1. Diberitahukan akan ada maintenance (MT) susulan fixing beberapa fitur forum, error-error technical dan perbaikan `kosmetik' forum dan beberapa update lainnya. Forum akan tutup-buka dimulai Senin, 20 April 2015 - Jumat, 24 April 2015 dari jam 00:00 - 08:00 WIB pagi secara intensif atau bisa lebih panjang jika tidak selesai selama 8 jam per-harinya. Dan juga terjadi pada waktu² lainnya MT dadakan singkat. Mohon maaf atas gangguan ini.

Other Penjelasan Tentang Data Kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS)

Discussion in 'Education Free Talk and Trivia' started by r3dchick3n, Feb 1, 2011.

  1. r3dchick3n

    r3dchick3n Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Dec 1, 2009
    Messages:
    685
    Trophy Points:
    0
    Ratings:
    +121 / -0
    Tidak smua yg bekerja di Badan Pemerintah, punya mental seperti Gayus. Walaupun mungkin jumlahnya tinggal sedikit, tapi masih ada yang benar-benar rela mengabdi demi
    Indonesia yg lebih baik. Namun, di saat sekarang ini, ketika pemberitaan di media tentang Gayus dan korupnya berbagai Badan ataupun Lembaga Pemerintah begitu gencar, timbul stereotip di masyarakat seolah-olah semua Lembaga sama korupnya. Padahal dari sekian banyak lembaga pemerintah, masih ada yang memiliki prestasi yg cukup membanggakan di bidangnya, hingga dijadikan rujukan oleh banyak negara lain. Dan tentunya tanpa perlu adanya tindak korupsi.
    :hero::hero:

    Sebelum kita men-judge kebohongan pada smua pernyataan pemerintah, salah satunya yang paling sering jadi pusat perhatian, yaitu angka kemiskinan, ada baiknya kita pahami bagaimana sebenarnya data-data kemiskinan BPS itu dihasilkan. Sehingga nantinya kita tidak hanya jd seperti tokoh2 sok tau yg berusaha mempolitisasi berbagai hal, hanya demi kepentingan parpol semata dan supaya kelihatan seolah-olah berpihak pada rakyat. Padahal mereka sendiri belum tentu tahu konsep kemiskinan BPS yg selama ini justru diakui kehandalannya dan sering dijadikan rujukan oleh negara-negara lain di dunia.

    :peace::peace:

    [​IMG]
    PENJELASAN DATA KEMISKINAN

    Data Statistik Resmi (official statistics) adalah objektivitas universal. Seluruh dunia
    mengukur kinerja pembangunan dan eksistensi bangsanya melalui penggunaan indikator statistik yang memenuhi standar pengukuran yang disepakati secara internasional. Pekerjaan statistik selalu dikawal oleh Kode Etik Statistik PBB. Di Indonesia akhir‐akhir ini, di sebagian kalangan, cenderung mispersepsi dalam memahami angka statistik.

    Terkait data statistik kemiskinan misalnya kekeliruan dimaksud melebar ke mana‐mana.
    Disadari bahwa salah satu aspek penting untuk mendukung Strategi Penanggulangan
    Kemiskinan adalah tersedianya data kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran. Pengukuran kemiskinan yang dapat dipercaya dapat menjadi instrumen tangguh bagi pengambil kebijakan dalam memfokuskan perhatian pada kondisi hidup orang miskin.

    Data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan, membandingkan kemiskinan antar waktu dan daerah, serta
    menentukan target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas hidup
    mereka.

    Secara umum kemiskinan didefinisikan sebagai kondisi dimana seseorang atau
    sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan
    dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat.


    Definisi yang sangat luas ini menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan masalah multi dimensional, sehingga tidak mudah untuk mengukur kemiskinan dan perlu kesepakatan
    pendekatan pengukuran yang dipakai. Untuk mengukur tingkat kemiskinan di Indonesia,

    BPS menyediakan 2 jenis data yaitu data kemiskinan makro dan mikro.

    Data Kemiskinan Makro
    Salah satu konsep penghitungan kemiskinan yang diaplikasikan di banyak negara termasuk
    Indonesia adalah konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan konsep ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan. Dalam aplikasinya dihitunglah garis kemiskinan absolut. Penduduk yang memiliki rata‐rata pengeluaran/pendapatan per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan disebut
    penduduk miskin.

    Penghitungan penduduk miskin dengan pendekatan makro didasarkan pada data sampel bukan data sensus, sehingga hasilnya adalah estimasi (perkiraan). Sumber data yang digunakan adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), yang pencacahannya dilakukan setiap bulan Maret dengan jumlah sampel 68.000 rumah
    tangga. BPS menyajikan data kemiskinan makro sejak tahun 1984 sehingga perkembangan jumlah dan persentase penduduk miskin bisa diikuti dari waktu
    ke waktu. Data kemiskinan makro yang terakhir dihitung BPS adalah posisi Maret 2010 dan dirilis tanggal 1 Juli 2010.

    Jumlah dan persentase penduduk miskin dihitung per provinsi dengan garis
    kemiskinan yang berbeda-beda. Di DKI Jakarta besaran garis kemiskinan mencapai
    Rp331.169 per kapita per bulan, sementara di Papua Rp259.128. Data di level nasional
    merupakan penjumlahan penduduk miskin di seluruh provinsi, sehingga jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2010 sebesar 31,02 juta (13,33 persen dari total penduduk) dengan garis kemiskinan sebesar Rp211.726 per kapita per bulan.

    Pada bulan Maret 2011 BPS akan kembali melakukan pengumpulan data Susenas dan hasil penghitungan penduduk miskin akan dirilis tanggal 1 Juli 2011. Perkembangan jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode 1996‐2010 dapat dilihat pada Grafik 1.

    [​IMG]


    Catatan:
    Salah satu data kemiskinan yang mengundang polemik panjang adalah data kemiskinan
    bulan Maret 2006. BPS mengumumkan jumlah penduduk miskin naik dari 35,1 juta (16,0%) pada Februari 2005 menjadi 39,30 juta (17,8%) pada Maret 2006 karena kenaikan
    harga BBM.

    Data Kemiskinan Mikro
    Data kemiskinan makro hanya menunjukkan jumlah dan persentase penduduk miskin di
    setiap daerah berdasarkan estimasi. Data ini berguna untuk perencanaan dan evaluasi
    program kemiskinan dengan target geografis namun tidak dapat menunjukkan siapa dan dimana alamat penduduk miskin (sasaran) sehingga tidak operasional untuk program penyaluran bantuan langsung dan perlindungan sosial seperti bantuan
    langsung tunai (BLT), raskin, dan Jamkesmas.

    Untuk penyaluran bantuan langsung yang memerlukan nama dan alamat target
    dibutuhkan data kemiskinan mikro. Pengumpulan datanya harus dilakukan secara sensus,
    bukan sampel. Berbeda dengan metode penghitungan kemiskinan makro yang menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar, pengumpulan data
    kemiskinan mikro didasarkan pada ciri-ciri rumah tangga miskin supaya pendataan bisa
    dilakukan secara cepat dan hemat biaya.

    Upaya pengumpulan data kemiskinan mikro ini telah dilakukan BPS dua kali yaitu pada bulan Oktober 2005 dan September 2008. Data yang diperoleh disebut data Rumah Tangga Sasaran (RTS), yang mencakup bukan hanya rumah tangga (RT) miskin, tetapi juga RT hampir miskin, yaitu RT yang hidup sedikit di atas garis
    kemiskinan.


    Jumlah RTS hasil pendataan bulan September 2008 adalah 17,5 juta rumah tangga dengan jumlah anggota rumah tangga sebesar 60,4 juta jiwa. Namun, sebagian besar publik menggunakan angka 70 juta jiwa, dengan mengasumsikan besarnya rata‐rata anggota rumah tangga adalah 4 orang.

    Jadi, sebetulnya tidak ada dua angka kemiskinan. Data 31,02 juta menunjukkan data penduduk miskin (pendekatan makro), sementara data 60,4 juta jiwa
    menunjukkan data individu penduduk miskin plus hampir miskin (pendekatan mikro).
    Selisih di antara keduanya menunjukkan besarnya penduduk hampir miskin di Indonesia. Mereka tidak tergolong miskin tetapi sangat rentan terhadap kemiskinan.
    Perlu kehati‐hatian dalam membandingkan kedua data kemiskinan tersebut karena metode
    penghitungan dan tujuan penggunaannya memang berbeda.


    BPS‐RI
    Jakarta, 27 Januari 2011


    Source:
    http://www.bps.go.id/brs_file/Penjelasan_Data_Kemiskinan.pdf

    MEMBANGUN ITU MAHAL, TAPI...
    AKAN JAUH LEBIH MAHAL JIKA MEMBANGUN TANPA DATA

    :angel::angel::angel::angel::angel::angel::angel::angel::angel::angel:
     
    Last edited: Feb 1, 2011
  2. nicky4idws

    nicky4idws Silent Reader Members

    Joined:
    Mar 5, 2010
    Messages:
    102
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +0 / -0
    Sundul Gan..
    gw suka sedih dengan orang2 yang dengan seenak perutnya menjelek2kan data yang udah dikumpulkan teman2 di BPS.
    kasiahan mereka menunjukkan kesemua orang kalau mereka sebenarnya gak negrti.
    padahal gak sedikit yang udah Doktor, mungkin prfessor.
     
  3. desmon91

    desmon91 Beginner Members

    Joined:
    Feb 28, 2010
    Messages:
    404
    Trophy Points:
    0
    Ratings:
    +4 / -0
    jadi angka kemiskinannya menurun ya pada 2011??:bingung:
     
  4. r3dchick3n

    r3dchick3n Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Dec 1, 2009
    Messages:
    685
    Trophy Points:
    0
    Ratings:
    +121 / -0
    kita belum tahu untuk 2011, karena pelaksanaan Survey-nya baru akan dilaksanakan pada bulan Maret 2011, sedangkan hasilnya akan dipublikasikan pada 1 Juli 2011. Namun, klo kita melihat trend yg ada, dan dgn memperhatikan bahwa tidak trjadi kondisi yg luar biasa yg akan mengacaukan perekonomian (seperti revolusi, krisis, dsb) selama tahun 2011, maka kemungkinan besar akan mengalami penurunan.

    :peace::peace::peace::peace:
     
  5. dejivrur

    dejivrur Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 31, 2009
    Messages:
    4,077
    Trophy Points:
    0
    Ratings:
    +317 / -0
    katanya 2010 makin banyak okb (orangkayabaru)
    tapi indikatornya apa?
    toh orang miskin masih ada dimana mana
    anak jalanan berserakan di jalanan
    pengemis masih dengan tanpa malunya minta minta di prapatan lampu merah
     
  6. r3dchick3n

    r3dchick3n Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Dec 1, 2009
    Messages:
    685
    Trophy Points:
    0
    Ratings:
    +121 / -0

    mengenai byknya okb, pada dasarnya bisa diketahui melalui data Susenas, dengan pendekatan pengeluaran. Dari situ dapat diketahui persentase orang yg berada di atas garis kemiskinan dan juga orang yg berada di bawah ataupun tepat pada garis kemiskinan. Selama ini BPS selalu menggunakan pendekatan ini, dgn asumsi semakin tinggi pendapatan seseorang, maka pengeluarannya pun akan semakin tinggi. BPS, tdk menggunakan pendekatan pendapatan, karena orang Indonesia cenderung tidak jujur, jika ditanyakan mengenai pendapatannya. Biasanya dikarenakan, takut kena pajak.

    Benar kata Anda, bahwa kemiskinan memang masih tinggi. Dan dalam hal ini, BPS jg tdk pernah berusaha untuk menutupi ataupun memalsukan datanya. Yang selama ini disampaikan oleh pemerintah, adalah hanya berkisar pada besarnya angka yg berada di bawah garis kemiskinan. Dan fakta menunjukkan memang mengalami penurunan. Tapi, tidak semua data BPS disampaikan secara utuh oleh pemerintah. Jumlah orang yg berada tepat dan sedikit di atas garis kemiskinan (sering disebut sbg kemiskinan transient), masih sangat besar. Orang2 yg berada di zona inilah, yg jika terjadi goncangan ekonomi sedikit saja, maka akan jatuh ke jurang kemiskinan.

    Oleh karena itu, dibutuhkan orang2 yg jeli dengan data BPS, :hero::hero:
    dan yg mau mengkritisi pemerintah secara cerdas. Karena BPS, tdk berwenang memberikan kesimpulan akhir. Hanya sebatas menyajikan data kpda masyarakat dan juga pemerintah sebagai konsumen.
    :peace::peace:
     
  7. adriansatrio

    adriansatrio Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Nov 3, 2008
    Messages:
    1,536
    Trophy Points:
    63
    Ratings:
    +163 / -0
    kata mertua gw yg orangnya ceplas ceplos:
    memang benar kl angka kemiskinan berkurang.
    1. yg miskin mati. krn gak sanggup berobat.
    2. gak bisa makan. dan kekurangan gizi. trus mati.
    3. bunuh diri krn gak sanggup nahan beban hidup menderita krn miskin. mati juga.

    hohoho...
    kl poin 1 gw ngalamin sendiri. krn temen gw nyokapnya meninggal krn gak sanggup bayar uang rs. dan harus di bawa plg ke rmh.
     
  8. zeedeed

    zeedeed Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Apr 11, 2009
    Messages:
    3,004
    Trophy Points:
    133
    Ratings:
    +379 / -0
    setuju bro

    btw yang namanya kemiskinan kan macem2 ada yang namanya kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, sama kemiskinan cultural

    kemiskinan absolut tuh kemiskinan yang ditentukan oleh batas2 tertentu kek yang dijelasin TSn

    kemiskinan relatif tuh kemiskinan yang ditentukan dari kondisi lingkungan di sekitarnya misaknya dia cuman punya 1 mobil sementara tetangganya punya 4 mobil bererti dia termasuk miskin

    kalo yang cultural emang dia dasarnya mentalnya miskin , udah ekonominya cukup tapi masih nyrobot bantuan kek blt ato raskin

    biasanya orang miskin susah dituntasin karna ada yg namanya linkaran setan kemiskinan kek gini gambarnya

    [​IMG]
     
  9. nickson

    nickson Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Aug 29, 2010
    Messages:
    223
    Trophy Points:
    0
    Ratings:
    +0 / -0
    angka kemiskinan menurun

    tapi miskin moral makin menigkat
     

Share This Page