1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Halo IDWS Mania, forum Indowebster ada Super Moderator baru lho di lihat di sini
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Kekejaman Prosedural Pemilu

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by blacksheep, Apr 11, 2009.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    blacksheep Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Nov 23, 2008
    Messages:
    4,600
    Trophy Points:
    212
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +24,943 / -0
    [​IMG]


    Hiperkejahatan nampak terlihat dalam pemilu kali ini. Sebuah kejahatan sempurna yang terlindungi oleh sistem hukum. Watak jahat yang teroperasionalisasi melalui aktivitas yang legal.

    Misalnya saja, pembunuhan orang melalui penghilangan hak pilih. Antusiaisme warga yang hendak mencoblos perlu diapresiasi. Cuman lantaran secarik kertas yang disebut DPT itu, banyak warga kehilangan suaranya.

    Sejarah negara yang terimplementasi sebagai ”Roh Absolute” pada dirinya dan bagi dirinya, ungkap Hegel menempatkan negara yang sadar akan posisi dan eksistensinya. Bagaimana bisa menjadi negara yang bermartabat jika ”ora nguwongke wong”. Tidak menghargai rakyatnya, menghormati haknya, dan melindungi suaranya.

    Harus ada tujuan yang hakiki, bukan proseduralistik. Benar jika Democracy and Civil Society in The Third World Politics & New Political Movement buku yang ditulis oleh Jeff Hayness, mendudukkan bahwa demokrasi pada akhirnya lebih bersifat proseduralistik ketimbang suntansional di negara berkembang.

    Hal inilah yang kemudian diberlakukan oleh supratruktur penyelenggara teknis pemilu lebih mementingkan DPT yang sama sekali tidak valid itu ketimbang mengakomodir pemilih murni yang tidak terdaftar tetapi memiliki niat sungguh-sungguh untuk mencoblos. Tata administrasi itu lebih unggul dari pada ”hak” warga sebagai orang asli Indonesia.

    Hak itu tak sederhana, tetapi serangkaian institusi yang terkait. Ia masuk dalam tatanan tubuh, pikiran, jiwa dan roh. Distingsi keseimbangan hak dan kewajiban ini bukannya sudah dikupas tuntas oleh Hegel. Hak itu bukan sesuatu yang nampak dalam diri manusia, tetapi ia masuk kedalam benak hingga ke alam bawah sadar (unconscience mind) manusia.

    Hak itu mencerminkan impian, harapan, kebutuhan, keinginan, cita, dan insititusi transenden manusia. Sehingga, hak adalah kekuatan yang tidak bisa dipisahkan dengan manusianya. Jika ia tidak lagi diberi hak, maka tak ubahnya sebagai mahluk diluar manusia (hewan atau tumbuh-tumbuhan) yang tak bisa menuntut apapun akan dirinya pada pihak lain.


    Sekarang kita melihat betapa kejamnya sistem proseduralistik itu. Ia melarang orang bermimpi. Ia menghina manusia bukan pada kodratnya. Ia memanipulasi legitimasi moral yang diberikan dari rakyat untuk menghancurkan hati rakyat sendiri.

    Berbeda dengan golput ideologis seperti kita (maksud saya, ”aku” tanpa melibatkan siapapun). Golput yang lahir dari proses pe-matian manusia oleh lembaga penyelenggara pemilu sebuah kejadian yang tragis. Saya ingin menyampaikan kepada mereka, ”apa yang kamu harapkan dari politisi busuk macam produk pemilu yang seperti ini”.

    ”Mereka akan menyakitimu, seperti anggota dewan yang lalu, menyakiti hati rakyat ketika harga BBM naik, menyengsarakan rakyat, ramai-ramai mengajukan hak angket dan interpelasi yang mandul”

    ”kasus korupsi dan skandal seks politisi yang biadabnya melampaui zaman jahiliyah” ungkapku dalam hati.

    Tapi saya tidak tega, mereka terlalu polos untuk itu. Mereka hanya berniat baik, berharap politisi yang dulu bisa berubah dan pemilu yang baru benar-benar membawa perubahan yang lebih baik.

    Tapi inikah perlakuan negara terhadap mereka. Dasar kejam. Jahat.inilah State Terrorism
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.




    Promotional Content
  3. Offline

    chipmunk Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 23, 2009
    Messages:
    815
    Trophy Points:
    107
    Ratings:
    +302 / -1
    aq g atu politik :???: yg pasti ko politisi busuk gbakal aw pilih
     
  4. Online

    mr_ark Superstar Super Moderator

    Joined:
    Jan 14, 2009
    Messages:
    21,718
    Trophy Points:
    237
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +64,696 / -9
    Yah, begitulah birokrasi di Indonesia:
    1) berbelit-belit,
    2) pilih kasih alias lebih memihak Wong Licik ketimbang Wong Cilik,
    3) segalanya bisa dibeli dengan uang.

    Saatnya rakyat berkuasa! :haha:
    Jadi inget Revolusi Prancis. Bisa jadi terjadi di Indonesia.
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.