1. Sssst, ada Administrator baru di forum Indowebster lho... cek di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Make Changes

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by One_D, Dec 27, 2008.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    One_D Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 27, 2008
    Messages:
    919
    Trophy Points:
    66
    Ratings:
    +143 / -0
    "MAKE CHANGES"


    Saya seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, Iowa.
    Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano-selama lebih dari 30 tahun.
    Selama itu, saya menyadari tiap anak punya kemampuan musik yang berbeda.
    Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong walaupun saya telah mengajar beberapa murid berbakat.
    Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang murid yang "tertantang secara musik". Contohnya adalah Robby.

    Robby berumur 11 tahun, ketika ibunya memasukkan dia dalam les untuk pertama kalinya.
    Saya lebih senang kalau murid (khususnya laki-laki) mulai belajar ketika lebih muda, saya jelaskan itu pada Robby.
    Tapi Robby berkata, ibunya selalu ingin mendengar dia bermain piano.
    Jadi saya jadikan dia murid.

    Robby memulai les pianonya dan dari awal saya pikir dia tidak ada harapan.
    Robby mencoba, tapi dia tak mempunyai perasaan nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari.
    Namun dia mempelajari benar-benar tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang saya wajibkan untuk dipelajari semua murid.

    Selama beberapa bulan, dia mencoba terus dan saya mendengarnya dengan ngeri dan terus mencoba menyemangatinya.
    Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, "Ibu saya akan mendengar saya bermain pada suatu hari."
    Tapi rasanya sia-sia saja.
    Dia memang tak berkemampuan sejak lahir.
    Saya hanya mengetahui ibunya dari jauh ketika menurunkan Robby atau menjemput Robby.
    Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan tapi tidak pernah turun.

    Pada suatu hari, Robby tidak datang lagi ke les kami.
    Saya berpikir untuk menghubunginya, tapi saya berkata dalam hati, karena ketidakmampuannya, mungkin dia mau les yang lain saja.
    Saya juga senang dia tidak datang lagi.
    Dia menjadi iklan yang buruk untuk pengajaran saya!

    Beberapa minggu sesudahnya, saya mengirimkan brosur ke tiap murid, mengenai pertunjukan yang akan dilaksanakan.
    Yang mengagetkan saya, Robby (yang juga menerima brosur) menanyakan kepada saya apakah dia bisa ikut pertunjukan itu.
    Saya katakan kepadanya, pertunjukan itu untuk murid yang ada sekarang dan karena dia telah keluar, tentu dia tak bisa ikut.
    Dia katakan bahwa ibunya sakit sehingga tak bisa mengantarnya ke les, tapi dia tetap terus berlatih.
    "Bu Hondrof... saya mau main!" dia memaksa.

    Saya tidak tahu apa yang membuat saya akhirnya membolehkan dia main di pertunjukan itu.
    Mungkin karena kegigihannya atau mungkin ada sesuatu yang berkata dalam hati saya bahwa dia akan baik-baik saja.

    Malam pertunjukan datang. Aula itu dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi.
    Saya menaruh Robby pada urutan terakhir sebelum saya ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir.
    Saya rasa kesalahan yang dia buat akan terjadi pada akhir acara dan saya bisa menutupinya dengan permainan dari saya.

    Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah.
    Murid-murid telah berlatih; dan hasilnya bagus.
    Lalu Robby naik ke panggung.
    Bajunya kusut dan rambutnya bagaikan baru dikocok.
    "Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?" pikir saya.
    "Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini?"

    Robby menarik kursi piano dan mulai.
    Saya terkejut ketika dia menyatakan bahwa dia telah memilih Mozart's Concerto #21 in C Major.
    Jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari dengan gesit.
    Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo... dari allegro ke virtuoso.
    Akord tergantungnya yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan!
    Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur dia sebagus itu!

    Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua terpaku disana dengan tepuk tangan yang meriah. Dalam uraian air mata, saya naik ke panggung dan memeluk Robby dengan sukacita.
    "Saya belum pernah mendengar kau bermain seperti itu, Robby! Bagaimana kau melakukannya?"
    Melalui pengeras suara Robby menjawab, "Bu Hondorf... ingat saya berkata bahwa ibu saya sakit?
    Ya, sebenarnya dia sakit kanker dan dia telah meninggal pagi ini.
    Dan sebenarnya... dia tuli sejak lahir jadi hari inilah dia pertama kali mendengar saya bermain.
    Saya ingin bermain secara khusus."

    Tidak ada satu pun mata yang kering malam itu.
    Ketika orang-orang dari layanan sosial membawa Robby dari panggung ke ruang pemeliharaan, saya menyadari meskipun mata mereka merah dan bengkak, betapa hidup saya jauh lebih berarti karena mengambil Robby sebagai murid saya.

    Tidak, saya tidak pernah menjadi penolong, tapi malam itu saya menjadi orang yang ditolong Robby.
    Dialah gurunya dan sayalah muridnya.
    Karena dialah yang mengajarkan saya arti ketekunan, kasih, percaya dirimu sendiri, dan bahkan mau memberi kesempatan pada seseorang yang tak anda ketahui mengapa.

    Peristiwa ini semakin berarti ketika, setelah bermain di Desert Storm, Robby terbunuh oleh pengeboman yang tak masuk akal oleh Alfred P. Murrah, Federal Building di Oklahoma pada April 1995, ketika dilaporkan... dia sedang main piano.

    Dan sekarang, tambahan cerita ini. Jika anda mau meneruskan cerita ini, mungkin anda berpikir, orang mana di daftar alamat yang tidak "cocok" untuk menerima pesan ini.
    Orang yang mengirim cerita ini yakin bahwa kita dapat membuat perubahan.
    Kita semua mempunyai ribuan kesempatan tiap hari untuk menyadari rencana Tuhan.
    Rencana yang indah, akan kita rasakan pada akhir hari digenapi..
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.