1. Sssst, ada Administrator baru di forum Indowebster lho... cek di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Legend/Myth Hobbit di Indonesia

Discussion in 'History and Culture' started by bulebulukan, Jun 16, 2009.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    bulebulukan Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 8, 2009
    Messages:
    388
    Trophy Points:
    191
    Ratings:
    +6,982 / -0
    Homo floresiensis ("Flores Man"; alias Hobbit) kemungkinan jenis spesies genus Homo (bukan gay lho.. :D),
    [​IMG]
    dengan tubuh dan otak yang kecil mampu bertahan walau hanya sebentar.
    Spesies ini dinamakan sesuai tempat ditemukannya Flores, sebuah pulau di timur Indonesia.
    [​IMG]
    Sebuah tulang belulang lengkap (dinamakan LB1, karena ditemukan pertama di gua Liang Bua)
    dan sebuah tulang rahang lengkap (LB2),dengan usia 18,000 tahun, ditemukan di lapisan dalam gua Liang Bua di Flores pada tahun 2003.
    [​IMG]
    bagian dari 7 individual lain juga ditemukan (LB3–LB9; yang paling lengkap adalah LB6),
    semua berukuran kecil, dan ditemukan bersama sebuah alat kecil dari batu, spesies ini hidup diantara 94,000 sampai 13,000 tahun lalu.
    Penemuan ini dipublikasikan pertama kali pada Oktober 2004.
    Sampai sekarang, satu-satunya tulang tengkorak terlengkap pertama adalah LB1.

    Para penemunya (anthropologis Peter Brown, Michael Morwood dan rekan-rekannya) berdebat tentang bermacam kemungkinan jenis manusia purba ini,
    keduanya berdebat tentang asal dan ke"purba"an spesies ini,
    mereka menyatakan fosil LB1 spesies baru dari suku Hominini, H. floresiensis, yang adalah campuran dari jenis manusia (Homo) dan Simpanse (Pan) nenek moyang mereka, -- jangan di debatin tentang teori evolusi ya.. udah ada di tret lain, silakan yang mau debat kesana :)
    Para arkeolog mendebatkan bahwa spesies ini kemungkinan hidup berdampingan dengan manusia modern (Homo sapiens) di Flores.

    Keraguan pertama penemuan spesies baru, dikemukakan arkeolog Indonesia (yah elah) Teuku Jacob,
    yang menyatakan kalau fosil LB1 adalah manusia modern yang mengecil.
    kontroversi mulai menyebar, publikasi menyebabkan bertambahnya orang yang mendukung dan menolak status spesies baru ini.
    Bulan Maret 2005 ilmuwan yang mempublikasikan detail dari otak si Flores Man.
    Dengan hasil berupa dukungan untuk status spesies ini adalah spesies baru.
    Banyak juga penemu, termasuk ilmuwan yang menyelidiki status Flores Man ini, yang membantah hasil tahun 2005 tersebut,
    mereka berpendapat bahwa spesies ini adalah fosil manusia modern yang mengecil.
    Para penemu aslinya telah membuktikan dan mengemukakan bahwa H. floresiensis adalah spesies baru.
    ini didukung oleh penemuan paleoneurologist Dean Falk dan para rekannya.
    Mereka membandingkan otak H. floresiensis dengan 10 fosil manusia yang mengecil,
    dan mengemukakan perbedaaan yang tidak dapat disangkal sampai sekarang.
    Sebagai tambahan, melakukan penelitian tahun 2007 dengan tulang H. floresiensis, mereka menemukan "hobbit" mempunyai kesamaan dengan simpanse dan manusia pertama berjenis Australopithecus, dan perbedaan yang sangat jauh dengan manusia modern.
    penyelidikan yang menggabungkan tulang lengan, bahu dan lengan bawah menyimpulkan bahwa
    H. floresiensis lebih mirip manusia awal dan primata daripada manusia modern.
    Bagaimanapun, kritik mengenai status fosil ini masih berlanjut dengan berbagai penjelasan.
    Hipotesa lain adalah, makhluk ini hanyalah manusia yang lahir tanpa hormon thyroid yang sempurna a.k.a kretinisme a.k.a cebol, seperti spesies lain (myxoedematous, ME).
    Pendapat itu telah dibuktikan salah...

    so bagaimana menurut anda?
    btw kalo mau dicari film nya ada lho.. yang bikin = national geographic..

    diterjemahkan dari
    http://en.wikipedia.org/wiki/Homo_floresiensis


    ini info tambahan dari kzha ada di post ini
    http://www.indowebster.web.id/showpost.php?p=1132207&postcount=4
     
    Last edited: Jun 17, 2009
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    Holyshield Lurking Around Veteran

    Joined:
    Jan 25, 2008
    Messages:
    1,399
    Trophy Points:
    252
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +44,597 / -1
    nice info neh !
    tpi adakah hobbit yg masih hidup di indonesia ??
     
  4. Offline

    ENC Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Dec 24, 2008
    Messages:
    229
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +1,239 / -0
    beuh.. klopun ada paling jg uda jd sorotan massa.. lagian itu kan bukan bener" hobbit? klo hobbit kn yg ky di LOTR.. hehe... tp klopun ada, asik kali y? :em0800::em0800::em0800:
     
  5. Offline

    kzha Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 10, 2009
    Messages:
    1,868
    Trophy Points:
    227
    Ratings:
    +7,159 / -0
    hmm,,.. hobbit ya..
    gw mau bikin,. tapi dah kedeluanan.. gpp deh gw nambahin dikit.
    boleh kan bro. :onion-15:

    MANUSIA FLORES BUKANLAH SATU SPESIES TERSENDIRI YANG TERPISAH DARI HOMO SAPIENS...

    Kami telah menanggapi pernyataan-pernyataan yang dilontarkan berkenaan dengan penemuan Manusia Flores yang mengundang perhatian media yang sedemikian mendunia. Sejumlah tanggapan balik yang terbaru dari dunia ilmiah membenarkan tanggapan kami tersebut.

    Tokoh penting yang melontarkan pandangannya adalah paleoantropolog Indonesia, Teuku Jacob. Teuku Jacob adalah seorang evolusionis dan kepala laboratorium paleoantropologi, Universitas Gadjah Mada.

    Pernyataan pers yang diedarkan oleh kantor berita AFP dengan judul “Indonesian scientist says Flores hominid not new species" ("Ilmuwan Indonesia mengatakan hominid Flores bukan spesies baru"), berbunyi:
    Seorang ilmuwan terkemuka Indonesia menentang teori yang telah dipublikasikan secara luas bahwa rangka fosil yang ditemukan di pulau di bagian timur, Flores, adalah dari satu spesies manusia yang sebelumnya tidak diketahui. Profesor Teuku Jacob, palaeontolog terkemuka dari Universitas Gadjah Mada, akan melakukan sejumlah pengujian untuk membuktikan bahwa fosil-fosil tersebut berasal dari satu sub-spesies dari Homo sapiens – “seorang manusia biasa, persis seperti kita”.

    “Ini bukanlah satu spesies baru. Ini adalah satu sub-spesies dari Homo sapiens yang digolongkan ke dalam ras Australomelanesid. Jika bukan satu spesies baru, mengapa ia diberi sebuah nama baru?” kata sang profesor. (i)

    Sebagai rangkuman, para evolusionis menggunakan ukuran otak yang lumayan kecil dari H. floresiensis untuk menampilkannya sebagai satu spesies terpisah. Akan tetapi, Teuku Jacob menyatakan bahwa volume otak yang kecil ini mungkin merupakan suatu tanda kelainan mental daripada sekedar bukti yang menyatakannya sebagai satu spesies terpisah. (Teuku Jacob juga seorang pakar di bidang patologi.) Selain itu, proses dwarfisme yang diperkirakan menjadi penyebab ukuran otak yang kecil pada Manusia Flores ini juga ditemukan pada ras-ras manusia lain. Teuku Jacob menekankan bahwa dwarfisme semacam itu tidak hanya dapat ditemukan di Flores, tapi juga di Central Mountain, Papua dan Andaman, Aceh. Fakta bahwa dwarfisme dikenal pada ras-ras manusia lainnya memberikan petunjuk baru tentang kekeliruan menetapkan H. floresiensis sebagai suatu "spesies" terpisah berdasarkan dwarfisme tersebut.

    Di saat yang sama, sebuah laporan di situs internet harian Jakarta Post berjudul “Indonesian experts deny ‘Flores Man’ fossil claim” ("Pakar Indonesia Menyanggah Pernyataan tentang Fosil 'Manusia Flores'") melaporkan pandangan serupa yang dianut oleh Harry Widianto dari Lembaga Arkeologi Yogyakarta. Widianto menyatakan bahwa manusia Flores hanyalah subspesies dari H. sapiens, dengan kata lain suatu ras manusia modern. Ia juga menegaskan bahwa fosil-fosil ini seharusnya dinamakan H. sapiens floresiensis. (ii)

    Tidak hanya ilmuwan Indonesia yang mengungkapkan kesalahan penetapan Manusia Flores sebagai satu spesies terpisah. Dalam sisipan edisi Ahad harian berbahasa Turki Hürriyet, pakar antropologi dari Hacettepe University, Profesor Metin Özbek, juga menyanggah pernyataan tersebut, yang tengah dipopulerkan di media massa, bahwa manusia Flores adalah suatu spesies terpisah. Professor Özbek berkata:
    Pernyataan bahwa penemuan ini akan memunculkan revolusi di bidang antropologi agak dibesar-besarkan. Saya tidak tahu seberapa akurat untuk menganggap kerangka yang ditemukan di pulau Flores sebagai suatu spesies yang terpisah sama sekali. Itu mungkin satu variasi ras dari H. sapiens. Fakta bahwa otaknya kecil dan tubuhnya pendek adalah menarik, akan tetapi semua ini juga telah ada pada orang pigmi. Microcephaly (otak berukuran kecil) adalah sebuah fenomena yang sudah dikenal


    Refrensi:
    i “Indonesian scientist says Flores hominid not new species”, AFP Science by Yahoo, http://story.news.yahoo.com/news?tm.../indonesia_science_palaeontology_041106133524
    ii “Indonesian experts deny 'Flores man' fossil claim”, The Jakarta Post Online, 5 November 2004
    iii Ezgi Basaran, “Floresli kadin için Türk bilim adamlari ne diyor?”, www.hurriyetim.com.tr, 7 November 2004
     
    Last edited: Jun 16, 2009
  6. Offline

    bulebulukan Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 8, 2009
    Messages:
    388
    Trophy Points:
    191
    Ratings:
    +6,982 / -0
    gpp bro.. nih gw pindahin ke atas yah.. :D
     
  7. Offline

    kzha Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 10, 2009
    Messages:
    1,868
    Trophy Points:
    227
    Ratings:
    +7,159 / -0
    waduh,.. jgn dipindahin ke atas bro. ntar gw susah ngeditnya.
    mana tahu ada yg mau dikoreksi ntah ada yg ditambahin ato dikurangin :onion-15:
     
    Last edited: Jun 16, 2009
  8. Offline

    bulebulukan Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 8, 2009
    Messages:
    388
    Trophy Points:
    191
    Ratings:
    +6,982 / -0
    ok ok... dikabulkan... :D
    dibikin "shortcut" ke post u aja d.. setuju dooong?
     
    Last edited: Jun 17, 2009
  9. Offline

    tokorotennosuke Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 27, 2009
    Messages:
    1,460
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +33 / -0
    masa umur hobbitny sama ma hobbit di LOTR ga yah...ehehehe
     
  10. Offline

    kzha Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 10, 2009
    Messages:
    1,868
    Trophy Points:
    227
    Ratings:
    +7,159 / -0
    Ne ada tambahan dikit lagi


    Pernyataan para pendukung evolusi bahwa Homo floresiensis merupakan suatu spesies tersendiri yang terpisah dari manusia zaman modern semakin memudar di hadapan penentangan yang semakin menguat. The Times Online, edisi internet dari surat kabar The Times dan The Sunday Times, merangkum sejumlah perkembangan terakhir seputar bahasan tersebut dalam kalimat berikut:
    "Sebuah temuan yang diumumkan sebagai penemuan terbesar di bidang antropologi selama seabad telah terpuruk dan menjadi salah satu sengketa tersengit di bidang itu." (1)

    Perkembangan yang menyulut api perselisihan tersebut adalah adanya para pakar lain yang mendukung pandangan para ilmuwan Indonesia yang berkeberatan atas dikemukakannya H. floresiensis sebagai suatu spesies tersendiri yang terpisah dari Homo sapiens. Yang terkemuka dari sederetan ilmuwan tersebut adalah ilmuwan Australia Dr. Maciej Henneberg dan Dr. Alan Thorne, dan para peneliti dari Field Museum Chicago di Amerika.

    Sejumlah sanggahan baru, sebagaimana yang dilontarkan oleh para ilmuwan Indonesia, menegaskan bahwa Manusia Flores mungkin telah menderita penyakit syaraf yang dikenal sebagai microcephaly (kelainan berupa kepala yang berukuran kecil). Dukungan penting bagi pandangan ini datang dari Profesor Maciej Henneberg, ilmuwan anatomi dan pakar palaeopatologi selama 32 tahun. Henneberg, ketua Departement of Anatomical Sciences, the University of Adelaide, Australia, pertama-tama mengkaji hasil pengukuran tengkorak Manusia Flores yang diterbitkan di situs internet majalah Nature. Di sinilah ilmuwan tersebut teringat akan tengkorak lain dengan bentuk dan ukuran yang mirip. Tengkorak tersebut adalah spesimen Homo sapiens berusia 4.000 tahun yang didapatkan dalam penggalian di pulau Kreta. Tengkorak milik individu H. sapiens ini memiliki ukuran agak kecil, dan para ilmuwan yang menelitinya telah menjelaskan fenomena ini sebagai microcephaly.

    Berdasarkan hasil perbandingan statistik yang ia lakukan pada 15 hasil pengukuran tengkorak, ilmuwan Australia itu mengungkapkan bahwa terdapat "perbedaan tidak nyata" antara keduanya. Henneberg, yang sanggahannya diberitakan dalam jurnal terkenal terbitan Amerika Serikat Science (2), menyimpulkan bahwa ukuran tengkorak Manusia Flores diakibatkan oleh microcephaly. Peneliti tersebut juga menyatakan bahwa anatomi wajah Manusia Flores masih dalam batas H. sapiens.

    Pengkajian lain oleh Henneberg yang mengungkap hasil mengejutkan tentang Manusia Flores adalah perhitungannya tentang tulang lengan depan (radius) yang ditemukan di dalam sebuah gua. Dari panjang tulangnya, yang ditetapkan sebagai 210 mm (8,3 inci), Henneberg menghitung bahwa pemiliknya bertinggi tubuh antara 151 dan 162 cm (4,9 - 5,3 kaki). Angka ini agak lebih besar daripada 1 meter (3 kaki) yang diduga merupakan ukuran tinggi Manusia Flores, dan masih dalam batas yang dianggap normal untuk manusia zaman sekarang. Henneberg mengumumkan kesimpulan yang ia capai sebagai hasil dari penelitian ini:
    "Hingga tambahan tulang-tulang lain dari 'spesies baru' dugaan ini diketemukan, saya akan tetap menyatakan bahwa suatu kondisi yang sudah sangat dikenal yang diakibatkan oleh penyakitlah yang menjadi penyebab timbulnya penampakan khusus dari rangka tersebut." (3)

    [​IMG]

    Peneliti evolusi manusia terkemuka lainnya, antropolog Dr. Alan Thorne dari Australian National University, menyatakan penemuan Manusia Flores hanya memperlihatkan bahwa "tak seorang pun memperkirakan sesuatu seperti itu ada di sana," dan menyebutkan bahwa adalah melebih-lebihkan fakta untuk menyatakan H. floresiensis mewakili suatu spesies tersendiri. (4)

    Robert Martin, ilmuwan primatologi dari Field Museum Chicago, dan arkeolog James Phillips melontarkan pernyataan berikut yang mendukung teori microcephaly berkaitan dengan volume otak Manusia Flores yang berukuran kecil:
    "Satu-satunya tengkorak adalah milik seorang perempuan yang menderita microcephaly, suatu kelainan yang jarang terjadi yang berakibat pada kepala dan otak yang berukuran kecil. Microcephaly menyebabkan wajah tumbuh pada laju yang normal, tapi kepalanya tidak. Orang [tersebut] akhirnya berdahi miring dan tanpa dagu -- persis seperti Hobbit." (5) (Hobbit: Julukan untuk Manusia Flores yang diambil dari film The Lord of the Rings.)

    Karena sejumlah sanggahan ini, tidak beralasannya penggambaran Manusia Flores sebagai suatu spesies tersendiri yang terpisah dari H. sapiens sekali lagi terungkap. Pengkajian oleh Henneberg sudah pasti berperan besar dalam hal ini: karena individu H. sapiens yang berusia 4.000 tahun dikabarkan telah menderita kelainan microcephaly, lalu mengapa Manusia Flores, dengan ukuran tengkorak yang sama, digambarkan sebagai suatu spesies yang berbeda?

    Barangkali penafsiran paling mencolok tentang debat seputar Manusia Flores ini berasal dari Robert Matthews, seorang penulis ilmu pengetahuan yang berpengalaman untuk surat kabar Inggris The Sunday Telegraph. Matthews mendukung gagasan microcephaly, dan mengecam keinginan sebagian kalangan untuk menampilkan Manusia Flores sebagai suatu spesies tersendiri. Ia juga mengutip skandal Manusia Nebraska, salah satu skandal terbesar dalam sejarah paleoantropologi, dalam mengungkap betapa tidak beralasannya keinginan itu. Dengan judul utama "Big Claims, meagre evidence; welcome to palaeontology" (Klaim Besar, bukti sangat kurang; selamat datang di palaeontologi), Matthews menulis:
    "Minggu yang lain, dan perseteruan yang lain lagi di kalangan ilmuwan tentang sejumlah tulang kuno dan pernyataan tentang telah ditemukannya suatu spesies manusia baru yang lain lagi. Kali ini perselisihan tersebut tertuju pada penemuan tulang belulang berusia 18.000 tahun milik sejenis manusia dengan tinggi badan 3 kaki di pulau Flores, Indonesia.
    ... para ilmuwan yang menggalinya telah menerbitkan makalah di jurnal Nature, mengumumkannya sebagai suatu spesies baru manusia, dan memberinya nama Latin yang terdengar indah: Homo floresiensis.
    Kemudian, sebagaimana kebiasaan lama, para ilmuwan lain bermunculan untuk membantah klaim tersebut sebagai terlalu dini. Seorang pakar terkemuka di bidang palaeoanatomi mengatakan kepada jurnal tandingan Science bahwa tengkorak berusia 18.000 tahun yang seukuran dengan jeruk besar tersebut mirip dengan tengkorak yang ditemukan di pulau Kreta yang merupakan milik spesimen berusia 4.000 tahun dari jenis Homo sapiens kuno yang sudah terlalu sering, dengan microcephaly sekunder, suatu keadaan yang ditandai dengan tengkorak yang secara tidak wajar berukuran kecil.
    ... Microcephaly sekunder memiliki banyak sekali penyebab, mulai dari infeksi virus selama kehamilan hingga luka atau kekurangan gizi ketika baru lahir. Spesimen-spesimen tersebut ditemukan di sebuah gua di suatu pulau. Siapakah yang bisa mengatakan bahwa pulau itu belum pernah dilanda wabah virus 18.000 tahun lalu yang menyebabkan berjangkitnya kelainan tersebut? Atau mungkin penghuni [pulau itu] telah terkena wabah itu di tempat lain di gugusan kepulauan Indonesia, dan telah diusir ke Flores karena penampakan mereka yang aneh.

    Atau mungkin saja bahwa mereka yang mengidap microcephaly sekunder dapat bertahan hidup dan bahkan beranak pinak: kelainan itu tidak selalu harus dihubungkan dengan kecerdasan yang rendah. Sebenarnya, [tingkat kecerdasan] bukan dikarenakan ukuran otak yang kecil saja: penentu terpenting adalah jumlah bagian [otak yang berwarna] abu-abu. Karena bagian ini tidak terawetkan pada sisa-sisa peninggalan fosil, kita tidak memiliki gambaran apakah para "hobbit" tersebut cerdas, bodoh atau biasa saja. Apa yang jelas adalah bahwa para palaeontolog terlalu bernafsu mendasarkan klaim besar pada bukti yang sudah dipastikan sangat kurang. Ini adalah kecenderungan kuat yang tidak begitu membantu mereka di masa lalu. Pada tahun 1922, pakar fosil Amerika, Henry Fairfield Osborn menjadi judul utama pemberitaan dengan mengumumkan penemuan tentang apa yang ia nyatakan sebagai kera mirip manusia pertama yang pernah ditemukan di Amerika, yang ia beri nama Hesperopithecus ( yang berarti "Ape from the Land of the Evening Sun" atau Kera dari Daratan Matahari Sore").

    Ilmuwan anatomi terkenal Profesor Grafton Elliot Smith dari London University melangkah lebih jauh, ia bersikukuh bahwa Hesperopithecus setidaknya merupakan "anggota paling awal dan paling primitif dari keluarga manusia yang masih dapat ditemukan". Namun apakah bukti dari klaim yang lantang ini? Sebuah gigi tunggal yang sudah menjadi fosil yang ditemukan di Nebraska.

    Tanggapan Prof Smith kepada mereka yang meragukan kearifan berpegang pada bukti yang sangat sedikit sungguh mirip dengan apa yang kini sedang dilakukan oleh para penemu Manusia Hobbit dari Flores: "Orang akan memandang kesimpulan yang demikian sangat penting dengan keraguan", ujar Prof Smith, "jika saja bukan karena kepakaran para ilmuwan Amerika di bidang itu yang tidak perlu dipertanyakan lagi."

    Gertakan itu tidak menyurutkan langkah the American Museum of Natural History untuk mencari bukti lebih lanjut. Bukti itu ditemukan di saat yang tepat di Nebraska, dan mengungkap bahwa "Hesperopithecus" tak lebih dari seekor babi punah. Prof Smith di kemudian hari menjadikan dirinya tenar dengan membuat gambar populer dari manusia Neanderthal sebagai manusia berpenampilan dungu yang sedang mengunyah tulang, sembari pula mendukung klaim bahwa potongan-potongan tengkorak yang ditemukan di Inggris pada tahun 1912 adalah milik nenek moyang tertua H. sapiens yang pernah diketahui. Di kemudian hari diketahui bahwa manusia Neanderthal "khas bikinan" Prof Smith sebenarnya adalah seorang pria yang diketahui pasti tidak bertubuh normal dan bungkuk karena menderita radang sendi. Sedangkan mengenai potongan tulang tengkorak, ternyata berasal dari sebuah lubang galian di Sussex yang dikenal sebagai Piltdown; kelanjutannya bisa dipahami.

    Tampaknya, tak satu pun dari kejadian ini menyurutkan semangat para palaeontolog untuk terus mengkhayal tentang keberadaan lebih banyak lagi "spesies" di luar pohon kekerabatan manusia. Semua yang dibutuhkan adalah beberapa potongan tulang yang tidak biasa ditambah dengan kamus bahasa Latin yang bagus, dan tempat dalam sejarah palaeontologi pun akan diperoleh.

    Semuanya tampak bergantung pada bisa tidaknya potongan tulang tersebut dianggap "tidak seperti biasanya" sehingga berada di luar batasan spesies mana pun yang diketahui. Orang ngeri membayangkan kesimpulan apa yang akan dicapai para palaeontolog jika mereka diberi tulang belulang seorang cebol zaman sekarang dan seorang penambang minyak dari Texas." (6)


    Refrensi:
    1- Nigel Hawkes, "Kidnap marks the latest chapter in Hobbit's story," Times Online, December 4, 2004; online at: http://www.timesonline.co.uk/article/0,,3-1386936,00.html
    2- Michael Balter, "Skeptics Question Whether Flores Hominid Is a New Species," Science, Vol 306, Issue 5699, 1116 , November 12, 2004
    3- Maciej Henneberg, "Why The 'Hobbitt' May Not Be a New Species of Humans;" online at: http://www.thinkinganglicans.org.uk/archives/000884.html
    4- Heather Catchpole, "Tiny Human a Big Evolutionary Tale," October 27, 2004; online at: http://dsc.discovery.com/news/afp/20041025/tinyhuman.html
    5- Jim Ritter, "Experts here knock claim of new 'Hobbit' species," Chicago Sun-Times, November 16, 2004; online at: http://www.suntimes.com/output/news/cst-nws-human16.html
    6- Robert Matthews, "Big claims, meagre evidence; welcome to palaeontology," The Telegraph, December 8, 2004; online at: http://gardening.telegraph.co.uk/connected/main.jhtml?xml=/connected/2004/12/08/ecrqed08.xml
     
  11. Offline

    abdurrasyid Beginner Members

    Joined:
    Dec 27, 2008
    Messages:
    201
    Trophy Points:
    66
    Ratings:
    +487 / -0
    wew.........

    seandainya masih ada.......
     
  12. Offline

    zutara Senpai Most Valuable Users

    Joined:
    Aug 3, 2008
    Messages:
    9,284
    Trophy Points:
    226
    Ratings:
    +46,240 / -0
    mw dipelihara ?? :lol:
     
  13. Offline

    oem4r Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 13, 2009
    Messages:
    310
    Trophy Points:
    191
    Ratings:
    +10,342 / -0
    wah ide bagus juga niy...lumayan nambah koleksi peliharaan di rumah...
    dah ada cicak, laba2, kucing, burung.....

    tambah hobbit lebih meriah...:lol:

    :rokok::rokok::rokok::rokok::rokok:
     
  14. Offline

    andriyanto Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 20, 2009
    Messages:
    229
    Trophy Points:
    56
    Ratings:
    +28 / -0
    kayaknya gak deh, mungkin makanannya beda
    hehehehe
     
  15. Offline

    greenteanovi211 Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 14, 2009
    Messages:
    486
    Trophy Points:
    56
    Ratings:
    +40 / -0
    wah thx infonya..
     
  16. Offline

    pitiex Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Apr 3, 2009
    Messages:
    566
    Trophy Points:
    92
    Ratings:
    +838 / -0
    ne yang pernah keluar di National Geographic TV itu y???
    :???:
     
  17. Offline

    Rush_Sykes Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Aug 3, 2009
    Messages:
    757
    Trophy Points:
    91
    Ratings:
    +2,724 / -0
    nice info aja deh!!
     
  18. Offline

    khoronx Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 4, 2009
    Messages:
    214
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +211 / -0
    Wah ternyata ada jg di Indonesia
    Berarti tukang bikin film hollywood pinter2 ya :hihi:
     
  19. Offline

    exe2cute Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Apr 20, 2009
    Messages:
    261
    Trophy Points:
    56
    Ratings:
    +10 / -0
    Hobbit seh enggk, tuyul mngkn aj, , ,wkakakak
     
  20. Offline

    paremansantiang Members

    Joined:
    Aug 30, 2009
    Messages:
    6
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +0 / -0
    ada....sering dijumpai masyarakat lokal dan dinamai "bigau" sering muncul di sumatera tengah... sekitar gunung kerinci ampe daerah payakumbuh sumatera barat....
     
  21. Offline

    firstlarc Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 11, 2009
    Messages:
    261
    Trophy Points:
    141
    Ratings:
    +1,482 / -0
    Tapi orang Flores sekarang udah normal semua ya. Ato Masyarakat disana bukan penduduk asli?
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.