1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Oh.. Bunda.. (Syukuri apa yg anda MILIKI skrg)

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by Zervo, Mar 5, 2009.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    Zervo Oniisan Co Administrators

    Joined:
    Dec 8, 2008
    Messages:
    10,188
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +148,051 / -2
    cerita nya agak panjang. namanya juga cerita. (msh masuk cerpen seh neh. hahaha)
    tp dibaca aja pelan2. bagus koq.
    g dah search, keqnya disini blom ada deh cerita ini.

    Mandikan Aku Bunda

    Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis.

    Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya
    .....

    Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan
    memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah
    jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan
    digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip seorang
    mantan presiden
    Amerika.

    Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di
    Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih
    memilih menuntaskan pendidikan kedokteran.

    Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel''; sama-sama
    berprestasi, meski berbeda profesi.

    Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat,
    bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan
    mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah
    ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar: Alifya.
    Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak
    yang pertama dan terakhir.

    Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani
    semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke
    kota lain, dan dari satu negara ke negara lain.

    Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk
    ditinggal-tinggal? '' Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah
    mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!'' Ucapannya itu betul-betul
    ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional
    oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon.
    Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.

    Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu,
    tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik
    pesawat terbang, dan uang yang banyak.

    ''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek
    Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.

    Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut
    dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih
    pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan
    seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya.
    Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi
    karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang
    larut, ia jarang sekali ngambek.

    Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria.
    Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''.

    Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super
    sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.

    Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak
    dimandikan baby sitter. ''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap.
    Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar.
    Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan
    mempersiapkan keperluan
    kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante
    Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut,
    meski wajahnya
    cemberut.

    Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ''Bunda, mandikan aku!'' kian
    lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu
    karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta
    perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.

    Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ''Bu
    dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.''
    Setengah terbang,
    saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain.
    Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.

    Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia
    shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah
    memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani
    memang menyimpan
    komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.

    Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring
    kaku. ''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah
    jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya,
    berusaha menyembunyikan tangis.

    Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri
    mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu,
    berkata, ''Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di
    seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?'' Saya diam
    saja.

    Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya
    mematung seperti
    tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini konsekuensi sebuah
    pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin
    senja meniupkan aroma bunga kamboja.

    Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu
    hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih
    tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri
    kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih
    mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya.
    Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin
    tua.
     
    • Thanks Thanks x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    hanimon Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Dec 20, 2008
    Messages:
    1,928
    Trophy Points:
    226
    Ratings:
    +5,196 / -0
    mengharukan sekali :onion-92::onion-92::onion-92:
    memang penyesalan datangnya terakhir2
     
  4. Offline

    princess Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Apr 30, 2008
    Messages:
    437
    Trophy Points:
    66
    Ratings:
    +160 / -0
    loh.... seingat saya... uda pernah dipost loh di idws...
    hehehe
    anyway tetap aja nice story.......
     
  5. Offline

    Zervo Oniisan Co Administrators

    Joined:
    Dec 8, 2008
    Messages:
    10,188
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +148,051 / -2
    ow.. masa..
    ya sudah lah..
    he3x..

    g beneran dah search. tp ga ktemu.
    mgkn kelewat x.
    ya biar lah..
    moga blom banyak yg tau.
    jadi ttp bs berbagi..
    hehehe
     
  6. Offline

    Gradient Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 23, 2009
    Messages:
    869
    Trophy Points:
    81
    Ratings:
    +59 / -0
    banyak sekali cerita2 yang mirip kaya gini. pesan moralnya cm satu, sibuk boleh tapi jangan ampe gak punya waktu untuk anak.
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.