1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Halo IDWS Mania, forum Indowebster ada Super Moderator baru lho di lihat di sini
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Biography Pemikiran Niccolo Machiavelli

Discussion in 'World History' started by Nebunedzar, Nov 26, 2009.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    Nebunedzar Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 7, 2009
    Messages:
    944
    Trophy Points:
    212
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6,271 / -0
    [​IMG]

    Niccolo Machiavelli (3 Mei 1469 - 21 Juni 1527) adalah diplomat dan politikus Italia yang juga seorang filsuf. Sebagai ahli teori, Machiavelli adalah figur utama dalam realitas teori politik, ia sangat disegani di Eropa pada masa Renaisans. Buku-buku karyanya adalah Dell’arte Della Guerra (Seni Perang), Discorsi Sopra la Prima Deca di Tito Livio (Diskursus tentang Sepuluh Buku Titus Livius), Istorie Fiorentine (Sejarah Florence), dan Vita di Castruccio Castracani (Biografi Castruccio Castracani). Machiavelli juga menulis karya sastra, antara lain La Mandragola (naskah drama komedi) dan L’asino d’Oro (satire), Andria dan Clizia (puisi), dan Belfagor Arcidiavolo (novel). Sebagian besar karya ini dia tulis di San Casciano ketika dikucilkan dari pemerintahan Keluarga Medici. Serta tak lupa tulisannya yang amat kontroversial Il Principe (Sang Pangeran).

    Il Principe — yang sesungguhnya adalah surat Machiavelli kepada Lorenzo de’ Medici, penguasa Florence, Italia, pada saat itu — adalah sebuah manual tentang bagaimana mempertahankan kekuasaan. Namun, di dalam buku itu, Machiavelli mencampakkan jauh-jauh aspek moral dan etika sehingga namanya identik dengan pemerintahan yang korup dan totaliter. Orang juga selalu mengaitkan namanya dengan cara-cara mempertahankan kekuasaan secara brutal, licik, amoral, dan penuh tipu daya. Tak heran jika pada 1559, Paus melarang peredaran buku Il Principe. Prinsip-prinsip yang Machiavelli paparkan dalam Il Principe kemudian dikenal sebagai machiavellianisme dan orang yang mengikutinya disebut machiavellian.

    Bagi Machiavelli, politik adalah tentang satu hal: meraih dan mempertahankan kekuasaan. Hal-hal yang lain-agama, moralitas, dan sebagainya-yang dikaitkan dengan politik, tidak ada sangkut paut dengan aspek fundamental politik. Di dalam Il Principe, Machiavelli mengungkapkan bahwa seorang penguasa tidak terikat oleh norma etika tradisional. Dalam pandangannya, seorang penguasa semestinya hanya berorientasi pada kekuasaan dan hanya mematuhi aturan yang akan membawa kesuksesan politik. Penguasa harus kikir dan kejam dalam menghukum, tanpa belas kasihan. Lebih baik menjadi penguasa yang ditakuti daripada dicintai. Bahkan menurut Machiavelli, kebaikan bisa mengakibatkan kejatuhan. Bagian yang paling kontroversial dari Il Principe adalah bab 18 yang di dalamnya Machiavelli menyarankan agar penguasa tak segan-segan menipu untuk mempertahankan kekuasaan.

    Meskipun demikian, tidak sedikit orang yang membela Machiavelli. Mereka mengatakan bahwa Machiavelli sering disalahpahami karena bukunya yang banyak dibaca orang hanyalah Il Principe, sedikit sekali yang membaca buku-bukunya yang lain, misalnya Discorsi Sopra la Prima Deca di Tito Livio. Akibatnya, penilaian orang terhadap Machiavelli tidaklah utuh. Menurut para pembelanya, apabila kita telah cukup mengenal Machiavelli, kita akan tahu bahwa sebenarnya dia adalah orang yang religius dan bermoral. Mereka juga mengatakan bahwa untuk memahami Il Principe, kita harus mempertimbangkan keadaan Italia saat buku itu ditulis. Pada saat itu, Italia dalam keadaan terpecah belah dan sangat rentan terhadap serangan asing. Machiavelli ingin menyelamatkan Italia dengan cara menulis Il Principe.
    Kondisi Italia yang kritis itu membuat Machiavelli tidak lagi memandang perlu pembicaraan tentang etika. Dia tidak berbicara mengenai negara dari sudut pandang etis, tetapi dari sudut pandang medis. Machiavelli yakin bahwa Italia sedang mengidap penyakit gawat. Alih-alih mendekati masalah itu dari sudut pandang etika, Machiavelli berkonsentrasi menyembuhkan negara untuk membuatnya lebih kuat. Contoh pemakaian terminologi medis dalam Il Principe adalah ketika Machiavelli berbicara tentang para penghasut — “para penghasut harus diamputasi sebelum mereka menginfeksi seluruh negara.”

    Namun, semua pembelaan terhadap Machiavelli ini sesungguhnya dapat dipatahkan karena pada 1810 telah ditemukan sebuah surat yang ditulis oleh Machiavelli yang di dalamnya dia mengakui bahwa dia menulis Il Principe agar mendapat kedudukan dalam pemerintahan Keluarga Medici di Florence (sebelum Keluarga Medici berkuasa, Machiavelli adalah seorang pejabat pemerintah). Untuk membebaskan Italia dari kekuatan asing, Machiavelli menekankan perlunya pemerintahan pribumi yang kuat, meskipun itu adalah pemerintahan yang absolut.

    Betapa pun kontroversial, Il Principe adalah sebuah buku yang populer dan berpengaruh. Buku ini masuk ke dalam daftar Books that Changed the World, yang dirumuskan oleh Robert Downs, bersama-sama Wealth of Nations (Adam Smith), Essay on the Principle of Population (Thomas Malthus), Das Kapital (Karl Marx), Mein Kampf (Adolf Hitler), Principia Mathematica (Sir Issac Newton), Origin of Species (Charles Darwin), dan buku-buku hebat lainnya.

    Teori-teori politik Machiavelli banyak dipraktikkan di berbagai negara. Pada abad XX, machiavellianisme sangat menonjol dalam praktik hubungan internasional. Konon Napoleon Bonaparte, sang diktator Prancis itu, senantiasa menyelipkan buku Il Principe di bawah bantal tidurnya. Kepemimpinan Stalin, Hitler, dan Mussolini sangat dipengaruhi oleh machiavellianisme. Namun, hanya Benito Mussolini yang pernah menyatakan kekagumannya atas ajaran Machiavelli secara terang-terangan di depan public, sedangkan pemimpin lainnya enggan berterus terang.

    Sumber:
    http://macheda.blog.uns.ac.id/2009/09/27/pemikiran-niccolo-machiavelli/

    Nb:
    Itu gambarnya dari game Assassin Creed II... keren yah! :lol:
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.




    Promotional Content
  3. Offline

    dejivrur Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 31, 2009
    Messages:
    3,896
    Trophy Points:
    131
    Ratings:
    +1,103 / -2
    ternyata dia tdk berpedoman pada etika dan moral
    ada ucapan
    "kekuasaan itu berbahaya, tapi penyalah guna kekuasaan lebih berbahaya"
    terlepas dari etika, machiaveli mencetak para penyalah guna kekuasaan yang laen

    politik memang kejam ya?
     
  4. Offline

    Nebunedzar Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 7, 2009
    Messages:
    944
    Trophy Points:
    212
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +6,271 / -0
    iya...

    yang paling terkenal dari machiavelli itu...

    "demi mempertahankan sebuah kekuasaan, lakukanlah segala cara.."
     
  5. Offline

    Crosscrusade Beginner Members

    Joined:
    Feb 18, 2010
    Messages:
    277
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +9 / -0
    Pemikiran tu orang yang bikin negara saling berperang.
    karena "politik adalah tentang satu hal: meraih dan mempertahankan kekuasaan"
     
  6. Offline

    supergundala Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 23, 2010
    Messages:
    173
    Trophy Points:
    41
    Ratings:
    +547 / -0
    tujuan menghalalkan pilihan cara....

    sekarang udah ga trend lagi, hehehhe.... ane agak setuju ama pendukung2nya tuh. mungkin si mach menulis buku il principe itu berdasarkan kondisi saat itu.
     
  7. Offline

    adriansatrio Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Nov 3, 2008
    Messages:
    1,484
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +359 / -0
    kayaknya kita ngerasain deh pemerintahan macam gitu. tepu sana sini. segala cara. akal bulus. ehem ehem.. :dandy:
     
  8. Offline

    ichreza Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Nov 8, 2009
    Messages:
    839
    Trophy Points:
    191
    Ratings:
    +8,764 / -0
    nyoba mbandingin inul, Hitler dan Machiavelli

    Antara Inul, Hitler, Dan Machiaveli

    Oleh: Adian Husaini



    Jumat (12 September 2003), Wakil Sekjen PDIP, Pramono Anung, membuat pernyataan yang kemudian banyak dikutip oleh media massa. Yakni, PDIP akan menjadikan Inul Daratista sebagai ikon partai. Menurut Pramono, memilih Inul sebagai ikon PDIP merupakan salah satu keuntungan, karena partai-partai Islam tak mungkin bisa melakukan hal serupa. Memilih Inul sebagai ikon partai, lanjut, merupakan strategi yang dipilih PDIP dalam merebut hati rakyat. Dalam Pemilu mendatang, yang terjadi sebenarnya pertarungan pencitraan partai. Jadi masalahnya adalah bagaimana partai bisa merebut hati rakyat.

    Barangkali, sebagian orang menilai, ungkapan Wakil Sekjen DPP PDIP itu sebagai hal yang biasa-biasa saja. Sebab, dalam politik, yang terpenting adalah “kepentingan” atau “interest”, sehingga banyak sekali yang mengutip ungkapan “tidak ada kawan yang abadi dalam politik”, yang ada hanyalah “kepentingan yang abadi.” Orang bisa berteman dalam politik karena kepentingan yang sama, dan bisa bertengkar karena factor kepentingan juga. Banyak yang kemudian percaya, bahwa politik adalah bebas moral, dan karena itu, tujuan menghalalkan segala cara (al-ghayah tubarrirul wasiilah atau targets justify means). Tampaknya, karena dianggap sebagai hal biasa itulah, maka media massa kita kemudian tidak menjadikan ungkapan Wakil Sekjen PDIP itu sebagai berita-berita penting.

    Padahal, jika ditelaah lebih jauh, ungkapan itu adalah sangat serius, karena mengandung makna sejarah dan filosofi yang mendalam. Inilah yang dalam sejarah dikenal sebagai politik Machiavelis. Politik yang menghalalkan segala cara. Jika partai terbesar di ndonesia sudah menggunakan cara-cara seperti ini, maka patut dipertanyakan, inikah demokrasi yang diinginkan oleh bangsa Indonesia, yang katanya, bersifat religius dan mendasarkan dirinya pada Ketuhanan yang Maha Esa. Tuhan yang mana yang meridhai tindakan mempertontonkan aurat dan erotisme secara vulgar? Jika Inul, yang kemudian menjelma menjadi symbol erotime dalam kesenian, lalu dijadikan ikon sebuah partai, mau kemanakah moralitas bangsa Indonesia akan dibawa? Bukan hanya dari segi moral, dari segi ketinggian selera kesenian pun patut dipertanyakan.

    Apa arti Ikon? Dalam bahasa Inggris, kata ini ditulis sebagai “icon” yang dalam Kamus American Heritage Dictionary diartikan sebagai: “A religious image painted on a panel”. Hassan Shadili menerjemahkannya ke bahasa Indonesia sebagai “patung/gambar orang suci”. Kamus al-Mawrid menerjemahkan kata “icon” ke dalam bahasa Arab sebagai (1) timtsal (2) iqanah (3) ma’bud. Jadi, kata ikon, memang memiliki konotasi keagamaan, bahkan ada konotasi penghormatan yang sangat tinggi, pengagungan, atau bahkan penyembahan, atau ibadah. Jika kamus al-Mawrid dipakai, maka salah satu artinya adalah al-ma’bud, yang disembah. Jadi, kalimat “menjadikan Inul sebagai ikon partai”, bisa bermakna, “menjadikan Inul sebagai sesembahan”.

    Tentu, kita bertanya, mengapa Inul dipuja dan ditempatkan dalam kedudukan yang begitu terhormat, melebihi para cendekiawan dan pemikir? Apakah Inul lebih berharga ketimbang Kwik Kian Gie, Laksamana Sukardi, Rizal Mallarangeng, atau Ir. Pramono Anung dan cendekiawan lainnya? Mengapa Inul jadi Ikon partai, jawabannya, adalah karena Inul diharapkan dapat mendatangkan suara untuk partai. Show Inul selama ini terbukti sangat diminati pengunjung. Ribuan orang datang untuk menyaksikannya. Berbagai produk juga menampilkannya sebagai bintang iklan. Stasiun TV berebut menampilkannya, karena mudah meraup untung.

    Ringkasnya, Inul adalah mesin penarik uang yang terbukti ampuh, dan nanti akan dicoba untuk dijadikan sebagai mesin penarik kekuasaan. Jika rencana ini akan menjadi kenyataan, kita akan menyaksikan sebuah panggung politik yang memprihatinkan. Partai yang bertanding masih mengandalkan unsure-unsur emosional dan irasional, bukan menawarkan program dan kredibilitas calon pemimpin bangsa.

    Dalam sejarah demokrasi di Eropa, fenomena seperti ini bukan hal baru. Para politisi menjual ide-ide yang sebenarnya membahayakan moral masyarakat, tetapi justru mendapat dukungan luas. Lihatlah bagaimana Hitler (hidup antara tahun 1889-1945) dapat berkuasa di Jerman. Gagal melakukan kudeta pada tahun 1923, dan masuk penjara, Hitler kemudian menyadari pentingnya jalur demokratis untuk menyebarkan gagasan-gagasannya dan meraih kursi kekuasaan. Ia pun menggunakan kepandaiannya dalam aksi propaganda untuk menarik dukungan mssyarakat luas.

    Dari segi akal sehat, adalah sulit dibayangkan, rakyat Jerman ketika itu mendukung Hitler dan memilih Nazi (National Socialist German Worker’s Party). Mengapa? Sebab, yang dijual Nazi ketika itu adalah ide-ide yang sangat mengerikan dan sangat anti-kemanusiaan. Melalui bukunya, Mein Kampf (My Struggle) yang ditulisnya dalam penjara, Hitler mengemukakan gagasan nasionalis radikal dengan basis ras (racial natinalism). Hitler membagi manusia ke dalam dua jenis ras, yaitu ras yang superior dan ras yang inferior. Hitler menggambarkan ras Aria dan ras Yahudi sebagai “the men of God and the men of Satan”. Ia katakan: “The Jew is anti-man, the creature of another god. He must have come from another root of the human race. I set the Aryan and the Jew over and against each other.”

    Siapa pun tahu, bahwa gagasan-gagasan Hitler dan Nazi seperti itu merupakan ide eksrim dan gila. Tapi, apa yang terjadi? Rakyat Jerman yang ketika itu ditimpa krisis ekonomi, terimbas depresi tahun 1929, malah mendukung Hitler. Tahun 1028, parytai Nazi hanya meraih suara 810.000. Tetapi, tahun 1930, berhasil meraih suara 6.400.000. Pada pemilu 31 Juli 1932, Nazi menjadi pemenang dengan suara 37,3 persen dan meraih 230 kursi di parlemen. Tetapi belum menjadi mayoritas mutlak. Dengan modal suara itulah, pada 30 Januari 1930, Hitler diangkat menjadi chancellor (Kanselir) Jerman. Ia didukung para industriawan, aristocrat pemilik tanah, yang mengharapkan, Hitler akan melawan komunisme, membubarkan organisasi buruh, dan meningkatkan industri militer. Pada pemilu Maret 1933, Nazi meraih 288 dari 647 kursi parlemen. Ditambah dengan koalisi dengan 52 wakil nasionalis, dan absennya wakil-wakil komunis, maka Nazi menjadi mayoritas mutlak. Itulah demokrasi di Jerman ketika itu. Rakyat Jerman mendukung gagasan-gagasan nasionalisme ekstrim Nazi dan memilih pemipin seperti Hitler yang kemudian menyeret dunia ke dalam Perang yang sangat mengerikan dengan mengorbankan nyawa jutaan manusia.

    Mengapa Nazi dan Hitler didukung rakyat Jerman, meskipun partai ini membawa ide-ide gila? Jawabnya, karena Hitler dan Nazi pandai menarik suara rakyat, dengan teknik propagandanya yang canggih. Kisah serupa dapat dijumpai di berbagai negara. Demokrasi sering gagal memilih pemimpin yang baik. Cara-cara yang digunakan untuk meraih suara rakyat pun bermacam-macam, bisa bermoral, bisa tidak. Lihatlah, bagaimana kini, partai-partai di Eropa enggan secara terbuka melakukan kampanye melawan kaum homoseksual, karena mereka tidak mau kehilangan konstituen atau suara rakyat. Sebab, dari hari ke hari, perilaku homoseksual telah dianggap sah dan sama dengan heteroseksual. Bahkan, sejumlah pendeta juga secara terbuka menyatakan sebagai gay.


    Agama dan Renaissance

    Pada 1 September 2003 lalu, Eramuslim.com menulis satu berita berjudul “Kaum Gay Belanda Terbitkan Buku Pedoman Cara Perkawinan Sesama Jenis”. Buku pedoman tata-cara kawin sesama jenis kelamin setebal 60 halaman itu, sekaligus sebagai seruan pada para aktivis gay di seluruh dunia untuk berupaya memperoleh hak-hak bejad mereka. Buku itu juga sebagai bukti pengukuhan, bahwa Belanda adalah negeri pertama yang melegalisasi perkawinan sejenis. Selain "kitab suci" kaum gay itu juga mendorong para kalangan gay di seluruh dunia aktif berkampanye, agar mereka bisa memperoleh hak kawin dengan sesama jenis. Buku itu berpesan, kaum gay agar berupaya keras melakukan perlawanan terhadap hukum-hukum yang diskriminatif. Mereka juga harus berjuang untuk mendapatkan hak-hak yang sama di seluruh tingkat pengadilan.

    "Ini adalah suatu perjuangan bagi rakyat yang ingin sungguh-sungguh bebas dan memperoleh hak dan kesempatan yang sama bagi setiap orang," ujar Jose Smits, anggota parlemen Belanda dari Partai Buruh Belanda, didamping partner lesbiannya dan tiga anak angkat mereka. "Memang tidak sederhana perkara kaum gay yang ingin memperoleh hak-hak yang sama sebagaimana kaum heteroseks. Ini suatu pertanyaan moral. Karena itu, ini merupakan suatu pertarungan politik untuk mendapatkan hak-hak yang setara bagi setiap orang," kata Jose Smith.

    Bisa dibayangkan, jika masyarakat sudah menerima praktik homoseksualitas sebagai bagian dari gaya hidup mereka, maka para politisi yang tidak mengikuti moral, akan menjual ide-ide yang menerima praktik bejat semacam itu, sebagai bagian propaganda politik. Itu dilakukan demi meraih suara rakyat. Bagaimana jika rakyat sudah menerima nilai-nilai pornografi, erotisme, budaya syahwat, dan sebagainya? Kita tidak heran, jika masyarakat Italia bisa memilih bintang pornografi Ilona Steler sebagai anggota parlemen. Maka, jika ada politisi Indonesia yang berpikir untuk menjual Inul sebagai ikon partainya, itu pun bisa dilihat dalam perspektif ini.

    Namun, jika dipikirkan lebih jauh, praktik-praktik politik seperti ini sebanarnya merupakan satu bentuk politik Machiavelis. Istilah itu memang merujuk pada satu nama penulis terkenal di Eropa bernama Niccolo Machavelli. Siapakah orang ini? Dia adalah seorang Italia yang hidup pada 1469-1527. Zaman itulah yang dikenal dalam sejarah Eropa sebagai zaman renaissance. Artinya: lahir kembali, atau rebirth. Renaissance mulai muncul di Italia, ketika orang-orang Barat /Eropa melihat tanda-tanda keruntuhan otoritas agama Kristen dalam kehidupan mereka. Selama 500 tahun, mulai tahun 500-1500 M, mereka hidup di zaman yang mereka sebut sebagai ‘medieval’, zaman pertengahan yang identik dengan kegelapan. Zaman kegelapan ditandai dengan dominannya pengaruh agama Kristen dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Kekuasaan agama (gereja) mau campur tangan dan menguasai segala hal.

    Karena ingin melepaskan diri dari segala pengaruh gereja atau Tuhan dalam kehidupan mereka, maka mereka menamakan zaman pencerahan itu sebagai renaissance atau zaman kelahiran kembali. Mereka menganggap, selama ratusan tahun dalam cengkeraman agama, mereka dalam keadaan mati. Maka, sekarang, setelah memasuki zaman baru, mereka merasa lahir kembali. Bagi orang Italia, yang pernah menjadi pusat kekuasaan imperium Romawi, mereka ingin kembali ke zaman kejayaan itu.

    Benih-benih pencerahan itu sudah muncul sekitar abad ke-14. Ada dua corak yang dominan dalam pemikiran dan kesenian di zaman pencerahan itu, yaitu secular dan humanis. Kajian-kajian pemikiran mulai berbasis pada pemikiran Yunani Kuno dan literatur-literatur Romawi.

    Manusia, kata mereka, harus memutuskan nasibnya sendiri di dunia. Bukan Tuhan yang menentukan nasib mereka. Tahun 1486, Giovanni Pico della Mirandola (1463-1494) menulis buku berjudul “Oration on the Dignity of Man”. Manusia, kata Pico, memiliki kebebasan untuk membentuk kehidupan mereka sendiri.” (Bayangkan, pemikiran seperti ini baru muncul di Eropa pada abad ke-15. Padahal, kalangan mutakallimin diantara kaum Muslim sudah habis-habisan mendiskusikan masalah ini sekitar 700 tahun sebelumnya).

    Di lapangan politik dan moralitas, nama Machiaveli menjadi terkenal, setelah menulis bukunya yang berjudul, The Prince. Oleh para pemikir Barat kemudian, karya Machiaveli ini dianggap memiliki nilai yang tinggi yang memiliki pengaruh besar dalam social politik umat manusia. Sebuah buku berjudul “World Masterpieces” yang diterbitkan oleh WW Norton & Company, New York, tahun 1974 (cetakan kelima) menempatkan karya Machiaveli ini sebagai salah satu karya besar dalam sejarah umat manusia yang muncul di zaman renaissance. Diantara karya-karya lain yang ditampilkan dalam buku ini adalah Old Testament dan New Testament. Tahun 2002, sebuah lembaga di Australia, The Cranlana Programme, juga menerbitkan dua jilid buku berjudul “Powerful Ideas”. Buku ini juga memuat sejumlah karya terkenal dari pemikir dunia, seperti Plato, Aristoteles, Confucius, St. Agustine, Niccolo Machiaveli, John Locke, Rousseau, Adam Smith, Immanuel Kant, Karl Marx dan sebagainya.

    Perjalanan hidup Machiavelli sendiri cukup menyedihkan. Ia pernah ditahan dan disiksa, karena dituduh melawan pemerintah Italia sekitar tahun 1495. Ia menulis The Prince pada umur 44 tahun, dan baru dipublikasikan tahun 1532, lima tahun setelah kematiannya. Machiavelli dianggap sebagai salah satu pemikir yang mengajak penguasa untuk berpikir praktis demi mempertahankan kekuasaannya, dan melepaskan nilai-nilai moral yang justru dapat menjatuhkan kekuasannya. Karena itu, banyak yang memberikan predikat sebagai “amoral”. Tujuan utama dari suatu pemerintahan adalah “survival”. Dan ini melampaui nilai-nilai moral keagamaan dan kepentingan dari individu-individu dalam negara. Dengan membuang factor “baik dan buruk” dalam kancah politik, Machiavelli membuat saran, bahwa seorang penguasa boleh menggunakan cara apa saja untuk menyelamatkan negara. Penguasa-penguasa yang sukses, kata dia, selalu bertentangan dengan pertimbangan moral dan keagamaan. Maka, kata Machiavelli lagi, “Jika situasi menjamin, penguasa dapat melanggar perjanjian dengan negara lain, dan melakukan kekejaman dan terror.

    Yang terpenting dari pemikiran Machiavelli, adalah ia telah mengangkap persoalan politik dari aspek moral dan ketuhanan. Sejarawan Marvin Perry, mencatat dalam bukunya, Western Civilization: “Machiavelli’s significance as a political thinkers serts on the fact that he removed political thought from a religious frame of reference and viewed the state and political behavior in the detached and dispassionate manner of a scientist. In secularizing and rationalizing political philosophy, he initiated a trend of thought that we recognized as distinctly modern.”
    Jadi, sumbangan terbesar Machiavelli adalah menghilangkan factor agama dalam politik, dengan memandang masalah politik dan negara, semata-mata sebagai factor saintifik yang rasional. Inilah yang dipandang sebagai politik modern.

    Bagaimana dengan politik di Indonesia? Silakan dikaji, apakah pemikiran Machiavelli sudah merasuki dunia politik kita? Jika aspek halal-haram dihilangkan, aspek moral ditiadakan, dan politik semata-mata dipandang sebagai “str
     
    Last edited: Oct 8, 2011
  9. Offline

    jatiwulung Lurking Around Members

    Joined:
    Jun 14, 2011
    Messages:
    596
    Trophy Points:
    0
    Ratings:
    +54 / -0
    pernah mbaca yg Il Principle, ga setuju banget saya dengan buku itu :yareyare: Yg pasti, pemerintahan yg dibangun dengan cara-cara itu cepat membusuk dan segera hancur, chaos di mana-mana. Lihat saja Tragedi 1998 di Indonesia
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.