1. Sssst, ada Administrator baru di forum Indowebster lho... cek di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Hitung Sedekahmu, Jangan Hitung Rezekimu

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by gusrus, Jan 20, 2010.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    gusrus Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jun 26, 2009
    Messages:
    219
    Trophy Points:
    111
    Ratings:
    +1,429 / -0
    Hitung berapa sedekahmu hari ini, dan jangan hitung berapa rejekimu hari ini. Moto seperti itu idealnya menjadi motivasi setiap orang, terlepas dari persoalan suku, warna kulit, maupun agama/keyakinan. Sebab berbuat baik –termasuk sedekah– telah direkomendasikan oleh ajaran agama/keyakinan apa pun, tanpa perlu melihat niatan atau motivasinya.

    Sosok yang melakukan sedekah pada dasarnya adalah orang yang memiliki rejeki “lebih” daripada orang lain. Dengan memiliki perasaan demikian dan hati nurani (qalbu) yang mau berbagi dengan sesama, banyak yang meyakini akan menggerakkan potensi diri. Bila hari ini seseorang hanya mampu bersedekah satu rupiah, maka ia akan berusaha agar esok hari mampu bersedekah dua rupiah.

    Karena impuls yang kuat agar mampu bersedekah lebih banyak dari hari kemarin, sudah pasti orang tersebut ingin bekerja lebih baik daripada hari ini. Jika ia seorang pegawai negeri yang gaji per bulan jumlahnya terukur, tentu mulai berpikir bekerja sambilan (baca: wiraswasta) bersama istri atau anak-anaknya. Berulangnya perbuatan seperti itu setiap hari, tentu akan menjadi kebiasaan hidup yang pada gilirannya berubah sebagai karakter atau watak. Bayangkan, seseorang memiliki watak suka bersedekah!

    Maka, andai sepertiga saja dari seluruh warga bangsa ini memiliki watak demikian, Penulis meyakini di Republik ini sudah mulai sulit mencari orang/anak yang kekurangan gizi. Antar-tokoh agama beserta umatnya bersatu padu, bergerak menggalang sedekah dan mendistribusikannya kepada siapa saja yang berhak, tanpa diskriminasi yang berbasis sara. Lambat laun, kemiskinan teratasi, dan tentu saja kebodohan bakal tertangani pula.

    Yang Halal

    Oleh karena termotivasi niatan bersedekah, sebagai wujud iman yang dilahirkan dalam amal keshalehan, tentu orang bersedekah akan menyerahkan uang yang halal. Batiniahnya pasti memberontak bila rejeki yang akan diamalkannya itu adalah hasil pekerjaan/perbuatan tidak baik, atau perbuatan haram. Sorot mata orang yang mengenalnya, meski tak menuduhnya telah bersedekah dengan uang haram, seolah telah menuduh dirinya bersedekah dengan uang haram.

    Dengan demikian, keberadaan watak bersedekah secara tak langsung akan mendidik individu untuk bertindak jujur sekaligus menyukai harta yang halal. Dan, bila seluruh kebutuhan hidup, termasuk makanan dan minuman yang disuguhkan dalam rumah tangga itu adalah rejeki halal, pasti perlindungan dan keberkahan Allah senantiasa menyelimutinya. Anak-anak mereka, insyaAllah, akan menjadi keturunan yang shaleh atau shalehah sekaligus bermanfaat bagi agama, keluarga, nusa dan bangsanya.

    Mari galakkan bersedekah! Hitung berapa sedekahmu hari ini, dan jangan hitung berapa rejekimu hari ini. Mudah-mudahan korupsi dan perilaku bobrok lainnya di negeri tercinta ini bakal semakin terkikis habis. Semakin banyak orang yang berwatak suka bersedekah, Penulis yakin tidak akan menambah jumlah penduduk miskin, tapi sebaliknya justru bakal meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Sebab setiap orang semakin berusaha untuk mendapatkan rejeki halal lebih besar pada hari ini, agar dapat bersedekah lebih banyak esok hari.

    Sedekah Senyummu

    Lalu, bagaimana kalau hari ini aku tak mampu bersedekah? Salah satu nasihat Rasulullah Muhammad Saw: “Senyummu kepada saudaramu/sesamamu, adalah sedekahmu”. Jelaslah, andai Allah pada hari ini kita belum mencukupi untuk mampu bersedekah harta/uang, maka bersedekahlah dengan perbuatan atau perilaku yang baik antar-sesama. Dan, esok hari, bila belum berkemampuan pula, berperilakulah yang lebih baik daripada hari kemarin. Rejeki Allah itu diberikan kepada hambanya tanpa batas, dan datangnya pun tiada disangka-sangka.

    Berarti, ketika Allah sudah berkenan mencukupi kita, saatnya kita bersedekah harta/uang beserta perilaku yang baik. Melakukan sedekah memang wajib diikuti tutur kata dan sikap yang baik. Sebab berapa pun besarannya sedekah, tidak memiliki kebaikan sama sekali tanpa disertai perkataan dan perilaku baik. Bahkan seseorang yang tak mampu berkata baik, lebih baik diam. Sehingga sering orang mengatakan, diam itu emas (jika untuk menghindari berkata buruk).

    Mengapa lebih baik menghitung-hitung berapa sedekah kita daripada meng-account rejeki kita? Setidaknya ada 2 (dua) alasan. Pertama, sedekah itu adalah urusan atau bahkan kewajiban manusia yang beriman. Sebagai bagian dari tindak keshalehan, sedekah tetap hak manusia di hadapan Allah di akhirat kelak. Jasad fisik berupa daging tubuh ini, setelah mengalami kematian, menjadi hak ulat/belatung yang bakal menggerogotinya hingga tinggal tulang-belulang. Sedangkan ruh, pasca dijemput malaikat maut, menjadi hak atau dalam kuasa Allah kembali.

    Kedua, rejeki sepenuhnya merupakan hak Allah. Seberapa hebat manusia mengais rejeki, dipastikan rejeki itu bakal hilang. Sekali lagi, Rasulullah Muhammad Saw menasihati: (Hakikat) rejeki manusia itu ada 3 (tiga). Pertama, apa yang kamu makan atau dipakai, lalu habis atau rusak karena tidak dapat dipakai lagi. Kedua, apa yang kamu sedekahnya, hingga menjadi tabunganmu di akhirat kelak, dan ketiga, yaitu sisanya –setelah dikurangi keduanya– kalau tidak hilang, tentu dimiliki orang lain (menjadi harta warisan) yang ditinggalkan.
     
    • Like Like x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    kiefs Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    1,194
    Trophy Points:
    131
    Ratings:
    +747 / -0
    btw, apa ini nggak salah kamar?
    IMHO mestinya di story
     
  4. Offline

    jerukno15 Lurking Around Veteran

    Joined:
    Jun 30, 2009
    Messages:
    1,968
    Trophy Points:
    251
    Ratings:
    +18,487 / -0
    kalau saia gak pernah hitung sedekah kk...
    kalau sudah saia kasih ya sudah
    asal saia ikhlas

    kalau rejeki harus dihitung, karena buat budget bulanan :hahai:
     
  5. Offline

    Greifi Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 5, 2009
    Messages:
    311
    Trophy Points:
    141
    Ratings:
    +2,423 / -0
    ap ga salah hitung sedekah:???:

    stw gw kita hitung sedekah itu berarti kita cmn mw pahala doank,, bukannya iklas...

    artinya ga berkah tu...
     
  6. Offline

    dejivrur Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 31, 2009
    Messages:
    3,896
    Trophy Points:
    131
    Ratings:
    +1,103 / -2
    bagaimana kalau saya bilang sedekah dihitung itu supaya pelakunya bisa sadar berapa banyak kontribusi yang sudah dia berikan untuk dunia

    dan dengan tau jumlah kontribusinya dia akan selalu berusaha melakukan lebih dan lebih banyak lagi kontribusi di masa yang akan datang

    hanya sebuah pemikiran yang berdasar pada sudut pandang berbeda
    :piss::piss::piss::piss::piss::piss::piss:
     
  7. Offline

    Lenza_kannone Silent Reader Members

    Joined:
    Jan 20, 2010
    Messages:
    83
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +10 / -0
    ga usah pake itung2 dee...
    yang berlalu biarlah berlalu...wakakka
     
  8. Offline

    masih_pemula Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 20, 2009
    Messages:
    497
    Trophy Points:
    91
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +884 / -0

    :unyil: mungkin maksudnya, bukan menghitung secara harfiah.. klo menurut gw, kata hitung disini lebih untuk menyadarkan kita tentang apa yang telah kita berikan kepada lingkungan kita.. :onion-86:

    :pusing: kita tidak mungkin bisa menghitung rezeki yang telah dilimpahkan kepada kita,, (udara, nama baik, perasaan senang, dll) tapi kita pasti bisa menghitung sedekah yang kita berikan.. (100, 1000, baju, makanan, dsb.)

    jadi intinya,, :cerutu: tetaplah bersyukur dengan apapun keadaan kita,, salah satunya dengan cara bersedekah.. bukan berapa ribu ato puluh ribu yang harus kita keluarkan, karena senyum pun termasuk sedekah.. :piss:
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.