1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Parkinson Tidak Bisa Dicegah

Discussion in 'Intensive Health Unit' started by smkosasih, May 3, 2010.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    smkosasih Senpai Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 9, 2008
    Messages:
    5,335
    Trophy Points:
    162
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +3,178 / -0
    Karena tidak diketahui dengan pasti apa penyebabnya, penyakit parkinson tidak bisa dicegah. Penyakit ini bisa menghampiri siapa saja sebagai dampak proses penuaan (degeneratif).

    Parkinson merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan adanya tremor pada pergerakan dan kekakuan otot. Dalam kasus tertentu disebabkan oleh toksin, kepala terluka, dan obat-obatan.

    Penyebab di dalam otak ada sebuah daerah yang disebut ganglia basalis. Ganglia Basalis inilah yang mengolah sinyal dan mengantarkan pesan ke talamus, yang akan menyampaikan informasi yang telah diolah kembali ke korteks serebral. Pada penderita parkinson, sel-sel pada ganglia basalis mengalami kemunduran.

    Ketika beranjak tua, produksi dopamin menurun dan diduga menyebabkan parkinson. Dopamin merupakan neurotransmiter di otak yang berfungsi mengatur gerakan-gerakan halus dan terkoordinasi.

    Dr. Dewi Gentari, Sp.S. dalam presentasinya pada peringatan Hari Parkinson sedunia 2010 di Jakarta, Minggu (2/5/2010) menyebut ada 4 gejala utama pada penyakit parkinson.

    Gejala berikut ini baru muncul jika sel penghasil dopamin yang mati telah mencapai 70 persen:
    • Tremor (gemetar yang tidak terkontrol)
    • Rigiditas (kekakuan otot dan sendi)
    • Bradikinesia (melambatnya gerakan motorik)
    • Ketidakseimbangan postur.
    Hingga saat ini tidak ada terapi yang bisa menyembuhkan parkinson. Terapi medikamentosa (dengan obat-obatan), maupun terapi invasif seperti operasi sifatnya hanya untuk mengatasi gejala dan mencegah berkembangnya penyakit menjadi lebih parah.

    Namun ada banyak cara yang bisa dilakukan sebagai terapi suportif (pendukung). Fungsinya beragam, mulai dari memperbaiki fungsi motorik hingga menjaga fungsi kognitif (kemampuan berpikir).

    Mengoptimalkan tidur di malam hari termasuk cara untuk memperbaiki fungsi motorik. Menurut Dr. Dewi, produksi dopamin lebih banyak terjadi pada malam hari. Tidur siang hendaknya dibatasi jangan lebih dari 45 menit agar tidur malam lebih berkualitas.

    "Siang hari justru harus banyak bergerak, misalnya dengan senam atau minimal berjalan-jalan. Ini untuk melatih kemampuan motorik," kata Dr. Dewi yang merupakan ahli syaraf di RS Azra Bogor.

    Sedangkan untuk menjaga fungsi kognitif, Dr. Dewi menyarankan penyandang parkinson untuk rajin mengisi Teka-teki Silang (TTS). Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk brain gym, yang berfungsi menjaga kebugaran otak.

    Lebih lanjut, Dr. Dewi juga mengungkap ada 2 macam penyakit parkinson. Yang pertama adalah parkinson primer, yang hingga kini tidak diketahui pasti apa penyebabnya selain sebagai dampak dari proses penuaan.

    "Ketika masuk usia lanjut, semua orang akan mengalami degenerasi (penurunan fungsi organ). Ada yang mengalaminya di sendi, tulang, ginjal maupun otak. Peluang untuk terjadi di otak, sama pada semua orang," ungkap Dr. Dewi.

    Berikutnya adalah parkinson sekunder, yang muncul menyertai penyakit lain. Biasanya terjadi setelah mengalami stroke, benturan yang berulang di kepala, serta infeksi pada otak.

    Diduga, parkinson yang dialami mantan petinju Muhammad Ali adalah dampak dari benturan berulang pada kepala sepanjang karir bertinjunya. Dugaan tersebut hingga kini memang masih diperdebatkan.

    Yang jelas, Dr. Dewi menyarankan untuk menghindari benturan yang terlalu sering. Lalu bagaimana dengan penggemar olah raga bela diri yang acapkali tidak bisa menghindari benturan di kepala?

    "Ya harus pintar-pintar menangkis. Mudah kan?" katanya sambil tertawa.

    Meski sulit dicegah karena siapapun bisa mengalaminya namun risikonya bisa dikurangi. Menerapkan gaya hidup sehat agar tubuh tidak terlalu banyak toksin, menghindari kepala terluka dan obat-obatan bisa dilakukan untuk mengurangi risikonya.

    sumbre:detikHealth
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.