1. Sssst, ada Administrator baru di forum Indowebster lho... cek di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Cerpen Hujan Sore Hari

Discussion in 'Fiction' started by muchitsuru, Oct 17, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    muchitsuru Beginner Members

    Joined:
    Sep 8, 2009
    Messages:
    255
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +17 / -0
    Yap, setelah sekian lama gak posting cerpen,:boong:
    akhirnya posting lagi cerpen kedua :hot: :peace:.

    Sekadar info, ini cerpen yang saya pakai sebagai salah satu tugas akhir salah satu mata kuliah.
    Selamat menikmati.:listen:
    Sayang, coba dengarkan ini. Dengarlah. Gemerisik dedaunan dan reranting pepohonan yang kedinginan tertiup angin, dan gemuruh langit, menciptakan ritme elegi di sore yang kelam ini. Indah bukan? Kulihat mendung masih memayungi kota tempat kita bersua, Sayang. Padahal sebentar lagi malam. Dan aku merasa kalau pertemuan kita begitu singkat. Aku tidak ingin pulang.

    Kau hanya menatapku. Wajahmu beku.

    Aih! Dingin benar angin sore ini! Rasanya kulit bagai ditusuki ribuan jarum es, hingga ke tulang. Kau bagaimana?

    Diam.

    Aku pinjam jaketmu ya?

    Diam.

    Terimakasih. Kau memang baik, Sayang. Aku masih ingat bagaimana kau benar-benar perhatian padaku setiap saat. Apapun yang aku mau, kau selalu tahu. Sampai terheran aku. Seolah kau adalah aku.

    Hmmph..., hangatnya. Saat seperti ini, memang lebih nyaman kalau kita saling berpelukan. Jadi, maukah kau memeluk tubuh yang ingin kehangatan ini? Terimakasih. Aku makin cinta padamu, Sayang.

    Kau memelukku erat. Tapi kenapa kau terasa begitu....

    Kau membelai lembut rambutku. Menembangkan lagu yang tak kukenali. Membisikkan kata yang tak kupahami. Anehnya aku menikmati apa yang terucap dari bibirmu. Aku menikmatinya..., hingga kau terdiam lagi. Dan pandangan kita bersentuhan. Wajahmu masih beku. Mengapa kau terasa begitu jauh?

    Sayang, ingat tidak, kita sudah berpelukan seperti ini berapa kali? Satu, sepuluh, seratus, seribu..., ah... aku tidak ingat berapa banyak kita saling berpeluk. Kau ingat? Tidak? Kau sama saja denganku. Hmmph... mungkin sudah sembilan ratus kali. Bukan? Delapan ratus sembilan puluh sembilan kali? Bagus. Menurutku memang demikian. Ah..., kau bisa saja.


    Aku mencubit lenganmu. Tapi kau diam saja. Kenapa?

    Sayang, kau masih ingat? Kau memberikan hadiah seuntai kalung padaku sebelas hari kemarin, pada hari ulang tahunku. Ini. Ini, kalung darimu sekarang begitu indah di leherku. Aku senang sekali, Sayang. Bandulnya tidak begitu besar. Lebih kecil dari sebutir kenari. Bentuknya jantung hati terpanah, terbuat dari tembaga. Bukan emas. Bukan seperti yang kumau. Bagiku seperti imitasi. Saat itu aku kecewa. Bagiku, ini merupakan simbol sesungguhnya perasaanmu padaku selama ini.

    Kurasakan ada garis hangat di pipiku, tepat di bawah mataku.

    Kau tak mengerti mengapa aku menangis. Kau mencoba tanya padaku. Tapi yang kau dapat hanya sedu sedan yang kian menyayat. Lalu kau diam. Tak lama kemudian aku juga diam. Kita sama-sama diam. Diam dalam diam. Hingga kau mencoba tanya kembali padaku. Kau mencoba memberi pengertian padaku. Aku tak mendengarnya. Kau tahu, sebabnya adalah aku terlalu sedih atas dirimu. Aku tak tahu apa yang kau katakan saat itu. Dan aku tak mau tahu. Aku tak mau dengar. Aku malah menampar wajahmu. Kau sakit… tanganku sakit… hatiku sakit… kita sama-sama terluka.

    Aku menangis. Kau mendekap menenangkan. Hatiku makin pedih.

    Sebenarnya aku sedih bukan karena itu. Aku sedih karena… aku pernah melihatmu memeluk perempuan lain. Kau memeluk dia dengan sangat hangat dan mesranya, seolah kalian adalah sepasang kekasih yang terpisah sangat lama, dan saat bertemu adalah saat membalas rindu dendam menyesak di dada. Tapi kau lupa kalau aku masih ada. Aku, kekasihmu yang sesungguhnya!

    Dan saat itu pula, di bangku tua ini, kita berpisah. Kau tak pernah melihatku lagi. Begitu juga aku yang tak pernah melihatmu kembali. Hingga empat hari sesudah hari kelam itu, kau mengirimikan kabar yang tak kuinginkan. Hatiku hancur!

    Akh…, sesak sekali dada ini. Kucoba untuk bertahan, menghela napas yang terasa sulit untuk kulegakan. Namun yang kudapat adalah aku yang tersedu sedan. Kurasa aku tak akan bisa bertahan. Kabut kebencian dan keputusasaan membuatku tak bisa lagi menatapmu dengan kasih. Langit makin kelam. Gemuruhnya makin memekak telinga. Gemuruhnya menggema di dada.

    Kau lihat? Lihat! Lihat air mata yang mengalir deras ini. Ini karena kau. Kau! Kaulah penyebabnya!

    Aku berdiri dari bangku ini. Menunjuk wajahmu dengan tajam. Aku menusuk matamu dengan mataku. Kau tak bergeming. Sinis kutatap wajahmu.

    Apa maumu?

    Beberapa waktu kita berperang. Bergantian kita saling melancarkan kekuatan. Adu mata antara kita terjadi. Tak ada yang bicara. Melalui mata, kita saling bicara, dan saling berperang, dan saling terluka, dan saling bertahan. Aku tak tahan menusuk matamu itu. Yang ada malah pedang matamu berganti menusuk hingga jantung dan hati ini. Aku terpelanting. Aku jatuh. Aku tak mau kalah darimu. Sakit sekali rasanya. Baiklah, kalau itu yang kau inginkan.


    Katakan padaku, mengapa kau berbuat demikian? Katakan!

    Kau diam.

    Katakan!

    Diam.

    Diam? Brengsek!! Katakan atau kau akan kubunuh!! Masih tidak mau bicara? Baik! Ambil ini!

    Kurenggut kalung ini dari leherku. Kucampakkan tepat di wajahmu. Tak perlu menunggu lama, kutampar wajah mulusmu. Kujambak rambut indahmu. Kulumat habis bibir tipismu. Belum puas. Dengan buas kurobek-robek pakaian pembungkus dirimu. Kusetubuhi. Tandas. Tandas. Kuinjak-injak. Kubanting, remuk redam. Dan akhirnya….

    Tanganku yang gemetar ini mengakhiri dirimu. Kau kurobek. Kupotong. Kucincang segala yang jadi bagian darimu. Hingga jadi serpihan yang tak bisa kukenali lagi.


    Aku…, menangis. Menangis? Gunting yang di tanganku ini, menjadi saksi betapa aku telah mengakhirimu, jatuh berdentang. Tak bisa kupercaya. Aku melakukannya. Aku memenangkan pertarungan ini. Aku menang darimu. Aku.... aku....

    Aku lelah. Benar-benar lelah.


    Hujan makin lebat. Membasahi sekujur tubuhku. Butiran airnya, dengan lembut jatuh dari rambut yang terurai ini, meresap pada pakaianku yang makin berat dan basah, dan akhirnya menetesi tubuhmu yang telah hancur. Kulihat, ada beberapa serpihan tubuhmu yang terbawa aliran air, membentuk sungai kecil. Oh..., indahnya.

    Beberapa saat aku takjub dibuatnya. Lalu aku sadar, hari telah malam. Kupungut gunting yang masih dilekati serpihan tubuhmu itu, lalu kukantongi kembali. Terasa tanganku menyentuh sesuatu. Oh, aku teringat sesuatu. Aku masih membawa surat dan selembar kartu darimu. Kumain-mainkan sebentar sebelum akhirnya kucampakkan, dan terserak di antara sisa-sisa tubuhmu.

    Maaf. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Aku tidak mau datang ke tempatmu. Sudah cukup bagiku untuk membunuhmu dari hatiku. Jangan kau hancurkan aku lagi. Selamat tinggal, Sayang. Semua sudah selesai. Semua telah usai.

    ***********************​

    Perlahan ia berbalik. Meninggalkan segala kenangannya di bangku tua taman kota itu. Langit masih menggemuruh. Angin masih bertiup kencang. Dan hujan masih mengguyur tubuhnya yang makin kedinginan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia rasakan hangat kelegaan luar biasa. Dan baru kali ini ia bisa tersenyum renyah setelah 11 hari yang kelam.

    Saat orang-orang kota itu mengeluh tentang hujan yang belum reda, ia rasakan semua menjadi cerah. Tanpa ia sadari, tubuhnya mulai menari gemulai perlahan, dan ia menembang dalam tirai hujan.

    Di lain tempat, ribuan mil jauhnya, dari salah satu rumah, tampak seseorang sedang menyingkap tirai sebuah jendela, memandang langit yang juga sama kelamnya. Mendung belum reda pikirnya. Tiba-tiba sebuah tepukan membuyarkan kenangan pahitnya. Ternyata itu istrinya.


    Buat yang suka fantasi, maaf, tidak ada unsur tersebut di cerpen ini.
    Murni fiksi surealis.
    Hihihihihihihihi..........

    :hahai::hahai::hahai:
     
    • Thanks Thanks x 2
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    om3gakais3r Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,638
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,638 / -0
    ceritanya padat... bentuk konflikmya bikin saya nge-fans dengan tulisan anda.. :top:
    surealistik anda indah sekali.. :top:
    tidak ada komentar, terlalu perfect.. :maaf:

    mengingatkan saya pada gaya bahasa teman lama saya.. :sepi:
     
    • Thanks Thanks x 1
  4. Offline

    Giande Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 20, 2009
    Messages:
    978
    Trophy Points:
    106
    Ratings:
    +1,224 / -0
    :iii:

    IMO

    apa bahasa e terlalu sastra / puitis ya

    gw jadi tidak bisa menikmati ceritanya....

    :maaf:

    over metafora
     
    Last edited: Oct 19, 2011
    • Thanks Thanks x 1
  5. Offline

    om3gakais3r Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,638
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,638 / -0
    yup.. ceritanya berat untuk fiction ringan.. :haha:
    kayaknya perlu buka SF sastra juga ni di IDWS.. :keringat:
     
    • Thanks Thanks x 1
  6. Offline

    murasaki Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    May 17, 2009
    Messages:
    2,140
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +12,586 / -0
    Ceritanya agak berat ya... Tapi gaya bahasanya cantik :peace:
    Saya jadi kesulitan buat memahami
    Buat paragraf terakhir itu masih tentang tokoh yang sama? :???:
     
    • Thanks Thanks x 1
  7. Offline

    muchitsuru Beginner Members

    Joined:
    Sep 8, 2009
    Messages:
    255
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +17 / -0
    all:


    Awwww.....
    komentar kalian buat saya melambung nyampe
    nyangkut di atap :P :P

    murasaki:
    (sekadar menjelaskan tokoh ya, bukan mengutak-atik cerita lagi. hehehehe....)
    kalo tokoh yang terakhir itu dah lain lagi tokohnya.
    tokoh terakhir ini sebenarnya saya maksudkan sebagai mantan kekasih tokoh utama.
    (^_^)
     
    • Thanks Thanks x 1
  8. Offline

    Alohamora Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Dec 1, 2010
    Messages:
    1,305
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +358 / -0
    Komen:

    Sayang, kau masih ingat? Kau memberikan hadiah seuntai kalung padaku sebelas hari kemarin, pada hari ulang tahunku. -> agak aneh... mungkin 11 hari yang lalu lebih enak dibacanya

    Aku menusuk matamu dengan mataku. -> kalo ditusuk pake tangan sakit dong :hoho: just kidding

    Aku tak tahan menusuk matamu itu. Yang ada malah pedang matamu berganti menusuk hingga jantung dan hati ini. -> ini juga agak aneh IMO. sorot mata mungkin... Kalo disambung sama kata yang diatas ini jadi tusuk-tusukan mata pake pedang dong :hoho:

    :hmm: banyak pake pengandaian... entah kenapa jadi kurang menikmati jalan ceritanya...
     
    • Thanks Thanks x 1
  9. Offline

    muchitsuru Beginner Members

    Joined:
    Sep 8, 2009
    Messages:
    255
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +17 / -0
    Alohamora:

    "...ini juga agak aneh IMO. sorot mata mungkin... Kalo disambung sama kata yang diatas ini jadi tusuk-tusukan mata pake pedang dong..."

    kalo baca komenmu ma potongan cerita yang dimaksud, saya kok malah membayangkan hal yang sama juga (pada main pedang2an ma colok2an mata. Wekekekekekekek......).

    "Banyak pake pengandaian... entah kenapa jadi kurang menikmati jalan ceritanya..."

    Makasih atas analisis dan ketelitiannya :)
    Lubang kecil seperti ini kadang bikin cerita jadi rancu.
    Bener2 saya harus perbaiki lagi ungkapannya biar gak bikin bingung
    (tapi kan ini sudah disertakan dalam lomba ya? Yah..., jadi tidak bisa saya utak-atik lagi. Hehehehehe)
     
    • Thanks Thanks x 1
  10. Offline

    om3gakais3r Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 25, 2009
    Messages:
    3,638
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +5,638 / -0
    sekali lagi, cerita yang membutuhkan kerja otak lebih seperti ini yang suka.. :sayangku:
    tetap saja, kalau terlalu lelah kan susah juga.. indah tapi perlu moderasi dalam penggunaan gaya bahasanya.. :hehe:

    *ikut2an komentar*
     
  11. Offline

    mwahaha Raidou Kuzunoha XVII Most Valuable Users

    Joined:
    Aug 17, 2010
    Messages:
    1,152
    Trophy Points:
    227
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +19,714 / -0
    Yup, pasti muchitsuru kuliah di jurusan sastra indonesia ya?:???:
    Keren nih, tapi kalo cerpen kayaknya bahasanya harus lebih ringan sedikit ya? Soalnya saya agak sulit menangkap ceritanya....:keringat:
     
    • Thanks Thanks x 1
  12. Offline

    muchitsuru Beginner Members

    Joined:
    Sep 8, 2009
    Messages:
    255
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +17 / -0
    mwahaha:

    "Yup, pasti muchitsuru kuliah di jurusan sastra indonesia ya?"

    Nggggg..., kasih tau gak yaaaaa....? ;-p
    hehehehe.....



    "...tapi kalo cerpen kayaknya bahasanya harus lebih ringan sedikit ya? Soalnya saya agak sulit menangkap ceritanya...."



    hehehehe..... untuk IDWS tercinta, saya usahakan bahasanya lebih ringan, dikit.
    Wakakakakakak......
     
  13. Offline

    hatafarindlesku Post Hunter Veteran

    Joined:
    Oct 26, 2009
    Messages:
    2,929
    Trophy Points:
    226
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +3,018 / -0
    aahhhh.....

    bener cinta banget sama gaya-gaya bahasa kayak gini... :peluk:
    konlifknya bener-bener bikin gw berimajinasi membentuk visualisasi dari adegan yang terjadi...

    apalagi pas adegan "colok-colokan mata" :XD:

    di paragraf terakhir...

    "ternyata itu istri ku" :patahhati:

    sebenernya pas adegan sebelum colok-colokan mata itu, udah terbayang apa yang terjadi...
    tp patah hati ajjah, 11 hari yang lalu abis colok-colokan mata sama mantan.... :sigh:

    tp, over all... bener2 cinta sama sama gaya bahasanya... :cinta:
     
    • Thanks Thanks x 1
  14. Offline

    lyralykofos Members

    Joined:
    Oct 24, 2011
    Messages:
    6
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +5 / -0
    menarik dan bagus :D ga bisa comment yang seserius itu, yang jelas kalimat ini luar biasa "Kulihat, ada beberapa serpihan tubuhmu yang terbawa aliran air, membentuk sungai kecil. Oh..., indahnya." pasti nya di buat dengan imajinasi tinggi. hehe

    Salam kenal :)
     
    • Thanks Thanks x 1
  15. Offline

    muchitsuru Beginner Members

    Joined:
    Sep 8, 2009
    Messages:
    255
    Trophy Points:
    17
    Ratings:
    +17 / -0

    Nyaaaaaa.......
    Makasih.... ^_^ komentarnya bikin melayang tinggi (duh... bisa turun ke bumi gak ya? hehehehe)



    salam kenal juga :)
    makasih komentarnya (pada bikin melayang tinggi neh komentarnya. hehehehe....)

    Kalo soal "Kulihat, ada beberapa serpihan tubuhmu yang terbawa aliran air, membentuk sungai kecil. Oh..., indahnya." itu....

    Yah... dibuat dengan bertapa dulu di depan kompi ;-p hehehe.....
     
  16. Offline

    M1zt4rs2 Silent Reader Members

    Joined:
    Jun 3, 2011
    Messages:
    164
    Trophy Points:
    37
    Ratings:
    +447 / -0
    ceritanya berat gan
    tapi tulisannya puitis ane suka gan

    ane harus baca berulang2 baru mengerti
     
    • Thanks Thanks x 1
  17. Offline

    Grande_Samael Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Dec 18, 2011
    Messages:
    270
    Trophy Points:
    36
    Ratings:
    +282 / -0
    gaya bahasanya enak dibaca, tapi saya masi bingung ini yang ngomong siapa... dia lagi bermonolog sendiri? ceritanya yang lagi bermonolog itu cewe apa cowok? koq punya istri?

    tapi tetep ceritanya menarik, membuat saya terus penasaran pengen baca sampai selesai.
     
    • Thanks Thanks x 1
  18. Offline

    kan4ta Silent Reader Members

    Joined:
    May 14, 2011
    Messages:
    104
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +9 / -0
    ceritanya bagus, tp masih ga ngerti sama endingnya
     
  19. Offline

    setanbedul Senpai Moderator

    Joined:
    Dec 9, 2008
    Messages:
    5,129
    Trophy Points:
    221
    Ratings:
    +11,566 / -0
    sambil baca ini lalu dengar lagu
    Cakra Khan.. kayaknya masuk neh :ngacir:
     
  20. Offline

    OchyClouds Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jun 17, 2012
    Messages:
    1,768
    Trophy Points:
    242
    Ratings:
    +64,843 / -0
    Ini kayaknya yang buat orang Sastra ya :???:
    bahasanya berat dan butuh pemahaman tinggi :hehe:
    awalnya aku kira pasangan si 'aku' itu mati.
    tapi setelah dibaca ke bawah kayaknya bukan
    tokohnya cewek kan ya :???:
    tapi kalo dilihat dari bahasanya di awal2 aku mikirnya tokoh utamanya cowok :bingung:


    btw mantap deh
    bisa mengaduk2 otak orang yang membacanya
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.