1. Sssst, ada Administrator baru di forum Indowebster lho... cek di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Sin Tree [ ask for rating]

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by WhiteSin, Apr 25, 2010.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    WhiteSin Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Aug 31, 2009
    Messages:
    602
    Trophy Points:
    66
    Ratings:
    +127 / -0
    Bgi pembaca di IDWS gw minta penilaian dari karangan gue ini, sehabis baca contoh dari novel luar negri gw jd pengen buat karya tertulis terutama yg cerita, ini salah satu hasil gue pliz comment.....

    :onegai::onegai::onegai:



    Chapter 1 The Roots

    Manisnya suasana sore hari, saat-saat matahari tertidur di ufuk barat. Cahaya jingga cerah memandikan dua orang yang berada di kelas 2 IPS yang tak begitu luas. Langit menerangi ruangan ini dengan seberkas cahaya yang menerobos rentetan jendela kelas, melewati kaca jendela bening yang tingginya sekitar satu setengah meter, terpantul pantul di tembok. Jam kegiatan belajar mengajar sekolah seharusnya sudah selesai semenjak jam empat. Aku tetap duduk di bangkuku setelah bel pulang berdering, meskipun tadi regu piket sudah mati-matian mengusir tapi lapak yang ada harus tetap dipertahankan. Enak aja mau dijajah, lagian udah PeWe masa diganggu?. Meski bangku-bangku sudah diangkat terbalik di atas meja bukan berarti bangku tempatku juga harus dibereskan…

    Seorang dengan baju SMA-nya masih diam di depan pintu kelas, alas kakinya telah berganti sandal.
    Dia berdiri tanpa memecah keheningan. Badannya agak basah karena keringatnya yang terkuras keluar setelah berlarian kesini. Nafasnya setengah tersengal, kelihatannya dia terburu-buru kesini hanya untuk menemuiku. Niko tak ingin bicara duluan dikarenakan kondisinya masih belum beres.

    “…motorku tadi kutinggal di jalan gara-gara macet. Aku takut kamu pulang duluan.”

    Dia pasti sengaja berkata seperti itu agar aku merasa iba padanya, tapi sayang, takdir takkan berubah.
    Kalimat yang akan keluar dari mulutku ini takkan bisa digebrak oleh rayuan macam apapun.

    “Maaf, aku eggak bisa jadi pacar kamu. Soalnya aku enggak mau.” Beru berapa detik, pemuda itu kemudian menunduk kecewa. Dia menutupi wajahnya tapi aku tahu matanya kini berlinangkan air syahdu.

    “Enggak papa aku ngerti kok. cukup kamu tahu perasaan aku juga udah lega rasanya.
    Aku bisa lanjutin sekolah ke Jerman tanpa beban sekarang…”

    Ucapannya seperti seorang yang tegar, tapi ia tak bisa menyembunyikan perasaannya yang rentan.
    Kini ia membalikkan badan, tubuhnya dipakai sebagai topeng untuk menutup wajahnya yang penuh sendu dari pandanganku. Niko mulai beranjak pergi. Akankah dia benar-benar akan menerima ini…? Mungkin ya, kalau seandainya dia seorang nabi yang memiliki tingkat kesabaran tinggi.

    “...jangan pergi dulu…! Kalau kamu pergi aku akan kesepian di sini.“

    Kami saling berhadapan kembali, masih dalam jarak sejengkal kaki, bukan manusia…… tapi Bigfoot

    “Memang aku enggak mau jadi pacar kamu… Tapi yang aku mau… Kita terus sama-sama, sekarang dan selama-lamanya. Karena aku lebih sayang kamu dari aku sendiri...”

    Pemuda itu menyadari. Ini adalah kisah yang paling mengharukan dalam kehidupannya.
    Mungkin tak semua orang yang dapat merasakan apa yang dialaminya saat ini. Perasaan indah yang mekar setelah ditanami oleh bibit kebahagian. Dia berlari pelan menghampiriku, tinggi badannya seperti cowok-cowok normal yang lain, namun jika dibandingkan dengan tubuhku yang hanya bekisar 148cm ini masih dianggap kerdil olehnya.

    Tapi kalau boleh jujur, sewaktu Niko berlari di atas kepalanya seperti ada pernak pernik yang mirip bola. Matahari? Enggak mungkin, masa ada di atas kepala. Di sisi kanan ruang kelas juga ada objek yang berkelap kelip. Bintang? Ahh ngaco, bintang film iya…! Padahal kalau ini semua kenyataan pasti orang-orang terharu banget, sayangnya semua ini hanya rekayasa buat muas-muasin adegan visual.
    Supaya enggak gajebo silakan baca paragraf di bawah…

    “Ooo CUMIIIIII!! Ternyata kalo loe di paksa guna juga. Sumpah boo, tadi keren banget!!
    Jessica alba bisa punya saingan baru nih!”

    Sutradara melompat-lompat kegirangan, layaknya kelinci kelaparan yang menemukan ladang wortel yang baru panen dan seolah aku yang menjadi wortelnya. Dinah kemudian berlari memeluk erat tubuhku, tangannya agak berotot membuatku kesulitan bernafas saat ingin bicara. Kelihatannya adegan tadi cukup bagus sampai bisa memuaskan seperti ini.

    “Besok-besok gue enggak betah kalau gini lagi!" Balasku dengan alis mata mengkerut.

    Hendry kemudian ikut menimpal ,“Makannya, kalau di kelas sering-sering ngobrol, jadi enggak kaku terus kalo ngomong!!”

    Kubalas huncaman pujian termasuk kritik yang turun dengan senyuman masam, hampir semua kru mengagumi aktingku yang masih amatir. Sebenarnya masih ada banyak take adegan yang belum di ambil, namun berhubung anggota regu sudah kecapean dan kegiatan kami ini masih tergolong amatir alias enggak usah mentingin hal-hal ribet kayak deadline yang harus mengejar tayang kami bisa pulang dan menarik nafas di rumah setelah seharian terus pontang-panting dengan beberapa kerjaan.
    Sehabis beres-beres perlengkapan, susunan bangku dan kursi . Tenagaku hampir habis saat itu, untungnya para gentlemen yang mengurus sebagian bebanku. Kebetulan juga satpam sekolah yang bertugas mengunci ruangan tiba di kelas saat hendak berangkat pulang.
    Dan yaaah. Beginilah rutinitas setiap hari. Bolak balik kayak Ferdinand Magellan yang nyari bukti nyata kalau dunia itu bulat, untungnya gue cuma bolak balik dari Kapuk sampai Muara angke doang ke sekolah. Cuma berapa kilometer setengah jam juga sampai kalau di belain naik motor, itu juga belum kehitung macet. Namun bagaimanapun juga, gue pingin ada sedikit perubahan. Tahu sendiri masa puber orang-orang tuh maunya coba ini coba itu. Tapi jangan asal coba-coba lho!!
    Empat sekawan berjalan dengan beberapa perlengkapan, lorong kelas sudah sepi, paling hanya aula sekolah saja yang terisi oleh anak-anak yang ikut ekskul bulutangkis atau karate.

    “Hooooaam ngantuk….” Niko menguap.

    “Woooah Gue kehisap! lontooong!!” Hendry yang tadinya didepan spontan mundur setelah lelaki di belakangnya membuka mulut lebar-lebar.

    “Ngapain sih loe?! enggak jelas...” Niko lantas kesal dengan temannya yang satu ini karena dikira vaccum cleaner yang bisa menyedot apa saja.

    Banyak tingkah, itulah yang dapat digambarkan saat pertama kali ketemu Hendry. EQ tinggi tapi malangnya oh malangnya IQ-nya nungging, tinggal disepak dari belakang juga udah mental jauh.
    Beda dari Hendry, orang intelek. Pinter gaul, kalau ngomong enggak asal ngerocos aja, sedang kawannya yang satu lagi kalau ngomong seperti petasan roket, percikannya bisa sembur sana sembur sini.

    “Tahu enggak bedanya immoral sama immortal?” Hendry lagi-lagi mencoba membuat lelucon garing.

    “Ya beda lah. Artinya aja udah lain” Jawab Niko tersenyum bercampur seringai

    Dinah kemudian turun bicara ,“Immortal tuh gue, kalau immoral tuh elo. Alias enggak punya moral! Hahaha!”

    Tawa keras yang memenuhi lorong sekolah,rasain deh, Hendry terpojok dengan leluconnya sendiri dan berakhir menjadi bahan tertawaan. Lawakan yang menjadi senjata makan tuan.

    “Habis tinggal diplesetin dikit tulisannya, artinya udah beda…”

    “Terus maksud lo apa?” Niko menanyai balik

    “Biasa lah, tahu dikit sok-sok dipamerin. Gayanya pengen eksis tapi gak kesampaian.”
    Sindir Dinah. Dan lagi-lagi anak itu ditertawai, tapi tidak separah yang tadi.

    Hendry emang suka di buli-buli gara-gara paling banyak tingkah di sekolah, emosionalnya masih labil layaknya anak-anak. Kebanyakan temannya di sekolah cowok malah gara-gara itu ada juga yang nuduh dia Gay habisnya salah dia sendiri jarang banget ngobrol sama cewek kalau enggak penting-penting amat. Tapi menurutku dia cuma gagap saja kalau ngomong sama cewek, bukan berarti dia ada kelainan.
    Zzz… kurang kerjaan banget pakai mikirin orang lain segala. Padahal aku sendiri juga enggak jauh kayak dia, jarang ngomong kalo enggak di ajak duluan. Memang kalau di sekolah logatku jadi cewek pendiam, diperhatiin orang aja udah sukur, kalau enggak ya cuma jadi kambing bengong.

    ***

    Aku berhasil pulang kerumah, menerjang panasnya jalanan dari asap kendaraan dan debu jalanan.
    Residen berlantai dua dengan warna kuning krem mendominasi tembok rumahku, pagarnya dari bahan baja anti karat dengan gerbang slide sebagai penutupnya. Terasnya dihuni oleh dua ekor kucing liar, satu betina dan satu lagi jantan. Saat masuk pintu rumah tak terkunci, di dalam ternyata ada seorang lain…

    Cowok yang diam, kalem, tanpa sedikitpun respon dia duduk bersila di ruang tengah. Jari tangannya bergerak tanpa henti memijit-mijit tombol PSP yang dia mainkan. Sepertinya dia sedang memainkan game berbasis action. Saat bermain seluruh anggota badannya tak ada yang bergerak, tak terkecuali kelopak matanya, jarang sekali berkedip hanya jari-jari tangan kilat yang beraksi. Dia bahkan tidak memperdulikan kehadiranku saat mendekatinya.Kalau diajak bicara orang ini seperti radio keramat yang baru akan bersuara setelah ditabok. Akhirnya aku mengawali pembicaraan dengan sedikit mengagetkannya.

    “Jon, Joni hari ini kok loe gak ke sekolah?!” Sergahku dengan sedikit tepukan di pundaknya.

    “Hari ini ga ada ulangan. …tinggalin gue sebentar, gue lagi serius. ” Jawabnya dengan arah mata yang masih menusuk tajam ke layar permainannya.

    Yah mau gimana lagi… kutinggal saja anak itu sendiri. Hari ini sikap Joni masih jutek seperti biasa. Mending lah, dulu dia lebih parah lagi, Sebelum rumah di renovasi sempat waktu itu banjir selama tiga hari, dan satu-satunya orang yang bertahan menginap di atas genteng selama itu cuma Joni. Dia nekat memasang kabel roller panjang dari stop kontak di kamarku, melewati ventilasi sampai naik-naik ke atas atap cuma untuk supply power baterai PSP supaya bisa tahan menyala nonstop.Awalnya tak ada yang menyangka kalau dia tak membawa makanan atau minuman, itu adalah salah satu keajaiban yang telah kusaksikan sendiri, Joni mampu menahan lapar dan haus selama itu kemudian para tetangga mulai terpukau oleh tingkah eksentriknya, tapi pada intinya mereka menganggap kalau Joni ini orang gila, gamer fanatik. Semua kedahsyatan itu dikarenakan permainan animasi virtualnya.

    “Sepupu lo juga kesini tadi, sekarang dia beli makanan dulu ke warung…”

    “Lah, si Fajar juga? Kok yang ke rumah gue rame banget ada apa nih??”

    Dia kemudian menyuruh agar aku menyalakan kipas. Tepat saat sayap kipas angin berputar tekanannya tak hanya menyejukkan ruangan namun karena itu juga ada suatu hal yang bergerak, kibasan angin menerbangkan kertas yang ada di atas kulkas. Setelah membacanya.

    ……orangtuaku telah mendapat panggilan pekerjaan diluar kota secara berbarengan.
    Meskipun mereka bekerja di perusahaan yang berbeda, Boss mereka sama. Singkatnya sekarang aku sendiri di rumah selama tiga minggu kedepan. Di dalam surat juga tercantum suatu hal mengenai konsumsi, mereka meninggalkan tujuh ratus ribu rupiah sebelum pergi, jadi perut ini sudah dijamin tidak akan keroncongan.

    Tapi… Geez, benar-benar. Orangtua macam apa mereka?! Meninggalkan anak putrinya sendiri di rumah dengan sepupu laki-lakinya karena pekerjaan. Bukannya aku menuduh mereka egois, tapi kerjaan khalayak dewasa itu memang merepotkan, setelah lulus sekolah nanti juga kerja, pasti repot juga. Setelah naik ke lantai dua, aku menyalakan komputer dalam kamar dan langsung membuka Face Book. Memasukkan email dan password, kutinggal dulu layar monitor kemudian kekamar mandi lalu membersihkan anggota tubuh. Setelah setengah jam lamanya PC kutinggal hujan yang turun deras terdengar. Kulihat update-an status teman-teman sekolah memenuhi notificate. Banyak notif orang hari ini, ada juga omongan enggak penting. Ada kata-kata yang sok puitis, bagi-bagi pengalaman alias curhat, ada juga update yang Alay (Bahasanya orang chat dengan gaya tulisan besar dan kecil yang di-mix jadi satu). Ternyata Yoppi juga ada di list chat, tanpa ragu aku langsung membuka pembicaraan.

    Aku :”YoppY!!”

    Yoppi :”Ahh Senja sori ya tadi enggak bisa ikut ngambil Film...”

    Aku :”Gpp kok tapi besok2 jgn lagi! Gw jadi repot tahu”

    Yoppi :”Eh BTW kan lu ada kesempatan tuh. Apalagi kan tadi ngambil adegan romantis kan??”

    Kata-kata dalam chat mulai memanas, si Yoppi menggodaku terus sampai aku malu di tempat.

    Yoppi :”Cie-cie…! Sama Niko lagi!”

    Aku :”Yeh!!! Udh2. Eh tadi sore emangnya loe kemana?”

    Yoppi :”Oh kebetulan tadi gue ketemu cowok bule di jalan”

    Yoppi :“Dia kecopetan gitu katanya...”

    Gue :”…hah?? Terus-terus?”

    Yoppi :” 100k”

    Gue :”Apaan tuh?”

    Yoppi :”FULUS mbak…”

    Gue :”Ha? Ap gk salah, kenal aja kgk udah asal kasih duit aja”

    Yoppi :”Hahah sebagai manusia kan harus tolong menolong”

    Walah... dia enggak cuma cantik tapi hatinya baik juga penuh loyalitas.
    Pantas kalau dia jadi idola anak-anak di sekolah.

    Gue :”Idih malem minggu kok ujan yah”

    Yoppi :”La emangnya mau jalan ke mana? punya cowok aja kagak. <3”

    Gue :”Sombong nih, mentang2 pacarnya senior kelas”

    Yoppi :”Hehe bercanda kok :P udah ngerjain PR Sosiologi belum?”

    Uh..? kalimat terakhir membuat jariku yang tadinya cekatan mengetik huruf di keyboard jadi beku-kaku.

    Gue :”Aduh Yop gw ke rumah Vera dulu catetan gue masih sama dia!!”

    Yoppi :”Eh sekalian beliin buku selusin plis besok gue gantiin deh”

    ****

    Dikarenakan hujan yang deras dan angin kencang yang menerpa menerobos pertahanan payungku. Kubah yang seharusnya melindungiku dari hujan jadi sulit utuk dibentangkan. Aku harus singgah sementara di sebuah halte. Masih ada tiga blok rumah yang harus kulewati sebelum aku bisa mencapai rumah, kalau dipaksa menerobos di bawah langit gelap itu bisa-bisa tubuhku yang kecil dan rentan ini kena pilek besok-besoknya.

    Oh iya… Cowok bule yang tadi jadi bahan obrolan ku dengan Yoppi ternyata masih ada di sini. Dia duduk tenang sambil memakan jagung rebus yang kelihatannya belum lama dia beli. Giginya yang putih menusuk dalam ke daging jagung.

    Badanku menggigil, tadi sempat aku kehujanan sedikit dan tak lama kemudian setelah duduk-duduk aku merasakan kehangatan, tanpa kusadari orang yang tadi menutupi badanku dengan jaket putihnya.
    Dia kemudian menatapku dengan ekspresi muka kasihan dan duduk kembali ke asal.

    “Thank you mister….”Pemuda itu tersenyum kecil. Ahh bego! Kenapa gue bilang mister? Padahal enggak ada tampang bapak-bapak sama sekali. Aduh kebiasaan manggil guru di sekolah jadi begini nih.

    Mulutnya kembali mengunyah biji-biji daging jagung, aku memperhatikannya selama semenit dan dia membalas tatapanku, lalu menyodorkan padaku sebuah. Tentu saja aku menolak, mungkin dia pikir aku sedang kelaparan, tapi tak serendah itu aku sampai harus menerima makanan dari orang asing.

    Ngomong-ngomong ini hujan kapan berhentinya…? Lapar banget nih belum makan dari tadi siang…
    Walau Dimas sudah membeli makanan untuk makan malam dia tak boleh makan makanan cepat saji, tidak baik, lebih baik jangan keseringan makan makanan yang cuma asal mengisi perut saja.
    Di rumah cuma ada beberapa telur dan sayur, mungkin aku bisa membuat omlet dengan bahan bahan yang ada. Oh…! apa jangan jangan ayah memberiku uang saku segitu banyaknya memang untuk membeli bahan makanan untuk aku dan Dimas selama tiga minggu! Aduuh, Joni juga sepertinya akan lama berada di rumahku.

    Setelah sekitar setengah jam, langit menyisakan rintikan air pelan, aku memutuskan untuk buru-buru saja kerumah selagi hujan berhenti, dan hendak mengembalikan jaket orang tadi. Namun…

    “Ahh tak perlu, kamu ambil saja saya enggak butuh lagi kok.” Kata-katanya terdengar sederhana, tapi, kok tiba-tiba rasanya aku jadi kesal ya… Aku terlamun. Sekitar 10 detik tanpa suara aku berpikir.

    Kalau gitu buat apa tadi gue ngomong pake bahasa inggris klo dia fasih pake bahasa Indonesia?! RESEEEKk!!

    Tetap saja aku memaksa untuk mengembalikannya, lagian siapa juga yang mau jaket apek begini?!
    Kayaknya udah dua minggu jaket ini tak dicuci. Pemiliknya lumayan tampan dan keren tapi kelihatannya dia tidak pintar mengurus dirinya sendiri. Buktinya tadi sore sampai kecopetan.

    “Duh gimana ya, Ayah saya ini punya produksi jaket, di rumah aja udah ada ratusan jadi kayaknya nanti cuma menuh-menuhin isi lemari…”

    “Bohong. Kalau begitu kenapa kamu enggak pakai? Mengaku saja kalau kamu memang enggak suka” Sial, aku salah mengira, tadinya kusangka dia cukup bodoh untuk tipuan seperti itu.

    “Ya. kalau kamu tahu begitu kenapa enggak mau nerima lagi??” Sedikit kekesalan kucampurkan dalam pembicaraan, menghasilkan suara yang lebih keras dari biasa.

    “…sudahlah ambil saja… Ga ada gunanya kalau kamu ngembalikan benda sama orang yang ingin bunuh diri.”

    Bunu… Hey? He-ey ini bukan april mop kan?! Ada orang yang mengaku akan bunuh diri! Dimana?
    Tepat di hadapanku! Kalian pikir aku akan menjawab apa jika ada orang yang berkata seperti ini?? Menyemangatinya supaya tetap hidup dan men-cancel niatnya untuk bunuh diri?

    Sori aja, kerjaan gue masih banyak ketimbang ngurus bule gila!
    Kulempar saja jaket bau itu ke hadapan mukanya dan meninggalkannya dengan air muka bermuram durja, dia toh orang gila, buat apa diurus…


    3 menit kemudian…


    “Oke kamu punya masalah apa…?” Karena keterpaksaan dari dalam hati dan rasa iba yang tak terhingga aku jadi kembali duduk di halte di sampingnya.

    Dia kemudian bercerita sedikit mengenai dirinya. Dia datang dengan kapal pesiar dan kemudian kapal tersebut mengalami kecelakaan laut. Lalu dia ditolong oleh seorang lelaki, dia kemudian tinggal sementara dengan keluarga lelaki itu. Dia bercerita kalau selama tinggal di sana ia mendapat kehidupan yang menggembirakan meskipun bukan bersama keluarga sendiri. Namun karena suatu insiden Anak perempuan dari lelaki yang telah menolongnya meninggal dunia, dan dia mengaku kalau salah satu faktor kematiannya juga karena kesalahan yang dia alami.

    “Jadi kamu buronan?!” Teriakku kaget. Dia melebarkan telapak tangannya dan menggerakkannya ke kiri dan kanan.

    “Enggak bukan gitu!” Kemudian mengambil udara dalam sekali hisap, lalu mendesah ucapannya gelagapan“Saya cuma mau nyari seseorang, saya kangen sama orang itu. Tapi mungkin orang itu juga udah enggak ada…”

    Kelihatannya yang dia katakan tak 100% benar, tapi aku juga tak bisa berasumsi kalau itu kebohongan.

    Aku kembali mengajak Bule itu berbicara “Gini ya, rata-rata orang yang bunuh diri pasti karena mau lari dari sesuatu, kebanyakan masalah hidup.” Dia pasti mengerti maksud dari ucapanku barusan, kalau tidak berarti dia memang benar-benar gila.

    Sejenak dia terlamun ,“Kamu sadar kita duduk dimana?” Ucapnya sambil melihat sekitar

    “…halte ini dibuat supaya orang-orang bisa unggu bus yang lewat. Sekarang kita berdua disini nunggu hujan reda, itu alternatif lain dari tempat ini. mereka dibuat dan punya tujuan. ga seperti saya…”

    Rasanya aku kurang mengerti untuk sekarang, tapi mungkin aku paham apa perasaan mengganjal yang dia pikul. “…aku enggak bisa langsung bantu kamu sekarang, gimana kalau besok kita ketemu lagi, berapa nomor kamu?”

    “Nomor apaan? Togel?” Dia menggeleng ,“Buat makan saja saya kesusahan apalagi buat judi…”

    Goblok banget nih orang!! “…ih kok bercanda sih, nomor Hp lah!”

    Dia menggeleng, berarti dia tak punya ponsel.
    Baiklah, aku memutuskan untuk datang lagi kesini besok, dan aku tetap meyakinkannya agar dia tidak bunuh diri malam itu. Matanya menatap tajam kepadaku menembus lensa kacamata, saat kami berbicara dengan serius aku tak yakin kalau hatinya akan menunggu seorang asing sepertiku.

    Sesampainya aku dirumah. Fajar sudah menyetel lagu "Guarded"-nya Disturbed Dengan DVD playerku. Suaranya terdengar walau dari jarak 15 meter dari rumah. Gila memangnya dia menyetel sampai volume penuh?!

    “Aduuuh berisik!!” Sepupuku langsung saja sigap mengecilkan suaranya sedikit.

    Untunglah dia orangnya penurut. Barangkali dia menyetel lagu keras-keras karena takut antenna rumah disambar petir kalau Tv yang dinyalakan. Atau mungkin juga dia menyetel lagu karena bosan telah menunggu aku yang tak kunjung pulang…

    “Ya udah aku bantu kamu masak ya?!”
    Dia mengambil salah satu kantung pelastik yang sengaja aku beli setelah pulang dari halte, hanya sedikit bumbu dapur yang ada jadi aku beli lagi di swalayan terdekat.

    Fajar orangnya memang suka menolong. Tapi ada satu hal yang perlu pembaca tahu, dia orangnya suka ekstrim, kadang dia berbuat hal tak wajar hanya untuk “Having fun” Menyetel MP3 keras-keras tadi hanyalah sebagian kecil dari kehebohannya yang pernah aku saksikan.

    “Besok jalan-jalan yuk, kamu mau gak??” tanyanya menggebu-gebu

    “Duh gimana yah…”

    Fajar kemudian menceletuk ,“Tante aku juga ikut kok! Kita enggak akan disangka pacaran kalau bawa orang lain!”

    Aku menggeleng ,”Besok enggak bisa ada kerjaan film kak…”
    Fajar tersenyum kecil, meskipun dia kecewa dia tetap pengertian.
    Kami terus memasak bersama, dia memang seringkali membantuku memasak atau beres-beres.

    “Eh soal cowok yang Namanya niko itu gimana?!”
    “Wah jangan-jangan besok ada adegan Hot nih… aduh-aduh, senja-senja kamu ini genit yah…!”

    “Ihh! kak Fajar apaan sih”

    Inilah satu hal lagi yang kurang kusuka dari dia, dia menyukaiku tapi juga sering menggodaku.
    Kalau ketahuan lagi demen atau lagi deket sama cowok pasti diusik-usik terus sama dia.

    “…he kamu udah minum obat belum?”

    Aku menggeleng pelan. Tapi setelah itu dia tak banyak bicara, dia juga tahu sendiri kalau kebanyakan meminum aspirin itu tak baik untuk diriku. Makannya dia mendukungku supaya sembuh dengan alami tanpa menelan obat analgesik.

    Yah beginilah, sebagian kecil kehidupanku.
    Mungkin agak membosankan, wajarlah aku hanya anak SMA biasa, kenapa harus diperdebatkan?
    Tapi entah mengapa rasanya awal dari sebuah cerita yang berarti dalam hidupku akan dimulai dari sini…

    ===================================================================

    THX 4 your concern...
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.