1. Sssst, ada Administrator baru di forum Indowebster lho... cek di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Cerpen Kumpulan Cerpen - Waltz Kucing Liar

Discussion in 'Fiction' started by om3gakais3r, Oct 8, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    om3gakais3r Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,638
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,638 / -0
    Akhirnya jadi juga 4 cerpen.. :keringat: saatnya bikin index...

    Waltz Kucing Liar
    1. Waltz Kucing Liar - Taman Rahasia
    2. Waltz Kucing Liar - Taman yang Dilupakan
    3. Waltz Kucing Liar - Kanvas
    4. Waltz Kucing Liar - Taman Waktu

    Terbaru: Taman Waktu (http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=185895&p=12813899&viewfull=1#post12813899)

    Waltz Kucing Liar - Taman Rahasia

    Taman Rahasia

    Hati manusia terbuat dari sebuah kaca, yang menentukan bagaimana hati seseorang itu adalah apa yang terpantul di atasnya.

    Cinta, sebuah gambar paradox yang terpantul dari kaca itu. Se-elegan tarian waltz, namun sebebas kucing liar.

    Entah apa yang sedang akan kulakukan, di tempat itu aku duduk sendiri. Bukan menunggu atau menikmati pemandangan, tapi mengingat memori yang terukir di atas tempat ini.

    Sebuah taman kecil yang kini tidak terurus, tanaman liar merambat di mana-mana.

    Bulatan oranye yang terang menyilaukan mata, sangat penuh kehangatan namun membawa rasa dingin, satu hal yang hilang dari lukisan ini.

    Hari itu, tepat sepuluh tahun lalu...
    Aku tersesat dan menemukan taman ini tanpa sengaja saat aku bermain-main di hutan. Walau tidak jauh dari rumah, tempat ini sangat asing karena terkucilkan oleh hutan-hutan di sekitarnya.

    Aku lelah dan tertidur di tempat yang sama aku duduk sekarang.

    Matahari sore, warna oranye yang menyilaukan mata membangunkanku dari perjalanan ke alam bawah sadar.

    Tapi bukan itu yang membuat mataku terbuka lebar, tapi seorang yang berdiri membelakangiku, memandang matahari terbenam yang sedang tenggelam sedikit demi sedikit.

    "Ini adalah tempat kesukaanku di sore hari"

    Seseorang yang aku asumsikan adalah perempuan karena rambutnya panjang dan mengenakan gaun putih berkata padaku juga tentu karena wajahnya yang penuh melankoli memandang ke kejauhan. Tempat yang tidak mungkin dicapai. Tempat yang disebut "Ujung Dunia"

    "Kau suka juga tempat ini?"

    Suka? entahlah. Aku hanya merasa nyaman dengan tempat ini. Seakan aku kembali ke tempat seharusnya aku berada. Aku bisa tertidur di sini, tanpa rasa khawatir. Tentu aku suka tempat ini.

    "Ya."

    Perempuan itu berbalik sambil menahan rambutnya yang diterpa angin sore.

    "Kalau begitu, mulai hari ini tempat ini adalah milikmu."

    Senyumnya yang sedikit pahit menghentikan denyut nadiku sejenak. Cinta? mungkin.

    "Untuk apa?"

    Aku berdiri, mendekatinya beberapa langkah sebelum terhenti.

    "Mungkin ini adalah terakhir kalinya aku bisa menikmati pemandangan sore."

    Berpura-pura membersihkan lumpur yang menempel di kemejaku, padahal aku memikirkan apa yang harus kukatakan.

    "Aku tidak bisa memiliki tempat ini. Seindah apapun tempat ini, ketika kau pergi tempat ini akan menjadi milikmu selamanya kalau kau mau."

    Memasang wajah kaget, orang itu mendekatiku.

    "Dan, kenapa?"

    Aku memegang tangan kanannya dengan tangan kiriku, menggenggamnya dan tangan lainnya memeluk tubuh yang diselimuti gaun seputih dan sebersih kertas.

    "Untuk tempat yang istimewa bagimu, aku menawarkan sebuah memori yang bisa kau ingat selamanya."

    Aku melangkahkan kakiku sambil menggerakkan badan dengan irama. Seakan sebuah orkestra sedang mengalunkan simfoni untuk kami.

    "Bukan itu maksudku, kenapa kau tidak ingin memilikinya?"

    Tubuh orang itu mengikuti gerakanku seakan kami sudah berlatih selama berminggu minggu.

    "Kalau begitu, lukisan matahari terbenam yang indah, hal yang aku saksikan saat aku membuka mataku kurang lengkap."

    Orang itu tersenyum dan meneruskan tarian yang terus berlanjut. Tempo semakin cepat, seakan musik yang beralun memasuki klimaks.

    "Maaf"

    Dengan kata itu, tempo turun dan melambat. Hingga akhirnya berhenti dengan posisi yang sama ketika memulai.

    Orang itu menyenderkan kepalanya padaku.

    "Terima kasih atas memorinya."

    Mendorongku dengan kedua tangannya, orang itu lalu bergegas pergi.

    "Siapa yang membuatmu kehilangan tempat ini?"

    Aku berteriak padanya yang mulai menjauh, membuatnya berhenti dan membalik badannya untuk menjawabku.

    "Entahlah! Seorang yang dipilih orangtuaku untuk menjadi tunanganku, orang yang hanya kuketahui namanya. Seorang dari keluarga bangsawan di Paris."

    Membalas teriakanku, matanya meneteskan air.

    "Aku berdoa semoga kau bahagia dan bisa kembali ke tempat ini."

    Aku melambaikan tanganku ke arahnya dan dibalasnya dengan senyumnya.

    Ketika dia menghilang dari pandanganku, rasa ingin mengejarnya tumbuh begitu saja. Tapi aku sudah merasa itu terlambat. Kakiku tidak bisa mengejarnya. Suaraku tidak bisa mencapainya.

    Entah apa yang sedang akan kulakukan, di tempat itu aku duduk sendiri. Bukan menunggu atau menikmati pemandangan, tapi mengingat memori yang terukir di atas tempat ini.

    Sebuah taman kecil yang kini tidak terurus, tanaman liar merambat di mana-mana.

    Sepuluh tahun sudah terlewat dari saat itu.

    Pemandangan yang sama dengan saat itu, hanya saja tanpa seorang perempuan bergaun putih. Matahari terbenam yang sedikit demi sedikit tenggelam ke dalam cakrawala.

    "Kau terbangun?"

    Aku membisikkan kata-kata itu ke arah samping kiriku.

    "Iya."

    Lukisan ini tidak lengkap, namun momen ini sempurna.
    Momen yang sempurna saat ini. Aku bersama seorang yang sudah menjadi istriku selama sepuluh tahun kurang dua hari dan sepasang anak laki-laki dan perempuan di pangkuan masing-masing.

    Lukisan yang tergambar dari masa lalu. Lukisan yang akan terus abadi dalam memori kami, tentang kami yang menari di hadapan matahari tennggelam.

    Bagaikan kucing liar yang menari Waltz, di dalam taman rahasia.
     
    Last edited: Nov 8, 2011
    • Like Like x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    angel_sweetsnow4 Silent Reader Members

    Joined:
    Aug 26, 2011
    Messages:
    17
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +8 / -0
    banyak banget saltiknya.. haha...
    mana nggak ada klimaks...
    saya baca karya2 abang ini terlalu maksain ego sendiri dalam tulisan....
    coba pikirin juga apa yang pengen pembaca baca..
    bukan yang pengen abang baca....
    kalo gini mana ada yang bakal nikmatin tulisan abang?
     
  4. Offline

    om3gakais3r Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,638
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,638 / -0
    Waltz of the Wild Cats Short Stories – Forgotten Garden (Bahasa Ver.)
    Kumpulan Cerpen Waltz Kucing Liar - Taman yang Dilupakan

    Auth. Note: :keringat: kalau bangun tidur langsung terasa hampa, maka saya nulis, apapun itu... dan baru sekarang langsung saya post.. :XD: cerpen yang cukup panjang, dibanding cerpen saya sebelumnya. Kalau di-compress lebih jauh sepertinya bisa tapi saya masih malas.. :XD:, oh... terimakasih angel... saran anda saya aplikasikan pada cerpen ini... :maaf:

    Taman yang Dilupakan

    Hati manusia terbuat dari sebuah kaca, yang menentukan bagaimana hati seseorang itu adalah apa yang terpantul di atasnya.

    Cinta, sebuah gambar paradox yang terpantul dari kaca itu. Se-elegan tarian waltz, namun sebebas kucing liar.

    Awalnya, aku tidak percaya itu. Senyuman, tawa, canda, gurauan yang terjadi di antara dua orang itu hanyalah sekedar ekspresi dari emosi. Cinta tidak lebih dari amarah, sedih dan rasa hampa.
    Setidaknya itu yang saat ini aku percaya.

    Cinta bisa tumbuh dari mana saja. Mungkin dari dua orang yang sedang berargumen tentang bagaimana tempat duduk mereka di kelas, atau tiga orang yang saling berbagi makan siang saat waktu istirahat.

    Karena aku beranggapan bahwa cinta itu emosi sementara dan tumbuh dari mana saja, sesekali aku merasa mual ketika dua orang sesama lelaki atau perempuan duduk bersama, sangat akrab juga sangat dekat. Seakan mereka adalah saudara.

    Tapi yang kulihat di antara mereka adalah emosi yang bernama cinta.

    Itulah kenapa aku memutuskan untuk tidak terlalu dekat dengan teman-teman sekelasku, baik itu perempuan ataupun sesama laki-laki. Walau begitu aku tidak terlalu jauh juga dari orang-orang itu, setidaknya untuk mencegah masalah yang tidak diinginkan dari guru-guru konseling.

    Ruang kelas yang ramai saat istirahat. Orang-orang saling berkelompok namun masih dalam satu ikatan yang disebut “Kelas” menandakan tahun pertama SMA sudah berlangsung selama tiga bulan.

    Aku duduk di kelompok berjumlah tiga orang, tidak termasuk aku sendiri. Mereka membicarakan banyak hal, dari game, girlsband yang sedang naik daun, fashion, hingga perempuan-perempuan cantik yang ada di sekolah.

    Tapi aku di sana hanya memakan makan siangku. Mendengar, seakan bagian dari kelompok itu namun ternyata aku hanya properti.
    Setidaknya aku berpikir seperti itu.

    Pembicaraan berlanjut ke tipe perempuan yang disukai, mereka menjawab satu per satu. Satu dari mereka memilih seorang dengan kaca mata, yang lain lebih menyukai yang patuh, satu lagi dari mereka menyukai dengan rambut pendek.

    Setelah itu mereka semua menatap padaku.

    “Lalu, kamu lebih suka yang mana? Pasti perempuan dengan rambut pendek sepertiku kan?”

    Salah satu dari mereka memegang pundakku, memaksaku menjadi teman seperjuangannya.

    “Haha, tidak mungkin. Orang ini pasti lebih suka cewek dengan kacamata sepertiku”

    Yang lain menatapku dengan tajam, memintaku agar setuju dengannya.

    “Hoy, hoy. Jangan maksain pendapat kalian gitu dong. Denger dulu dia kayak gimana… kalau liat dari kepribadiannya sih aku bertaruh perempuan dengan kemampuan rumah tangga yang luar biasa.”

    Satu orang lain menghentikan pemaksaan kedua orang lainnya. Aku hanya bisa diam, toh aku tidak pernah memikirkan soal itu. Toh tidak penting untuk saat ini. Yang penting menurutku sekarang adalah bagaimana menghabiskan waktu tiga tahun di SMA tanpa masalah, lalu setelahnya aku serahkan pada nilai dan tes aptitude di akhir sekolah.

    Aku memutuskan untuk tidak mengecewakan mereka. Aku menunjuk seseorang yang duduk tidak mencolok, seorang perempuan dengan rambut panjang yang duduk di depan tempat aku seharusnya duduk.

    “Eh? Dia?... Seleramu benar-benar unik, bung.”

    Ketiganya menatapku dengan pandangan aneh.

    “Tidak satupun di kelas yang hapal namanya, bahkan guru sekalipun.”

    Aku mengerutkan alis tanda bingung.

    Bel tanda istirahat selesai berbunyi dengan keras. Pembicaraan itu pun berakhir tanpa kejelasan. Semua orang yang asalnya tersebar di setiap pojok kelas kembali ke tempat duduknya. Begitu juga denganku.

    Pelajaran dimulai. Semua mengeluarkan buku tulis yang diwajibkan untuk ditulis nama pemiliknya di sampul buku tersebut. Entah karena penasaran, aku melihat ke arah buku yang dikeluarkan orang di depanku.

    Rea

    Hanya nama depan yang bisa aku baca, namun itu cukup. Aku hanya ingin tahu nama apa yang tidak bisa diingat bahkan oleh guru sekalipun.

    Nama yang simpel.

    Nama yang bahkan seorang idiot pun bisa menghapalnya.

    Apa nama itu benar akan hilang dari ingatan? Entahlah. Aku tidak yakin aku akan melupakannya besok.

    Keesokan harinya, aku melihat di atas sampul buku yang sama nama yang berbeda.

    Silva

    Selama dua minggu selanjutnya, aku mencoba mengingat semua nama yang orang itu gunakan.

    Octa, Ervy, Aprillian, Juno, Astin, Resti, Aya, Vica, Ren, Llya, Aida, Histerica, Unvee dan Corta.

    Awalnya aku berpikir bahwa orang ini menggunakan buku yang berbeda setiap harinya, namun ternyata sama. Pada hari ketiga, aku melihat di sampul bukunya bernama Aplrillian, membuka bukunya dan melihat semua isinya. Memberi tanda yang sangat tidak mungkin dilihat orang selain aku di dalam bukunya tersebut saat dia tidak ada di kelas. Namun keesokan harinya, di buku yang bertuliskan nama Juno, tanda itu sama dan tidak ada bekas penghapusan nama yang ditulis dengan bolpoin. Tanda bahwa sampunya diganti juga tidak ada.

    Pada hari ke lima, aku ingin memastikan nama yang sebenarnya orang itu gunakan. Pada awalnya aku hanya melihat ke daftar absen kelas, namun namanya sesuai dengan yang ditulis di sampul bukunya, Astin.

    Keesokan harinya, di buku absensi yang sama aku melihat namanya berubah menjadi Resti.

    Akhirnya aku merasa mungkin ini sebuah konspirasi semua orang, jadi aku memutuskan untuk merobek salah satu halaman absensi dan membawanya pulang.

    Entah cara apa yang membuat ini semua menjadi nyata, yang sebelumnya aku lihat nama “Unvee” berubah menadi “Corta” di halaman yang aku robek dan aku bawa pulang.

    Rasa bingung, lelah, frustasi, dan menyerah bercampur menjadi rasa yang baru. Perasaan yang sangat kuat melebihi apapun sebelumnya, rasa “penasaran” yang melahapku bulat-bulat.
    Seperti biasa di waktu istirahat, aku bersama ketiga orang yang seperti biasa aku duduk di waktu yang sama.

    Namun tidak biasa, aku tidak mendengarkan apa pembicaraan mereka melainkan menunggu saat yang tepat untuk melakukan aksi yang telah aku rencakanan dengan matang sebelumnya.
    Ketika orang yang aku perhatikan meninggalkan kursinya, aku langsung mengikutinya dari belakang namun berusaha menjaga jarak supaya tidak ketahuan.

    Orang itu masuk ke dalam kerumunan orang. Walau sulit dan terkadang pandanganku terlepas darinya, akhirnya aku bisa mengikutinya sampai ke lapangan belakang sekolah. Tempat yang tidak satupun orang kunjungi walau tempat itu cukup indah dengan bunga liar dan rumput sebagai alas.

    Perempuan itu berhenti tepat di tengah lapangan itu.

    “Belum menyerah?”

    Berbalik, menghadap ke jalan masuk taman itu. Ke arah beton yang menyusun sudut bangunan sekolah

    “Sudah”

    Aku keluar dari tempat tersembunyi di arah orang itu berbicara.

    “Apa yang kau inginkan?”

    Duduk di atas rumput hijau, posisi yang sangat sopan seakan bersiap untuk upacara adat tertentu.

    “Mudah.”

    Aku mendekatinya dan duduk tepat di depannya. Berkebalikan dengannya, aku duduk sila dengan tidak rapi.

    “Hal yang sama semua orang akan tanyakan.”

    Perempuan itu memiringkan kepalanya. Seakan berkata “Apa itu?”

    “Namamu.”

    Mata dan mulutnya terbuka, seakan mendengar jawaban yang tidak disangkanya.

    “Ada yang salah? Aku bingung kenapa semua orang tidak bertanya langsung padamu…”

    Tawa meledak dari mulut orang itu. Begitu kerasnya hingga air mata keluar dari kedua matanya.

    “Hahaha… Aku tidak menyangka ada yang bisa mendekatiku seperti ini.”

    “Maksudmu?”

    “Kau tahu kenapa orang tidak bisa menghapal namaku? Itu karena aku tidak ada! Bahkan namaku, keberadaanku, itu tidak ada!”

    Dari kata-katanya yang seperti tertawa, terasa ada getaran bahwa dia merasa sakit. Perih yang tidak bisa diungkapkan oleh emosi apapun.

    “Peranku hanyalah teman sekelas dengan rambut hitam misterius yang ada di pojok kelas. Selebih dari itu, aku bukan siapa-siapa.”

    “…”

    Aku hanya bisa terdiam mendengar kata-katanya.

    “Bahkan aku tidak memiliki nama! Setiap kali aku menyebut diriku dengan suatu nama, nama itu selalu hilang. Ketika aku menulis nama yang aku inginkan, semuanya hilang! Kau tahu, kau bicara dengan siapa? Bahkan kau tidak tahu namaku! Apa itu cukup memuaskanmu bahwa aku ini bukan siapa-siapa?!”

    “Bukan itu—”

    “Lalu apa? Aku tidak tahu namaku sendiri! Kau ingin—”

    “BUKAN ITU!! DENGARKAN AKU DULU! Rea, Silva, Octa, Ervy, Aprillian, Juno, Astin, Resti, Aya, Vica, Ren, Llya, Aida, Histerica, Unvee, Corta…”

    Perempuan itu akhirnya diam. Air mata mengalir dari wajahnya, menetes dengan cepat di dagunya.

    “Eh?”

    Aku berdiri, melihat ke sekitar terutama jendela gedung sekolah. Memastikan bahwa bel istirahat belum selesai.

    “Bagaimana bisa seseorang yang memiliki berbagai nama mengatakan dirinya tidak memiliki nama.”

    Aku melirik ke arahnya, memastikan orang itu berhenti membocorkan cairan dari matanya.

    “Tapi…”

    “Aku seorang yang selalu ingin tahu dengan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.”

    “Kau…”

    “Jadi, bagaimana kalau kita tidak kembali ke kelas untuk pelajaran sore dan membicarakan tentang hal ini?”

    Orang itu mengangguk.

    Kami kembali ke kelas dan mengambil tas. Aku bilang pada ketua kelas aku ada urusan dan meninggalkan kelas. Tidak sepertiku, orang itu bagai transparan di mata semua orang. Dia mengambil tasnya, namun aku menggenggam lengannya, menghentikan karena belum meminta izin dari ketua kelas.

    “Tenang saja, biasanya aku keluar dari kelas saat ada guru dan tidak masalah.”

    Pantas saja. Selama aku menyelidiki orang itu, dari 13 hari, 8 di antaranya dia keluar kelas saat pelajaran berlangsung tanpa izin.

    “Corta! Kau mau kemana?”

    Tidak disangka, ketua kelas menghentikan orang itu juga.

    Kaget, orang yang saat ini dipanggil Corta itu langsung menatap ketua kelas dengan wajah pucat.

    “—Bagaimana dia mengetahui keberadaanku—”

    Aku juga yang kaget dengan reaksi ketua kelas pada orang itu membuatku melepas genggamanku.

    Tanpa jeda, ketua kelas langsung menatap padaku saat aku melepas Corta.

    “Ah, hati-hati di jalan.”

    Ketua kelas langsung meninggalkan kami, seakan tidak mengingat bahwa dia sedang berbicara pada Corta.

    “Eh? Tadi kenapa?”

    (Orang yang saat ini dipanggil) Corta menatapku, bertanya-tanya akan sesuatu.

    Meninggalkan sekolah, menuju tempat yang tidak terlalu jauh ataupun dekat dari rumah masing-masing, sebuah taman yang sepi.

    Hanya ada bangku dan tanaman. Tanpa mainan untuk anak kecil atau pengunjung yang datang, seakan dilupakan. Seperti lapangan di belakang sekolah dan keberadaan Corta (Nama sementara)

    “Jadi,… dari mana aku harus mulai?”

    Orang itu menatapku yang sedang memakan roti isi coklat, makanan yang tidak sempat aku makan saat istirahat sekolah tadi.

    “Entahlah, mungkin dari sangat awal.”

    “Em.. Tanggal 23 Juni 1994 aku lahir…”

    “STOP! Terlalu awal!”

    Aku menghentikannya, mencegahnya membuat autobiografi langsung di tempat itu.

    “Oh, ok… Bagaimana kalau pertama kali aku kehilangan keberadaanku?”

    Aku mengangguk, tanda setuju bahwa bagian awalnya memang harus dari saat itu.

    “Lima tahun lalu saat aku SD, aku terjatuh dari apartemen orang tuaku di lantai 3. Saat itu aku dibawa ke rumah sakit dalam keadaan kritis.”

    Diam sejenak, orang itu seolah berusaha melawan rasa sakit dalam tubuhnya.

    “Aku seharusnya mati, namun pada hari ke tiga aku langsung bangun dari koma. Saat itu aku merasa tidak ada perubahan, namun setelah beberapa minggu aku menyadari bahwa keberadaanku seakan menipis, orang tuaku tidak lagi berbicara padaku, seakan aku angin. Namun mereka masih memberiku segala yang aku butuhkan.”

    “Seakan kamu mati kecuali peranmu saja yang hidup?”

    Orang itu mengangguk.

    “Sampai sekarang, tidak ada satupun orang yang menganggapku sebagai aku, bukan seorang perempuan berambut hitam di sekolahnya, atau sekelasnya, atau sebagai anaknya.”

    Aku menatap matanya, menunggu reaksi darinya.

    “Apa?”

    Aku tetap menatapnya, berharap dia berkata yang ingin aku dengar.

    “Apa ada sesuatu di mukaku?”

    “Ah… tidak… aku hanya berpikir rambutmu tidak begitu hitam.”

    “Eh?”

    Haah.. aku mendesah panjang.

    “Lanjutkan ceritanya.”

    “Ak… Ehem… Aku menjadi seperti hantu di sekolah ini. Bahkan semua yang aku tinggalkan tidak berlangsung lama. Ketika aku memenangkan suatu lomba, tidak ada yang memberiku selamat. Ketika aku mencoba berteman, aku berusaha berbicara dengan mereka. Tapi tidak ada yang pernah menjawab perkataanku.”

    Diam lagi sejenak. Dia menghapus air mata yang terus mengalir.

    “Aku mungkin benar-benar tidak ada di sini. Aku sudah mati sejak saat itu.”

    Berdiri, orang itu sepertinya akan pergi. Tapi aku menahannya.

    Memeluknya dari belakang, menghentikan langkahnya. Untungnya itu berhasil.

    “Lalu, siapa yang ada dalam tanganku ini?”

    “…”

    “Kau tahu, awalnya aku kira kau memang tidak suka didekati oleh siapapun. Kau menyendiri dan tidak ada yang mendekatimu. Itu yang membuatmu kosong.”

    “…”

    “Kalau begitu, bagaimana denganku?”

    “…”

    “Sejak awal aku mengetahui keberadaanmu. Cresta si nilai tes masuk terbesar di sekolah, Vivian si pelari yang mengalahkan atlit kelas, Heidy yang memilik suara terindah yang aku dengar di kelas seni.”

    “…”

    “Jangan diam saja, katakan sesuatu! Apa kau yang sedang ada di sini bukan siapapun?!”

    “Aku…”

    “OK, aku terlalu berbelit-belit. Ini yang ingin aku ungkapkan sejak awal.”

    Aku membalik badannya, mendekatkan wajahku padanya. Menempelkan dua bibir, mengungkapkan seribu kata yang seharusnya diungkapkan satu per satu.
    Mungkin, aku tidak memiliki emosi yang aku sebut cinta.

    Sejak awal, aku tidak percaya itu. Senyuman, tawa, canda, gurauan yang terjadi di antara dua orang itu hanyalah sekedar ekspresi dari emosi. Cinta tidak lebih dari amarah, sedih dan rasa hampa.

    Cinta yang bisa tumbuh dari mana saja. Mungkin dari dua orang yang sedang berargumen tentang bagaimana tempat duduk mereka di kelas, atau tiga orang yang saling berbagi makan siang saat waktu istirahat.

    Karena aku beranggapan bahwa cinta itu emosi sementara dan tumbuh dari mana saja, sesekali aku merasa mual ketika dua orang sesama lelaki atau perempuan duduk bersama, sangat akrab juga sangat dekat. Seakan mereka adalah saudara.

    Tapi yang kulihat di antara mereka adalah emosi yang bernama cinta.

    Lalu apa yang aku rasakan sekarang?

    Saat SMP, orang yang sama yang sedang memejamkan mata menerima emosi yang aku tidak tahu namanya selalu sendiri.

    Saat itu dia selalu ingin menarik perhatian banyak orang, namun tidak satupun melihatnya.

    Dia pintar, cantik, sempurna dalam olahraga dan seni.

    Seorang yang seharusnya tidak mungkin dikucilkan.

    Namun nyatanya dia seperti itu. Selalu sendiri.

    Sejak saat itu, aku ingin selalu bersamanya, melindunginya, menjadi seorang yang istimewa baginya. Namun aku tidak memiliki keberanian untuk mendekatinya. Sama sekali tidak ada.

    Setelah aku masuk ke SMA, tidak ada perubahan dalam diriku. Masih pengecut yang sama. Bahkan aku menolak keberadaan cinta itu sendiri. Menolak bahwa aku pernah mencintai seseorang.

    Aku melepas ciumanku, namun masih menahannya dalam pelukanku.

    “Jadi, apa jawabanmu?”

    Aku bertanya padanya yang wajahnya memerah, menyerupai warna tomat.

    Tanpa kata-kata, dia memelukku.

    “Aku anggap itu sebagai iya.”

    Dia mengangguk.

    “Ventia”

    “Hmm?”

    “Namaku.”

    Walau terasa bagai seharian penuh, momen itu hanya berlangsung beberapa detik saja.

    Aku mengantarnya ke rumahnya yang kini tepat di atas tanah. Tempat yang hanya empat blok dari rumahku.

    “Sebenarnya sejak SMP.”

    “apa?”

    “Sejak SMP aku ingin mengatakan ini, tapi walau kita dua tahun pertama sekelas, aku selalu tidak berani mengatakannya padamu—Aku ingin bisa selalu bersamamu dan mencintaimu.”

    “Eh? Sekelas? SMP?”

    “…”

    “Oh! Kau Riva yang itu?! Pantas sepertinya wajahmu tidak asing. Ah, sudah gelap. Sampai jumpa besok di sekolah ya!”

    Ventia (nama asli) melambaikan tangannya padaku lalu masuk ke dalam rumahnya. Aku jatuh hingga berlutut.

    “Ternyata dilupakan itu memang tidak enak. Aku salut padamu Ven.”

    Tiga hari kemudian, tepatnya hari Senin di ruangan kelas. Semua orang berkerumun di salah satu meja di dekat papan tulis.

    Aku menaruh tasku di tempatnya, meja yang sama. Tadinya aku akan duduk, namun dihentikan oleh seseorang dari kerumunan itu.

    “Nah ini dia tokoh utamanya! Woy, bang! Sini!”

    Aku mendekat ke kerumunan itu, yang ternyata mengelilingi meja yang penuh dengan majalah.

    “APA APAAN INI?!”

    Setelah melihat majalah itu tentu aku berteriak. Tiga majalah yang terbit setiap hari Minggu itu tidak salah, namun beberapa foto di dalamnya yang membuatku terkejut.
    Salah satunya berjudul “Couple of the Week” yang lain “Cutest Photo Shot This Week” dan yang satunya lagi “Foto dari Pembaca – Jum’at ini di Taman Ruby”
    Ketiganya memperlihatkan tiga foto yang sama, dua orang berpelukan dengan mesra di bawah sinar matahari sore. Namun bukan itu masalahnya, tapi orang yang ada di dalam foto itu adalah aku. Dan yang satunya adalah Ventia. Sepertinya ada seseorang yang mengabadikan momen itu lalu mengirimkannya ke majalah.

    “Bung, bener ini kamu?”

    “Kapan ini, Riv?”

    “Yang sama kamu itu siapa?”

    Semua bertanya, membuat kebisingan.

    Beberapa saat kemudian, kebisingan itu lenyap ketika Ventia masuk ke dalam kelas namun kembali bising dengan bisikan-bisikan yang ditujukan padaku atau pada diri mereka sendiri.

    “Riv, itu kan cewek yang di majalah ini…”

    “Siapa dia?”

    “Murid pindahan?”

    Akhirnya guru datang. Semua kembali ke tempat duduknya masing-masing tapi beberapa masih ngobrol dengan orang yang duduk dekat dengannya.

    “Riv, ada apa sih?”

    “Aagh, entahlah. Semuanya membuatku pusing.”

    Satu minggu berlalu. Dalam waktu itu, keberadaan Ventia seperti kembali seperti orang biasa. Awalnya orang-orang kaget bahwa perempuan berambut panjang yang duduk di depanku adalah Ventia, namun tidak lama semuanya menerima fakta itu.

    Tentang foto di majalah itu sepertinya sudah dilupakan semua orang, waktu istirahat menjadi seperti biasa. Beberapa orang berkelompok dan membicarakan hal tertentu. Sedangkan aku bersama tiga orang yang biasa.

    “Tapi bung, walau seleramu aneh tetap lebih sukses dari kita.”

    “Iya, aku nggak nyangka berhasil dalam waktu kurang dari tiga minggu.”

    “Tapi entah kenapa walau orangnya aku tahu sepertinya nama ‘Vantia’ terdengar asing banget.”

    Aku hanya tertawa datar.

    Semuanya kembali seperti biasa, hanya dua hal yang berubah. Satu, terbentuk satu kelompok baru yang terpusat pada seorang yang kali ini bernama “Vantia” dan dua, terkadang aku merasa sendiri dan sepi.

    Hari ini juga seperti itu. Aku merasa sedikit kehilangan sesuatu. Aku keluar dari kelas, menuju tempat yang sepi. Tempat yang mungkin bisa mengobati rasa kehilangan ini.

    Di tempat itu, aku berbaring. Di atas rumput hijau dan dikelilingi bunga dan tanaman liar.

    “Haah… perasaan manusia itu seperti kucing liar, tidak bisa ditebak.”

    Aku menutup mataku.

    “Ya, tapi juga rumit seperti tarian waltz.”

    Seseorang ada di sampingku.

    Aku yang tadinya mau mengistirahatkan mataku sejenak membuka mataku.

    Di sampingku orang yang aku ajak bicara pertama kali di tempat ini duduk.

    “Tapi itulah yang membuatnya begitu indah.”

    Orang itu tersenyum, menggenggam tanganku dengan jari saling bersilangan.

    Pada akhirnya manusia adalah manusia, tidak bisa menjadi eksistensi transparan seperti hantu. Mereka saling membuktikan keberadaan masing-masing. Untuk Ventia, sepertinya lima tahun lalu kehilangan kemampuan dirinya untuk membuktikan keberadaannya sendiri. Oleh karena itu, akulah yang harus melakukannya, satu-satunya orang yang membuktikan keberadaannya. Bukan karena aku diwajibkan untuk menjadi bukti keberadaannya, tapi keberadaanku sendiri adalah orang yang membuktikan keberadaan Ventia, bagaikan dua penari waltz. Saling membuktikan satu sama lain bahwa mereka sedang menari.

    Ya, akhir yang seperti ini tidak buruk juga. Setidaknya aku tidak sendiri, orang itu tidak sendiri.

    Suatu saat, suatu hari. Mungkin kami akan kembali ke tempat ini, mengenang apa yang kami mulai di sini, mengajarkan pada orang lain bahwa seseorang ada untuk orang lain, dan orang lain itu ada agar dia bisa membuat seseorang ada.

    Pada akhirnya, kehidupan manusia terus berlanjut.
     
    Last edited: Oct 12, 2011
  5. Offline

    murasaki Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    May 17, 2009
    Messages:
    2,140
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +12,586 / -0
    akhir ny nemu jg cerita model kaya gini d sni...
    apa saia ny yg jarang jalan2 ya? :lalala:

    gaya bahasanya misterius gitu
    tapi ngalir jalan cerita ny
    seneng deh baca ky ginian

    Forgotten garden ny itu lanjutannya apa bukan ya?
     
  6. Offline

    om3gakais3r Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,638
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,638 / -0
    Itu cerita lain kk.. :hmm:
    karena satu tema, saya bundel dalam satu judul... :hehe:
    ada kritik nggak? :???:
     
  7. Offline

    murasaki Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    May 17, 2009
    Messages:
    2,140
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +12,586 / -0
    as reader, saya ngga nemu sesuatu yg pgn d kritik :top:

    ngga sangka klo dari judulnya bakal dapet cerita ginian
    salut deh

    walopun 2 cerita berbeda tapi bisa d terbitin d 1 buku
    kk pernah kirim k penerbit ngga?
     
  8. Offline

    om3gakais3r Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,638
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,638 / -0
    kalo cerpen ini belom pernah, cuma dulu pernah novel saya bikin ditolak.. :XD:

    zzzz jadi curhat deh. :p
     
  9. Offline

    muchitsuru Beginner Members

    Joined:
    Sep 8, 2009
    Messages:
    255
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +17 / -0
    Cerpennya bagus Bung.
    Hihihihi.... hampir sama gaya penulisannya kayak saya, hanya saja kalau punya saya terlalu absurd dan surealis.
    (tapi tetep, tiap penulis punya gaya yang berbeda dengan penulis yang lainnya).

    Komen tentang cerpen:

    Kalau "Waltz Kucing Liar - Taman Rahasia", terkesan misterius. Saya memang suka yang misterius, hanya saja kurang menggigit cerpen yang ini. Gak tau kenapa. Mungkin kurang banyak penjelasan di dalam cerita ini, entah itu tentang siapa tokoh gadis dalam taman itu. Endingnya dari konflik hingga ke klimaks terlalu cepat. Seperti makan permen, baru masuk ke mulut malah tertelan ke tenggorokan. Dari segi bahasanya gak perlu saya ragukan lagi, mengalir dan indah. Saya suka sama ungkapan ini, "Bulatan oranye yang terang menyilaukan mata, sangat penuh kehangatan namun membawa rasa dingin," untuk menggambarkan matahari yang tidak mampu memberi kehangatan pada tokoh utama.

    Sedangkan "Forgotten Garden / Taman yang Dilupakan", saya rasa ini lebih baik dibanding cerpen pertama, baik dari segi deskripsi cerita maupun hikmah yang bisa diambil dari cerpen ini. Setidaknya tidak semisterius Waltz Kucing Liar-Taman Rahasia. Tapi entah kenapa saya beranggapan cerpen ini seperti cerpen untuk remaja. Mungkin karena saya membaca cerpen pertama dulu, lalu membaca cerpen kedua dengan asumsi kalau cerpen ini memiliki level yang sama dengan cerita pertama (tidak berbau masa2 beranjak dewasa).
    Hehehehe.....
     
    • Thanks Thanks x 1
  10. Offline

    Giande Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 20, 2009
    Messages:
    978
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +1,224 / -0
    IMO

    secara penulisan bagus, penyampaian juga enak

    hanya saja ceritanya menurutku terlalu banyak kejanggalan baik yang pertama maupun yang kedua

    Taman rahasia
    * ga kenal, terus tiba2 menyentuh , menggenggam, dan menari.......... mungkin ada yang dikurangi dari cerpen ini ya? sampe kok rasan2 cerita e terasa LOMPAT BEBERAPA KALI.

    Taman yang dilupakan
    * ini lebih aneh lagi... biarpun fiksi penuh imajinasi tapi entah kenapa gw menganggap cerita ini banyak bolong ga masuk akal ( mungkin kurang penjelasan situasi ya ).
    Bukan hantu > tapi ga dikenal keberadaan tipis....
    nama berganti tapi tidak ada yang sadar... padahal manusia?
    Apakah roh terpisah akibat koma? tapi bisa mencetak prestasi? bahkan difoto.... tapi kondisi sebelumnya tidak dipedulikan sama ortu > kalaupun itu roh yang bisa menyentuh dll kenapa orang2 tidak kaget atau berteriak histeris? tidak bertanya2? apalagi dengan prestasi begitu kemilau
    Dan terakhir terus tiba2 orang sadar > murid pindahan? Ga mungkin akrena ada prestasi , dan orang2 tau ada perempuan rambut hitam?

    Inti e satu penjelasan dengan penjelasan lain menurutku tidak klop. Jadi gw merasa cerpen kedua ini malah lebih banyak bolong.

    :maaf:

    entah ya mungkin aku aja yang tidak terbiasa baca cerita begini

    :maaf:

    Maaf jika ada salah-salah kata :sembah:
     
    • Thanks Thanks x 1
  11. Offline

    om3gakais3r Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,638
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,638 / -0
    yup.. terima kasih banget komentarnya.. :top: ini nih yang saya tunggu2.. :XD:

    taman rahasia itu asalnya satu buku, saya tulis sekitar 100 halaman HVS.. di-compress besar-besaran jadi segitu... memang terlalu memaksakan,.. :haha: lain kali gak akan lagi deh compress "novel" jadi cerpen.. :XD:

    Soal taman yang dilupakan,
    yang saya ingin sampaikan itu dia sejak koma, keberadaannya menipis.. semua taunya dia itu cuma sekedar cewek misterius dengan rambut hitam... selain itu nggak ada.. jadi dia berusaha menarik perhatian orang2 dengan mencapai prestasi dan kadang2 ubah2 namanya sendiri,.. cuma si tokoh utama yang sadar itu... terus di tengah2,

    gara2 si tokoh utama megang tangannya, keberadaannya kembali sementara sama si ketua kelas...

    di akhir, gara2 "pelukan dll" keberadaannya secara permanen kembali...

    tapi sepertinya penyampaian saya kurang bagus.. :keringat:
    selanjutnya mudah2an bisa lebih baik.. :maaf:
     
  12. Offline

    murasaki Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    May 17, 2009
    Messages:
    2,140
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +12,586 / -0
    Mau coba ikutan jawab...

    Menurut saya, setting ceritanya ngga pake kebudayaan Asia.
    Kalo orang US atau Eropa kan uda biasa yg seperti itu.
    Soalnya judul aslinya kan pake bahasa inggris... :peace:
     
  13. Offline

    Giande Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 20, 2009
    Messages:
    978
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +1,224 / -0
    bukan masalah itu sih

    cerita e terlalu lompat2 ya udah dijawab ama si TS draft asli e 100 halaman :panda: jadi e itu cuman 1 halaman :panda: kebanyang di cut e seberapa banyak.
     
  14. Offline

    om3gakais3r Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,638
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,638 / -0
    Akhirnya finished juga. :keringat:

    Waltz of the Wild Cats Short Stories : Canvas (Bahasa Ver)

    Kumpulan Cerpen Waltz Kucing Liar : Kanvas

    Kanvas

    Hati manusia terbuat dari sebuah kaca, yang menentukan bagaimana hati seseorang itu adalah apa yang terpantul di atasnya.

    Cinta, sebuah gambar paradox yang terpantul dari kaca itu. Se-elegan tarian waltz, namun sebebas kucing liar.

    Warna apa yang tergambar di atas kaca itu? Bentuk apa yang terlekuk di atasnya? Mungkinkah seseorang bisa mengabadikannya dalam satu kanvas, warna dan bentuk yang lebih abstrak dari warna dan bentuk itu sendiri.

    Kuas adalah sesuatu yang bisa merealisasikan gambar dalam hati manusia ke atas dunia yang diberi nama “Lukisan”, dunia yang terwujud di atas tanah putih, tanah yang disebut “Kanvas”

    Lalu, bagaimana bisa orang lain mengetahui isi hati orang lainnya?

    Itu tidak mungkin.

    Setidaknya tidak mungkin bagi manusia biasa.

    Yang bisa manusia gambar dengan kuasnya adalah bentuk dari hatinya, itu pun sangat jarang orang yang bisa melakukannya.

    Tapi, di antara milyaran manusia pasti ada satu orang yang tidak biasa.

    Taman kota, pukul sembilan pagi.

    Anak-anak bermain dengan mainan seperti perosotan dan ayunan. Pasangan muda dan tua yang berjalan-jalan di sekitar danau atau sekedar duduk-duduk di bawah pohon rindang. Para keluarga yang datang hanya untuk menikmati roti isi bersama. Semua itu terlihat biasa di tempat ini.

    Aku di sini mungkin bisa disebut berbeda dari yang lain.

    Menghadap ke arah danau, mengoles kuas ke atas kanvas dan mereka ulang setiap gelombang dan gerakan tetes demi tetes air yang ada di dalam danau tersebut.

    Ah, walau begitu indah… Semua ini hanya memenuhi kekosongongan hatiku dengan kehampaan.

    Seberapa bagus lukisanku ini, seberapa elok warna yang kutangkap tidak mungkin bisa menjawab pertanyaan siapapun.

    Tidak, maksudku pertanyaanku sendiri.

    Aku mencampur warna, mencelupkan ujung kuasku pada warna itu lalu aku ciptakan potongan kejadian apa yang aku lihat.

    Itu semua hanya usaha melarikan diriku dari rasa sesal dan kecewa di masa lalu.

    Awalnya, aku percaya bahwa aku bisa mengerti dengan apa yang ada dalam hatiku. Mencintai seseorang adalah hal terakhir yang aku percaya itu ada dalam hatiku. Saat itu aku percaya aku mencintai seseorang.

    Namun ketika dia pergi dan mengambil semua yang aku punya, aku sadar. Sejak awal aku tidak percaya dengan orang itu. Aku tahu dia hanya akan bermain-main denganku lalu ketika dia bosan, dia akan mencari perempuan lain untuk menjadi mainannya.

    Bagaimana bentuk dari lukisan yang ada di dalam hati manusia? Itu sebuah rahasia yang tidak mungkin diketahui siapapun, termasuk dirinya sendiri.

    “Apa benar?”

    Suara yang datang dari arah kiriku itu seakan membaca apa yang sedang aku renungkan.

    “Bahkan aku bisa melihat isi hatimu dengan jelas.”

    Seorang laki-laki dengan topi hitam, membawa sebuah kamera dengan lensa panjang duduk tepat di sampingku.

    Aku tidak mengindahkannya dan terus merekam keindahan danau ini dalam kanvasku, menciptakan keindahan dari lekukan air dan war—

    “Wajahmu memerah.”

    “Diam!”

    Aku menyelesaikan detail lukisan itu lalu mengeringkannya sebentar. Membungkusnya dan membawanya pergi.

    “Hup! Tunggu dulu.”

    Dengan cepat tangan orang itu mengambil lukisan yang ada di tanganku.

    “Akan aku kembalikan, tapi kau harus janji temani aku hunting foto.”

    “Aaagh.. kenapa kau ini!”

    Aku berusaha mengambil kembali lukisanku tapi orang itu bagai tanpa celah.

    “Kalau kau sedikit… ehem jauh lebih tinggi, mungkin bisa mengambilnya dariku.”

    Sudahlah. Orang ini sejak dulu memang seperti ini.

    “Ya sudah, ambil saja lukisan itu. Aku bisa melukisnya lagi kapanpun.”

    Berbalik, aku mengambil kotak peralatan lukisku dan bersiap pulang.



    “Oho, kau akan pulang? Walaupun aku akan traktir kamu macaroni di restoran ujung jalan dekat rumahmu?”




    Aku meninggalkan tempat itu, menuju pintu utara taman kota.

    “Apa yang kau tunggu?!”

    Laki laki yang kupanggil “Sid” mengangkat kameranya, mengarahkannya padaku lalu menekan tombol di bagian atas kamera itu.

    “Haha. kau tidak berubah”

    Complex Pasta. Nama restoran yang aneh untuk sebuah tempat makan kecil di daerah sepi penduduk. Tapi karena itulah sejak SMA dulu aku sering ke sini untuk makan.

    Macaroni saus pedas manis, sepiring macaroni dengan rasa yang biasa tapi itulah seleraku datang bersama spaghetti tanpa saus.

    “Mengingatkanku saat emm… enam tahun lalu ya?”

    “Sebenarnya tujuh. Sudah selama itu, tapi seleramu tidak berubah. Spaghetti tanpa saus?”

    Aku memakan macaroni yang masih hangat, sambil memandang ke luar jendela. Pemandangan yang selintas tidak berbeda dari tujuh tahun lalu, namun sebenarnya tidak lagi sama.

    Apa karena pembangunan atau karena aku mulai tua? Entah.

    Tahun demi tahun manusia dan dunia terus berubah, karena keduanya berubah dengan kecepatan yang sama.

    Apa mungkin mimpi seseorang bisa dikejar? Bukankah dunia terus berubah dengan arah yang tidak tentu? Apa artinya mimpi seseorang itu benar-benar tidak pasti apakah akan terwujud atau tidak?

    Yang pasti aku masih mengejar mimpiku sejak kecil, seorang yang mengabadikan dunia sebelum dia berubah dalam sebuah kanvas.

    “Kau… fotografer ya?”

    Sid mengangguk. Apa dia tersenyum atau sedih? Dua ekspresi itu bersatu dalam satu wajah yang sama.

    “Hanya freelancer, mencari foto-foto yang bisa dikirim ke majalah atau koran… kadang kalau ada kontes aku ikutan.”

    Seakan ingin menghentikan topik pembicaraan itu, Sid melihat ke luar jendela.

    “Tujuh tahun, ya… Oh ya, bagaimana dengan Eki? Kau masih dengannya kan?”

    “Eki… maksudmu Rekisias? Ah, sejak awal aku dan perempuan itu tidak ada hubungan apa-apa… Bagaimana dengan Jest?”

    Ah, apa yang harus kujawab…

    “Dia… bersama orang yang lebih baik.”

    Tanpa reaksi apapun, Sid seakan sudah menduga jawabanku.

    “Sudah kuduga. Dia membuangmu begitu saja. Kalau gitu aku nggak akan paksa kamu bicarain soal dia.”

    “Ah, nggak… Aku malah rasa nggak tenang kalau aku belum bicara soal dia.”

    Setelah itu, aku menceritakan semua yang terjadi dua tahun lalu. Ketika aku kehilangan kepercayaan sahabat-sahabat, pekerjaan, nama baik dan lainnya. Semua karena Jest. Orang yang ingin aku lihat kejatuhannya, kehilangan segalanya dan merangkak meminta maaf padaku. Setelah dua tahun lalu melamarku, dia memintaku untuk berhenti bekerja. Dia bahkan membuatku dipecat dengan mencaci maki atasanku di hadapannya langsung.

    Setelah itu, dia bagai ditelan bumi. Entah apa yang dia lakukan, tersebar informasi bahwa aku menginginkan anak darinya untuk merebut hartanya, membuatku diusir oleh orang tuaku dan aku dikucilkan oleh sahabat-sahabatku.

    “Kau tahu, kalau kau ingin dia minta maaf, itu tidak mungkin.”

    “Eh?”

    “Kau tidak pernah ada kontak dengannya lagi? Pantas saja kau tidak tahu. Tahun lalu dia dibunuh oleh pacarnya, mungkin dengan melihat beritanya kau akan memaafkannya."

    Aku menggeleng.

    “Syukurlah, tidak akan ada lagi perempuan yang jadi korbannya.”

    Matahari mulai turun, jam di tanganku menunjukkan pukul 3:59.

    “Keberatan kalau ke situ?”

    Sid menunjuk ke arah taman yang tidak terurus, tepat di depan restoran.

    “Terserah lah, janji tetap janji. Aku bakal temani kamu hunting foto.”

    Setelah membayar makanan yang dibeli, Sid menarik tanganku. Menyeretku ke tempat yang ingin dia tuju.

    Ah, sepertinya hal ini pernah terjadi sebelumnya.

    Di taman itu tidak ada ayunan atau perosotan. Hanya beberapa tempat duduk yang ada di tengah taman itu. Namun taman itu tidak kosong. Dua orang sudah ada di tempat itu sebelum kami.
    Untunglah mereka ada di tengah taman itu karena yang Sid tuju adalah di bagian samping taman, di antara pepohonan ada sebuah tempat kosong. Tempat yang sudah lama tidak aku kunjungi.

    “Kau ingat tempat ini?”

    “Memangnya aku se-pelupa apa?! Tentu aku ingat.”

    “Haha.. tentu saja…”

    Selintas, di tempat ini terputar kembali episode-episode bertahun-tahun lalu. Siang hari di musim panas, tidak satupun hewan yang cukup bersemangat untuk bersuara. Di tempat ini, saat itu aku bertemu dengan Sid.

    Saat itu aku yang patah hati karena cintaku ditolak Jest berusaha melarikan diri dari dunia nyata, terbang bersama imajinasi dalam lamunanku.
    Saat itu Sid muncul.

    Dialah yang mengenalkan kanvas dan cat padaku, membuatku terobsesi dengan kedua benda tersebut. Mengoles cat pada kanvas seperti merobohkan tembok imajinasiku dan dunia nyata, membuat nyata apa yang aku lihat hanya dalam lamunan.

    Di tempat itu, Aku dan Sid. Berlari, memanjat, menggambar dan tertawa bersama hingga akhirnya kelelahan dan terkapar begitu saja di tempat itu.

    Bentuk-bentuk awan yang unik masih melekat di mataku, awan-awan putih yang melayang di atas kanvas biru ketika aku dan Sid menatap langit bersama.

    Namun itu tidak selamanya hidup. Suatu saat “Taman Bermain” itu harus berakhir.

    Sekali lagi, aku menyatakan cinta pada Jest. Kali itu dia menerimanya, mengakhiri saat-saat menyenangkan ketika berama Sid.

    Kalau mengingat saat itu, aku menyesal telah mencintai seorang seperti Jest, mengorbankan sesuatu yang lebih penting.

    Ah, akhirnya aku ingat. Saat terakhir aku di tempat ini. Tujuh tahun itu terlalu lama, banyak kenangan penting yang terlupakan.

    Di bawah langit senja, ketika cahaya yang dipantulkan dunia merah namun tidak segelap darah dan tidak seterang jambu air. Dalam pelukannya, aku menerima salam perpisahan. Satu bagian yang seharusnya aku tidak pernah lupakan, rasa spaghetti tanpa bumbu. Entah kenapa aku tidak menolak.

    Benar, tepat seperti itu—

    “Wha—”

    Seseorang menahan suaraku.

    “Sst… jangan bersuara, nanti momennya hilang.”

    Dua orang, sepasang pemuda dan pemudi. Dua orang yang datang lebih awal di taman ini mengulang kembali memori terakhir tujuh tahun lalu. Di bawah langit senja, ketika cahaya yang dipantulkan dunia merah namun tidak segelap darah dan tidak seterang jambu air.

    “Sial… sudutnya nggak pas… pencahayaannya jelek.. ”

    Sid mengarahkan kameranya ke dua orang itu, namun tidak satu gambarpun diambilnya.

    Terlintas di pikiranku, kenapa saat itu aku tidak melepas pelukannya? Kenapa aku menerima ciumannya begitu saja?

    Aku melihat perempuan yang dalam pelukan laki-laki di tengah taman itu. Aku berpikir, apa wajahku seperti dia saat itu?

    “Kurang lebih, tapi lebih merah.”

    “Apa yang—”

    “Sudah aku bilang, kan. Aku bisa membaca jalan pikiranmu.”

    “…”

    “Tapi kau memilih untuk semuanya selesai, jadi aku tidak akan memaksamu untuk kembali atau apapun.”

    “M.. mak..maksudmu ap-apa?”

    “Haha. aku suka wajahmu yang memerah itu. Ya sudah lah, sekarang terlalu sore. Makasih udah nemenin hunting foto, walau nggak dapet satupun.”

    Punggung Sid adalah hal terakhir yang aku lihat darinya hari itu. Tangannya melambai pelan.

    Mungkin daripada “Selamat tinggal”, “Sampai jumpa” adalah arti dari lambaiannya itu.

    Aku kembali ke kamarku. Di atas meja, foto pertama yang Sid ambil aku pajang. Foto kami berdua yang sedang tergeletak lelah.

    “Ah, ada lukisan yang harus aku selesaikan.”

    =-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

    Akhirnya sebuah pameran lukisanku sendiri, setelah bertahun tahun akhirnya aku berhasil membuat galeriku sendiri.

    “Mama, gambarnya cantik… itu siapa?”

    “Itu… mama dan papa. Saat pertama kali saling jatuh cinta… ”

    Sudah enam tahun aku menikah. Semua mimpiku terwujud. Seorang anak yang lucu, galeri pribadi, penghargaan lukisan. Suamiku, aku harap kau tenang di alam sana. Aku akan terus mendoa—

    “Hyah!”

    Seseorang menaruh dagunya di atas kepalaku, membuat aliran darahku dalam sekejap berubah abnormal.

    “Siapa yang sudah mati hah?! Apa ini cara menyambut suamimu yang baru pulang dari Amerika?”

    “Dasar pembaca pikiran.”
     
    Last edited: Nov 6, 2011
  15. Offline

    om3gakais3r Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,638
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,638 / -0
    Waltz of the Wild Cats Short Stories – Time Garden

    Waltz Kucing Liar - Taman Waktu

    Hati manusia terbuat dari sebuah kaca, yang menentukan bagaimana hati seseorang itu adalah apa yang terpantul di atasnya.

    Cinta, sebuah gambar paradox yang terpantul dari kaca itu. Se-elegan tarian waltz, namun sebebas kucing liar.

    Di dalamnya tergambar sebuah gambar jelas, yaitu seseorang yang menjadi objek cinta itu sendiri. Gambar itu jelas, bagi semua orang. Kecuali sang pemilik hati. Mungkin karena mata adalah bagian dari hati itu sendiri.

    Seberapa berhargakah waktu? Mungkinkah seluruh harta di atas dunia bisa membelinya agar waktu bisa berputar balik? Ataukah ada harga lain yang bisa dibayar agar waktu bisa kembali?

    Tuhan menciptakan waktu terus berjalan ke depan. Terus dalam kecepatan yang konstan tanpa berhenti sedetikpun.

    Tapi, apa artinya waktu jika Tuhan menciptakan takdir?

    Kota ini dipenuhi keajaiban. Hanya mereka yang mengalaminya yang percaya bahwa kota ini adalah tempat yang berharga. Sedangkan untuk yang lain, tempat ini hanya kota biasa. Tempat lahir, hidup dan mati.

    Aku percaya bahwa kota ini penuh keajaiban.

    Kau tahu de ja vu? Pandangan bahwa seseorang merasa telah melakukan atau mengalami hal tersebut adalah apa yang disebut de ja vu. Saat aku kecil, aku mengalami de javu yang sangat ekstrim. Hingga pada akhirnya aku menyadari, bahwa semua hal yang akan terjadi telah aku alami sebelumnya.

    Aku menghulang kehidupanku sendiri.

    Dengan mudah aku mendapat nilai A di kelas, mengetahui banyak hal, namun aku simpan hal itu untuk diriku sendiri. Mungkin karena aku tahu, tidak semua orang bisa menerima hal ini dengan mudah.

    Aku tahu semuanya, termasuk seorang yang mendampingiku di masa depan.

    Aku tahu bahwa suatu saat dia akan menjadi istriku, orang yang aku cinta, orang yang dalam sumpahku akan kubahagiakan, orang yang akan kuberi setiap inci dari tubuhku untuk kebahagiaannya.

    Namun itu adalah sesuatu yang membuatku menyesal.

    Suatu saat nanti ketika sudah lama aku menikah dan tinggal di kota lain, semua yang aku miliki akan hilang. Penyebabnya karena bencana dan manusia. Mungkin tidak bisa kubandingkan dengan neraka, tapi mungkin saat itu sangat berat bagi kami. Aku, istriku dan anak tunggal kami.

    Untuk tinggal, hanya sebuah rumah tua yang sudah layak untuk disebut “Gudang Tua” dibanding dengan sebuah rumah. Aku yang bekerja sebagai buruh angkut jarang mendapat uang yang cukup untuk makan sekeluarga. Istriku yang bekerja sebagai buruh cuci juga begitu, mengingat jarangnya orang yang percaya menitipkan barangnya.

    Terkadang dalam satu hari kami hanya makan dedaunan yang aku cari di kebun tetangga. Tapi kalau sang pemilik sedang tidak setuju, aku hanya bisa mencari nasi dan roti sisa untuk dimakan. Di atas meja makan tanpa meja, kami berbagi makanan yang tidak layak untuk dibagi. Makan satu kali sehari pun sudah sangat bersyukur. Terkadang kalau pasar sepi, keluargaku tidak makan sama sekali.

    Lalu, kebahagiaan apa yang bisa kuberikan pada mereka? Sumpah mana yang tidak aku langgar?

    Karena itu, kali ini aku memutuskan untuk menolak takdir itu. Takdir dimana mereka harus berkorban banyak karena bersamaku.

    Aku akan memutar balikkan takdir. Mungkin Tuhan memberiku ingatan ini untuk mencegah masa depan itu terjadi.

    Dimulai di suatu hari awal tahun ajaran pertama di saat SMP. Seharusnya aku dan Tania, orang yang di masa depan adalah istriku tidak saling tahu tentang perasaan masing-masing sampai kelas 3 SMP.

    Aku sengaja berbicara tentang menyukainya pada teman-temannya, cukup keras sehingga dia bisa mendengarku. Kalaupun tidak dengar, teman-temannya akan memberi tahunya.

    Tujuanku adalah mempercepat saat dia mengatakan satu hal padaku

    “Ren, kamu suka sama aku ya?”

    Dalam ingatanku itu aku seharusnya menjawab “ya”, namun untuk mencegah masa depan itu terjadi, aku tidak berkata apa-apa dan pergi menjauh.

    Aku anggak itu hal yang benar.

    Selama sepuluh tahun, kami tidak saling bicara.. Selama itu, aku selalu melihat Tania bersama laki-laki lain yang berbeda-beda. Hal yang mungkin bisa merobek-robek hatiku. Tapi, untuk apa merasa sakit sekarang? Aku menyelamatkannya dari hal terburuk.

    Setidaknya itu anggapanku.

    Di saat yang sama ketika seharusnya aku kehilangan semua hartaku, aku sudah tidak punya apa-apa. Sejak awal, di dunia baru ini aku tidak memiliki harta apapun. Mengorbankan masa depanku untuk orang yang aku cinta. Sepuluh tahun aku menjadi pekerja tingkat bawah agar kesempatanku bertemu dengannya tidak ada lagi.

    Aku jadi ingat, tatapannya setiap kali kami berpapasan. Bagai melihat seorang yang lama hilang, lebih tepatnya seorang musuh.

    Kini dia bersama orang yang lebih baik.

    Sekarang adalah ulang tahunnya yag ke tiga puluh. Tadinya aku akan membiarkan undangan yang dikirim empat hari sebelumnya, namun satu panggilan telepon memaksaku untuk datang ke tempat Tania berada. Bukan di restoran atau hotel, melainkan Rumah Sakit.

    “Saat terbangun, Tania mencarimu. Saat ini kondisinya sangat buruk. Aku harap kamu datang sekarang.”

    Tentu suara itu tidak asing. Seorang bos dari perusahaan tempat aku bekerja sekarang sebagai petugas keamanan.

    Gio, dia orang yang sangat aku percaya. Seorang yang baik, santun, seorang dengan mental kuat, kaya, dan mencintai Tania sepenuh hati.

    Aku sampai di Rumah sakit yang disebutkan dalam pesan singkat Gio kirim padaku.

    Banyak orang yang aku kenal dan banyak juga yang aku tidak kenal duduk di depan sebuah ruang perawatan intensif di Rumah Sakit itu.

    “Tania dan anaknaya kecelakaan. Dua-duanya dalam keadaan buruk. Waktu bangun…”

    Laki-laki tua yang menyambut kedatanganku itu menghentikan kata-katanya karena Gio datang dan menepuk punggungnya.

    “Dia memanggil namamu, menanyakan kau dimana… sebaiknya kau temui dia sekarang.”

    Aku hanya bisa mengerutkan dahiku, antara khawatir dan bingung. Kenapa Tania menginginkan bertemu denganku?

    “Tapi… aku…”

    “Sudahlah, temui saja dia. Mungkin dengan melihat wajahmu, Tania akan sembuh lebih cepat.”

    Lelaki tua yang menyambutku itu mendorongku ke ruang perawatan itu.
    “Benar apa yang dikatakan Bapak. Setidaknya temui dia.”

    Gio ikut mendorongku ke ruangan itu. Pada akhirnya aku menyerah dan berjana sendiri masuk ke dalam ruangan itu.

    Di tempat itu, dua orang terbaring. Tania dan seorang anak. Anak yang memiliki wajah identik dengan anak yang aku miliki ketika aku menikahi Tania di dunia yang satu lagi. Seorang anak laki-laki dengan wajah yang sangat mirip dengan Tania.

    Mereka terlihat tidur.

    Peralatan medis yang tidak aku mengerti untuk apa tersebar di sana sini.

    Di ruangan ini aku sendiri. Dua orang lain yang tidak sadarkan diri tidak masuk hitungan.

    Beberapa menit berlalu. Awalnya hanya sedikit gerakan tangan yang aku dapati dari tubuh Tania. Namun lama kelamaan, matanya terbuka.

    “Kau… datang.”

    Dengan kata-kata itu, Tania mencabut semua peralatan medis yang menempel di tubuhnya lalu berdiri seakan dia tidak sakit sejak awal.

    “Apa maksudnya ini? Aku kira kau…”

    Tania menunjuk ke arah langit-langit… tidak, tapi langit. Di atas terbentang warna biru yang luas. Sebuah pemandangan yang terkadang aku biang “Langit”.

    Untuk beberapa saat, aku tidak sadar bahwa dinding-dinding di sekitarku menghilang, digantikan dengan padang rumput luas tanpa ujung. Hanya ruangan itu yang tidak berubah, satu daerah segi empat berlantai keramik dengan peralatan medis di atasnya.

    “Sudah aku duga, kau menahan dirimu.”

    “…”

    “Kau tahu, awalnya aku kira ingatan bahwa aku sebagai Tania Frost, Istrimu hanya sebuah mimpi.”

    “?!”

    “Sekarang aku mengerti kenapa semua berjalan kebalikan dengan ingatan itu.”

    Tania mendekatiku dan memegang erat kerahku dengan kuat.

    “Kau membalikkan mimpi indah itu!”

    Mimpi indah?

    “MIMPI INDAH?”

    Aku memegang tangan Tania dan melepaskan tangannya dari kerahku.

    “Semua itu kau bilang INDAH?!”

    Aku membentak di mukanya.

    “Kau tidak mengerti apapun, Ren!”

    Membalas bentakanku, Tania mengangkat tangannya lalu menampar pipi kananku. Rasanya sakit, seperti jarum yang menusuk ke dalam kulitku, langsung ke dalam hati.

    “Apa kau tidak puas dengan aku, kau dan Ernest bersama?”

    “Tentu aku puas, itu adalah kebahagiaanku sendiri, tapi bagaimana denganmu?! Kau selalu berusaha tersenyum di saat-saat berat itu. Menangis di belakangku, apa itu yang kau sebut kebahagiaanmu?”

    “Iya, itu benar! Tapi apa kau tahu apa yang aku tangisi? Itu semua untukmu!”

    “Ya! Itu semua karenaku. Karena itu aku menolak segalanya. Aku tidak mau melihatmu bersedih karena aku tidak bisa membawa kebahagiaan padamu!”

    “Bukan itu! Aku tidak pernah menangis karena kau kehilangan segalanya. Aku juga tidak menangis karena aku tidak puas dengan usahamu untuk membahagiakanku! Aku puas dengan semua itu, Ren. Aku menangis karena kau berusaha terlalu keras, menyalahkan dirimu atas segalanya. Kau tidak ada waktu untuk bersedih, karena itu aku menangis! Aku menangis untukmu, Ren! Bukan karena kau!”

    “OK, baik. Kau bilang itu kebahagiaan, tapi bagaimana dengan Ernest? Kalian hanya makan makanan busuk sehari-hari. Dibandingkan dengan saat kalian bersama Gio, apa kalian tidak merasa bahwa kebahagiaan itu sangat jauh?”

    “Aku masih mengatakan makanan busuk itu sebagai kebahagiaanku, Ayah.”

    Suara berbeda, bukan dari mulut Tania, tapi dari seorang anak kecil yang duduk di atas tempat tidur. Melepas semua kabel-kabel dan selang-selang di tubuhnya. Seorang anak yang seharusnya aku panggil “Ernest”

    “Ayah tahu, rasa makanan itu memang seperti sampah, namun dibanding dengan makanan mewah yang aku makan di keluarga Gio, rasa sampah itu lebih aku pilih.”

    “Kau dengar itu, Ren?”

    Aku terdiam. Apa maksudnya itu benar?

    “Ayah, Ibu, bersama di meja makan berbentuk tikar, berbagi makanan yang seharusnya tidak untuk dibagi. Itu yang sebelumnya kita punya, ayah. Di keluarga ini, bahkan aku tidak bisa melihat wajah Ibu ketika makan, berbicara saat makan bagaikan tabu. Tidak ada lagi canda tawa ketika berbagi makanan di malam hari.”

    “Ren, di dunia itu kita memiliki kebahagiaan, bukan kesenangan.”

    “Sekarang Ayah pilih, antara dunia ini dimana ayah merasa puas dengan melihat ilusi kebahagiaan aku dan ibu…”

    “Atau merasakan sendiri, kebahagiaan yang jelas di dunia yang lain.”

    Apa maksud mereka? apa maksud semua ini? Apa aku hanya berhalusinasi? Atau aku mulai gila?

    Padang rumput itu mulai rubuh. Dari kejauhan, tanah bagaikan longsor. Semakin dekat dan semakin dekat, membuat yang ditinggalkannya adalah kegelapan dan kekosongan yang sempurna. Menyisakan satu kotak keramik.

    “Sekarang kau pilih, Ren. Dunia dimana kau melihat kami bangun tapi kehilangan kami berdua selamanya, atau dunia yang satu lagi.”

    Apa aku sudah jujur dengan hatiku? Tentu mereka bahagia adalah tujuanku. Jawaban yang sudah aku tahu sejak awal, tapi aku tidak sanggup mengatakannya. Aku harus mengambil sesuatu yang terburuk, karena kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku juga. Ketika aku tidak bahagia, namun ketika mereka bahagia sama saja aku sudah bahagia.

    Akhirnya ruangan itu hancur, rubuh ke dalam kegelapan di bawah. Membawaku jatuh dan semua yang ada di atasnya.

    Setidaknya, aku sudah memiliki jawabanku.

    -=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

    Atap rumah sakit, lebih tepatnya ruang perawatan adalah pemandangan yang pertama kali aku lihat.

    “Kau sadarkan diri?”

    Seorangpria dengan satu kantong plastik apel di tangannya duduk di sampingku.

    “Kau pingsan karena kekurangan nutrisi. Mengagetkan aku saja.”

    “Gio? Kau…”

    “Haha. aku cuma sebentar saja, Renald. Istri dan anakku sudah sadarkan diri jadi aku harus kembali secepatnya.”

    Ah, aku ingat. Saat itu aku memang tidak makan sejak pagi.

    “Modal dan ide proyek yang kau tawarkan, walau kecil sukses besar. Akan aku kirim bagianmu sepcepatnya. Oh, tapi aku potong ya buat biaya perawatan. Tenang saja kok, sisanya masih cukup banyak”

    Gio membuka pintu dan akhirnya keluar dari ruangan ini.

    “Ya, setidaknya aku tidak mati kelaparan bersama Tania dan Ernest di dunia yang satunya lagi.”

    “Sayangnya kita semua tidak mati di ‘dunia yang satunya lagi’ itu.”

    Suara di balik tirai. Suara yang jelas aku kenal, sangat aku kenal.

    “Jangan bunuh kami gitu aja dong!”

    Aku yang masih lemas berusaha duduk dan membuka tirai di samping kananku.

    Di sebelahku, Tania yang tergeletak di tempat tidur dengan infusan di tangan kirinya membuka mata setengah bangun.

    “Eh?”

    “Aku bersyukur kamu pilih dunia ini, sayang.”

    Senyumnya yang cantik mengarah padaku, walau dengan lemas.

    “Ah, aku merasa aku sudah berumur dua puluh tahun lebih.”

    Suara seorang anak laki-laki dari tempat tidur di sebelah Tania. Tirainya sudah terbuka. Ernest tertidur di tempat itu.

    “Kita beruntung, saat kita semua pingsan karena kurang makanan, Gio datang ke rumah untuk mengirim berita soal proyek Ayah.”

    Jadi… itu yang terjadi. Aku kira saat itu kita semua mati kelaparan.

    Entah bagaimana aku harus mengakhiri cerita ini.

    Pada akhirnya setelah boleh keluar dari rumah sakit, aku menggunakan uang yang diberi Gio untuk membuka toko sayur dan hidup seadanya. Namun yang terpenting, saat saat itu ketika kami bersama berkumpul, bercanda dan tertawa. Saling berbagi makanan yang sekarang memang layak untuk dibagi.

    Seberapa berhargakah waktu? Mungkinkah seluruh harta di atas dunia bisa membelinya agar waktu bisa berputar balik? Ataukah ada harga lain yang bisa dibayar agar waktu bisa kembali?

    Tuhan menciptakan waktu terus berjalan ke depan. Terus dalam kecepatan yang konstan tanpa berhenti sedetikpun.

    Setiap hari, jam, menit, detik adalah suatu anugrah. Seberat apapun yang dihadapi, namun ketika bersama mereka yang saling dicintai dan mencintai semua hal yang terjadi adalah kebahagiaan.
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.