1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Halo IDWS Mania, forum Indowebster ada Super Moderator baru lho di lihat di sini
  3. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  4. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  5. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Official Short Story Fiesta ~ Mari Menulis Cerpen dan Membuat Antologi Bersama

Discussion in 'Fiction' started by Fairyfly, May 17, 2015.

  1. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,349
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,507 / -1
    eh? penjelasannya kan ada di spoiler yg tanda tanya itu.:???:

    ceritanya cuma soal fanfic2 yg ada di fandom (aka kingdom yg kita bangun).
    dan well, mungkin karena without love it can't be seen, jadi iya soal cinta juga.:ngacir:
     
    Last edited: Jul 3, 2016
    • Like Like x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.




    Promotional Content
  3. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,008
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,965 / -1
    well karena udah lewat deadline ini event gw tutup dolo ya :top:

    terima kasih bt partisipasinya

    ===
    anyways, buat tema berikutnya mau habis lebaran aja :bloon:

    tau deh lebaran selesainya kapan. tapi bt yg mau jadi ts nya boleh tarsok dolo klo mau bikin draft event :lalala:

    selamat silaturahmi dolo :yahoo:
     
    • Like Like x 1
  4. Offline

    Fairyfly Senpai Moderator

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,956
    Trophy Points:
    217
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,392 / -119
    komen lagi :yahoo:

    merpati98merpati98

    uh, okay, ngerti...dikit. btw berasa baca kisah cintanya merp ini mah

    jadi si cewek yang pacaran, ribut ama pacarnya, tapi jadi sampe nikah, n kemudian si cowoknya mati, gitu ya :bloon:
     
    • Thanks Thanks x 1
  5. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,349
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,507 / -1
    err, kalau "gitu ya" itu kamu nanya maksudku, then no, it's not. Not that kind of love story.

    thanks anyway.
     
  6. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,008
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,965 / -1
    anyway, mumpung pada liburan kerja gw punya ide tema berikutnya tentang si bos :bloon:

    itung2 udah mayan banyak penghuni sini yg udah pada kerja.

    jadi intinya bikin sebuah cerita yang fokusnya tentang karakter si bos, entah dia jadi pelaku utama ato sekedar topik cerita.
     
  7. Offline

    sherlock1524 Senpai Moderator

    Joined:
    Jan 26, 2012
    Messages:
    6,558
    Trophy Points:
    242
    Ratings:
    +21,668 / -143
    notrelatedforme.jpg

    3 word. 2 world.
     
  8. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,008
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,965 / -1
    ya bikin yg fiktif juga gpp. ato semacam atasan kek kepala sekolah jg bisa.
     
    • Like Like x 1
  9. Offline

    Fairyfly Senpai Moderator

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,956
    Trophy Points:
    217
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,392 / -119
    ican lama banget bikin event nya :iii:

    high_timehigh_time, requesting to host this event :iii:
     
  10. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,008
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,965 / -1
    coba mention si lican dolo aja, klo mang dia lg gak mood ya situ langsung bikin aj.
     
  11. Offline

    Fairyfly Senpai Moderator

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,956
    Trophy Points:
    217
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,392 / -119
  12. Offline

    sherlock1524 Senpai Moderator

    Joined:
    Jan 26, 2012
    Messages:
    6,558
    Trophy Points:
    242
    Ratings:
    +21,668 / -143
    temanya ini blum ketemu yg pas jg :swt:
     
    • Like Like x 1
  13. Offline

    Fairyfly Senpai Moderator

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,956
    Trophy Points:
    217
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,392 / -119
    saia kasi usulan deh, temanya horror. jadi bebas boleh apa aja terkait ama horror. bisa cerita horror, pengalaman horror, dll dsb :bloon:
     
    • Like Like x 1
  14. Offline

    sherlock1524 Senpai Moderator

    Joined:
    Jan 26, 2012
    Messages:
    6,558
    Trophy Points:
    242
    Ratings:
    +21,668 / -143
    oh oke deh. horor aja klo gitu :top:
     
    • Like Like x 1
  15. Offline

    Fairyfly Senpai Moderator

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,956
    Trophy Points:
    217
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,392 / -119
    Challange on July

    [​IMG]

    Yak, kali ini temanya adalah merpati98 horror, dimana pada saat kita semua berbicara tentang horror, maka hal yang pertama muncul seringkali merupakan hal-hal yang membuat kita jantungan.

    Namun untuk tema kali ini, mari kita artikan horror dalam arti luas. Boleh itu berupa cerita horror, kejadian horror, hingga kisah horror yang ujung-ujungnya membuat kita mewek. Jadi pada dasarnya, yang ditekankan dalam tema kali ini adalah unsur horror yang ada di dalam ceritanya.

    Bagaimana dengan genre ceritanya sendiri? Bebas. Yang penting ada unsur horror yang terkandung di dalamnnya. Sebagai bayangan, mungkin teman-teman pernah merasa horror ketika digedor ibu kosan saat sedang mesum, atau ternyata hantu yang selama ini menjadi legenda merupakan arwah penasaran cinta pertama kalian, dan banyak hal lain yang kurang lebihnya bisa dieksplor.

    Jadi untuk event ini, teman-teman tidak dibatas untuk membuat cerita menyeramkan. Meski demikian, buatlah cerita yang mengandung unsur horror didalamnya.

    Limit word : as usual. 1.500 s/d 3.000 kata
    Deadline : 20 August 2016

    untuk meramaikan, mari kita panggil sepuh2 high_timehigh_time sherlock1524sherlock1524 merpati98merpati98 spinx04spinx04 ShirayukiShirayuki falCiefalCie ryrienryrien noprirfnoprirf IrenefayeIrenefaye temtembubutemtembubu mabdulkarimmabdulkarim dan para penghuni baru jasonmysteryjasonmystery rejal_maghrumrejal_maghrum kaptenvirtualkaptenvirtual GorgommGorgomm moonrabbitmoonrabbit irsyamirsyam

    bonus :

    [​IMG]

    Yep, this onee-san is the scariest :takut:
     
    • Like Like x 3
    • Setuju Setuju x 2
  16. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,008
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,965 / -1
    Kecoak di kamar

    Kisah ini terjadi saat aku sampai ke tempat kos yang kutinggalkan sebulan. Aku menetap di kampung setelah skripsiku selesai dan yang ada tinggal menunggu wisuda.

    Sebenarnya aku malas pulang sih, tapi karena ada keperluan administrasi tanah dan mereka butuh tanda tanganku ya aku pulang saja. Berada di sana sebulan kadang senang kadang menjemukan, tapi aku lebih senang di sini lantaran akses internet sungguh leluasa. Ah, aku tidak mau pulang kampung lagi.

    Kota tersebut berada sekitar empat jam perjalanan dari kota besar dengan bandara. Saat aku pulang, aku naik kendaraan travel selama empat jam dan menetap di rumah pamanku selama beberapa hari. Kamarnya sempit dan sinyal internet nya jelek. Bahkan saat mengunduh file kecepatan wi-fi nya tidak jauh beda dengan modem.

    Mengapa harus menetap di rumah paman? Menunggu pesawat berangkat pada hari itu, dan hanya hari itu saja tiket nya dapat harga promo. Ya, hari menjemukan itu kuhabiskan dengan menatap kosong pada laptop yang colokan usb nya tidak beres gara-gara Windows nya kadaluwarsa, dan juga koneksi wi-fi yang membuat diriku mengelus dada.

    Di sana ya, aku praktis hampir seharian tidur soalnya paman sibuk kerja di kantor sampai malam. Kadang ia aja aku makan saat malam, tapi seringkali makanan yang datang itu delivery. Ya minimal makanannya cukup enak lah. Karena paman tinggal sendiri ya, paling tidak tempat ini nyaman dan sepi. Cukup lah untuk bersantai sejenak.

    Akhir kata, aku pulang naik pesawat dan sampai di tempat kos dengan ongkos taksi yang agak menyiksa kantong.

    Saat aku sampai di tempat kos dengan segala rasa letih yang ada, aku melihat mayat kecoak tergeletak di lantai. Saat coba kusapu keluar kamar, kecoak itu sepertinya bergerak sedikit, tapi aku tak peduli. Dengan satu hentakan keras, kusingkirkan mayat kecoak itu ke koridor depan kos. Toh, tiap hari ada yang bersih-bersih lantai depan juga.

    Karena aku masih melihat kecoak itu bergerak, ya kuhantam badannya bertubi tubi dengan sapu sekuat tenaga. Berulang kali hingga badannya pecah gepeng, namun tubuhnya keseluruhan masih utuh. Saat aku mulai merasa lega, dari tubuh kecoak yang seharusnya mati masih terlihat ada gerakan.

    Dengan segala rasa jijik yang ada, kutekan sapuku sekeras mungkin hingga kecoak itu sudah tak berbentuk lagi. Kuambil pengki dan langsung kumasukkan ke tempat sampah.

    Satu bulan berlalu, dan saat aku menulis cerita ini, aku baru sadar.

    Sapuku tidak ada pada tempat biasa kutaruh.
     
    • Like Like x 1
    • Setuju Setuju x 1
  17. Offline

    rejal_maghrum Beginner Members

    Joined:
    Nov 9, 2008
    Messages:
    305
    Trophy Points:
    166
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +13,731 / -0
    Berbagi cerita nyata, barusan tadi malam kejadiannya, juga saya share di facebook, dan web blog saya di :

    fb.com/rejalmaghrum
    atau
    rejalmaghrum.wordpress.com
    dan
    abangjen.com


    Dokter Ha-te

    Apa yang saya ceritakan ini akan dianggap cerita palsu, bohong, hoax, imajinasi, atau sebutan apapun itu yang menyatakan ketidak-benaran apa yang saya ceritakan. Kenyataannya, saya menuliskan cerita ini selain hanya untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya tidak sendiri di dunia ini, pun juga berbagi kepada kawan kawan diluar sana yang percaya kepada hal hal semacam ini dalam batas batas tertentu.

    Perlu anda ketahui, saya adalah orang yang sangat berpegang kepada science, ilmu pengetahuan. Segala bentuk hal yang berbau klenik, perdukunan, jagad lelembut, hantu, jin, pajimatan, bukan saya tidak mempercayai sama sekali, akan tetapi sudah terlalu banyak yang berdusta dan menggunakan alasan alasan tersebut untuk sekedar cari uang, menipu, membodohi maupun merugikan orang lain. Bisa dicek ke kawan kawan saya, ke facebook saya, kemanapun anda mau melakukan crosscheck bahwa saya orang yang mengedepankan akal sehat dan ilmu pengetahuan dibanding segala hal yang akan saya ceritakan, silahkan, by all means. Bahkan saya salah satu dari beberapa praktisi hypnotist yang mengantongi lisensi tertinggi dibidang hypnosis yang turut serta dalam membongkar segala bentuk praktik perdukunan dan penyalahgunaan hypnosis yang digunakan untuk menipu masyarakat.

    Sekitar empat bulan yang lalu, saya dinyatakan “seharusnya mati”, oleh salah satu dokter kerabat keluarga saya yang tau bahwa saya orang yang lebih suka kenyataan dan kebenaran walaupun pahit daripada sekedar kebohongan yang nyaman. Tingkat kolestrol saya diatas seribu (anda tidak salah baca, diatas seribu), asam urat dan segala hasil lab yang membuat orang laboratorium mengecek sampai 4 kali khawatir apabila mereka yang melakukan kesalahan. Karena belum yakin dengan hasilnya, saya diminta untuk melakukan cek ke laboratorium lain, hasilnya juga sama. Setelah dilihat oleh dokter kerabat keluarga saya (spesialis jantung karena saya merasa sakit di bagian jantung saya juga), beliau mempertanyakan hasil dari laboratorium yang sedang dibaca, dan meyakinkan dirinya tidak salah lihat hasil yang ada dihadapannya. “Kamu suka apa adanya, kan ? Harusnya kamu tidak duduk didepan saya, paling tidak, seminimal minimalnya, saya yang mendatangi kamu karena paling tidak kamu sudah terkena serangan jantung, seharusnya kamu mati kalo melihat dari hasil laboratorium seperti ini, pasti sangat sakit sekali yang kamu rasakan sekarang, bagaimana rasanya ?”, saya yang memang sedang dalam keadaan konstan kesakitan diseluruh tubuh cuman bisa memberikan senyuman untuk menjawab pertanyaannya.



    Pengobatan saya lakukan, obat dari dokter dokter spesialis yang sudah saya datangi saya minum sesuai anjuran. Pihak keluarga saya justru yang bingung, penasaran dan mulai mencari jawaban alternatif dengan bertanya kepada “orang pintar” yang menurut saya tentu saja hal yang sangat klenik dan tidak perlu. Ibu dan istri saya, dua orang yang paling mencintai saya yang paling giat melakukan pencarian jawaban alternatif lain yang bisa mengurangi kernyitan dahi para dokter spesialis yang membaca hasil laboratorium saya. Untuk anda yang tidak tau, sekedar informasi, istri saya adalah dokter umum yang mengambil sekolah lagi dibidang estetika kecantikan, ibu saya wirausaha dengan berdagang.

    Beberapa “orang pintar” menyatakan bahwa ada yang tidak suka dengan saya (“orang pintar” mana yang didatangi dan bilang bahwa segala sesuatu baik baik saja ? ya ga dapet duit lah dia) dan melakukan guna guna alias santet dan segala pernak perniknya (omong kosong tipikal para “orang pintar”). Ibu dan istri saya pun juga bukan orang bodoh, yang dicari adalah kyai yang memang benar benar memahami keadaan dan urusan semacam ini, bukan dukun berkedok kyai, bukan juga asal orang mengaku atau dianggap “pintar” kemudian langsung dipercaya. Beberapa yang lain menyatakan bahwa saya memang sedang diberi ujian berupa penyakit semacam ini oleh Tuhan Semesta Alam, jadi sebaiknya dilanjutkan pengobatan dari dokternya. Akhirnya ibu dan istri saya pun mulai mendingan dalam melakukan pencarian, karena beberapa yang menyatakan bahwa saya memang diberi penyakit oleh Tuhan dan bukan “bikinan” manusia atau jagad lelembut adalah orang orang yang memang dikenal alim, jujur dan apa adanya dalam menyampaikan apa yang mereka ketahui.

    Pengobatan cukup berhasil, karena saya merasa sudah jauh lebih baik, hingga sampailah kita pada sekitar sepuluh hari yang lalu, saya merasa sudah cukup baik, saya pun mulai olahraga, saya bangun tidur selalu pukul 3.30 wib (kebiasaan saat sahur bulan Ramadan) saya gunakan untuk sholat tahajud, kemudian membuka komputer, 4.20 wib saya sholat shubuh, dan pukul 5.30 wib saya berangkat ke gym langganan saya untuk berolahraga, pukul 8.00 saya sampai di rumah untuk bersiap siap berangkat kerja. Jalan satu minggu, semua baik baik saja, saya merasa sangat sehat, saya mulai mengajak keluarga dan kawan kawan saya untuk juga berolahraga karena saya merasa sangat nyaman dengan keadaan saya saat itu.

    Tiga hari yang lalu, tiba tiba pada pukul 12.10 wib saya terbangun karena ingin buang air kecil, sesuatu yang tidak saya rasakan sebelumnya, kemudian saya kembali tidur. Kemudian 12.34 wib saya terbangun lagi untuk buang air kecil, saya tau jam karena setiap bangun tidur reflek saya adalah membuka hp untuk memastikan saya tidak kesiangan dari jadwal harian saya. Kemudian setelah kembali untuk tidur lagi, karena saya merasa sangat mengantuk terbangun bangun tengah malam seperti itu, tanpa saya duga saya merasakan sakit yang luarbiasa pada punggung bawah bagian kiri saya. Sakit yang sangat luarbiasa karena saya belum pernah merasakan sakit yang seperti itu. Saya keluar dari kamar karena tidak ingin mengganggu istri dan anak saya yang bayi berumur 2 bulan 1 hari yang tidur disebelah saya.

    Sekitar 2 jam saya menahan rasa sakit yang luarbiasa, mulai dari duduk, berdiri, berjalan, tiduran diruang tv, pukul 2.30 saya memutuskan untuk meminta pertolongan istri saya. Saya bangunkan istri saya, yang kemudian dia terkejut dan mengambilkan counterpain karena saya katakan bahwa kemungkinan punggung saya terkilir akibat olahraga. Setelah 15 menit memijit punggung saya ternyata tidak ada perubahan, istri saya yang seorang dokter mengkhawatirkan apabila yang saya alami ini akibat batu ginjal.

    Dia pun berangkat ke klinik tempat dia bekerja, dekat dengan rumah kami, untuk mengambil obat injeksi penghilang rasa sakit.

    Setelah disuntik dengan obat penghilang rasa sakit, saya merasa jauh lebih baik. Tubuh saya masih basah kuyup dari keringat dingin yang keluar dan seluruh tubuh saya masih gemetar akibat menahan rasa sakit yang saya rasakan sebelumnya. Kemudian istri saya mulai mendiagnosa penyakit saya, mulai dari berapa banyak air yang saya minum setiap harinya, olahraga apa saja yang saya lakukan, tipikal diagnosa dokter untuk mencari tau sebab dari penyakit pasiennya. Berhubung saya yang sedang dalam program olahraga, saya katakan bahwa air minum dan olahraga saya semua baik baik saja.

    Siang harinya, saya dibawa istri saya ke rumah sakit untuk dirontgen. Yang kemudian dari hasil rontgen terlihat ada batu batu yang terdapat dibagian saluran ginjal menuju ke kandung kemih saya bagian kiri. Saya diberi obat minum dan beristirahat. Malam harinya rasa sakit hebat yang saya rasakan kembali lagi, tapi kali ini istri saya sigap dan langsung menyuntikkan obat penghilang rasa sakit melalui tangan saya. Pagi harinya saya menuju ke laboratorium untuk tes urin dan darah untuk mengetahui keadaan ginjal saya. Hasilnya memang diketahui ada ketidak beresan pada ginjal saya. Ibu saya yang berada berbeda pulau dengan saya ditelepon istri saya kemudian meminta saya untuk berobat di Jogja. Saya katakan bahwa saya sudah mulai baik baik saja, apabila diperlukan tindakan operasi baru saya berangkat ke Jogja.

    Kembali lagi ibu dan istri saya ribut, ada apa dengan saya, baru saja selesai satu penyakit tiba tiba datang lagi penyakit lain yang menurut mereka tidak masuk akal. Seperti yang saya kira sebelumnya, mereka memutuskan bahwa yang saya alami masuk ke ranah klenik. Saya hanya bisa tertawa dan mengatakan sambil bercanda bahwa istri saya dokter canggih yang ga mutu apabila ada penyakit kemudian dianggap klenik, istri saya pun membela diri dan mengatakan bahwa saya yang ga bermutu jika saya tidak mencari tau segala sesuatu dari sudut pandang medis maupun non-medis, karena siapa tau memang ada orang orang yang tidak suka melihat saya bahagia.

    Mereka mulai menanyakan lagi kepada orang orang yang menurut mereka benar benar “pintar”, yang kemudian dijawab bahwa penyakit saya adalah penyakit dari Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan santet atau apapun itu. Saya hanya tertawa namun menghargai perhatian dan usaha mereka.

    Itu 3 hari dan 2 hari yang lalu, kemudian 1 hari yang lalu, saya tertidur akibat efek samping obat yang diberikan istri saya setelah saya sholat ashar, pada saat mendekati waktu maghrib, saya terbangun karena merasakan sakit yang luarbiasa pada saluran kemih saya yang kemudian saya bergegas menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil. Saat itulah saya melihat batu batu dan pecahan pecahan batu yang banyak keluar dari saluran kencing saya, bahkan saya ambil beberapa yang tidak ikut terbuang langsung ke lubang bersamaan dengan air kencing saya. Saya merasa sangat lega, hilang semua rasa sakit yang saya rasakan, dan saya merasa bahwa itu perantaraan kesembuhan saya. Saya masih merasakan sakit dan perih, kemungkinan akibat dari gesekan maupun luka dibagian dalam organ saya akibat dari batu tersebut. Saya pun menceritakan kejadian tersebut kepada istri dan ibu saya, mereka sangat bersyukur dan mendoakan saya agar tidak lagi mengalami penyakit penyakit lain, namun istri saya kebingungan bagaimana bisa langsung keluar begitu saja menjadi serpihan serpihan banyak dan seperti mudah sekali.

    [​IMG]


    Keanehan baru saya alami malam harinya, setelah merasa lega semua berlalu dengan baik, diluar dugaan karena rencananya hari ini kami akan mendatangi rumah sakit urologi yang sejak kemarin belum kami datangi karena dokter spesialis urologi hanya ada dari hari senin sampai jumat, sedangkan saya mengalami sakit baru hari jumat. Malam hari, saya tertidur sebagai bagian dari efek samping obat yang diberikan istri saya, namun sekitar pukul 2.00 wib dini hari, saya dibangunkan seseorang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya, yang kemudian mengaku sebagai dokter ha-te dan dia lah yang membantu saya untuk menghancurkan batu dan mendorong batu tadi agar segera keluar dari dalam tubuh saya. Entah memang namanya Ha-te atau itu singkatan atau panggilan, saya tidak tahu. Perawakannya sedang, tingginya sepantaran dengan saya, rambutnya belah samping, berkacamata, tapi telinganya besar, mungkin seperti kepalan tangan saya jika saya letakkan tangan saya terkepal dikedua bagian kepalanya sebagai telinga, suaranya tenang, kadang senyum akan tetapi lebih sering serius. Saya dipegang ditangan saya, kemudian saya ditarik dan tiba tiba saya tidak lagi berada dalam kamar saya, saya tidak melihat istri saya, anak saya, rumah saya. Saya berpikir, apa apaan ini, apakah saya mengalami halusinasi ? obat apa yang saya minum ? dimana ini ? siapa orang ini ?

    Kemudian dokter Ha-te tadi membawa saya kesebuah tempat, yang dia membuat saya berjanji untuk tidak mengatakan kepada siapapun, bahwa disini tempat dia praktek. Dari luar, hanya seperti gudang tua, dan saya melihat kebelakangnya hanya ada tanah kosong, tangan saya dipegang lagi, diajak masuk lewat pintu samping yang dibukanya dan terdapat bangunan semacam klinik disitu. Saya yang sangat penasaran kemudian keluar lagi dan menaiki pagar gudang tua tersebut untuk memastikan bahwa yang ada dibalik gudang tua itu adalah tanah kosong, yang kemudian saya kembali dipegang dan diajak masuk lewat pintu samping, lagi lagi bangunan klinik yang putih bersih dibalik pintu samping yang seharusnya tanah kosong tadi.

    Setelah masuk, barulah tangan saya dilepaskan dan saya dikenalkan dengan beberapa orang orang didalam, ada 4 orang yang sedang duduk sepertinya menunggu kedatangan dokter Ha-te, yang saya ketahui setelahnya bahwa mereka adalah “internship” kedokteran yang belajar kepada dokter Ha-te. Dokter Ha-te berbicara kepada mereka dan sesekali 4 orang tadi melihat saya dan kembali menunduk, kemudian kembali berbicara kepada dokter Ha-te. Saya hanya memperhatikan dari dekat pintu masuk, sekitar 5 meter dari dokter Ha-te dan murid muridnya, ke 4 orang ini (semuanya pria) memiliki telinga seperti dokter Ha-te, besar seperti kepalan tangan saya, selain itu punggung mereka agak menunduk tapi tidak bungkuk. Sayapun dikenalkan dengan beberapa perawat di kliniknya, kesemuanya wanita, dan memakai penutup masker, saya hanya bisa melihat mata mereka seperti kaca, bagian putihnya sangat putih, bagian hitamnya seperti siluet mata kucing yang terkena cahaya. Saya yang masih agak mengantuk, benar benar kebingungan dengan apa yang saya saksikan. Klinik ini ramai, dan ada salah satu wanita hamil sekitar 5 bulan masuk ke ruangan dokter Ha-te dan salah satu perawat wanita disitu mengatakan kepada dokter Ha-te bahwa wanita itu sudah menunggu kedatangannya. Sementara dokter Ha-te dan wanita tersebut masuk kedalam ruangan, saya duduk diluar ruangannya dan mencoba untuk menalar apa yang sedang terjadi.

    Saya pun ingin mendatangi ke 4 pria murid dokter Ha-te tadi ingin bertanya, kalian ini siapa, dan apa yang sedang terjadi disini, tempat apa ini, segala pertanyaan yang saya benar benar penasaran akan jawabannya. Mereka melihat saya mendatangi mereka, malah mereka seperti takut dan menyingkir kesamping, merapatkan diri dan menunduk. Saya menghentikan langkah dan menanyakan dari jarak sekitar 2 meter, hanya menanyakan apa sih yang sedang terjadi. Salah satu dari ke 4 pria tersebut, yang duduk dipaling kiri mengangkat wajahnya, melihat saya dan membuka mulutnya seperti akan mulai berkata kata, tapi kemudian menunduk lagi dan semuanya diam. Saya yang bingung jadi sebal ama kelakuan mereka dan bergumam, “Iki ngopo to kok koyo edan kabeh ngene ki” (Ini kenapa sih kok kaya gila semua kaya gini).

    Saya pun kembali duduk dikursi panjang depan ruangan dokter Ha-te kemudian didatangi salah satu perawat bermasker, kemungkinan karena melihat saya mulai jengkel dan kebingungan dengan apa yang teradi. Kulitnya wajahnya sangat putih, pakaiannya sangat putih bersih dengan garis merah disepanjang bagian jahitan baju terusannya, sepertinya tersenyum karena kepalanya agak miring dan matanya memicing, tipikal jika kita tersenyum tulus maka mata kita pun ikut “tersenyum”, namun saya tidak melihat seluruhnya karena dia menggunakan masker yang menutupi mulai dari bawah mata, hidung, sampai dagu. Dia mengatakan bahwa dia memahami jika saya bingung, akan tetapi dokter Ha-te menyuruh untuk duduk dulu baru segala sesuatunya akan dijelaskan oleh dokter Ha-te sendiri dengan suara yang sangat lembut dan renyah.

    Beberapa saat saya menunggu, wanita hamil 5 bulanan tadi keluar dari ruangan dokter Ha-te dengan kaus berwarna abu abu dan tidak dalam keadaan hamil. Saya sudah cukup bingung dengan keadaan yang terjadi, ditambah apa apa yang saya lihat, membuat saya ingin segera bertemu dengan dokter Ha-te dan menanyakan apa apa yang terjadi. Sekitar 5 menit setelah wanita tadi keluar, dokter Ha-te keluar lengkap dengan jas dokter akan tetapi lebih besar dan lebih panjang dari yang biasanya saya lihat dipakai dokter pada umumnya.

    Dokter Ha-te mengajak saya masuk ke ruangannya, didalam terdapat meja kursi sebagaimana ruangan dokter pada umumnya, dan disamping terdapat sekat yang saya hanya bisa melihat sekilas alat alat yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Saya pun dipersilahkan untuk duduk, kemudian sebelum dokter Ha-te berkata apa apa, saya mulai menyerbu dengan berbagai pertanyaan yang sudah ada dikepala saya sejak awal. Dokter Ha-te tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya adalah dokter dari kalangan Jin, saya sedang berada disalah satu klinik kecilnya di dunia Jin, dimana klinik ini adalah klinik “aborsi” dalam arti, bagi wanita yang ingin membatalkan kehamilannya, mereka tidak lagi membunuh janinnya, akan tetapi hanya memindahkan janin tersebut kepada ibu lain yang ingin hamil tapi karena mandul atau satu dua sebab sehingga tidak bisa untuk hamil dengan tetap menjaga dan menjelaskan kedudukan nasab keturunan si anak kepada keluarga barunya. Saya hanya bisa memegangi kepala saya dan mengusap usap dahi saya karena saya benar benar tidak percaya apa yang baru saja saya dengar. Terlepas dari moral amoral praktik dokter Ha-te, saya bingung dengan segala sesuatu yang ada.

    Saya pun menanyakan kenapa dokter Ha-te membantu saya, dia pun menjawab bahwa dia menyukai saya, dalam arti dia menghormati orang yang menjunjung ilmu pengetahuan akan tetapi tidak kemudian meniadakan keberadaan “saudara” di alam lain yang hidup, belajar, sekolah, mencari kedamaian, berkeluarga sebagaimana manusia. Tidak pula bertumpu pada kalangan Jin untuk meminta bantuan, melakukan kebodohan dan membodohi orang lain. Dokter Ha-te juga mengatakan kepada saya bahwa 4 orang muridnya ketika melihat bahwa dia membawa saya ke kliniknya, langsung merasa ketakutan dan juga takjub karena menurut kalangan Jin, manusia terlihat sangat berwibawa dan “aura” nya juga sangat berbeda daripada Jin pada umumnya, apalagi jika manusia yang baik. Saya yang dasarnya gampang ge-er, ya jadi ge-er juga dibilang manusia baik. Saya tersenyum dan dokter Ha-te juga tersenyum, kemudian saya mengatakan, saya tidak tau apa yang dokter Ha-te lakukan kepada saya, tapi saya merasa tetap perlu mengatakan terimakasih kepada dokter Ha-te kalo memang membantu saya, karena secara jujur saya pun masih tidak bisa mempercayai apa apa yang baru saja terjadi tapi ini pengalaman luarbiasa yang saya alami. Dokter Ha-te mengatakan bahwa apa yang dia lakukan ini ikhlas dan hanya berharap jalinan silaturahim untuk saling membantu dalam kebaikan, saling mendoakan dan saling mengingatkan.

    Saya menyetujui apa yang disampaikan dokter Ha-te, kami bersalaman dan kemudian dokter Ha-te memeluk saya dan saya pun bertanya bagaimana saya pulang. Masih banyak yang ingin saya tanyakan, akan tetapi melihat keadaan sepertinya dokter Ha-te tidak punya banyak waktu luang, saya rasa belum waktunya saya melakukan “wawancara” selain berterimakasih atas pengalaman gila yang barusan saya alami juga beresnya masalah batu ginjal yang menyiksa saya.

    Dokter Ha-te memegang tangan saya, mengajak keluar dari kliniknya, kemudian seperti sekelebat gambar buram, saya sudah diletakkan lagi dalam keadaan tiduran dan tangan saya masih dipegangi dokter Ha-te di kamar saya di rumah saya, dia mengucapkan salam dan saya menjawab salamnya, kemudian dia pergi dan menghilang. Sekitar 2 menit kemudian istri saya bangun dan mengatakan kepada saya bahwa sudah masuk waktu shubuh dan dia keluar untuk berwudhu, saya katakan bahwa saya baru saja mengalami pengalaman aneh, ada dokter Ha-te dan istri saya mengira saya mengigau. Sayapun mengambil air wudhu, kami sholat shubuh, kemudian saya ceritakan cerita saya, istri saya malah ketakutan dan mengatakan bahwa kemungkinan itu hanya mimpi. Bisa jadi hanya mimpi, bisa jadi istri saya benar, tapi entahlah, saya merasa tau perbedaan antara mimpi dan realita. Kemudian saya memutuskan untuk menuliskan cerita ini, siapa tau ada dari anda yang pernah mendengar keluarga atau kawan, atau bahkan mengalami sendiri hal semacam ini.
     
    Last edited: Jul 25, 2016
    • Like Like x 3
  18. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,008
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,965 / -1
    tolong isi entry nya dipakai tag spoiler ya, terima kasih :xiexie:
     
    • Setuju Setuju x 1
  19. Offline

    Shirayuki Senpai Most Valuable Users

    Joined:
    Apr 10, 2010
    Messages:
    5,507
    Trophy Points:
    237
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +23,040 / -8
    Sleep Paralysis

    Aku melangkah gontai menuju ke kamarku. Kurogoh telepon genggam dari saku celanaku. Jam digital di layar telepon genggamku menunjukkan pukul 20.47. Sudah cukup malam, kataku dalam hati. Kubuka pintu kamarku, semerbak bau bunga lavender langsung keluar dari ruangan kecil berukuran 3 X 4 meter tempatku menghabiskan malamku. Kuhirup bau itu dalam-dalam. Ah nikmatnya, pikirku. Nggak salah memang aku beli pengharum ruangan lavender.

    Aku segera mengganti pakaian formalku dengan sehelai kaos futsal dan celana pendek yang berbahan dasar dri-fit. Kamar kosku memang tidak ada AC, jadi aku suka pakai bahan tipis seperti itu biar tetap sejuk. Selesai berganti pakaian aku langsung merebahkan punggungku ke atas tempat tidurku.

    Aku menghela napas.

    Hatiku terasa hampa. Lagi-lagi bertengkar ama Mogi. Memang cewek satu itu keras kepalanya bukan main. Terkadang sifat nggak mau kalahnya bikin aku mudah terbawa emosi. Tapi ya memang sudah sifat dasar cewek kebanyakan, mau gimana lagi. Meski bagaimanapun, tetap saja aku sayang sama dia. Aku juga salah sih karena tadi aku sempat membentaknya. Walapun tadi aku sudah meminta maaf, memang sepertinya lebih baik kalau kami diam-diaman dulu sambil merenungi kesalahan kami. Mungkin seminggu cukup buat diam-diaman, toh sambil mengisi kesendirianku, ada Nepu-Nepu yang siap menemani hari-hariku membasmi para monster di Gamindustri, kataku dalam hati untuk menghibur diri.

    Lelah badan dan pikiran membuat mataku semakin berat. Tak terasa aku sudah terbawa ke alam mimpi.

    Tiba-tiba aku merasakan beban berat di atas tubuhku. Seperti ada seseorang, atau sesuatu, yang memelukku. Kurasakan tangannya di atas dadaku dan kakinya melingkar di kedua kakiku. Kucoba menggerakkan tanganku, namun tanpa hasil. Samar-samar dari telinga kananku kudengar ada yang berbisik kepadaku. Dari rintihan suaranya, aku tahu kalo itu suara wanita.

    Ah, sudah kuduga, tindihan lagi.

    Sudah beberapa bulan ini aku memang sering terkena tindihan. Apalagi kalau sedang capek, stress, dan banyak pikiran. Aku tahu kalau tindihan, atau sleep paralysis, bisa dijelaskan secara ilmiah. Bahkan hal-hal supernatural yang terjadi ketika tindihan juga dapat dijelaskan secara ilmiah. Namun, perkataan teman sekantorku yang punya kemampuan untuk melihat ‘dunia lain’ terngiang-ngiang di kepalaku.

    “Rayu, aku sering melihat cewek mengikuti kamu ke mana pun kamu pergi.”

    “Kamu mau ngakuin kalau kamu suka stalking aku ya? Hehe.”

    “Aku serius!” Tukasnya dengan wajah cemberut.

    “Iya, iya. Aku cuma bercanda kok. Anyway, emang siapa cewek kurang kerjaan yang suka stalking aku?” tanyaku penasaran.

    “Dia bukan dari dunia ini.”

    Deg. Aku langsung terdiam.

    “Kadang-kadang kulihat dia suka nempel-nempel kamu.” Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya, “Hati-hati ya, biasanya yang kayak gitu tipe posesif.”

    “Aku harus gimana donk?” Tanyaku setengah ngeri.

    “Kukasih tahu ya, aku bukan dukun. Aku cuma bisa ‘melihat’. Berharap aja dia segera bosan sama kamu terus pergi.” Jawabnya tanpa sedikit pun memberikan solusi.

    Sentuhan dingin di pipiku membuyarkan lamunanku. Aku merasa ‘dia’ seperti sedang menggesek-gesekkan pipinya ke pipiku sambil membisikkan sesuatu, namun aku tak mengerti apa pun yang dia katakan. Apakah yang dimaksud Eline waktu itu si 'dia' ini? Setiap kali aku tindihan, memang selalu ada suara bisikan wanita di telingaku. Aku mencoba membuka sedikit mataku. Dari sudut mataku, memang seperti ada sesuatu di sampingku. Segera saja kututup mataku kembali. Aku sadar aku tak punya cukup nyali untuk melihat siapa sebenarnya yang ada di sampingku.

    Kurasakan tangan dingin mencengkeram kedua kakiku. Perlahan-lahan tangan tersebut menarik kakiku ke bawah tempat tidur. Aku hanya bisa pasrah. Keringat dingin bercucuran. Tak henti-hentinya aku berdoa kepada Tuhan agar tindihan ini segera berakhir.

    Aku mencoba menenangkan diriku. Kubayangkan hal-hal yang menyenangkan dan berusaha untuk segera tertidur kembali.

    Sepetinya usahaku berhasil karena aku terbangun mendengar suara adzan Subuh. Kudapati tubuhku masih berada di atas tempat tidur.

    Apakah tadi malam hanya mimpi?

    Bukan, aku yakin itu terjadi.

    Pertanyaannya hanya satu, apakah itu semua hanya imajinasi belaka yang diakibatkan sleep paralysis atau sungguhan?

    Akal sehatku mengatakan itu hanya imajinasi, namun hati kecilku berpendapat kalau itu sungguh terjadi.

    Apa pun jawabannya, aku harus mempersiapkan mental untuk tindihan selanjutnya karena aku tahu kalau tindihan ini masih akan terjadi lagi selama kepalaku masih dihantui banyak pikiran.

    Based on true story btw. My personal experience.:iii:
     
    Last edited: Jul 27, 2016
    • Like Like x 1
    • For The Win For The Win x 1
    • Setuju Setuju x 1
  20. Offline

    Fairyfly Senpai Moderator

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,956
    Trophy Points:
    217
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,392 / -119
    Oke, akhirnya bisa nulis lagi, fak :swt:

    Judul : Eve
    Genre : Drama, Comedy, Horror


    Hantu di lantai tiga?

    Mmn, aku pernah mendengarnya.

    Sesosok hantu di lantai tiga gedung sekolah – sebuah mitos yang bermula entah darimana asalnya, dan menyebar layaknya pecahan kaca diatas lantai. Meski disebut mitos, namun aku tahu bahwa hantu di lantai tiga itu benar-benar nyata.

    Bahkan hingga kini…kenangan tentang hantu itu masih membekas dalam ingatan.

    Bagaimana cerita mitos itu, katamu?

    Ah, sebenarnya cukup panjang. Aku bisa saja meringkasnya jika kau mau. Tetapi, kurasa akan tetap lebih baik jika kau mendengarnya dari awal hingga akhir.

    Mmn. Kurasa, lebih baik cerita ini dimulai dari awal perjumpaanku dengannya saja.

    ***​

    Jika ada orang yang berada di sekolah ini hingga larut malam, maka ia akan menemui beberapa fenomena aneh yang menjadi legenda sekolah.

    Sebutlah piano yang secara tiba-tiba berbunyi di malam hari, atau wastafel di toilet wanita yang mengalir dengan sendirinya, atau suara langkah kaki gaib yang terdengar di lorong sekolah. Bahkan saking terkenalnya, sekolah kami pernah masuk dalam acara berburu setan di televisi swasta. Yah, meskipun kala itu hantu yang dimaksud tidak menampakkan diri, sih.

    Apapun itu, kala itu aku sama sekali tak peduli. Entah itu setan, dedemit, atau Bruce Willis sekalipun, masa bodo amat, deh.

    Berkat nasi goreng beracun yang dijual murah oleh ibu kantin, malam itu aku harus mendekam di toilet selama berjam-jam. Aku heran bagaimana nasi goreng haram itu bisa masuk ke dalam lingkungan sekolah. Maksudku, bumbu masak yang digunakkan ibu kantin pastilah barang illegal. Mmn. Pasti! Hanya barang illegal saja yang sanggup membuat perutku ini – yang terkenal tahan banting terhadap rawit paling kejam sekalipun – mulas tak karuan.

    Kira-kira apa ya ramuan yang digunakan ibu kantin? Mungkinkah bubuk ganja?

    “Uugh…”

    Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun perjuanganku di toilet masih setengah jalan. Sakit sekali. Rasanya betul-betul seperti habis diberi obat disentri saja. Dugaan bahwa rasa mulas ini akan berakhir sebelum matahari terbenam ternyata hanya mitos.

    Dan jika kau pikir terjebak di sekolah berhantu pada malam hari adalah horror, kau salah besar. Yang lebih mengerikan daripada itu adalah kenyataan bahwa tissue toilet di bilik milikku sudah habis.

    “Mang Tony? Mang Tony? Minta tissue mang! Mang?”

    Mang Tony merupakan petugas kebersihan sekolah yang sama sekali tidak bisa diandalkan. Konon, dirinya berprofesi sampingan sebagai pengedar ganja. Jika mitos tersebut benar, hal itu bisa menjelaskan bagaimana ibu kantin bisa menjual nasi goreng bejat itu padaku. Tetapi sepertinya hal itu hanya mitos saja, sih.

    Ah, kenapa kini aku malah memikirkan Mang Tony, ya?

    Hal krusial yang kini perlu kupikirkan adalah bagaimana caranya aku menemukan tissue secepat mungkin. Secara prosedur, seharusnya Mang Tony berperan sebagai back-up dan memberikan bantuan suplai di saat genting seperti sekarang. Kenyataannya, di jam-jam seperti ini biasanya ia sedang main gaple bersama pak satpam.

    Penjangkrikan!

    Yah, sudahlah. Aku tak mau mempermasalahkan mang Tony dan ganja miliknya. Kini, mau tak mau aku harus mencari cara sendiri untuk keluar dari situasi ini. Karena itu, begitu selesai membuang ampas, aku beranjak berdiri, menyiram toilet, dan membuka pintu toilet perlahan.

    Malam sudah turun larut hari itu. Seharusnya, sudah tak ada lagi siswa yang berkeliaran di sekolah ini. Meski demikian, tubuhku tetap saja refleks, mengintip sisi kiri dan kanan pintu sambil berharap tak ada seorangpun yang melihatku berdiri tanpa celana. Setelah kurasa aman, barulah aku melangkah cepat menuju bilik di sebelahku. Sementara celanaku masih menggantung di balik pintu.

    Aku keluar toilet tanpa celana.

    Mmn. Betul. Tanpa celana.

    Iya! Tanpa celana! Lagipula, aku tak mungkin memakai celana sebelum membersihkan pantat!

    Awalnya kupikir semua akan berjalan lancar, namun tepat saat aku menggengam gagang bilik di sebelahku ini-

    “Anu…”

    -terdengar suara seorang wanita dari samping kiri tubuhku.

    Bulu kudukku seketika merinding! Bukan karena adanya seorang wanita di toilet pria ; aku dibuat terkejut oleh kenyataan bahwa seorang wanita menyapaku yang berdiri tanpa celana!

    Refleks, kedua tanganku mengayun, mencoba menutupi belalai yang kumiliki. Dengan tergesa-gesa, kulangkahkan kakiku kembali menuju bilik toilet tempatku berada. Kututupi wajahku dengan kedua telapak tangan saking malunya.

    Eh, monyet! Tanganku kan habis memegang belalai!

    Ah, kampret lah!

    Malunya! Aku benar-benar malu. Kujedukkan kepalaku pada tembok berkali-kali saking malunya. Untung saja tembok tak mengeluh. Memang, tembok itu makhluk paling sabar.

    “A, anu, permisi!”

    Suara sang gadis kembali terdengar.

    Kali ini begitu jelas, seolah gadis itu berada tepat di balik pintu bilik tempatku berada. Sementara diriku masih menjeduk-jedukan kepala, gadis itu kembali bersuara.

    “Kau…tak takut?”

    Huh? Takut?

    ………

    Astaga! Aku baru ingat! Bagaimana gadis itu bisa berada di toilet pria? Tunggu, jangkrik! Mengapa hal itu baru terpikirkan sekarang, sih?

    Seketika juga aku teringat dengan mitos sekolah ini!

    Ya! Tentang hantu wanita di toilet pria!

    Kabarnya, di malam hari, akan mucul sesosok gadis berambut putih pendek dari balik cermin di wastafel toilet pria. Gadis itu akan menawarkan tissue toilet berwarna merah dan biru pada seseorang yang kesulitan cebok. Jika kau memilih warna merah, kau akan terjebak di dalam toilet dan tak bisa keluar. Jika kau memilih warna biru, kau akan tenggelam di dalam toilet.

    Dan jika diingat-ingat lagi, gadis yang baru kutemui memiliki rambut berwarna putih dengan mata merah.

    Buset! Aku baru saja bertemu hantu, dan yang pertama kupikirkan malah celanaku. Serius, deh.

    Sekarang, karena tahu bahwa yang kutemui bukanlah manusia, tanpa sadar aku pipis dengan sendirinya. Untuk sejenak, aku bersyukur celanaku belum kupakai.

    “Cobalah kau lihat diriku dari lubang di bawah bilik.”

    “E, enggak usah, deh, mbak. Ha…haha…” Gumamku gemetar. Aku sudah paham betul bahwa takkan ada satu halpun yang akan kulihat dari lubang bawah pintu. Gadis ini sama sekali tak berpijak diatas lantai.

    “Mbak hantu, kan ya?”

    “…ya.”

    Ha…haha…

    Mampus guwe.

    “Kau butuh tissue, bukan? Aku punya dua buah tissue. Merah dan biru. Kau…mau yang warna apa?”

    Mak…mampus, deh. Beneran. Tuhan, terima kasih telah memberikan hidup yang singkat ini. Yah, sialan kau, Tuhan.

    “Jadi…yang mana?”

    “Anu, mbak, ada tissue putih saja, nggak?”

    “Tidak ada.”

    “Ka…kalau begitu, yang biru saja, deh.”

    Yak, lebih baik mati tengelam daripada mati terjebak.

    Setelah puas komat-kamit dan berpikir ini itu soal kehidupanku yang gagal, aku memejamkan mata, bersiap untuk mati tenggelam dalam toilet kecil di malam hari.

    Namun setelah menunggu cukup lama, tak ada satu hal pun yang terjadi padaku.

    Lucu. Kukira aku sudah mati, lho.

    Seketika toilet tempatku berada diliputi keheningan. Bahkan suara sang hantu tak lagi terdengar. Meski demikian, saat aku membuka pintu perlahan, dapat kulihat hantu itu masih disana. Pada kedua tangannya, terdapat gulungan tissue berwarna merah dan biru.

    Dedemit itu masih disana.

    Kenapa ya? Kenapa-

    Pret! Brut!!

    -dedemit itu masih disana?

    Sakit! Sakit! Perutku lagi-lagi diserang oleh kekuatan supranatural yang membuat tubuhku lemas. Tanpa basa-basi, kututup kembali pintu bilik ini, dan mulai membuang sial. Aku sadar bahwa aku masih tak memiliki tissue, tetapi mau bagaimana lagi?

    Sambil terus membuang sial, aku terus-terusan merapal mantera pengusir dedemit.

    Sia-sia, sih. karena aku yakin dedemit itu masih disana. Maksudku, aku bahkan bisa mendengar suaranya.

    “…aku terkejut.”

    Huh? Kenapa? Kenapa hantu itu malah terkejut?

    “Kau…sama sekali tak takut dengan keberadaanku?”

    “Eng…” ragu-ragu aku menjawab, sebelum kemudian, serangkaian kata meluncur begitu saja dari mulutku. “Aku lebih takut pulang sebelum cebok, mbak.”

    “Ahaha, betul juga.”

    Terdengar suara tawa kecil dari sang hantu – sebuah tawa yang menggemaskan. Dan entah mengapa, aku malah merasa lebih rileks sekarang.

    Mungkin hantu ini tidak benar-benar jahat. Mungkin.

    “Aku punya tissue biru sebanyak yang kau butuhkan. Kuharap, tissue ini cocok untukmu.”

    Ah…

    Gadis ini benar-benar baik hati. Andai saja ia bukan hantu, aku pasti sudah jatuh hati padanya.

    Puas membuang sial, aku lantas membuka pintu bilik ini dan menjulurkan sebagian kepalaku. Gadis itu masih disana, menatapku tersenyum.

    “Kalau tidak keberatan, ambillah.“

    Tanpa basa basi, kuambil tissue biru yang ada di genggaman sang gadis. Saat tanpa sengaja jemari kami bersentuhan, bisa kurasakan tangannya yang sedingin es.

    Meski demikian, wajah sang gadis mengatakan hal sebaliknya. Senyumnya terasa hangat, dan tampak amat bahagia.

    “Ah, tertolong. Terima kasih, mbak.”

    Kututup kembali pintu tersebut. Dan setelah mengucapkan doa terakhir, kubasuh pantatku dengan tissue biru pemberian sang gadis.

    Selamat tinggal, dunia. Jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi jangkrik.

    Meski demikian, perasaan tenggelam yang kutunggu tak kunjung datang. Sebaliknya, muncul perasaan nyaman kala mengelap pantat dengan tissue biru tersebut. Dan semakin aku mengelapnya, perasaan nyaman yang ada semakin terasa.

    Tissue itu begitu lembut dan halus.

    Ah, aku harus berterima kasih pada sang gadis. Alih-alih hantu, aku akan bilang bahwa ia adalah dewi penolong.

    Selesai membersihkan diri, aku lantas membuka pintu. Oh, ya. Untuk kali ini, aku sudah memakai celana, tentu.

    “Hei, uuh,”

    “Hmn?”

    Gah, jangan melihatku begitu! Memiringkan kepala sambil tersenyum lugu begitu, uuh, imut banget sih hantu ini! imut banget kamu, mbak!

    “Erm, terima kasih karena telah menolongku.”

    “Eh?”

    “Yah, anu, meskipun kau hantu, tapi…terima kasih.”

    Sang hantu tak lantas menjawab. Aku sendiri memalingkan wajahku, berharap tak membuat kontak mata dengan hantu berambut putih dengan mata merah itu.

    Namun saat pandangan kami kembal beradu, aku amat terkejut kala mendapati tetes air mata yang mengalir di pipinya.

    “Uwaa! Ke, kenapa kau jadi menangis begitu?”

    “Aku? Menangis? Ah-“

    Jemari sang gadis menyentuh pelupuk matanya perlahan, dan ia tampak terkejut kala mendapati tetesan air yang ada pada matanya itu.

    “Aku, aku…mengapa aku…”

    “I, intinya, terima kasih! Sampa bertemu lagi!”

    Aku baru akan berlari menjauh, kala kemudian tanganku tertahan oleh genggaman tangannya yang dingin.

    ………

    Apa kutukannya baru akan mulai sekarang ya? Mak, padahal aku baru saja berpikiran untuk tobat.

    “Uuh, mbak, ke, kenapa ya?” Gumamku dengan nada gemetar. Ragu-ragu, kepalaku kembali menoleh padanya.

    Meski demikian, yang kini kulihat bukan lagi sosok hantu penuh amarah. Yang kulihat kini adalah sosok seoran gadis yang tersenyum bahagia.

    “Bolekah, bolehkah kau ucapkan kata-kata itu sekali lagi?”

    “Huh?”

    “Kumohon. Ucapkanlah lagi.”

    Untuk sejenak aku tertegun dengan bagian kata mana yang ia maksud, namun saat melihat senyumnya yang mengembang tatkala aku berterima kasih-

    “Terima…kasih?”

    “Mmn!”

    -aku paham apa kata yang dimaksudnya.

    “Terima kasih telah menolongku, uuh…”

    “…Eve.”

    “Ah, baiklah Eve.” Gumamku perlahan. “Sekali lagi terima kasih.”

    “Mmn!”

    “Kau benar-benar penyelamat, deh. Keren. Terima kasih, ya.”

    “Mmn! Mmn!”

    Gadis itu terus menganggukkan kepalanya, dan tersenyum kian lebar. Air mata mengalir deras di kedua pelupuk matanya.

    Aku tak mengerti mengapa ia menangis karenanya. Ucapan terima kasih merupakan suatu ungkapan umum yang biasa digunakan orang-orang sehari-hari, bukan? Ucapan itu bukanlah sesuatu yang dramatis.

    Meski demikian, gadis ini amat bahagia dengan ucapan tersebut. Ia memejamkan matanya, tersenyum, dan mengangguk perlahan.

    “Terima kasih.”

    Kini giliran dirinya yang mengucapkan kata-kata tersebut. Ia mengucapkannya sambil menatap padaku dengan mata yang masih berbinar, sebelum melepaskan genggaman tangannya dariku.

    “Aku akan mengambil tas sekolah dan kembali kesini. Tunggulah sepuluh- tidak. Lima. Tunggulah lima menit lagi.”

    Gadis itu tersenyum, mengangguk, dan terus tersenyum bahkan ketika aku berlari jauh meningalkannya.

    Ah…

    Entah mengapa, hatikun terasa hangat.

    Membuat orang lain bahagia merupakan sebuah kebahagiaan juga, dan perasaanku jadi terasa hangat kala melihat senyumnya.

    Dan entah mengapa, lima menit jadi terasa amat lama – cukup lama untuk kembali melihat senyumnya.

    Aku ingin kembali melihatnya tersenyum bahagia.

    Namun kala aku kembali ke tempat itu-

    “…Eve?”

    -gadis itu sudah tak ada lagi.

    ***​

    “Kau tahu tidak? Kabarnya hantu di toilet pria sudah tak ada lagi, lho.”

    “Hee? Yang benar? Mungkin arwahnya sudah tenang di alam sana, ya?”

    “Ya, ya. Mitosnya kan memang begitu. Ia akan beristirahat dengan tenang kala ada seseorang yang berterima kasih padanya.”

    Desas-desus tentang Eve masih menjadi topik pembicaraan hangat diantara para murid.

    Setelah kutelusuri, Eve merupakan mantan murid sekolah ini. Belasan tahun lalu, ia mati dibunuh oleh kekasihnya yang main serong. Mayatnya ditemukan di toilet pria sekolah, dan semenjak hari kematiannya, ia selalu menghantui siapapun yang masuk ke toilet pria di malam hari, menunggu kedatangan sang kekasih yang membunuhnya. Meski demikian, ia tak pernah lagi menemukan lelaki itu.

    Dan lama-kelamaan, Eve, lupa akan tujuannya, menemukan kesenangan dalam menghantui orang-orang.

    Hingga suatu hari, sang mantan kekasih datang kembali ke sekolah tersebut. Masih mengenakan seragam tahanan, lelaki itu bermonolog di lokasi pembunuhan Eve, meminta maaf padanya, dan menyesali semua perbuatannya. Eve yang melihat sang kekasih datang penuh penyesalan tiba-tiba saja terdiam, tak bisa berkata apapun. Eve pun sadar bahwa bahwa selama ini, ia hanya berusaha lari dari kenyataan.

    Ia menghantui setiap orang yang datang ke toilet pria, semata-mata hanya untuk melupakan kenyataan yang ada.

    Mmn. Kenyataan bahwa kekasihnya main serong, dan kenyataan bahwa dirinya telah meninggal.

    Sadar telah melakukan kesalahan, Eve memutuskan untuk menebus perbuatannya. Ia bertekad bahwa dirinya takkan menghantui seseorang lagi, dan bahwa ia takkan pergi ke alam baka sebelum mendapat pengakuan dari seseorang – pengakuan bahwa dirinya bukanlah hantu yang jahat.

    Hingga pada akhirnya, kami pun bertemu.

    Kami bertemu untuk pertama…dan terakhir kali di hari itu.

    “Jadi, rumus kimia untuk unsur berikut adalah-“

    Suara guru kimia terdengar melayang di telinga. Menatap bosan pada papan tulis, aku menarik napas panjang, mengantuk.

    ………

    Apa Eve…baik-baik saja ya di alam sana?

    Ah, kurasa aku tak perlu khawatir.

    Jika aku mati nanti, aku pasti akan menemuinya lagi.
     
    • Thanks Thanks x 1
    • Setuju Setuju x 1
  21. Offline

    Fairyfly Senpai Moderator

    Joined:
    Oct 9, 2011
    Messages:
    6,956
    Trophy Points:
    217
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,392 / -119
    saatnya komentar :yahoo:

    high_timehigh_time

    well duh, sapunya kemana itu :keringat:

    yah, sebulan, mungkin aja sapu nya ga sengaja kebuang :lol:

    nice twist at the end btw :matabelo:

    rejal_maghrumrejal_maghrum

    ugh, sepertinya kamu salah forum :keringat:

    cerita kek gini bagusnya masuk SF dunia lain :keringat:

    anyway, banyak hal yang saya skip. personally, berasa baca trit2 di SF sih, jadi :iii:

    ShirayukiShirayuki Mogi :peluk:

    oi, Mogi is mine :oii:

    well uuh, nice horror I could say :matabelo: bitter end nya bikin despair, mirip2 film zombie di TV ato cerita2 RL Stine ato Stephen King :hihi:

    well, meski sebenernya saia kurang suka ama tipikal2 ending cerita kek gitu, tapi penyajiannya cukup baik n bikin saia enjoy :hmm:

    sisanya mana ini sherlock1524sherlock1524 merpati98merpati98 noprirfnoprirf :oii:
     
    • Like Like x 3

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.