1. Sssst, ada Administrator baru di forum Indowebster lho... cek di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Kasih Sayang yang Tulus

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by karin, Sep 4, 2009.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    karin Beginner Members

    Joined:
    Sep 2, 2009
    Messages:
    201
    Trophy Points:
    26
    Ratings:
    +136 / -0
    Ada sebuah cerita yang semoga menyadarkan kita bahwa, hal kecil yang penuh dengan kasih sayang begitu berharga dalam perjalanan hidup ini,,

    “Aku dilahirkan di debuah dusun pegunungan yg sangat terpencil. Hari demi hari, orangtuaku membajak tanah kering kuning dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai adik yang tiga tahun lebih muda dariku. yang menyayangiku lebih daripada aku menyayanginya.

    Suatu ketika, untuk membeli sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, maka aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat aku dan adikku berlutu didepan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

    “Siapa yang mencuri uang itu?” beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut tuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau mengatakan, “ Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

    Dia mengangkat tongkat bambu tinggi-tinggi. Tiba-tiba adikku mencengkram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yg melakukannya!”

    Tongkat panjang itu bertubi-tubi menghantam punggung adikku. Ayah begitu marah sehingga ia terus menerus menyambukinya sampai beliau kehabisan napas. Sesudahnya, beliau duduk diatas ranjang batu bata kami dan memarahi, “kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apalagi yg akan kamu lakukan dimasa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati, kamu pencuri tidak tahu malu!”

    Malam itu aku dan ibuku memeluk adikku dalam pelukan kami, tubuhnya penuh luka, tapi ia tdak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata “Kak jangan menangis lagi sekarang, semuanya telah terjadi.”

    Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin terjadi. Aku bahkan takkan pernah lupa tampang adikku ketika melindungiku. Waktu itu adikku berusia 8 tahun aku 11 tahun.

    Ketika adikku berada pada tahun terakhir di SMP, ia lulus untuk masuk SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas provinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik, hasil yang begitu baik” Ibu mengusap air matanya yg mengalir dan menghela napas “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

    Saat itu juga. Adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,telah cukup membaca banyak buku.”
    Ayah mengayunkan tangannya dan memukul wajah adikku “mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu lemahnya? Bahkan jika berarti saya harus mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai.”

    Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke wajah adikku yg membengkak seraya berkata “Seorang anak laki-laki harus melanjutkan sekolahnya. Kalau tidak, ia takkan bisa meninggalkan jurang kemisknan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke unversitas.

    Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku mennggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yg sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan mennggalkan secarik kertas keatas bantalku: “Kak masuk ke unversitas tidaklah mudah saya akan mencari kerja dan mengrimmu uang.”

    Aku memegang kertas itu diatas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

    Dengan uang yg ayahku pinjam dari seluruh dusun dan uang yg adikku haslikan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai pada tahun ketiga. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “ada seorang penduduk dusun menunggumu diluar sana!.”

    Mengapa ada penduduk dusun yg mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor, penuh debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”

    Dia menjawab tersenyum “lihat bagaimana penampilanku. Apa yang mereka pikir jika mereka tahu kalau saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

    Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi pipiku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tdak perduli omongan siapapun! Kamu adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimanapun penampilanmu…”

    Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya padaku, dan menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu harus memilikinya satu.”

    Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku dalam pelukanku menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

    Kali pertama aku membawa pacarku kerumah, kaca jendela yang pecah telah diganti dan tampak bersih dimana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil dihadapan ibukku, “Bu, ibu tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” tetapi katanya, “itu adalah adikmu yang pulang lebih awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.”

    Aku masuk kedalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yg kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.

    “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

    Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali aku dan suamiku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
    Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah disini.”

    Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

    Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yg begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya.”

    Dengan tampang yg serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar—dia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita apa yang akan dikirimkan?”

    Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yg sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

    “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, adikku berusia 26 dan aku 29.

    Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yg paling kamu hormati dan kasihi?” Bahkan tanpa berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

    Ia melanjutkan dengan menceritakan sebuah kisah yang bahkan aku sendiri tidak dapat mengingatnya, “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak saat itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

    Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya padaku

    Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar dari bibirku, “Dalam hidupku orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang berbahagia ini, didepan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku.”
    ( I cried for my brother sixtimes-swaramer)


    kasih sayang bukan seberapa besar yang kita berikan, tapi seberapa besar rasa TULUS menyelimutinya, mari kita belajar untuk menyayangi dari sisi yang terlupakan, sudut paling kecil, dan orang yang paliing dekat,,
     
    • Like Like x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    JiLL_DyiNgDreSS Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Aug 24, 2009
    Messages:
    257
    Trophy Points:
    56
    Ratings:
    +2 / -0
    :onion-72::onion-72::onion-72::onion-72::onion-72::onion-72::onion-72:

    gokil,nyentuh bgt bro ... pngen nangis gw baca ny :top:
     
  4. Offline

    trizno Lurking Around Founders

    Joined:
    Jun 4, 2007
    Messages:
    1,263
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +10,735 / -0
    great story... kasih sayang yg tulus
     
  5. Offline

    Lord_scum Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 21, 2009
    Messages:
    896
    Trophy Points:
    141
    Ratings:
    +1,533 / -0
    ...

    lowbat:onion-30:
     
  6. Offline

    catHerine Silent Reader Veteran

    Joined:
    Jul 4, 2009
    Messages:
    199
    Trophy Points:
    96
    Ratings:
    +14 / -0
    hmmm suer baru kali ini baca cerita kayak gini n jujur gw terharu banget :onion-72: cerita yang mengharukan banget n banyak yang bisa di ambil hikmahnya :top:
     
  7. Offline

    Kyo_MayC Silent Reader Members

    Joined:
    Apr 21, 2009
    Messages:
    35
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +7 / -0
    masih ada gak ya kasih sayang yang sedemikian tulusnya seperti itu zaman sekarang???
    saat setelah orang memberikan kasih sayangnya ke orang lain meskipun mungkin orang itu menyakiti hatinya, dy tetap menyayangi orang itu....

    hwaaa..... jadi sedih...
     
  8. Offline

    bee_can Lurking Around Veteran

    Joined:
    Dec 8, 2008
    Messages:
    1,952
    Trophy Points:
    251
    Ratings:
    +7,489 / -0
    jadi teringat sama adik aku yang walaupun kadang kita bertengkar tapi saling menyayangi... teringat juga pesan orang tua kalau saudara harus saling membantu dan mendukung...
     
  9. Offline

    karin Beginner Members

    Joined:
    Sep 2, 2009
    Messages:
    201
    Trophy Points:
    26
    Ratings:
    +136 / -0
    wktu pertama kali baca crita ini juga g terharu bgt, makany g post disini, biar kita smua bisa blj dr crita ini juga.. :onion-03:
     
  10. Offline

    ArCotH Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Apr 13, 2009
    Messages:
    1,169
    Trophy Points:
    161
    Ratings:
    +1,063 / -0
    ini bukan di indonesia ya?
    soalnya makan make sumpit..

    tpi pas bgt,
    adik sya juga beda 3 th..
    cuman ya gitu..
    klo anak cowo berantemnya main pukul..
    ck..ck..
     
  11. Offline

    eymperia1 Silent Reader Members

    Joined:
    May 6, 2009
    Messages:
    135
    Trophy Points:
    36
    Ratings:
    +298 / -0
    hiks...nice story
    jadi terharu bacanya, kasih sayang tanpa syarat
     
  12. Offline

    doni_xcool Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 8, 2009
    Messages:
    571
    Trophy Points:
    56
    Ratings:
    +14 / -0
    walopun dah pernah baca.. tetap terharu.. memang tuh kakanya :onion-72:
     
  13. Offline

    namie04 Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 20, 2009
    Messages:
    1,127
    Trophy Points:
    146
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1,316 / -0
    dah pernah baca ini dgn judul yg berbeda
    tapi emang mengharukan sih....
    seandianya punya ade kaya gitu, yg namanya hutang budi ga bakal terbalas dgn uang beratus2 trilyun juga
     
  14. Offline

    oraDonk Senpai Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 21, 2009
    Messages:
    5,832
    Trophy Points:
    242
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +53,025 / -0
    :onion-38: :onion-38: huaaa...

    kasih sayang yang tidak ada habisnya....
     
  15. Offline

    darkx13 Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Apr 27, 2009
    Messages:
    784
    Trophy Points:
    191
    Ratings:
    +15,253 / -0
    gila mengharukan bgt.... :onion-15:

    cb gw pny saudara kyk gitu....:onion-92:

    gw aja mah ade gw ribut mulu.. :onfire:
     
  16. Offline

    uzumakinovandi Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 27, 2009
    Messages:
    396
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +328 / -0
    another love story... huh... bagus sih lumayan, tapi capek bacanya...
     
  17. Offline

    CottonBud Senpai Veteran

    Joined:
    Feb 10, 2008
    Messages:
    5,589
    Trophy Points:
    267
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +29,539 / -0
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.