1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

FanFic Lolipop [Lucky Star]

Discussion in 'Fiction' started by merpati98, Sep 25, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    Disclaimer : Lucky Star bukan punya saya, dan tokoh anime atau manga yang saya sebutkan di fanfic ini juga bukan.

    Genre : Comedy(kalau nggak lucu, berarti garing)

    Rating : T

    Pairing : OC(nope, ini bukan saya)xKagami

    --
    Jam sudah menunjukkan angka dua lewat tiga puluh menit pagi. Tapi entah karena kena insomnia atau memang mau begadang, aku masih duduk di depan komputer sambil sibuk membunuhi monster-monster jahat yang mengganggu kedamaian dunia.

    “Wahahah! Rasakan pedangku, monster!! Kamu tidak akan selamat! Jangan coba-coba kabur atau aku akan membunuhmu! Serahkan saja exp dan barangmu!” gumamku sambil terkekeh-kekeh sendiri.

    Hmm...

    Apa cuma perasaanku atau malah aku yang terdengar seperti penjahatnya?

    “Kamu kedengaran seperti maniak.”

    ...

    ..

    Siapa?

    Aku menoleh sekilas ke sumber suara tadi sebelum kembali memandang layar monitor yang menampilkan pertarungan seru serta gagah beraniku dengan para monster.

    “Yo, Kagami.”

    ...tapi tentu saja aku masih sempat menyapa istriku dulu sebelum kembali ke medan perang. This is WAR!!! Gyahahaha!

    “Jangan meng’yo’kan aku, Nine!” ujarnya dengan nada setengah kesal.

    Ya, setengah. Dia tidak mungkin kesal sepenuhnya padaku kan? Begini-begini aku juga suaminya. Hahaha.

    “Hhh...”

    Kudengar dia menghela napas pelan. Melakukan pose facepalm legendaris ajaran mahaguru Kyon, dia berkata, “Aku jadi ingin tau kenapa aku mau menikah denganmu.”

    DEG!

    Aku terdiam. Dia juga tidak bicara apa-apa lagi. Suasana di sekitar kami mendadak sunyi seperti yang seharusnya pada jam seperti ini. Apakah ini saatnya mengheningkan cipta?

    Tentu saja tidak.

    Memutar kursiku, aku berbalik menghadap Kagami. Membelakangi komputerku. Aku menatapnya. Menatap mata violetnya yang memancarkan sedikit rasa bersalah.

    Ya, dia tau aku marah.

    “Kamu mau tau kenapa?” aku bertanya pelan. Mengulang kata-katanya tadi.

    “Nine—“

    “Kamu mau tau kenapa?” aku bertanya lagi. Memotong kata-kata yang baru akan keluar dari mulutnya.

    “Nine... aku...”

    Dia tampak kebingungan. Berusaha menjelaskan dengan muka sedikit memerah dan ekspresinya yang... oh so damn cute!!

    “Kagami,” panggilku dengan nada serius. Berusaha membuatnya mengalihkan perhatiannya kembali padaku.

    Dia menoleh. Menatap mata cokelatku.

    Aku membuka mulut.

    “Aku juga mau tau kenap—“

    DUAK!

    “Ni...ne...”

    “Hahaha.”

    Mengusap-ngusap kepalaku yang baru kena tinju istri sendiri, aku tertawa. Memandang wajahnya yang menurutku paling cantik sedunia anime manapun(tapi bohong) dengan pandangan sedikit menggoda.

    “Bercanda, Kagamin.”

    “Nggak lucu.”

    “Haha.”

    ...

    “Tapi yah... kalau memang kamu lupa...”

    “Ng?”

    Dia tampak tidak mengerti apa maksudku. Bisa dibuktikan dengan keningnya yang sedikit berkerut serta ekspresi bingung yang menghiasi wajahnya saat menatapku.

    “Gunakan saja itu,” kataku sambil mengedipkan sebelah mata. Menjetikkan jari biar lebih gaya, aku berkata, “Flashback mode: On!”

    Part I: Talking

    Malu aku malu... pada semut merah yang berbaris di dinding, menatapku curiga, seakan penuh tanya, “Lagi nge-stalk siapa loe!?”

    “Mau tau aja urusan orang! Urus sendiri sana makanan lu!”

    Menghiraukan semut merah yang masih ingin ikut campur dengan urusan manusia, aku berusaha melihat dari balik dinding tempatku sembunyi ke arah gerombolan orang-orang yang sedang berjalan menuju gerbang.

    Hmm.. mana dia? Mana orang yang sedang kucari dari tadi sampai harus bertengkar dengan semut merah?

    Memakai kacamata khusus yang dapat menscan orang-orang tidak penting lainnya, aku berhasil menemukan ‘si dia’ yang sedang berjalan bersama 2 orang teman dan 1 saudaranya.

    “Oke, misi pertama menemukan dia, berhasil.”


    Berjalan beberapa meter di belakang mereka, aku bisa melihat dia(dan teman-temannya) masuk ke dalam toko buku 98. Seperti biasanya dan seperti yang sudah aku perkirakan. Fufu, sekarang saatnya melakukan rencana selanjutnya.

    “Selamat datang.”

    Aku berjalan masuk ke dalam. Menikmati hembusan dingin AC toko, aku berjalan menuju tempat penjualan manga. Kujamin! orang itu pasti ada di sana.

    ...dan tepat! Dia memang ada di sana. Dengan badan pendek dan rambut biru panjang banget, aku bisa mengetahuinya dengan sekali lihat saja!

    “Yo, Konata,” panggilku saat berada tepat di belakangnya. Dia tidak menoleh, hanya melirik sedikit—seperti tidak peduli—dengan mata hijaunya.

    “Hai, Nine.”

    ...

    Cuma itu?

    Apa tidak ada hal lain yang mau kamu katakan padaku, Konata!!?

    Bagaimana dengan janjimu mau membantuku!!?

    “Tenang saja, Nine. Aku pasti akan membantu teman separtyku. Fufu... aku ingin tau bagaimana reaksi Kagamin nanti.”

    “Pasti positif!” aku berkata dengan aura membara. “Dia... akan menjadi milikku. Khukhukhu.”

    Aku tertawa terkekeh sendiri. Sementara Konata kembali sibuk melanjutkan aktivitasnya berburu manga. Aku juga mau ikutan berburu manga sebenarnya, tapi sekarang bukan waktunya untuk itu. Sekarang adalah saatnya berburu gadis!!

    “Gadis legendaris A.”

    Hmm? Siapa tadi yang bicara? Apa cuma perasaanku atau memang tadi ada yang lewat dan ngomong?


    Begini rencananya:

    Setelah mereka menyelesaikan urusan mereka di toko buku, Konata akan menyingkirkan 2 orang lainnya yang menghalangi rencana, lalu ketika Kagami sendirian... saat itulah... aku akan menembaknya dengan senjata berkekuatan lebih tinggi daripada nuklir dan lebih berbahaya daripada semut!

    Bercanda.

    Yang bener aku akan menembaknya dengan ajaran yang telah diberikan oleh Senjougahara-sensei minggu kemarin. Menurutnya, cara ini adalah cara paling manjur dari semua cara yang pernah ada. Teori ini bahkan sudah dibuktikan olehnya sejak dia SMA dulu!(Ohh~ Senjougahara-sensei is so genius!)

    Tapi tentu saja bukan cuma itu. Untuk mengurangi resiko ditolak, aku juga sudah menambahkan variasi gerakan dari ajaran Senjougahara-sensei yang simpel menjadi seperti cewek-cewek Seitokai no Ichizon waktu opening film mereka.

    Mengerti kan? Tangan kanan ke atas, dikesampingin sambil puter-puter badan dulu, dan tunjuk.

    I-love-you!

    ...tentu saja tidak lupa dengan mawar di tangan. Mwahaha.

    This is perfect!


    OK

    Membaca SMS super singkat tapi bermakna banyak untukku, aku mengintip kembali dari balik pohon kamboja. Melihat Konata menyeret 2 orang temannya ke dalam toilet umum buat diraeppaksa berkerja sama dengan rencana kami.

    Oh yESS!! tHIs IS mY Ch4nc33!!!

    ...

    Tarik napas dalam-dalam... keluarkan... tarik lagi... keluarkan... tarik lagi... keluarkan...

    “Kagami-san!”

    “Eh?”

    Ya, ini saatnya... ini saatnya... ini saatnya... ini saatnya... ini saatnya... INI SAATNYAA!

    “Nine?”

    Lakukan sesuai dengan apa yang telah dipelajari dari Senjougahara-sensei dan Seizon. Jangan lupa ambil dulu mawarnya yang ada di kantong celana.

    Yosh! Se no...

    Tangan ke atass...

    Puter badan...

    Tunjuk!

    “Ni—“

    “I love you!”

    ...

    Dia terperangah. Mata violetnya membesar akibat efek tindakan yang kulakukan. Tapi bukan cuma dia... aku sendiri juga terperangah. Dan mungkin shock-ku lebih parah daripada yang dirasakan Kagami.

    Karena di tangan kananku... bukan bunga mawar...

    Melainkan LOLIPOP!!

    WTH! WTH! WTH! Kenapa lolipop adekku bisa nyasar ke sini!? Kemana bunga mawarku? Dan kenapa aku baru menyadarinya waktu udah beraksi!

    Oh sheeT! So stupid! So stupid! So stupid!!!

    Mengutuk-ngutuk diriku sendiri. Aku tidak tau lagi harus pasang ekspresi seperti apa di depan pujaan hatiku. Duniaku rasanya sudah berubah menjadi darker than black(?). Tidak ada lagi harapan... aku lebih baik mati saja...(lebay).

    “Nine...”

    Panggilannya yang terdengar sangat merdu tapi sekaligus terasa menakutkan untukku membuatku tidak dapat bergerak atau merespon. Aku cuma bisa menunduk dalam-dalam tanpa berani mengangkat wajah dan berdoa semoga Haruhi mau mereset ulang dunia ini agar kejadian memalukan yang kubuat jadi tidak pernah terjadi.

    Tapi tentu saja... reality is so harsh...

    Karena apa yang aku harapkan tidak pernah terjadi, dan aku—entah sejak kapan—sudah melarikan diri dari tempat itu dengan kecepatan yang akan membuat cahaya sekalipun iri padaku.


    “Flashback mode: off.”

    Aku menunduk. Kenangan penembakan bodoh yang kulakukan… kenapa juga mundurnya harus sampai ke sana sih. Kalau cuma mau tau alasan kenapa Kagami mau menikah denganku kan nggak harus sampai ke sana. Dan mengingat kalau kenangan itu adalah salah satu kenangan yang paling membuatku trauma…

    Aku jadi merasa tidak punya muka lagi untuk bertatapan dengan Kagami.
    Huwaaah… padahal dulu aja untuk menyembuhkan trauma ini aku sampai harus menaikkan level karakterku ke level 100 dan menjadi salah satu player yang paling terkenal di dunia game online itu. Mengalahkan Konata, si maniak yang selalu satu level di atasku.

    Dan sekarang…

    “Hei, Nine…”

    Ugh, tidak mungkin aku bisa melakukannya karena Kagami akan menghajarku jika kerjaanku cuma main game melulu.

    “Kenapa kamu kabur waktu itu?”

    Pertanyaan yang diajukan Kagami membuatku terhenyak. Eh…? Eh? Eh? Eh?

    Tunggu… jadi selama ini dia tidak pernah tau kenapa aku kabur dan mengurung diri di kamar selama beberapa hari setelah kejadian itu? Dia tidak tau? Dia tidak tau betapa memalukannya hal itu?

    “Eh?”

    Kagami memasang tampang bingung. Tidak mengerti akan apa yang aku katakan sama sekali.

    “Apanya yang memalukan, Nine? Yah… emang sih melakukan itu rasanya memalukan. Tapi biasanya kan orang bakalan kabur sebelum melakukannya atau setelah menerima jawaban yang tidak dia inginkan atau…”

    “ARGH! Cukup! Jadi selama ini kamu tidak mengerti luka hatiku, Kagami?”

    Berkata dengan nada seolah-olah aku sangat sakit hati tampaknya membuat Kagami tambah kebingungan. Oh maan…

    “Apanya? Aku padahal belum bilang apa-apa setelah kamu…”

    Kagami berhenti bicara. Wajahnya mendadak memerah dan dia lalu memalingkan muka ke arah lain sambil matanya melihat entah kemana.

    Hm? Kenapa dia? Mendadak jadi malu-malu kucing begitu..

    “Tapi aku jadi bingung…”

    Menggumam dengan nada heran, aku berhasil mengembalikan perhatian Kagami kembali padaku.

    “Apa hubungannya kejadian tadi dengan pernikahan kita? Kamu tau, Kagami?”

    Aku bertanya bingung. Menengok ke arah Kagami yang mendadak kembali memalingkan muka. Heee… ni anak kenapa sih… udah gede jangan suka pundung-pundung nggak jelas dong. Eh, lagian dia pundung kenapa?

    “Kagamin?”

    “I-itu… ada hubungannya lah. Itu kan pertama kalinya kamu bilang.. suka padaku.”

    Kagami menjawab dengan suara yang semakin pelan di setiap katanya. Dia juga masih memalingkan muka dengan wajah memerah yang yeah, I can tell you… very cute. Aku bahkan kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan betapa kawaii-nya istriku ini.

    Haah…

    “Hoo… masuk akal. Tapi kalau gitu kayaknya kita harus flashback lagi untuk mengingat lebih lanjut kenapa kamu mau menikah denganku. Ya?”

    Aku nyengir lebar. Menjentikkan jari sekali lagi. Aku berkata,

    “Flashback mode: On!”


    Part II: Break BladeHeart

    Andai aku bisa.. memutar kembali, waktu yang telah berjalan. Tuk kembali…

    “Ke waktu sebelum aku menembaknya…”

    Gumamku pelan. Menundukkan kepala depresi setelah mengingat kembali kenangan buruk yang menimpaku beberapa hari lalu. Dan itu semua gara-gara sebuah lollipop bodoh adikku yang baru kucuri pagi sebelumnya.

    …mungkin ini yang disebut dengan karma?

    Haaah…

    Menghela napas panjang, aku kembali berkonsentrasi pada layar monitor di hadapanku. Mengkill semua monster yang kutemui sepanjang perjalanan, aku tidak heran dengan jumlah experience point karakterku yang meningkat pesat sekarang ini.

    Ya. Mana mungkin heran kalau aku main secara nonstop tiga hari terakhir ini. Dan mungkin masih akan berlanjut untuk hari-hari kemudian.

    --few seconds later--

    “DAMN PLN!! Ngapain pake mati lampu sekarang!?!”

    Berteriak sekeras-kerasnya pita suaraku bisa berteriak, aku hampir membanting keyboard dan mouse yang kupegang sebelum sadar bahwa tu dua benda masih terlalu bagus untuk rusak sekarang. Juga, aku belum ada niat buat ngikutin gaya orang bule kalau lagi stress.

    “Tidur aja lah…”

    --few hours later--

    Mengucek-ngucek mataku yang masih terasa mengantuk, aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan menuju dapur untuk mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk mengganjal perut.

    Membuka kulkas, aku menemukan satu permen lollipop di dalamnya.

    Membuka lemari, aku menemukan satu lagi permen lollipop di dalamnya.

    Membuka toples, aku masih tetap menemukan satu permen lollipop di dalamnya.

    …apa sekarang aku telah dikutuk oleh permen lollipop? Mendadak kehilangan selera makan, aku akhirnya memilih kembali ke kamar dan melanjutkan bermain game. Dan ya, listriknya sudah kembali menyala, tentu saja.

    --few minutes later--

    “Kenapa… HARUS MAINTENANCE SEKARANG SIH!?!”

    Dan aku sukses membanting permen lollipop yang entah kenapa bisa berada di atas meja. Beruntung? Lumayan. Paling nggak, aku bisa menghindari membanting my lovely monitor berkat lollipop sialan itu.


    “Flashback mode: off.”

    “…”

    Kenapa mundurnya lagi-lagi ke waktu yang nggak tepat sih… apa coba hubungannya cerita pas aku patah hati sama alasan Kagamin nikah ma aku?

    Apa coba hubungannya, haaah?!!

    “Nine…”

    Aku menoleh. Melihat Kagami memandangku dengan tatapan setengah bingung setengah heran. Err… ya, dan dia tentu saja tetap cantik mau bagaimanapun juga ekspresinya. Trust me.

    “Aku nggak tau kalau kamu ternyata lebih parah daripada Konata.”

    Eh?

    Ehh…?

    EEEHHH!?

    “Main game online nonstop sampai bolos sekolah..”

    Dia melanjutkan. Dengan nada kurang senang dalam setiap kata yang dikeluarkannya.
    Oh.. gawat, sepertinya ada yang misunderstand.. tapi kalau aku jelasin juga rasanya memalukan. Mana mungkin aku bilang kalau aku melakukan hal itu karena kejadian penembakan dirinya yang gagal berkat satu permen lollipop kan?

    Rasanya nggak manly sama sekali. Ugh, dan aku benci keliatan seperti banci. Karena sebagai lelaki, aku punya harga diri, pride, gengsi yang tidak bisa ditukar oleh apapun di dunia ini.

    …pengecualian kalau ada yang mau memberikanku PS3.

    Kidding.

    “Aku kecewa padamu, Nine.”

    Kembali ke dunia nyata setelah sebelumnya bermonolog sendirian dalam alam pikiranku. Aku menatap Kagami yang lagi-lagi melakukan pose facepalm yang diajarkan oleh mahaguru Kyon.

    “Jangan salah paham, Kagami. Itu semua ada alasannya.”

    “Apa?”



    “Untuk mengumpulkan exp point, of course!”

    ...

    “Yah… nggak ada gunanya meributkan hal yang telah lalu. Let by gone be by gone,” ucapku sok bijak. Kembali melakukan ancang-ancang untuk menjetikkan jari, aku berkata…

    “Tapi alasanmu menikah dengaku bukan sesuatu yang bisa dibiarkan berlalu begitu aja. Jadi…

    Flashback mode: on!”

    Part III: Swe(e/a)t dropped

    Ketika kau lewati, bumi tempat ku berdiri. Kedua mata ini tak berkedip… mengintipmu…?

    Memandang gadis berambut ungu yang selama beberapa bulan ini telah menarik perhatianku, dari balik tembok pembatas. Aku cuma bisa menghela napas kecewa saat pemandangan yang dapat membuat jantungku berdetak sepuluh kali lebih keras berakhir.

    Ya, dia sudah berlalu. Tanpa memberiku kesempatan untuk mengumpulkan keberanian berbicara lagi dengannya sejak kejadian yang you know lah apa. Menggigit kesal permen lollipop yang dari tadi kumakan untuk menghindari aku berteriak keras-keras, “AARGHH!! KAGAMI!! I LUPH YUU VERY MUCCHHH!!!”

    Aku lalu membalikkan badan untuk kembali ke kelasku sendiri.

    …errr….

    “Hai, Nine.”

    Konata, dengan cengiran kucing khasnya, menyapaku yang tengah berdiri kaku seperti orang habis melihat hantu dan kena paku. Oke.. itu nggak lucu, aku tau.

    “H-hai..”

    Sial. Kenapa juga aku mendadak jadi gagap begini sih!? Orang yang ada di hadapanmu itu cuma Konata! Konata! Gadis yang satunya lagi itu cuma ilusi, halusinasi, dan resolusi(?) dari otakmu! Tenanglah....

    “H-hai, Nine.”

    Grrhh… aku baru tau kalau ilusi bisa berbicara juga. Oh yeah… tentu saja. Ilusi ini pasti sudah sepaket dengan audio juga. Pasti begitu. Hmm.. aku jadi kagum dengan otakku.

    Mengangguk-anggukkan kepala. Aku berhasil meyakinkan diriku sendiri.

    “Nine, Kagami katanya mau ngomong sama kamu.”

    ..yang langsung dihancurkan oleh Konata dengan satu kalimat insensitive yang tega.

    “A-aku nggak bilang gitu!”

    …wow, that’s tsundere for you. Moee…

    “Nggak perlu tsundere segala, Kagamin. Walaupun aku yakin Nine menyukainya.”

    “Siapa yang kamu sebut tsundere?!”

    “Oke kalau gitu. Nine, Kagamin, aku pergi dulu! Ada closed-space yang harus kuurus!”

    …aku bengong. Masih tersepona dengan pemandangan yang sedang kulihat. Kagami, dengan wajah merah, meneriaki Konata yang berlari menjauh.

    “Konata!!”

    Oh yeah… this is my chance. Now or never. Now or die. Read or die.

    Emm… rasanya ada yang aneh dengan kalimat terakhir. Yah, nggak penting. Memandang Kagami yang masih berdiri di hadapanku dengan ekspresi kebingungan, aku berdehem sebentar sebelum memulai..

    Love Confession yang sebenarnya.

    “Ehem.”

    Dia menoleh. Masih dengan ekspresi kebingungannya. Aku menggigit bibir, berusaha meyakinkan diri kalau ini adalah yang terbaik untukku dan dia. Menghela napas sekali lagi.
    Aku berdoa dalam hati semoga dia menjawab permintaanku dalam mode dere-derenya dan bukan tsun-tsun.

    Okey… lakukan sesuai contoh yang telah kupelajari dari seorang mangaka yang kukenal. Seorang artist dari manga PCP aka Perfect Crime Party. Okeee…

    “Kagami.”

    “…”



    ..

    .

    “Will you marry me?”

    Sambil memberikan permen lollipop yang baru kucuri dari adikku tadi pagi.

    Dia tampak terkejut. Memandang lollipop yang kuulurkan padanya dengan ekspresi yang… tidak bisa dideskripsikan sementara rona wajahnya berangsur-angsur berubah merah.

    “Ya.”

    Mengambil lollipop yang kuulurkan, dia lalu tersenyum manis ke arahku. Manis… terlalu manis.

    “Makasih ya, Nine.”

    Wogh!! Pesona tsundere yang lagi dere-dere itu memang keterlaluan!! Damn! Jangan mimisan! Jangan mimisan atau aku bisa dicap mesum oleh my lovely tsundere!

    “Permen lolipopnya.”

    …ng? eh?

    Lho?

    Aku ternganga. Membiarkan permen lollipop yang kuemut jatuh bersamaan dengan menetesnya keringat tanda orang lagi swt.

    Seriusan…?

    Yang bener aja?

    Eh…?


    “Flashback mode: off.”



    Hmm. Apa-apaan itu tadi. Kenapa aku nggak ingat ada kejadian begitu sebelum kami menikah? Mengerutkan kening bingung. Aku lalu menatap Kagami yang sedang memalingkan muka ke arah lain dengan wajah merah padam.

    Yah, cuma ada satu cara buat mastiin.

    “Kagami.”

    “Apa?”

    Dia masih menolak memandangku.

    “Kamu menikah denganku karena… lollipop?”



    ..

    .

    “Ha-habis! Lolipop kan enak! Manis!”

    Oke, aku nggak tau kalau ternyata Kagami suka lollipop. Dan sekarang aku mengerti kenapa setiap kali aku menciumnya aku selalu merasakan rasa yang familiar dengan ketika aku mengemut permen lollipop.

    Oke, jadi itu jawabannya semua misteri yang ada pada Kagami.

    Oke, jadi gitu.

    Oke…

    ..YANG BENER AAJAAAA!!!? Apa-apaan cerita kayak gini! Hoi, author sialaaan!! Lu bikin cerita yang bener dong!!!

    FIN

    Jangan seenaknya ngetik FIN tanpa persetujuan oiii, author!!*menghilang*

    Merpati98: :yareyare: bawelnya ni tokoh…

    Fanfic lama yang baru selesai tahun ini...:nikmat:
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    om3gakais3r Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,638
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,638 / -0
    woooooooooogh.. akhirnya... LUCKY STAR!! :onfire:
    lol... karena manis.. :XD:

    MY rating for this story: 8.9/10 :top:
     
    Last edited: Oct 7, 2011
    • Thanks Thanks x 1
  4. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    :malu:

    akhir-akhirnya maksa sebenernya...:ngacir:
     
  5. Offline

    om3gakais3r Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,638
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,638 / -0
    daripada diterusn malah jadi ga jelas.. :sepi:
     
  6. Offline

    XtracK Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 22, 2011
    Messages:
    266
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +256 / -0
    cerita komedi romantik yang bikin ngocok perut!!!:lol:

    i love it!! :XD:

    meskipun endingnya dibilang maksa, tapi menurutku itu ending yang cocok karena dari awal cerita sampe akhirnya sang author ikutan nimbrung dalam cerita. so, gk jadi permasalahan lo authornya bisa endingkan ceritanya sesuka hati :haha:
     
    • Thanks Thanks x 1
  7. Offline

    hennyoux Beginner Members

    Joined:
    Sep 20, 2011
    Messages:
    204
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +3 / -0
    kocaakkk... hahahah..
    walaupun endingnya agak maksa, tapi tetep kocak kok..
     
    • Thanks Thanks x 1
  8. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    merpati98: :hoho:

    Nine: jangan bangga lu author gajes:oii:

    merpati98: wkwkwk:ngacir:

    makasih:hmm:
     
  9. Offline

    Giande Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 20, 2009
    Messages:
    978
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +1,225 / -0
    rada puyeng bacanya

    mungkin gara2 kurang tidur ya hahahah

    baru baca 1 chapter doank

    ntar dilanjutin dah tinggalin comment first impresion dolo
     
  10. Offline

    merpati98 Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2009
    Messages:
    3,477
    Trophy Points:
    147
    Ratings:
    +1,522 / -1
    bacanya pelan-pelan aja:hmm:
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.