1. Sssst, ada Administrator baru di forum Indowebster lho... cek di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Maaf dari surga

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by kyrie, Nov 11, 2008.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    kyrie Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 20, 2008
    Messages:
    489
    Trophy Points:
    191
    Ratings:
    +20,600 / -0
    :)


    Name gue Dion, lengkapnya Dion pradhita. Sekedar perkenalan saja, gue hidup dalam dunia yang bisa dibilang glamour. Dunia anak muda penuh dengan kebebasan. Gue terlahir dengan membawa status yang akan gue bawa sampai gue mati nanti. Nyokap gue seorang PSK kasarnya nyokap adalah pelacur. Gue adalah anak hasil dari hubungan nyokap dengan pelanggannya. Yang paling menyadihkan bahkan nyokap nggak tahu siapa bokap gue. Status itu yang selalu menghantui gue. Dari kecil gue sudah menjalani kehidupan yang keras, nyokap ngajarin gue banyak hal tentang hidup.
    Sekarang gue sekolah disalah satu SMA swasta di bekasi, gue duduk dikelas 3 SMA. Dan sekarang usia gue sudah 18 tahun. Satu lagi nyokap juga sudah berhenti jadi palacur sejak usia gue 5 tahun.
    “ Dion…what’s up brow…? Kemana saja lo seminggu bolos sekolah…?” Sapa Riky
    “ Hmm…Biasa refreshing.” Jawab gue sambil melempar senyum sinis.
    “ Gila lo liburan nggak ngajak-ngajak!”
    “ Ngapain juga gue ngajak lo, ngerepotin saja.”
    “ Sial!”
    “ Oh yah, soulmate lo tuh.”
    “ Siapa?”
    “ Adik kesayangan lo.”
    “ Dandra?”
    “ Ya iyalah, siapa lagi.”
    “ Kenapa dia?” Seketika gue ingat sudah seminggu gue nggak ketemu sama dia, apa kabar ya? Jujur saja gue lupa sama dia. Oh ya Dandra itu seseorang yang juga berharga dalam hidup gue, setelah nyokap tentunya. Gue sudah anggap dia seperti adik gue sendiri. Usianya baru 16 tahun tapi dia sudah duduk dibangku kelas 2 SMA.
    “ Kemarin, bukan kemarin sih. Entah kapan yang pasti selama lo dalam masa refreshing lo itu gue liat muka Dandra babak belur.”
    “ Serius lo?”
    “ Nggak ion bercanda, ya iyalah serius kalau nggak ya ngapain gue kasih tahu lo.”
    Dalam hitungan detik gue beranjak dari tempat gue bernaung tadi. Mungkin Riky pun belum menutup mulutnya itu rapat-rapat, gue sudah beranjak meninggalkannya.
    “ Ion, mau kemana lo?”
    “ Dandra” Jawab gue singkat. bahkan menoleh pun nggak.
    * * *
    “ Dra…” Gue menghampiri dia yang sibuk dengan kertas diatas meja dihadapannya.
    Dia mengangkat wajahnya dan menatap tegas wajah gue.
    Gue perhatikan wajahnya baik-baik. Riky benar, diwajahnya masih ada bekas memar yang belum hilang.
    “ Muka lo kenapa?” Tanya gue masih sambil menatap wajah memarnya.
    Dia berhenti menatap gue dan menarik wajahnya kembali menatap kertas bercoret sketsa gambar. “Nggak kenapa-napa.” Jawabnya rendah dan melanjutkan memberi goresan dikertas bercoret sketsa.
    Sejenak gue terdiam menatapnya. Memperhatikan apa yang dilakukannya saat itu.
    “ Terus muka lo memar?” Tanya gue lagi.
    Tak ada jawaban. Dia terus dengan sketsanya. Tapi sebenarnya tanpa menanyakannya pun gue tahu apa yang terjadi. Ini hal biasa yang dialami Dandra. Bukan hal yang awam melihat wajah Dandra memar. Bisa dibilang ini sudah makanannya setiap hari. Menerima siksaan dan tekanan terus menerus dari sang bokap.
    Orang tuanya bercerai sejak dua tahun lalu. Dan hak asuhnya sendiri diambil alih oleh ayahnya. Dan ibunya memutuskan kembali kenegara asal, Prancis. Hidup gue dengan Dandra memang sangat bertolak belakang. Gue yang hanya anak terlahir dari perut seorang pelacur dan keterbatasan materi. Semantara Dandra terlahir dalam keluarga terhormat dan berlimpah materi. Tapi materi dan status nggak menjamin kebahagian seseorang. Nyatanya gue lebih beruntung dibanding Dandra. Gue punya nyokap yang sayang banget sama gue, walau kadang rasa yang menghantui gue kembali. Dan Dandra justru menjadi sosok yang haus akan kasih sayang. Dan mungkin sekarang dia pun nggak tahu bagaimana cara menyayangi seseorang. Dia terus tenggelam dalam kenyataan pahit yang membelenggunya. Sampai sekarang nggak ada keceriaan terlihat diwajah Dandra.
    Gue masih terus menatapnya walau tak dihiraukannya kehadiran gue disini. ‘ Huh…Ya sudahlah mungkin dia masih ingin sendiri.’ Pikir gue.
    “ Ya sudah, kalau ada apa-apa lo bilang yah!” Akhiri gue sambil mengelus kepalanya penuh kekhawatiran dan pergi meninggalkannya.
    * * *
    Huh, rumah sepi banget. Mama belum pulang. Inilah hidup gue dipaksa buat mandiri. Gue harus mengerjakan semuanya sendiri. Sengsaranya gue.
    “ Duh, perut gue keroncongan lagi. laper baget!”
    Akhirnya segala yang berbau instant jadi pelarian gue. Mie instant itu makanan sehari-hari gue. Lumayanlah buat menghilangkan bunyi-bunyi cacing diperut gue.
    * * *
    “ Dre, Dandra kesini nggak?”
    “ Nggak.” Jawabnya singkat. Andre itu temen satu tongkrongan gue, ya nama lainnya satu geng. Gue, Dandra, Riky, Andre, dan yang lainnya tergabung dalam satu parsatuan. kita biasa ngumpul disatu titik yang kita sebut itu sebagai basecame.
    “ Nggak… Kemana yah tuh anak?”
    Gue keluarkan handphone N-Gek gue dari saku dan coba hubungin Dandra.
    “ Tut…Tut…Tut…”
    Nggak ada jawaban. kemana yah Dandra? Tanya gue dalam hati. Kayaknya perasaan gue nggak enak. Gue takut terjadi sesuatu sama Dandra. Bisa saja bokap-nya mukulin dia sampai dia pingsan dan nggak bisa angkat panggilan gue. Bisa saja kan.
    “ Dre, gue cabut dulu yah.”
    “ Kemana lo?”
    “ Cabut, gabung sama anak-anak lain.”
    “ Dandra?”
    “ Ya sekalian gue nyari Dandra.”
    “ Gue kira lo sudah nggak inget sama Dandra.”
    “ Ngaco…”
    * * *
    Sebelumnya gue sudah bilangkan kalau gue ini penganut pergaulan bebas. Buat gue rokok, alkohol itu hal wajar dan jadi santapan sehari-hari gue. Ditambah lagi yang namanya narkoba, bukan jadi hal sulit buat dapatin barang haram itu. Banyak banget temen-temen gue yang pemakai. Kita semua enjoy disini. Yang penting nggak merugikan satu sama lain. Dan seks itu lebih mudah lagi. Ini sebuah pengakuan gue juga termasuk cowok yang suka mainin cewek-cewek rusak itu. Tapi catatan gue masih PERJAKA.
    Hari sudah mulai gelap. Matahari sudah tak tampak sinarnya. Gue masih mengitari daerah jajahan gue. Sampai hinggap ditempat tujuan gue. Gue menghentikan motor besar gue.
    “ Dion… Apa kabar lo? Kemana saja?” Seorang mahasiswa menghampiri gue dengan laga sempoyongan dan aroma alkohol dari mulutnya. Sudah dapat dipastikan kalau dia dalam fl- nya hidup.
    “ Hmm.” Gue mengeluarkan senyum sinis gue.
    “ Eh lo kesini pasti nyari adik kesayangan lo itu, iya kan?”
    “ Dandra ada disini?” Tanya gue cepat.
    “ Tuh disana! Lagi fly.” Menunjuk kesuatu arah.
    Gue coba mastiin Dandra disana. Dan dia memang disana. Tapi gue rasa ini semua nggak beres, Dandra mabuk bareng sama anak-anak pemakai. Alkohol, rokok memang jadi makanan gue dan Dandra sehari-hari. tapi gue melaknat barang haram yang berbau narkoba. Gue paling nggak suka kalau barang haram itu dipake sama anak satu persatuan sama gue. Apalagi kalau orang itu Dandra. Gue pernah janji sama nyokap kalau gue akan ngejaga Dandra baik-baik. Karena nyokap juga sayang sama Dandra seperti nyokap sayang sama gue.
    Gue hampiri Dandra dan langsung menariknya agak jauh dari mereka.
    “ Dra, lo apa-apaan sih... Lo ngedrugs?” Tanya gue sambil memegang kerah bajunya.
    Tak ada jawaban. Dia hanya coba menatap gue. Dan kayaknya dia sudah nggak sadar. Otaknya dalam pengaruh obat. Sambil sesekali dia menyeka hidungnya yang secara nggak langsung dia mengiyakan pertanyaan gue.
    “ Aaahh….” Gue melemparnya. Dandra terdorong jatuh. Rasanya darah gue naik semua. Gue ngerasa marah, muak, sekaligus kecewa dan menyesal karena gue sudah gagal jaga Dandra.
    “ Lo itu agap gue apa sih dra?...Lo itu sudah gue anggap kayak adik gue sendiri. Berapa kali gue bilang sama lo jangan ngedrugs! Kenapa lo masih nyentuh barang haram ini juga. Gue sayang dra sama lo, lo adik gue…” Gue sudah nggak bisa menahan amarah gue. Walau gue tahu Dandra nggak akan hirauin itu. Sadar pun nggak. “ Gue kakak lo dra, gue bisa bantu lo kalau lo ada masalah. Lo cerita ke gue. Lo bilang apa yang lo mau, gue bisa Bantu. Lo butuh nyokap, ada nyokap gue dra. Lo butuh kasih sayang ada gue sama nyokap yang sayang sama lo. Tapi kenapa harus drugs dra yang jadi pelarian lo.”
    * * *
    Kemarin gue sudah kecewa sama kelakuan Dandra. Dan hari ini rasanya kepala gue berat banget, otak gue mumet mikirin Dandra. Hari ini dia nggak masuk sekolah. Dibasecame juga nggak ada. Gue telephone juga nggak diangkat. Gue pikir dia pergi ketempat anak-anak itu lagi. Gue coba cari dia kesana dan tempat-tempat strategis buat dia dapatin obat juga nggak ada.
    Hari ini gue nggak ketemu Dandra. Gue pulang kerumah sekitar jam 11 malam. Rasanya gue capek banget saharian berkelana menyinggahi semua tempat temen yang gue kenal buat cari Dandra. Dirumah nyokap masih nunggu gue diruang Tv.
    “ Kamu sudah makan sayang?” Tanya mama begitu melihat gue.
    “ Belum.” Jawab gue sambil terus ngeloyor naik ke kamar.
    “ Makan dulu sayang!”
    “ Males.” Jawab gue sambil langsung masuk ke kamar.
    * * *
    Beberapa hari gue nggak ketemu Dandra. Mungkin dia dirumah atau pergi ketempat lain yang gue nggak tahu. Hidup gue nggak bersemangat tanpa Dandra. Bagi gue dia sudah kayak obat yang bikin gue ketergantungan. Padahal nggak ada yang dia lakuin walau dia ada sama gue. Yang penting sudah lihat dia ada disamping gue itu sudah cukup.
    Huh…Otak gue terus ke Dandra, yang ada dipikiran gue cuma Dandra. Beberapa hari gue nggak ketemu dia rasanya gue kayak kehilangan jiwa gue. Mungkin ini berlebihan tapi memang itu yang gue rasain sekarang. ‘ Dra lo kemana sih?’.
    * * *
    Dua minggu sudah gue nggak ketemu Dandra. Banyak kabar nggak enak yang gue dapat tentang dia. Mereka bilang selama ini Dandra masih berkeliaran. Tapi kenapa dia nggak masuk sekolah, dia juga nggak ke basecame kayak biasanya. Itu yang selalu jadi pertanyaan gue. Ditambah lagi ada seorang yang bilang kalau Dandra pernah nemuin dia buat minta barang haram itu. Sekarang kepala gue makin pusing sama kabar-kabar yang gue dapat. Yang nggak gue habis pikir Dandra masih ngedrugs.
    * * *
    “ Dion gue liat Dandra tuh diparkiran!” Ucap Riky saat masuk kekelas dan hampiri gue.
    “ Dandra sudah masuk.?” Tanya gue cepat.
    “ Iya tadi gue liat diparkiran. Dia bawa mobil.”
    “ Nggak biasanya Dandra bawa mobil kesekolah. Biasanya paling males kalau disuruh bawa mobil.”
    “ Tahu, motornya rusak kali.”
    “ Ya sudah, gue nemuin Dandra dulu ya.”
    “ Hmm.” angguk Riky.
    * * *
    Gue sampai dikelas Dandra, dan kelihatannya dia juga baru sampai. Langsung saja gue hampiri dia.
    “ Dra…” Panggil gue Dari balik tubuhnya.
    Dandra menoleh. Sejenak gue lega melihat wajah Dandra. Dia kelihatan cerah hari ini dan nggak ada memar gue lihat diwajahnya.
    Dandra membalikan tubuhnya menghadap gue. Dia bersandar dimeja.
    “ Lo kemana saja?” Tanya gue.
    “ Dirumah.” Jawab Dandra datar.
    “ Kenapa nggak sekolah? Bokap lo memang nggak ada dirumah?”
    “ Papa lagi keluar kota.”
    “ Terus kenapa nggak sekolah?”
    “ Nggak kenapa-napa.”
    “ Lo nggak sakitkan?”
    “ Nggak.” Jawabnya datar.
    “ Handphone lo kenapa nggak bisa dihubungin?”
    “ Handphone gue hilang.”
    Sejenak kita berdua terdiam.
    “ Oh… Ya sudah kalau lo nggak kenapa-napa. gue kira lo sakit. Gue balik kekelas ya…” Ucap gue sambil menepuk bahu kirinya.
    “ Hmm.” Angguknya
    * * *
    Sekolah sudah selesai. Bel pelajaran terakhir pun sudah berbunyi. Gue baranjak keluar kelas sambil terus bercanda sama Riky dengan banyolan-banyolan yang sesekali melayangkan tangan. Canda gue berakhir setelah gue lihat Dandra di depan pintu. Dia sudah nunggu gue. Bukan hal yang biasa dia nunggu gue didepan kelas kayak gini.
    “ Ada apa dra?”
    “ Gue kerumah lo ya.” Ucap Dandra datar.
    “ Oh… ya sudah. Tumben pake minta ijin. Tapi mama pasti belum pulang. Lo mau langsung kerumah gue? Nggak pulang dulu?”
    “ Pulang dulu, mau ambil motor.”
    “ Ky, lo duluan gih gue mau ngomong dulu sama Dandra!”
    “ Nggak pakai lama lo.”
    “ Iya.”
    Riky langsung bergegas pergi. Gue langsung tarik tangan Dandra ngajaknya ke dalam kelas.
    “ Lo kenapa? Nggak biasanya lo kayak gini. Ada yang mau lo omongin sama gue?” Terpa gue.
    Dandra sedikit menundukan kepala sambil membenahi tas slempang dibahunya.
    “ Ada apa?” Ulang gue lebih lembut.
    Dandra natap gue. Kelihatan banget dimatanya ada keraguan.
    “ Bilang saja dra!” Bujuk gue.
    Dia mengulum bibirnya. “ Maaf.”
    “ Maaf?” Ulang gue heran.
    “ Hmm… Maaf.”
    “ Buat apa?” Tanya gue lagi.
    “ Semua…” Dandra sejenak terdiam. “ Semua yang gue lakuin.” Lanjutnya.
    Ada yang aneh. Tapi gue nggak tahu apa. Gue terus menatap Dandra. Dan suasana jadi hening. Dandra diam gue pun terdiam menatapnya.
    “ Gue pulang dulu ya…” Suara Dandra memecah keheningan.
    Gue masih diam menatap sosok Dandra. Dandra balas tatapan gue.
    “ Lo nggak kenapa-napa kan?” Cuma itu yang bisa keluar dari mulut gue, pertanyaan dalam otak gue.
    “ Hmm.” Jawab Dandra meyakinkan dan pergi semakin jauh dari pandangan gue.
    * * *
    Samara-samar terdengar suara motor. Gue pikir itu Dandra. Suara motor itu berhenti didepan rumah. tak lama terlihat sosok Dandra mebuka pintu kamar gue. Dia langsung hampiri gue dan merebahkan tubuhnya dikasur.
    “ Mau ngapain sih lo siang-siang kesini. Biasanya juga lo kalau kesini malam.”
    “ Hmm.” Desahnya.
    “ Dra…” Gue menoleh ke arahnya.
    “ Hmm.” Dandra sudah memejamkan matanya.
    “ Lo kesini nggak cuma mau nunpang tidur doang kan?” Gue menarik tubuhnya.
    Refleks dia membuka matanya. “ hmmm.”
    “ Ah, sial lo…! Gue kira lo kesini ada apa, ternyata cuma mau numpang tidur toh…” Gue beranjak berdiri. “Ya sudah tidur saja lo yang puas situ!” Sindir gue sambil berjalan keluar kamar.
    “ Lo mau kemana?” Dandra terperanjat bangun.
    “ Makan, laper gue…”.
    Kayak biasa menu gue hari ini juga Mie instant. Mau gimana lagi gue nggak bisa masak yang lain sih, selain Mie. Gue lahap santapan gue sampai dasar. Gue balik ke kamar dan Dandra…hmm apa kabar? Tentunya dia sudah menikmati pelayarannya. Sial banget gue. Gue pikir ada apa dia mau kerumah pakai acara ijin segala. Ternyata cuma numpang tidur. Gila nggak?. Bikin orang khawatir saja.
    Gue sudah mulai nggak betah dirumah. Gue mau cabut. Dandra belum bangun juga. Terpaksa deh gue ganggu tidurnya.
    “ Dra cabut yuk!” Ajak gue sambil narik-narik tangannya.
    “ Hmm…” Dandra setengah sadar.
    “ B-T nih gue…. Yuk ah ke tongkrongan…!”
    “…”
    “ Ayo… Bangun!”
    “ Hmm…” Dandra bangun dengan ogah-nya.
    Akhirnya gue caw sama Dandra ketongkrongan.
    * * *
    Gue ngobrol asik sama anak-anak disana. Dandra, entahlah gue pikir dia lanjutin tidurnya yang tertunda tadi. Gue terus seru-seruan sama mereka. Disana juga ada putri, pacar Dandra. Dia juga gue anggap adik buat gue. Selain karena usianya yang masih muda dia juga orang yang Dandra sayang. Cewek yang bisa bikin Dandra sedikit lebih bersemangat. Dia juga masih naïf. Itu sebabnya gue ngerasa gue perlu ngejaga dia. Dia terlalu polos buat ada didunia yang sama kayak gue. Gue nggak mau kalau sampai dia jadi cewek rusak kayak cewek-cewek disekeliling gue.
    “ Ion, adik lo tuh…!” Riky menghampiri gue. Dia langsung mengambil posisi disebelah putri.
    “ Kenapa…?” Tanya gue dengan nada bercanda.
    “ Lo lihat saja.”
    “ Dimana?” Tiba-tiba serius.
    “ Bawah tangga belakang.”
    Gue langsung ninggalin mereka. Dengan pasti gue menuju tangga belakang. Lo tahu apa yang gue lihat?. Dandra lagi nyuntikin obat kelengannya. Gue berdiri dihadapannya. Dia belum sadar kalau gue ada disana. Dia masih menikmati peredaran obat yang menjalar lewat lengannya sampai menguasai otaknya. Menikmati fly-nya. Gue terus menatapnya. Ada amarah, kecewa, kesal yang berbaur dalam satu emosi yang nggak bisa gue tahan lagi. Gue tarik kerah bajunya sampai dia berdiri dan menahan tubuhnya ke tembok.
    “ Ini sudah yang kesekian kalinya gue bilangin sama lo. stop dra!” Suara gue berat nahan emosi. “ Diluar tuh ada cewek lo.”
    Dia nyingkirin tangan gue. Sejenak gue diam. Ada amarah diwajah Dandra namun matanya teduh.
    “ Lo ada masalah?” Tanya gue berusaha tenang. Dandra diam.
    “ KENAPA SIH DRA LO NGGAK PERNAH BILANG MASALAH LO SAMA GUE. LO NGGAK PERCAYA SAMA GUE? BERAPA KALI GUE BILANG SAMA LO JANGAN JADIIN DRUGS PELARIAN LO…” Suara gue meninggi. Meledak sudah emosi gue.
    “ Lo nggak ngerti ion.” Suara Dandra berat seakan ada sesuatu yang mengganjal.
    “ Apa?... Gimana gue bisa ngerti, lo sendiri nggak pernah biarin gue masuk dan coba ngerti semua. Gimana gue bisa ngerti dra?”
    “ Lo nggak akan pernah ngerti ion. Ngerti apa yang ada dihati gue, ngerti apa yang gue rasain, ngerti gimana kalau lo ada diposisi gue. Lo nggak akan pernah ngerti. Nggak akan…”
    “ Gue ngerti perasaan lo….” Potong gue. “ Nggak cuma lo yang punya masalah semua anak-anak disini juga punya masalah. Sama kaya lo…”
    “ Sama kayak gue?...” Potong Dandra lagi. “ Mereka rasain apa yang gue rasain?, mereka rasain gimana sakitnya jadi gue?, mereka rasain gimana rasanya disiksa terus menerus kayak gini?. Mereka nggak rasain. Cuma gue, gue yang ngerasain itu. Dan lo, lo nggak usah sok tahu hati gue….Lo ngga tahu apa-apa tentang diri gue. Cuma gue yang tahu diri gue, hati gue. Perasaan gue…. Lo cuma…”
    “ PLAAk.” Tangan gue menghantam wajah Dandra. Dia langsung jatuh tersungkur.
    “ Jadi selama ini lo anggap gue apa?” Rasanya hati gue sudah nggak karuan. Nggak cuma amarah yang meluap-luap tapi juga sakit. Dada gue sesak. “ LO ANGGAP GUE APA SELAMA INI?” Ulang gue dengan nada lebih tinngi. Dandra diam sambil terus memegang pipi yang terkena hantaman gue tadi. Gue tahu hantaman gue tadi bikin kepala Dandra terbentur anak tangga. Gue sudah nggak pedulikan hal itu. Gue sudah muak dan hati gue rasanya makin sakit.
    Semua hening. Dandra masih diam. Gue sadar yang lain memperhatikan keributan ini. Pertengkaran antara gue sama Dandra. Gue sudah nggak peduli, peduli dengan tanggapan mereka. Perlahan Dandra mengangkat wajahnya dan menatap gue tajam penuh amarah. Darah segar mengalir Dari keningnya. Dia berdiri sejajar dengan gue.
    “ Gue selalu anggap lo sebagai kakak gue…” Suaranya terdengar berat tertahan. “ Kakak yang gue sayang. Lo orang yang berharga dalam hidup gue. Gue percaya sama lo. Tapi ternyata, lo nggak jauh beda sama papa…” Gue diam. Rasanya tubuh gue seprti tersambar petir. Seketika membatu. “ Lo sama saja kayak papa.” Air matanya menetes. Kali ini nggak cuma tersambar petir. Tapi juga rasanya sudah kayak diremuk-remuk.
    Dandra pergi menjauh. Dengan langkahnya dia pergi meninggalkan penyesalan gue. Gue tersadar kesalahan gue. Semua yang gue lakuin sudah keterlaluan. Nggak seharusnya gue pukul dia.
    “ Dra.” Panggil gue.
    “ Dra sorry…” Gue coba kejar dia. Gue berusaha nahan dia tapi dia tepis tangan gue.
    “ Dra gue minta maaf.” Gue nggak sanggup kalau harus kehilangan dia. Berharap dia mau maafin gue. Namun tak dihiraukannya.
    Dandra melaju dengan motornya dengan kecepatan tinggi. Dandra menghilang dalam pandangan gue. Tak lama Dandra kembali melintas dalam pandangan gue. Memacu laju motornya dijalur berbeda. Sudah nggak ada harapan buat gue. Dandra sudah terlalu marah dan membenci gue. Tak lama gue tersentak suara benturan yang terdengar nyaring membuat semua orang yang mendengar berdiri dan bergidig ngeri.
    “ Dandra.” Gue berlari ke asal suara tadi. Sebuah kecelakaan terjadi. Dan Dandra, dia tergeletak ditengah jalan. Gue hampiri dia.
    “ Dra…DRA…Bangun dra….DANDRA….” Dandra sudah tak membuka matanya. Wajahnya berlumur darah segar, tubuhnya juga. Dia tergeletak lemas tak berdaya.
    “ AaAagHh…” sebuah penyesalan hinggap dipikiran gue. Dandra tergeletak dihadapan gue. Apa yang sudah gue lakukan hari ini?. Apa yang sudah gue lakukan sama Dandra.
    * * *
    Setahun sudah berlalu semenjak kepergian Dandra. Hidup gue pun berhenti sejak itu. Gue terus dihantui rasa penyesalan. Gue nggak pernah bisa melupakan kejadian itu. Gue cuma bisa berharap Dandra bisa maafin gue. Tapi itu hanyalah harapan yang nggak akan pernah bisa tercapai. Kemarahan Dandra sama gue. Tatapan Dandra saat itu yang nggak pernah bisa gue lupain. Mata penuh kemarahan. Apa masih ada maaf buat gue? Maaf dihati lo dra. Maaf dari surga.

    [~ * ~]
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    kurama013 Lurking Around Veteran

    Joined:
    Sep 7, 2008
    Messages:
    1,615
    Trophy Points:
    252
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +9,010 / -0
    wew, panjang..
    kisah hidup siapa nih ??

    :onion-52:
    hmm..lumayan buat baca2..
    ghile, ngedrug sudah biasa, ***** sudah biasa..
    :swt: (soalnya gw anak baek2, jadi heran)
    :haha:
    tapi panjang bangettt..
    nice post tapi :top:
     
  4. Offline

    bishonen Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 7, 2008
    Messages:
    538
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +688 / -0
    tp kok agak bau2 yaoi gitu yah :D
     
  5. Offline

    Black_Swindler Silent Reader Members

    Joined:
    Nov 5, 2008
    Messages:
    105
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +0 / -0
    wew, panjang amet.
    cape jg bacanya.
    hahaha.
     
  6. Offline

    blochins Silent Reader Most Valuable Users

    Joined:
    Oct 15, 2008
    Messages:
    152
    Trophy Points:
    56
    Ratings:
    +3 / -0
    hauhuahuahuahuahau hu uh ribet bacanya ;p
     
  7. Offline

    smkosasih Senpai Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 9, 2008
    Messages:
    5,335
    Trophy Points:
    162
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +3,178 / -0
    hahaha...iya aga sedikit, tapi cukup menarik juga tuh cerita.. :)
     
  8. Offline

    Tan_Mei_Wha Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Apr 13, 2009
    Messages:
    4,425
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +16,701 / -0
    "Maaf dari Surga" kaya judul lagu nya Element aja nih...
    jd inget ama someone ... hehehe...

    kepanjangan tuh cerita nya... rada ribet bacanya
     
  9. Offline

    Tanzmania Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 26, 2009
    Messages:
    964
    Trophy Points:
    191
    Ratings:
    +10,483 / -0
    Panjang bgt bro cerita na :onion-34:
     
  10. Offline

    soulinker Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 28, 2009
    Messages:
    446
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +482 / -0
    YAOI DETECTED. . . YAOI DETECTED. . .

    eto. . . ne pngalaman pribadina TS sndr apa cmn crita doank???
     
  11. Offline

    IrisSachiel Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 11, 2009
    Messages:
    500
    Trophy Points:
    71
    Ratings:
    +14 / -0
    Wew! Meskipun panjang tapi bagus ceritanya!! Pasti true story ya??

    Soalnya saya pernah juga masuk ke dalam pergaulan kayak gini (Sekarang mah dah insap)...

    Percayalah.... pergaulan kayak gini emang beneran ada!!
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.