendengar jelas ucapan pria itu saat ia tengah melamun sambil menatap langit-langit kamar.

    “Spirit Conductor, sampai sekarang aku gak tau apa maksudnya. Tapi kondisi anak itu yang sampai sekarang gak ada kemajuan, aku tau pasti ada sangkut pautnya dengan Spirit Conductor. Apa Spirit Conductor itu suatu nama dari kelas unik? Tapi hanya sekedar kelas unik gak bakal mampu membuat kakek itu menunggu selama itu....”

    Ia begitu terbawa oleh lamunan dan suasana hatinya sampai tak sengaja membiarkan istrinya mendengar kata “Spirit Conductor”, kata yang tak pernah ia ucapkan semenjak keluar dari gua itu. Tetapi mengingat kakek itu begitu tua dan sangat, sangat kuat sekali menunggu hanya untuk seorang anak bernama Shira Yashura, hatinya yang sempat melemah oleh tekanan Blackwood kembali membara-bara.

    “Aku siap mati asalkan anakku menikah dengan Shira! Blackwood... coba saja lihat apa kalian sanggup menggetarkan tekadku!”

    Pria itu mengangguk sambil tersenyum-senyum sendiri. Ekspresi sedih si istri yang melihatnya tenggelam dalam pikirannya sendiri berubah ketika ada cahaya baru muncul di wajah suaminya yang sudah putih memucat.

    ***
     
    • Like Like x 1
  21. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    tiba-tiba dapet inspirasi untuk karakter baru :hehe:

    seprtinya proyek saya yang lain hiatus dulu, soalnya saya pengen agak kebutan buat proyek yang ini sampai chapter 16, setelah itu diedit dan dicetak supaya saya bisa meraba-raba hasil ketikan saya selama hampir dua bulan ini :mesum:
     
    • Like Like x 1

Share This Page

About Forum IDWS.ID

Indowebster, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.