1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Halo IDWS Mania, forum Indowebster ada Super Moderator baru lho di lihat di sini
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Other [Hall of Fame] Jejak Perjalanan Lounge Taman Flora Fauna

Discussion in 'Flora dan Fauna' started by shinigamidika, Apr 19, 2012.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    shinigamidika Superstar Moderator

    Joined:
    Feb 26, 2010
    Messages:
    16,009
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +76,187 / -0
    TAMAN 81 ~ ENAU atau AREN (Arenga pinnata)








    Classification
    Kerajaan: Plantae
    Divisi : Magnoliophyta
    Kelas : Liliopsida
    Ordo : Arecales
    Famili : Arecaceae
    Genus : Arenga
    Spesies : A. pinnata




    [​IMG]



    Sekilas​

    "Aren" dialihkan ke halaman ini. Untuk komune di Perancis, silakan lihat Aren, Perancis dan untuk kotamadya di Spanyol, silakan lihat Arén
    Enau atau aren (Arenga pinnata, suku Arecaceae) adalah palma yang terpenting setelah kelapa (nyiur) karena merupakan tanaman serba guna. Tumbuhan ini dikenal dengan pelbagai nama seperti nau, hanau, peluluk, biluluk, kabung, juk atau ijuk (aneka nama lokal di Sumatra dan Semenanjung Malaya); kawung, taren (Sd.); akol, akel, akere, inru, indu (bahasa-bahasa di Sulawesi); moka, moke, tuwa, tuwak (di Nusa Tenggara), dan lain-lain. [1]

    Bangsa Belanda mengenalnya sebagai arenpalm atau zuikerpalm dan bangsa Jerman menyebutnya zuckerpalme. Dalam bahasa Inggris disebut sugar palm atau Gomuti palm.

    Aren adalah tumbuhan yang dilindungi oleh undang-undang.






    Pemerian​


    Palma yang besar dan tinggi, dapat mencapai 25 m. Berdiameter hingga 65 cm, batang pokoknya kukuh dan pada bagian atas diselimuti oleh serabut berwarna hitam yang dikenal sebagai ijuk, injuk, juk atau duk. Ijuk sebenarnya adalah bagian dari pelepah daun yang menyelubungi batang.

    Daunnya majemuk menyirip, seperti daun kelapa, panjang hingga 5 m dengan tangkai daun hingga 1,5 m. Anak daun seperti pita bergelombang, hingga 7 x 145 cm, berwarna hijau gelap di atas dan keputih-putihan oleh karena lapisan lilin di sisi bawahnya.

    Berumah satu, bunga-bunga jantan terpisah dari bunga-bunga betina dalam tongkol yang berbeda yang muncul di ketiak daun; panjang tongkol hingga 2,5 m. Buah buni bentuk bulat peluru, dengan diameter sekitar 4 cm, beruang tiga dan berbiji tiga, [2] tersusun dalam untaian seperti rantai. Setiap tandan mempunyai 10 tangkai atau lebih, dan setiap tangkai memiliki lebih kurang 50 butir buah berwarna hijau sampai coklat kekuningan. Buah ini tidak dapat dimakan langsung karena getahnya sangat gatal.






    Kegunaan​


    Pohon enau menghasilkan banyak hal, yang menjadikannya populer sebagai tanaman yang serbaguna, terutama sebagai penghasil gula.

    Nira dan gula
    Gula aren diperoleh dengan menyadap tandan bunga jantan yang mulai mekar dan menghamburkan serbuk sari yang berwarna kuning. Tandan ini mula-mula dimemarkan dengan memukul-mukulnya selama beberapa hari, hingga keluar cairan dari dalamnya. Tandan kemudian dipotong dan di ujungnya digantungkan tahang bambu untuk menampung cairan yang menetes.

    Cairan manis yang diperoleh dinamai nira (alias legen atau saguer), berwarna jernih agak keruh. Nira ini tidak tahan lama, maka tahang yang telah berisi harus segera diambil untuk diolah niranya; biasanya sehari dua kali pengambilan, yakni pagi dan sore. Setelah dikumpulkan, nira segera dimasak hingga mengental dan menjadi gula cair. Selanjutnya, ke dalam gula cair ini dapat dibubuhkan bahan pengeras (misalnya campuran getah nangka dengan beberapa bahan lain) agar gula membeku dan dapat dicetak menjadi gula aren bongkahan (gula gandu). Atau, ke dalam gula cair ditambahkan bahan pemisah seperti minyak kelapa, agar terbentuk gula aren bubuk (kristal) yang disebut juga sebagai gula semut.

    Di banyak daerah di Indonesia, nira juga biasa difermentasi menjadi semacam minuman beralkohol yang disebut tuak atau di daerah timur juga disebut saguer. Tuak ini diperoleh dengan membubuhkan satu atau beberapa macam kulit kayu atau akar-akaran (misalnya kulit kayu nirih (Xylocarpus) atau sejenis manggis hutan (Garcinia)) ke dalam nira dan membiarkannya satu sampai beberapa malam agar berproses. Bergantung pada ramuan yang ditambahkan, tuak yang dihasilkan dapat berasa sedikit manis, agak masam atau pahit. Dengan membubuhkan bahan yang lain, atau dengan membiarkan begitu saja selama beberapa hari, nira dapat berfermentasi menjadi cuka. Cuka dari aren ini kini tidak lagi populer, terdesak oleh cuka buatan pabrik. Nira mentah (segar) bersifat pencahar (laksativa), sehingga kerap digunakan sebagai obat urus-urus. Nira segar juga baik sebagai bahan campuran (pengembang) dalam pembuatan roti.


    Buah aren dan kolang-kaling
    Buah aren (dinamai beluluk, caruluk dan lain-lain) memiliki 2 atau 3 butir inti biji (endosperma) yang berwarna putih tersalut batok tipis yang keras. Buah yang muda intinya masih lunak dan agak bening. Buah muda dibakar atau direbus untuk mengeluarkan intinya, dan kemudian inti-inti biji itu direndam dalam air kapur beberapa hari untuk menghilangkan getahnya yang gatal dan beracun.[1]. Cara lainnya, buah muda dikukus selama tiga jam dan setelah dikupas, inti bijinya dipukul gepeng dan kemudian direndam dalam air selama 10-20 hari. Inti biji yang telah diolah itu, diperdagangkan di pasar sebagai buah atep (buah atap) atau kolang-kaling.

    Kolang-kaling disukai sebagai campuran es, manisan atau dimasak sebagai kolak. Teristimewa sebagai hidangan berbuka puasa di bulan Ramadhan.

    Produk lain
    Sebagaimana nipah dan rumbia, daun pohon enau juga biasa digunakan sebagai bahan atap rumah rakyat. Pucuk daunnya yang masih kuncup (janur) juga dipergunakan sebagai daun rokok, yang dikenal pasar sebagai daun kawung. Lembar-lembar daunnya di Jawa Barat biasa digunakan sebagai pembungkus barang dagangan, misalnya gula aren atau buah durian. Lembar-lembar daun ini pun kerap dipintal menjadi tali, sementara dari lidinya dihasilkan barang anyaman sederhana dan sapu lidi.

    Seperti halnya daun, ijuk dari pohon enau pun dipintal menjadi tali. Meski agak kaku, tali ijuk ini cukup kuat, awet dan tahan digunakan di air laut. Ijuk dapat pula digunakan sebagai bahan atap rumah, pembuat sikat dan sapu ijuk. Dari pelepah dan tangkai daunnya, setelah diolah, dihasilkan serat yang kuat dan tahan lama untuk dijadikan benang, tali pancing dan senar gitar Batak.

    Batangnya mengayu di sebelah luar dan agak lunak berserabut di bagian dalam atau empulurnya. Kayunya yang keras ini dipergunakan sebagai papan, kasau atau dibuat menjadi tongkat. Empulur atau gumbarnya dapat ditumbuk dan diolah untuk menghasilkan sagu, meski kualitasnya masih kalah oleh sagu rumbia. Batang yang dibelah memanjang dan dibuang empulurnya digunakan sebagai talang atau saluran air.

    Akar enau dihasilkan serat untuk bahan anyaman, tali pancing atau cambuk.






    Ekologi dan penyebaran​

    Pohon enau mudah tumbuh. Memiliki asal usul dari wilayah Asia tropis, enau diketahui menyebar alami mulai dari India timur di sebelah barat, hingga sejauh Malaysia, Indonesia, dan Filipina di sebelah timur. Di Indonesia, enau tumbuh liar atau ditanam, sampai ketinggian 1.400 m dpl.. Biasanya banyak tumbuh di lereng-lereng atau tebing sungai.

    Meskipun getahnya amat gatal, buah enau yang masak banyak disukai hewan. Musang luwak diketahui sebagai salah satu hewan yang menyukai buah enau ini, dan secara tidak langsung berfungsi sebagai hewan pemencar biji enau. Di Bangka, pada masa lalu orang-orang Tionghoa memasang perangkap di bawah pohon enau yang tengah berbuah, untuk menangkap rombongan babi hutan yang berpesta buah enau yang berjatuhan.

    Perbanyakan
    Enau atau aren dapat dikembang biakkan secara generatif yaitu melalui bijinya. Agar diperoleh keturunan yang baik, benih sebaiknya diambil dari pohon induk yang memiliki kriteria sebagai berikut :

    Batang pohon harus besar dengan pelepah daun merunduk dan rimbun. Sampai saat ini dikenal dua macam tanaman aren yaitu Aren Genjah yang memiliki batang agak kecil dan pendek dengan produksi nira antara 10–15 liter/tandan/hari, dan Aren Dalam yang memiliki batang besar dan tinggi dengan produksi nira 20–30 liter/tandan/hari. Untuk kepentingan produksi nira dan turunannya, dianjurkan untuk menggunakan varietas Dalam sebagai pohon induknya.

    Pohon terpilih harus memiliki produktivitas yang tinggi. Perlu diketahui bahwa tidak semua pohon aren dan tidak semua mayang (tandan bunga) jantan yang keluar (9 – 11 mayang) menghasilkan nira. Hal ini sangat dipengaruh oleh proses fisiologi tanaman. Calon pohon induk perlu diperiksa produktivitasnya dengan menyadap nira dari mayang jantan pertama atau kedua; jika hasilnya banyak maka pohon itu pantas dijadikan pohon induk. Kemudian pohon induk ini tidak lagi disadap niranya, agar kualitas benih yang dihasilkan tetap baik.
    Selanjutnya tahapan penyediaan bibit tanaman aren adalah sebagai berikut:

    1. Pengumpulan buah
    Buah yang digunakan sebagai sumber benih harus matang, sehat yang ditandai dengan kulit buah yang berwarna kuning kecoklatan, tidak terserang hama dan penyakit dengan diameter buah ± 4 cm. Sebaiknya buah yang diambil adalah yang terletak di bagian luar rakila. Buah aren ini dapat disimpan selama 2 minggu pada karung plastik atau dus untuk memudahkan pemisahan biji (benih) dari kulit.

    2. Pengambilan biji dari buah
    Pengambilan biji dari dalam buah aren harus menggunakan sarung tangan karena buah aren mengandung asam oksalat yang akan menimbulkan rasa gatal apabila kena kulit. Cara lain, yaitu dengan memeram buah-buah aren yang telah dikumpulkan sampai kulit buah menjadi busuk sehingga biji terpisah dengan sendirinya dari daging buah. Dengan cara ini, biji dapat diambil dengan mudah dan kulit buah aren tidak gatal lagi.

    3. Perkecambahan
    Benih disemaikan dalam tempat persemaian dengan media campuran pasir dan serbuk gergaji dengan perbandingan 2:1. Untuk mempercepat perkecambahan, tempurung biji dapat digosok dengan kertas pasir (ampelas) di bagian punggungnya, tempat keluar apokol, selebar kira-kira 3 mm kemudian biji direndam dalam air agar air meresap ke dalam endosperm sampai jenuh, lalu disemaikan. Benih disiram setiap hari untuk mempertahankan kelembaban yang tinggi sekitar 80%.

    4. Pembibitan
    Semai aren yaitu setelah terbentuk apokol yang telah mencapai panjang 3 – 5 cm dipindahkan ke tempat pembibitan atau ke dalam kantong plastik (polibag) yang berdiameter 25 cm, yang telah diisi ¾ bagiannya dengan tanah-tanah lapisan atas yang dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1:2. Bibit-bibit yang telah dipindahkan ini memerlukan penyiraman dan naungan agar terhindar dari cahaya matahari secara langsung. Bibit aren dapat dipindahkan (ditanam) ke lapangan setelah berumur 6-8 bulan sejak daun pertama terbentuk.




     
    Last edited: Aug 9, 2014
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.




    Promotional Content
  3. Offline

    nugrozipho Senpai Gatotkaca

    Joined:
    Feb 18, 2013
    Messages:
    9,830
    Trophy Points:
    202
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +35,918 / -4
    Merak Hijau (Pavo muticus)


















    Merak Hijau
    [​IMG]
    Status konservasi
    Klasifikasi ilmiah






















    Kerajaan: Animalia
    Filum: Chordata
    Kelas: Aves
    Ordo: Galliformes
    Famili: Phasianidae
    Genus: Pavo
    Spesies: P. muticus
    Nama binomial
    Pavo muticus
    Linnaeus, 1766​
    Merak Hijau atau kerap disebut Merak Jawa, nama ilmiahnya Pavo muticus adalah salah satu burung dari tiga spesies merak. Seperti burung-burung lainnya yang ditemukan di suku Phasianidae, Merak Hijau mempunyai bulu yang indah. Bulu-bulunya berwarna hijau keemasan. Burung jantan dewasa berukuran sangat besar, panjangnya dapat mencapai 300cm, dengan penutup ekor yang sangat panjang. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Bulu-bulunya kurang mengilap, berwarna hijau keabu-abuan dan tanpa dihiasi bulu penutup ekor.

    Populasi Merak Hijau tersebar di hutan terbuka dengan padang rumput di Republik Rakyat Tiongkok, Indocina dan Jawa, Indonesia. Sebelumnya Merak Hijau ditemukan juga di India, Bangladesh dan Malaysia, namun sekarang telah punah di sana. Walaupun berukuran sangat besar, Merak Hijau adalah burung yang pandai terbang.

    Pada musim berbiak, burung jantan memamerkan bulu ekornya di depan burung betina. Bulu-bulu penutup ekor dibuka membentuk kipas dengan bintik berbentuk mata. Burung betina menetaskan tiga sampai enam telur.

    Pakan burung Merak Hijau terdiri dari aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing dan kadal kecil.

    Namun karena banyaknya habitat hutan yang hilang dan penangkapan liar yang terus berlanjut, serta daerah dimana burung ini ditemukan sangat terpencar, Merak Hijau dievaluasikan sebagai rentan di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix II.

    [​IMG]


     
    Last edited by a moderator: Aug 13, 2014
  4. Offline

    wiwis6002 Senpai Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 29, 2012
    Messages:
    9,134
    Trophy Points:
    202
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,354 / -2
    Taman 83 - Kebun Waluh






    Klasifikasi ilmiah

    Kerajaan: Plantae
    Divisi: Magnoliophyta
    Kelas: Magnoliopsida
    Ordo: Cucurbitales
    Famili: Cucurbitaceae
    Genus: Cucurbita
    L.​

    Spesies​


    C. argyrosperma
    C. maxima
    C. moschata
    C. pepo​
    [​IMG]



    Waluh (Cucurbita) mencakup sekelompok tumbuhan merambat anggota suku labu-labuan (Cucurbitaceae) penghasil buah konsumsi berukuran besar bernama sama. Tumbuhan ini berasal dari benua Amerika, tetapi sekarang menyebar di banyak tempat yang memiliki iklim hangat.

    Waluh mencakup beberapa spesies anggota genus Cucurbita, yaitu C. argyrosperma, C. maxima, C. moschata, dan C. pepo. Dalam beberapa pengertian setempat di Indonesia, waluh disebut sebagai "labu" saja, meskipun sebenarnya labu mencakup kelompok tanaman yang lebih luas, seperti labu air, labu ular, labu siam, dan beligo. Waluh dibedakan dari labu lainnya karena buahnya dimakan yang telah masak (biasanya berwarna jingga), berukuran relatif besar, berbentuk bulat sampai bulat telur dengan lekukan daun buah yang tampak jelas, dan berkulit keras. Pengertian waluh agak bermiripan dengan gabungan pumpkin dan beberapa squash dalam bahasa Inggris.

    Buah waluh berwarna oranye karena mengandung beta-karotena (salah satu provitamin A dan juga sebagai antioksidan). Jika dipotong, buah ini mempunyai penampang yang mirip bintang, berbiji besar dan berwarna coklat atau putih. Daging buahnya renyah, rasanya manis dan sedikit asam. Daun muda waluh juga dapat dibuat sebagai sayur.


    sumber

    ps: ntar di tambahin lagi yak :maaf:
     
  5. Offline

    phantomshadow63 Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Apr 12, 2010
    Messages:
    776
    Trophy Points:
    207
    Ratings:
    +47,586 / -1
    Taman 84 - Bekantan (Nasalis larvatus)







    Perkenalan
    Bekantan atau dalam nama ilmiahnya Nasalis larvatus adalah sejenis monyet berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal monyet Nasalis.
    Bekantan yang merupakan satu dari dua spesies anggota Genus Nasalis ini sebenarnya terdiri atas dua subspesies yaitu Nasalis larvatus larvatus dan Nasalis larvatus orientalis. Dalam bahasa inggris disebut Long-Nosed Monkey atau Proboscis Monkey. Nasalis larvatus larvatus terdapat dihampir seluruh bagian pulau Kalimantan sedangkan Nasalis larvatus orientalis terdapat di bagian timur laut dari Pulau Kalimantan.
    Bekantan merupakan monyet pemalu, dia akan pergi bila bertemu dengan manusia.Bekantan merupakan monyet pemalu, dia akan pergi bila bertemu dengan manusia. Setiap kelompok dipimpin oleh bekantan jantan atau disebut mandah. Ciri-cirinya mempunyai postur tubuh yang besar dan pembawaannya tenang. Selain di tepi sungai, bekantan juga menyukai hutan mangrove.


    Karakteristik
    Ciri-ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lainnya adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Fungsi dari hidung besar pada bekantan jantan masih tidak jelas, namun ini mungkin disebabkan oleh seleksi alam. Monyet betina lebih memilih jantan dengan hidung besar sebagai pasangannya. Karena hidungnya inilah, bekantan dikenal juga sebagai monyet Belanda. Dalam bahasa Brunei (kxd) disebut bangkatan. Dalam bahasa Belanda disebut Neusaap (Belanda). Masyarakat Kalimantan sendiri memberikan beberapa nama pada spesies kera berhidung panjang ini seperti Kera Belanda, Pika, Bahara Bentangan, Raseng dan Kahau.

    Bekantan jantan berukuran lebih besar dari betina. Ukurannya dapat mencapai 75cm dengan berat mencapai 24kg. Monyet betina berukuran 60cm dengan berat 12kg. Spesies ini juga memiliki perut yang besar, sebagai hasil dari kebiasaan mengonsumsi makanannya. Selain buah-buahan dan biji-bijian, bekantan memakan aneka daun-daunan, yang menghasilkan banyak gas pada waktu dicerna. Ini mengakibatkan efek samping yang membuat perut bekantan jadi membuncit.

    Masa kehamilan 166 hari atau 5-6 bulan dan hanya melahirkan 1 (satu) ekor anak. Setelah berumur 4-5 tahun sudah dianggap dewasa. Bekantan hidup berkelompok/sub kelompok. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seekor Bekantan jantan yang besar dan kuat. Biasanya dalam satu kelompok berjumlah sekitar 10 sampai 20 ekor.


    [TH="background-color: #D3D3A4"]Bekantan[/TH]



    [TH="background-color: #D3D3A4"]Status Konservasi[/TH]



    [TH="background-color: #D3D3A4"]Klasifikasi ilmiah[/TH]


    [​IMG]
    Terancam

























    Kerajaan: Animalia
    Filum: Chordata
    Kelas: Mammalia
    Ordo: Primata
    Famili: Cercopithecidae
    Upafamili: Colobinae
    Genus: Nasalis
    É. Geoffroy, 1812

    Spesies: N. larvatus
    Habitat
    Bekantan merupakan maskot fauna provinsi Kalimantan Selatan.
    Bekantan tersebar dan endemik di hutan bakau, rawa dan hutan pantai di pulau Borneo (Kalimantan, Sabah, Serawak dan Brunai). Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 monyet. Sistem sosial bekantan pada dasarnya adalah One-male group, yaitu satu kelompok terdiri dari satu jantan dewasa, beberapa betina dewasa dan anak-anaknya. Selain itu juga terdapat kelompok all-male, yang terdiri dari beberapa bekantan jantan. Jantan yang menginjak remaja akan keluar dari kelompok one-male dan bergabung dengan kelompok all-male. Hal itu dimungkinkan sebagai strategi bekantan untuk menghindari terjadinya inbreeding. Bekantan juga dapat berenang dengan baik, kadang-kadang terlihat berenang dari satu pulau ke pulau lain. Untuk menunjang kemampuan berenangnya, pada sela-sela jari kaki bekantan terdapat selaputnya. Selain mahir berenang bekantan juga bisa menyelam dalam beberapa detik, sehingga pada hidungnya juga dilengkapi semacam katup.


    Makanan
    Daun, biji, buah dan vertebrata kecil. Monyet bekantan memperoleh 60 % makanannya sekurang- kurangnya 4 dari 55 jenis tanaman. Mereka adalah pemakan utama biji-bijian yang melimpah ditempat tersebut. Mereka pemakan buah-buahan dari Januari-Mei dan pemakan biji-bijian dari Juni-Desember.


    Save Bekantan!!
    Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut, serta sangat terbatasnya daerah dan populasi habitatnya, bekantan dievaluasikan sebagai Terancam Punah di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix I. Pada tahun 1987 diperkirakan terdapat sekitar 260.000 Bekantan di Pulau Kalimantan saja tetapi pada tahun 2008 diperkirakan jumlah itu menurun drastis dan hanya tersisa sekitar 25.000. Hal ini disebabkan oleh banyaknya habitat yang mulai beralih fungsi dan kebakaran hutan.



     
    Last edited by a moderator: Sep 8, 2014
  6. Offline

    aiana Senpai Moderator

    Joined:
    Dec 25, 2011
    Messages:
    7,136
    Trophy Points:
    182
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,469 / -1





    JAMUR PANGAN
    Jamur pangan atau jamur konsumsi adalah jamur yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Selain enak, jamur ini juga memiliki banyak gizi dan manfaat bagi kesehatan. Awalnya jamur pangan dimanfaatkan di luar negeri seperti negara-negara China dan Jepang. Jamur pangan dulunya tumbuh di kayu kayu lapuk di dataran tinggi di daerah tersebut. Akan tetapi seiring dengan perkembangan teknologi pertanian, jamur dapat di budidayakan di baglog/polybag plastik dan bisa di tanam pada tempat yang bersuhu kurang dari 30 derajat celcius. ​













    Jamur Tiram
    Pleurotus ostreatus
    View attachment 117721
    Jamur Kuping
    Auricularia auricula
    View attachment 117722
    Jamur Shiitake
    Lentinula edodes
    View attachment 117720
    Klasifikasi ilmiah
    Kerajaan: Fungi
    Filum: Basidiomycota
    Kelas: Homobasidiomycetes
    Ordo: Agaricales
    Famili: Tricholomataceae
    Genus: Pleurotus
    Spesies: P. ostreatus
    Nama binomial
    Pleurotus ostreatus
    Klasifikasi ilmiah
    Kerajaan: Fungi
    Divisi: Basidiomycota
    Kelas: Agaricomycetes
    Ordo: Auriculariales
    Famili: Auriculariaceae
    Genus: Auricularia
    Spesies: A. auricula-judae
    Nama binomial
    Auricularia auricula-judae
    Klasifikasi ilmiah
    Kerajaan: Fungi
    Filum: Basidiomycota
    Kelas: Homobasidiomycetes
    Ordo: Agaricales
    Famili: Marasmiaceae
    Genus: Lentinula
    Spesies: L. edodes
    Nama binomial
    Lentinula edodes
    CIRI FISIK
    Permukaan tudung jamur agak licin, mengkilap, dan berminyak jika dalam keadaan lembab. Bilah jamur tersusun agak rapat. Ketika muda, bilah ini berwarna putih. Namun, semakin tua warnanya berubah menjadi krem kekuningan. Batangnya terletak di samping tudung. Ukurannya sangat pendek, yakni 1 – 3 cm, berwarna putih, dan halus. Tubuh buahnya berbentuk rumpun dan memiliki banayak cabang yang menyatu pada satu media. Daging buah berwarna putih pucat. Semakin tua, daging buah menjadi semakin keras. Inti plasma dan spora jamur tiram berbentuk sel-sel lepas atau bersambungan. Calon tubuh buah jamur atau yang disebut dengan pin head akan terbentuk pada titik-titik pertemuan percabangan miselium. Selanjutnya, calon tubuh buah ini akan berkembang menjadi tubuh buah jamur
    MANFAAT
    Jamur tiram juga memiliki berbagai manfaat yaitu sebagai makanan, sebagai antibakterial dan antitumor, serta dapat menghasilkan enzim hidrolisis dan enzim oksidasi. Selain itu, jamur tiram juga dapat berguna dalam membunuh nematoda. Jamur tiram ini memiliki manfaat kesehatan diantaranya, dapat mengurangi kolesterol dan jantung lemah serta beberapa penyakit lainnya. Jamur ini juga dipercaya mempunyai khasiat obat untuk berbagai penyakit seperti penyakit lever, diabetes, anemia. Selain itu jamur tiram juga dapat bermanfaat sebagai antiviral dan antikanker serta menurunkan kadar kolesterol.
    CIRI FISIK
    Jamur kuping memiliki bentuk tubuh yang melebar seperti bentuk daun telinga manusia, karena itulah jamur yang masuk dalam kelompok jelly fungi ini diberi nama jamur kuping oleh masyarakat luas, kata “kuping” diambil dari Bahasa Jawa yang memiliki arti daun telinga. Beberapa jenis jamur kuping yang mulai dibudidayakan petani di Indonesia antara lain jamur kuping merah (Auricularia yudae), jamur kuping hitam (Auricularia polytricha), serta jamur kuping agar (Tremella fuciformis).
    MANFAAT
    Jamur kuping memiliki banyak manfaat kesehatan, di antaranya untuk mengurangi penyakit panas dalam dan rasa sakit pada kulit akibat luka bakar. Bila jamur kuping dipanaskan maka lendir yang dihasilkannya memiliki khasiat sebagai penangkal (menonaktifkan) zat-zat racun yang terbawa dalam makanan, baik dalam bentuk racun nabati, racun residu pestisida, maupun racun berbentuk logam berat. Kandungan senyawa yang terdapat dalam lendir jamur kuping juga efektif untuk menghambat pertumbuhan karsinoma dan sarkoma (sel kanker) hingga 80-90% serta berfungsi sebagai zat anti koagulan (mencegah dan menghambat proses penggumpalan darah). Manfaat lain dari jamur kuping dalam kesehatan ialah untuk mengatasi penyakit darah tinggi (hipertensi), pengerasan pembuluh darah akibat penggumpalan darah, kekurangan darah (anemia), mengobati penyakit wasir (ambeien), dan memperlancar proses buang air besar.
    CIRI FISIK
    Jamur yang dikenal dengan sebutan ‘Chinese Black Mushroom’ ini memiliki ukuran yang tidak besar di banding jamur lainnya, seperti contohnya jamur tiram. Tudungnya berdiameter 3 – 20 cm atau rata-rata 5 – 12 cm, tudung tersebut ditopang oleh tangkai setinggi 8 – 13 mm. Warna tudung cokelat muda sampai tua, kadangkala ada yg berbintik-bintik putih atau biasa disebut renda. Shiitake muda memiliki tudung kuncup dan berbentuk cembung, kemudian setelah tua berangsur mekar dan mendatar. Daging buah jamur shiitake putih, dan elastis pada kondisi segar, namun setelah kering menjadi sedikit keras.

    MANFAAT
    Jamur Shitake merupakan rajanya jamur kayu karena harga, nilai gizi, dan khasiatnya memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Khasiat dari jamur Shitake dapat memperbaiki stamina, menambah kekebalan terhadap serangan selesma, memperbaiki pencernaan, dan menurunkan tekanan darah. Kandungan kolesterol dalam jamur ini tergolong rendah dan dapat menggiatkan aksi pada tubuh manusia yang menjurus pada anti-tumor dan anti-virus.







    Jamur Pangan Lain
    Selain tiga jenis jamur di atas. Masih banyak jamur lain yang bis dikonsumsi dan memiliki manfaat untuk kesehatan. Ingat nama dan bentuknya,, jangan sampai kalian keracunan jamur yang beracun atau memabukkan.
    1. Jamur kancing atau champignon (Agaricus bisporus)
    2. Jamur merang (Volvariella volvaceae)
    3. Jamur enokitake (Flammulina velutipes); Dikenal juga sebagai jamur musim dingin (winter mushroom)
    4. Jamur maitake (Grifola frondosa); Mengeluarkan aroma harum kalau dimasak, dikenal dalam bahasa Inggris sebagai hen of the woods.
    5. Jamur matsutake (Tricholoma matsutake (S.Ito et Imai) Sing.) Jamur langka yang belum berhasil dibudidayakan dan diburu di hutan pinus wilayah beriklim sejuk. Dipanen pada musim gugur dan merupakan jamur yang berharga sangat mahal di Jepang.
    6. Jamur truffle (Tuber magnatum, Tuber aestivum, Tuber melanosporum, dan Tuber brumale) Jamur langka yang sulit ditemukan, sehingga menemukannya butuh bantuan anjing dan babi yang memiliki penciuman tajam. Jamur truffle adalah jamur termahal di dunia (artikel dari The Telegraph) , digunakan dalam jumlah sedikit sebagai penyedap pada berbagai masakan mahal seperti masakan Perancis Foie gras.
    7. Jamur Ling zhi (Ganoderma lucidum) Jamur yang tidak bisa di konsumsi secara langsung karena teksturnya yang keras dan rasanya yang pahit. Jamur ini lebih dimanfaatkan sebagai minuman obat daripada dikonsumsi secara langsung.
    Karena terlalu semangat saya sampai lupa kalau jamur termasuk kindom fungi, bukan plantae. Jamur tidak bisa memproduksi makanan sendiri/fotosintesis dan termasuk kedalam jenis heterotrof sedangkan tanaman termasuk ke autotrof yang bisa berfotosintesis/memproduksi makanan sendiri.
    Atas kekhilafan saya itu, mohon dimaafkan :maaf:
     
    Last edited by a moderator: Sep 23, 2014
    • Like Like x 1
  7. Offline

    wiwis6002 Senpai Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 29, 2012
    Messages:
    9,134
    Trophy Points:
    202
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,354 / -2
    Burung Albatros
    Diomedeidae







    Klasifikasi ilmiah

    Kerajaan: Animalia
    Filum: Chordata
    Kelas: Aves
    Upakelas: Neornithes
    Infrakelas: Neoaves
    Ordo: Procellariiformes
    Famili: Diomedeidae
    G.R. Gray 1840[1]
    Genus

    Diomedea; Thalassarche;
    Phoebastria;Phoebetria

    [​IMG]





    Albatros, dari keluarga Diomedeidae, adalah burung laut besar dalam ordo Procellariiformes yang merupakan satu kelompok dengan Procellariidae, Petrel badai dan Petrel penyelam. Burung ini ditemukan secara luas di Samudra Antartika dan Pasifik Utara. Burung ini tidak terdapat di Atlantik Utara, meskipun temuan fosil membuktikan bahwa burung ini dahulu pernah ada di sana. Burung albatros termasuk burung terbang yang paling besar, dan burung albatros besar (genus Diomedea) memiliki panjang sayap yang paling besar melebihi burung lainnya.

    Burung albatros sangat efisien di udara, dengan menggunakan teknik terbang melayang dan terbang membumbung untuk dapat terbang pada jarak yang sangat jauh dengan tenaga yang sedikit. Burung ini memakan cumi-cumi, ikan, dan udang, dengan cara memakan hewan yang terdampar, berburu di permukaan air, dan menyelam.

    Albatros merupakan burung yang tinggal dalam koloni, memiliki kebiasaan membuat sarang di pulau terpencil di tengah samudera, kadang bercampur dengan beberapa spesies. Burung ini memiliki kebiasaan monogami dengan mempertahankan pasangan seumur hidupnya. Musim berbiak dapat memakan waktu lebih dari satu tahun mulai dari bertelur, dengan satu butir telur untuk satu musim berbiak. Seekor albatros laysan yang diberinama "Wisdom" yang ditemukan di Kepulauan Midway dianggap sebagai burung liar berumur paling tua di dunia. Burung ini pertama kali ditandai pada tahun 1956 oleh Chandler Robbins.[2]

    Dari 21 spesies albatros yang diakui oleh IUCN, 19 telah dikategorikan sebagai terancam punah. Jumlah albatros telah menurun di masa lalu karena perburuan bulu, namun saat ini albatros terancam oleh spesies pendatang, seperti tikus atau kucing liar yang memangsa telur burung, anak burung; oleh polusi; dengan adanya penurunan jumlah ikan di beberapa daerah terutama karena penangkapan ikan yang berlebihan, dan kegiatan merawai. Merawai menjadi ancaman terbesar, karena burung yang mencari makan tertarik pada umpan pancing yang akhirnya terkait dan mati. Para pemangku jabatan seperti pemerintah, organisasi konservasi dan industri perikanan sedang melakukan upaya untuk mengurangi jumlah burung yang tanpa sengaja tertangkap.






    Makanan

    Makanan utama albatros adalah cephalopoda, ikan, crustacea dan jeroan, walaupun kadang-kadang mereka juga mencari bangkai dan zooplankton. Perlu dicatat bahwa untuk kebanyakan spesies, pemahaman yang mendalam tentang makanan mereka hanya diketahui saat musim berkembang biak, saat albatros secara teratur kembali ke daratan sehingga memungkinkan untuk dilakukan penelitian. Pentingnya masing-masing sumber makanan tersebut berbeda-beda dari masing-masing spesies, dan bahkan dari populasi ke populasi, sebagian hanya memilih cumi-cumi saja, yang lain lebih memilih krill atau ikan. Dari kedua albatros yang ditemukan di Hawaii, satu diantaranya yakni albatros kaki-hitam lebih banyak memangsa ikan, sementara albatros laysan lebih banyak memangsa cumi-cumi.
    Albatros abu-abu seringkali menyelam untuk mencari makanan, dan mereka dapat menyelam sampai kedalaman 12 m.

    Dari catatan data diketahui bahwa albatros lebih sering makan di siang hari. Dari analisa bangkai cumi-cumi yang dimuntahkan oleh albatros menunjukkan bahwa banyak dari cumi-cumi yang dimakan terlalu besar untuk ditangkap hidup-hidup, dan termasuk spesies perairan menengah yang berada di luar jangkauan albatros, menunjukkan bahwa untuk beberapa spesies (seperti albatros wandering) bangkai cumi-cumi merupakan makanan yang penting. Sumber dari bangkai cumi-cumi tersebut masih dalam perdebatan, sebagian dipastikan dari industri penangkapan cumi-cumi, namun di alam berasal dari cumi-cumi yang mati setelah bertelur serta muntahan paus pemakan cumi-cumi (paus sperma, paus pilot serta paus hidung-botol). Makanan spesies yang lain seperti albatros alis-hitam atau albatros kepala-abu-abu kaya dengan spesies cumi-cumi yang kecil yang tenggelam setelah mati. Juga albatros bergelombang telah diamati melakukan kleptoparasitisme, mengganggu angsa-batu untuk merebut makanannya, menjadikannya satu satunya anggota ordo yang sering melakukan hal tersebut.

    Sampai sekarang albatros dianggap lebih banyak mencari makan di permukaan air, berenang di permukaan dan menangkap cumi-cumi atau ikan yang terdorong keatas oleh gelombang, perdator atau mati. Melalui alat pencatat kedalaman mini yang dipasang pada burung memberikan data kedalaman maksimum yang dapat ditempuh oleh burung, menunjukkan bahwa meskipun beberapa spesies seperti albatros wandering tidak pernah menyelam lebih dari satu meter, namun beberapa spesies seperti albatros abu-abu memiliki rata-rata kedalaman menyelam mendekati 5 meter dan mampu menyelam sedalam 12,5 meter. Albatros juga teramati mampu menukik dari udara untuk menangkap mangsa yang ada di air






    Berkembang biak dan menari

    Albatros merupakan burung yang hidup dalam koloni, biasanya bersarang di pulau-pulau terpencil, dimana koloni akan tinggal di daratan yang lebih luas, mereka ditemukan di daerah tanjung yang terbuka yang dapat menjangkau lautan dari beberapa arah, seperti koloni di Semenanjung Otago di Dunedin, Selandia Baru. Banyak albatros buller dan albatros kaki-hitam membuat sarang di bawah pohon di hutan terbuka. Kepadatan koloni mereka beragam, dari koloni yang sangat padat seperti pada koloni albatros mollymawk (albatros alis-hitam di Kepulauan Falkland yang memiliki kepadatan 70 sarang per 100 m²) sampai koloni yang lebih longgar dan membuat sarang dengan jarak yang berjauhan seperti albatros hitam dan albatros besar. Semua koloni albatros tinggal di pulau yang secara histori bebas dari mamalia daratan. Albatros merupakan burung yang sangat filopatri, artinya mereka akan kembali ke tempat dimana mereka menetas untuk berkembang biak. Kecenderungan ini begitu kuat, penelitian yang dilakukan terhadap albatros laysan menunjukkan bahwa rata-rata jarak dari mulai mereka menetas sampai mereka menentukan daerah kekuasaannya adalah 22 meter.

    Albatros dapat hidup lebih lama dari burung lainnya. Kebanyakan spesies dapat bertahan sampai 50 tahun, rekor yang tercatat berasal dari albatros raja-utara dimana burung ini diberi tanda saat ia sudah dewasa, dan masih bertahan 51 tahun sejak ia diberi tanda, sehingga perkiraan umur burung tersebut adalah 61 tahun.

    Albatros membutuhkan waktu yang lama sebelum mencapai kematangan seksual, setelah berumur sekitar lima tahun, namun meskipun mereka sudah matang secara seksual, mereka tidak langsung berkembang biak selama beberapa tahun (beberapa spesies sampai 10 tahun). Burung dewasa yang belum pernah berbiak akan mengikuti koloni yang akan berbiak, menghabiskan beberapa tahun mempelajari ritual dan tarian berbiak yang rumit. Saat burung kembali ke koloni untuk pertama kalinya, mereka sudah bisa memiliki tingkah laku stereotipe yang menciptakan "bahasa" albatros, namun mereka belum bisa "membaca" perilaku yang diperagakan oleh burung lain atau untuk merespon dengan tepat. Setelah periode "trial and error" burung-burung muda tersebut belajar sintaksis tersebut dan menyempurnakan tariannya. Burung-burung muda tersebut akan makin cepat menguasai bahasa ini jika mereka berada dekat dengan burung dewasa. Repertoar tingkah laku albatros melibatkan sinkronisasi kinerja berbagai aksi seperti bersolek, menunjuk, memanggil, mengatup ngatupkan paruh, menatap, serta kombinasi dari perilaku-perilaku tersebut. Saat burung kembali ke koloni, ia akan menari dengan banyak pasangan, namun setelah beberapa tahun ia akan memilih satu sebagai pasangan yang akan bertahan seumur hidup.

    Albatros melakukan ritual yang rumit dan melelahkan untuk memastikan bahwa mereka memilih pasangan yang tepat dan untuk mengenal pasangan dengan sempurna, karena bertelur dan membesarkan anak merupakan hal yang besar. Bahkan untuk spesies yang dapat menyelesaikan siklus bertelur dalam kurun satu tahun, jarang bertelur setiap tahun berturut-turut. Albatros besar seperti albatros wandering membutuhkan waktu lebih dari satu tahun dari mulai telur diletakkan sampai bulu-bulu anak burung tersebut tumbuh sempurna. Albatros hanya bertelur satu biji dengan warna putih bintik-bintik cokelat kemerahan, sepanjang musim berbiak, jika telur tersebut hilang atau pecah, mereka tidak akan bertelur lagi sepanjang tahun tersebut. Telur terbesar memiliki berat 200 - 510 gram. Pasangan albatros sangat jarang "bercerai", dan biasanya hanya terjadi setelah beberapa tahun gagal berkembang biak.

    Semua albatros dari selatan membuat sarang dengan ukuran yang besar, menggunakan rumput, semak-semak, tanah, lumut, dan bahkan bulu pinguin,[28] sementara tiga spesies dari pasifik utara membuat sarang yang seadanya. Di sisi lain, albatros bergelombang tidak membuat sarang bahkan menggeser telurnya di sekitar teritorial pasangannya sejauh 50 meter, sehingga kadang-kadang ia kehilangan telurnya. Untuk seluruh spesies albatros, kedua pasangan baik jantan atau betina akan mengerami telurnya secara bergantian dalam periode satu hari sampai tiga minggu. Masa mengeram 70 sampai 80 hari (semakin besar albatros semakin lama masa mengeram), yang merupakan masa mengerami paling lama untuk selurung jenis burung. Proses mengerami sangan menghabiskan energi, sehingga induk albatros bisa kehilangan 83 gram berat tubuhnya dalam sehari.

    Setelah menetas, anak albatros masih dierami dan dijaga selama tiga minggu sampai anak tersebut cukup besar untuk menjaga diri serta menghangatkan diri sendiri. Pada masa ini, induk burung akan bergantian memberi anaknya makanan saat mereka tidak sedang bertugas menjaga anak tersebut. Setelah periode ini selesai, anak burung ini akan diberi makan teratur seperti induknya. Induk burung akan menyesuaikan interval pemberian makanan sesuai dengan lamanya waktu berburu jarak pendek serta jarak jauh, menyediakan makanan kira-kira 12% dari berat tubuhnya (sekitar 600 gram). Makanannya terdiri dari cumi-cumi, ikan dan krill segar serta minyak perut, makanan yang penuh energi yang mudah dibawa dari pada makanan yang belum dicerna. Minyak ini diproduksi dalam organ di dalam perut yang bernama proventikulus dari makanan yang dicerna oleh sebagian besar Procellariiformes dan memberi mereka bau yang khas.

    Anak albatros memerlukan waktu yang lama untuk menjadi dewasa. Pada albatros besar, memakan waktu sampai 280 hari, bahkan untuk albatros yang lebih kecil masih memakan waktu antara 140 sampai 170 hari.. Seperti kebanyakan burung laut, anak albatros akan mendapatkan berat yang cukup bahkan lebih berat dari induknya, dan sebelum mereka belajar terbang mereka menggunakannya untuk membangun kondisi tubuh (terutama menumbuhkan bulu mereka untuk terbang), biasanya pada saat mereka siap terbang, berat tubuhnya akan sama dengan induknya. Antara 15% sampai 65% dari mereka akan bertahan hidup untuk berkembang biak. Pada masa ini albatros akan ditinggal oleh induknya yang akan kembali setelah mereka memiliki bulu lengkap. Induk ini tidak sadar telah meninggalkan anaknya di sarang. Penelitian pada penyebaran burung muda di laut menunjukkan bahwa burung memiliki perilaku migrasi bawaan, sebuah kode genetik navigasi, yang membantu burung muda saat mereka pertama kali keluar ke lautan.

    Sumber


     
    Last edited by a moderator: Oct 6, 2014
  8. Offline

    sim1 Superstar Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 26, 2014
    Messages:
    10,285
    Trophy Points:
    202
    Ratings:
    +6,508 / -0
    [​IMG]Selamat Datang di Taman Kembang Sepatu (Hibiscus rosasinensis) [​IMG]





    Kembang sepatu





    [​IMG]
    Hibiscus rosa-sinensis
    Klasifikasi ilmiah

    Kerajaan: Plantae
    Divisi: Magnoliophyta
    Kelas: Magnoliopsida
    Ordo: Malvales
    Famili: Malvaceae
    Genus: Hibiscus
    Spesies: H. rosa-sinensis​

    Nama binomial
    Hibiscus rosa-sinensis
    L.​

    Kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) adalah tanaman semak suku Malvaceae yang berasal dari Asia Timur dan banyak ditanam sebagai tanaman hias di daerah tropis dan subtropis. Bunga besar, berwarna merah dan tidak berbau. Bunga dari berbagai kultivar dan hibrida bisa berupa bunga tunggal (daun mahkota selapis) atau bunga ganda (daun mahkota berlapis) yang berwarna putih hingga kuning, oranye hingga merah tua atau merah jambu.

    Di Sumatera dan Malaysia, kembang sepatu disebut bunga raya. Bunga ini ditetapkan sebagai bunga nasional Malaysia pada tanggal 28 Juli 1960. Orang Jawa menyebutnya kembang worawari.

    Deskripsi
    Bunga jenis ini terdiri dari 5 helai daun kelopak, yang dilindungi oleh kelopak tambahan (epicalyx), sehingga terlihat seperti dua lapis kelopak bunga. Mahkota bunga terdiri dari 5 lembar atau lebih jika merupakan hibrida. Tangkai putik berbentuk silinder panjang dikelilingi tangkai sari berbentuk oval yang bertaburan serbuk sari. Biji terdapat di dalam buah berbentuk kapsul berbilik lima.

    Pada umumnya tinggi tanaman sekitar 2 sampai 5 meter. Daun berbentuk bulat telur yang lebar atau bulat telur yang sempit dengan ujung daun yang meruncing. Di daerah tropis atau di rumah kaca tanaman berbunga sepanjang tahun, sedangkan di daerah subtropis berbunga mulai dari musim panas hingga musim gugur.

    Bunga berbentuk trompet dengan diameter bunga sekitar 6 cm hingga 20 cm. Putik (pistillum) menjulur ke luar dari dasar bunga. Bunga bisa mekar menghadap ke atas, ke bawah, atau menghadap ke samping. Pada umumnya, tanaman bersifat steril dan tidak menghasilkan buah. Tanaman berkembang biak dengan cara stek, pencangkokan, dan penempelan.

    Manfaat
    Kembang sepatu banyak dijadikan tanaman hias karena bunganya yang cantik. Bunga digunakan untuk menyemir sepatu di India dan sebagai bunga persembahan. Di Tiongkok, bunga yang berwarna merah digunakan sebagai bahan pewarna makanan. Di Indonesia, daun dan bunga digunakan dalam berbagai pengobatan tradisional. Kembang sepatu yang dikeringkan juga diminum sebagai teh.

    Di Okinawa, Jepang digunakan sebagai tanaman pagar. Di bagian selatan Okinawa, tanaman ini disebut Gushōnu hana (bunga kehidupan sesudah mati) sehingga banyak ditanam di makam.




     
    Last edited by a moderator: Oct 6, 2014
  9. Offline

    Rouann Senpai Most Valuable Users

    Joined:
    Oct 3, 2012
    Messages:
    9,184
    Trophy Points:
    187
    Ratings:
    +15,027 / -0
    [​IMG]Selamat Datang di Kandang Iguana hijau (Iguana iguana) [​IMG]





    Iguana Hijau





    [​IMG]
    Klasifikasi ilmiah

    Kerajaan: Animalia
    Filum: Chordata
    Kelas: Sauropsida
    Ordo: Squamata
    Upaordo: Iguania
    Famili: Iguanidae
    Genus: Iguana​

    Iguana ialah sejenis kadal yang hidup di daerah tropis di Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Karibia. Pertama kali mereka disebutkan oleh seorang naturalis berkebangsaan Austria Josephus Nicolaus Laurenti pada tahun 1768. Ada 2 spesies yang berbeda dari jenis kadal ini: Iguana hijau dan Iguana Antilles Kecil.

    Kedua spesies kadal tersebut memiliki lipatan kulit di bawah rahang, sekumpulan kulit yang mengeras yang berderet di punggungnya hingga ekor, dan "mata ketiga" di kepalanya. Mata ini disebut sebagai mata parietal, yang mirip seperti tonggak di atas kepalanya. Di belakang lehernya ada sisik kecil yang menyerupai paku panjang, dan disebut tuberculate scale. Iguana juga memiliki sisik besar bundar di pipinya yang disebut sebagai selubung subtimpani.

    Iguana memiliki penglihatan yang baik dan bisa melihat bentuk, bayangan, warna, dan gerakan pada jarak yang jauh. Iguana menggunakan matanya untuk mengarahkannya mengarungi hutan lebat, untuk menemukan makanan. Mereka juga menggunakan matanya untuk berkomunikasi dengan anggota spesies yang sama.

    Mereka merespon rangsangan visual berupa warna seperti jingga, kuning, merah muda, dan biru yang terdapat pada substansi makanan mereka.

    Telinga iguana disebut timpanum, yang merupakan gendang telinga iguana dan terdapat di kanan atas selubung subtimpani dan di belakang mata. Ini adalah bagian tubuh iguana yang amat tipis dan lembut, dan amat penting untuk pendengarannya.

    Mereka sering kali sulit untuk diketahui keberadaannya karena kemampuan mereka untuk menyatu dengan lingkungannya. Warna hijau alaminya sangat membantu dalam menyembunyikan dirinya dari predator.

    Berkembangnya hobi memelihara reptil ini, menjadikan iguana sebagai salah satu alternatif pecinta reptil herbivora. Hal ini memengaruhi banyak bermunculannya komunitas iguana di Indonesia.




     
    Last edited by a moderator: Oct 21, 2014
    • Like Like x 1
  10. Offline

    wiwis6002 Senpai Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 29, 2012
    Messages:
    9,134
    Trophy Points:
    202
    Gender:
    Female
    Ratings:
    +2,354 / -2
    :matabelo:Selamat Datang di Hutan Pinus ( Pinaceae ) :matabelo:





    Pinus





    [​IMG]






    [​IMG]






    [​IMG]

    Klasifikasi ilmiah


    Kingdom : Plantae
    Division : Pinophyta
    Class : Pinopsida
    Order : Pinales
    Family : Pinaceae
    Genus : Pinus
    L.


    Subgenus Strobus
    Subgenus Ducampopinus
    Subgenus Pinus

    L.

    Pines are conifer trees in the genus Pinus /ˈpiːnuːs/, in the family Pinaceae. They are the only genus in the subfamily Pinoideae. Counting varieties and subspecies, the plant list of the Royal Botanic Gardens, Kew and Missouri Botanical Garden accepts 175 names of pines as current, together with some thirty or forty unresolved and many more synonyms or misapplied.






    Etymology

    The modern English name pine derives from Latin pinus which some have traced to the Indo-European base *pīt- ‘resin’ (source of English pituitary. In the past (pre-19th century) they were often known as fir, from Old Norse fyrre, by way of Middle English firre. The Old Norse name is still used for pines in some modern north European languages, in Danish fyr, in Norwegian fura/fure/furu, Swedish fura/furu, Dutch vuren, and Föhre in German, but in modern English, fir is now restricted to Fir (Abies) and Douglas-fir (Pseudotsuga). Also the pine needle is often associated with good will among Canadians. Especially around Christmas time.






    Taxonomy, nomenclature and codification

    Pines are gymnosperms. The genus is divided into three subgenera, based on cone, seed and leaf characters:
    • Pinus subg. Pinus, the yellow, or hard pine group, generally with harder wood and two or three needles per fascicle.[4]
    • Pinus subg. Ducampopinus, the foxtail or pinyon group
    • Pinus subg. Strobus, the white, or soft pine group, generally with softer wood and five needles per fascicle






    Distribution

    Most regions of the Northern Hemisphere (see List of pines by region) host some native species of pines. One species (Sumatran pine) crosses the equator in Sumatra to 2°S. In North America, various species occur in regions at latitudes from as far as 66°N to as far south as 12°N.
    Various species have been introduced to temperate and subtropical regions of both hemispheres, where they are grown as timber or cultivated as ornamental plants in parks and gardens. A number of such introduced species have become invasive and threaten native ecosystems.






    Description

    Pines are evergreen, coniferous resinous trees (or rarely shrubs) growing 3–80 m tall, with the majority of species reaching 15–45 m tall. The smallest are Siberian dwarf pine and Potosi pinyon, and the tallest is a 268.35-foot (81.79-meter) tall ponderosa pine located in southern Oregon's Rogue River-Siskiyou National Forest.
    The bark of most pines is thick and scaly, but some species have thin, flaking bark. The branches are produced in regular "pseudo whorls", actually a very tight spiral but appearing like a ring of branches arising from the same point. Many pines are uninodal, producing just one such whorl of branches each year, from buds at the tip of the year's new shoot, but others are multinodal, producing two or more whorls of branches per year. The spiral growth of branches, needles, and cone scales are arranged in Fibonacci number ratios.The new spring shoots are sometimes called "candles"; they are covered in brown or whitish bud scales and point upward at first, then later turn green and spread outward. These "candles" offer foresters a means to evaluate fertility of the soil and vigour of the trees.
    Pines are long-lived, typically reaching ages of 100–1,000 years, some even more. The longest-lived is the Great Basin bristlecone pine, Pinus longaeva. One individual of this species, dubbed Methuselah, is one of the world's oldest living organisms at around 4,600 years old. This tree can be found in the White Mountains of California. An older tree, unfortunately now cut down, was dated at 4,900 years old. It was discovered in a grove beneath Wheeler Peak and it is now known as Prometheus after the Greek immortal.







     
    Last edited by a moderator: Nov 4, 2014
  11. Offline

    nugrozipho Senpai Gatotkaca

    Joined:
    Feb 18, 2013
    Messages:
    9,830
    Trophy Points:
    202
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +35,918 / -4

    Taman 90 - Penyu (Chelonioidea)






















    Penyu
    [​IMG]
    Penyu hijau Hawaii​
    Status konservasi
    Klasifikasi ilmiah



















    Kerajaan: Animalia
    Filum: Chordata
    Kelas: Sauropsida
    Ordo: Testudinata
    Upaordo: Cryptodira
    Superfamili: Chelonioidea
    Bauer, 1893
    Genera


    Penyu adalah kura-kura laut. Penyu ditemukan di semua samudra di dunia. Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura (145 - 208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Pada masa itu Archelon, yang berukuran panjang badan enam meter, dan Cimochelys telah berenang di laut purba seperti penyu masa kini.

    Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 - 73 hari.

    Masa Bertelur

    Penyu mengalami siklus bertelur yang beragam, dari 2 - 8 tahun sekali. Sementara penyu jantan menghabiskan seluruh hidupnya di laut, betina sesekali mampir ke daratan untuk bertelur. Penyu betina menyukai pantai berpasir yang sepi dari manusia dan sumber bising dan cahaya sebagai tempat bertelur yang berjumlah ratusan itu, dalam lubang yang digali dengan sepasang tungkai belakangnya. Pada saat mendarat untuk bertelur, gangguan berupa cahaya ataupun suara dapat membuat penyu mengurungkan niatnya dan kembali ke laut.

    Penyu yang menetas di perairan pantai Indonesia ada yang ditemukan di sekitar kepulauan Hawaii. Penyu diketahui tidak setia pada tempat kelahirannya.

    Tidak banyak regenerasi yang dihasilkan seekor penyu. Dari ratusan butir telur yang dikeluarkan oleh seekor penyu betina, paling banyak hanya belasan tukik (bayi penyu) yang berhasil sampai ke laut kembali dan tumbuh dewasa. Itu pun tidak memperhitungkan faktor perburuan oleh manusia dan pemangsa alaminya seperti kepiting, burung dan tikus di pantai, serta ikan-ikan besar begitu tukik tersebut menyentuh perairan dalam.

    Di tempat-tempat yang populer sebagai tempat bertelur penyu biasanya sekarang dibangun stasiun penetasan untuk membantu meningkatkan tingkat kelulushidupan (survival). Di Indonesia misalnya terdapat stasiun penetasan di:

    • Pantai selatan Jawa Barat (Pangumbahan, Cikepuh)
    • pantai selatan Bali (di dekat Kuta)
    • Kalimantan Tengah (Sungai Cabang)
    • pantai selatan Lombok
    • Jawa Timur (Alas Purwo)
    • Bengkulu (Retak ilir Muko-muko)
    • Pulau Cangke Kabupaten Pangkep Prov. Sulawesi selatan
    • Pulau Jemur Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau
    • Pulau Sangalaki Kabupaten Berau Prov. Kalimantan Timur


    Jenis Penyu

    Di dunia saat ini hanya ada tujuh jenis penyu yang masih bertahan, yaitu

    • Penyu hijau (Chelonia mydas)
    • Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)
    • Penyu Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi)
    • Penyu lekang (Lepidochelys olivacea)
    • Penyu belimbing (Dermochelys coriacea)
    • Penyu pipih (Natator depressus)
    • Penyu tempayan (Caretta caretta)

    Dari ketujuh jenis ini, hanya penyu Kemp's ridley yang tidak pernah tercatat ditemukan di perairan Indonesia.

    Dari jenis-jenis tersebut, penyu belimbing adalah yang terbesar dengan ukuran panjang badan mencapai 2,75 meter dan bobot 600 - 900 kilogram. Penyu lekang adalah yang terkecil, dengan bobot sekitar 50 kilogram. Namun demikin, jenis yang paling sering ditemukan adalah penyu hijau.

    Penyu, terutama penyu hijau, adalah hewan pemakan tumbuhan yang sesekali memangsa beberapa hewan kecil.


    Isu konservasi

    Dalam laporan Conservation International (CI) yang diumumkan pada simposium tahunan ke-24 mengenai usaha pelestarian penyu di Kosta Rika disebutkan, banyaknya penyu belimbing turun dari sekitar 115.000 ekor betina dewasa menjadi kurang dari 3.000 ekor sejak tahun 1982. Penyu belimbing telah mengalami penurunan 97% dalam waktu 22 tahun terakhir. Selain itu, lima spesies penyu juga beresiko punah, meski tidak dalam jangka waktu yang singkat seperti penyu belimbing.

    Hampir semua jenis penyu termasuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi oleh undang-undang nasional maupun internasional karena dikhawatirkan akan punah disebabkan oleh jumlahnya makin sedikit. Di samping penyu belimbing, dua spesies lain, penyu Kemp’s Ridley dan penyu sisik juga diklasifikasikan sebagai sangat terancam punah oleh The World Conservation Union (IUCN). Penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang atau penyu abu-abu (Lepidochelys olivacea), dan penyu tempayan atau loggerhead (Caretta caretta) digolongkan sebagai terancam punah. Hanya penyu pipih (Natator depressus) yang diperkirakan tidak terancam.


    Sebagian orang menganggap penyu adalah salah satu hewan laut yang memiliki banyak kelebihan. Selain tempurungnya yang menarik untuk cendramata, dagingnya yang lezat ditusuk jadi Sate penyu berkhasiat untuk obat dan ramuan kecantikan. Terutama di Tiongkok dan Bali, penyu menjadi bulan-bulanan ditangkap, disantap, tergusur dari pantai, telurnyapun diambil. Meski sudah ada Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pelestarian Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang melindungi semua jenis penyu, perburuan terhadap hewan yang berjalan lamban ini terus berlanjut. Untuk mencegah kepunahan penyu, terutama penyu belimbing, beberapa negara telah melindungi tempat bertelur penyu. Salah satunya adalah di Jamursba Medi, yang terletak di pantai utara Irian. Pantai itu baru-baru ini ditetapkan sebagai wilayah konservasi.


     
    Last edited by a moderator: Jan 4, 2015
  12. Offline

    alfianx _x.X.x_ Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2012
    Messages:
    3,305
    Trophy Points:
    202
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +30,043 / -15




    Taman 91 - Bunga Abadi (Anaphalis javanica)
























    Edelweis
    [​IMG]
    Anaphalis javanica (Javanese Edelweiss), di kawasan "Taman Nasional Bromo Tengger Semeru" disebut "Bunga Senduro".
    Status konservasi
    Klasifikasi ilmiah
















    Kerajaan: Plantae
    Ordo: Asterales
    Famili: Asteraceae
    Genusi: Anaphalis
    Species: A. javanica
    Nama Binomial
    Anaphalis javanica
    Anaphalis javanica, yang dikenal secara populer sebagai Edelweiss jawa (Javanese edelweiss) atau Bunga Senduro, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Nusantara. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian 8 meter dan dapat memiliki batang sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 meter. Tumbuhan ini sekarang dikategorikan sebagai langka.

    Edelweis merupakan tumbuhan pelopor bagi tanah vulkanik muda di hutan pegunungan dan mampu mempertahankan kelangsungan hidupnya di atas tanah yang tandus, karena mampu membentuk mikoriza dengan jamur tanah tertentu yang secara efektif memperluas kawasan yang dijangkau oleh akar-akarnya dan meningkatkan efisiensi dalam mencari zat hara. Bunga-bunganya, yang biasanya muncul di antara bulan April dan Agustus, sangat disukai oleh serangga, lebih dari 300 jenis serangga seperti kutu, tirip, kupu-kupu, lalat, tabuhan, dan lebah terlihat mengunjunginya.

    Jika tumbuhan ini cabang-cabangnya dibiarkan tumbuh cukup kokoh, edelweis dapat menjadi tempat bersarang bagi burung tiung batu licik Myophonus glaucinus. Bagian-bagian edelweis sering dipetik dan dibawa turun dari gunung untuk alasan-alasan estetis dan spiritual, atau sekedar kenang-kenangan oleh para pendaki. Pada bulan Februari hingga Oktober 1988, terdapat 636 batang yang tercatat telah diambil dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yang merupakan salah satu tempat perlindungan terakhir tumbuhan ini. Dalam batas tertentu dan sepanjang hanya potongan-potongan kecil yang dipetik, tekanan ini dapat ditoleransi. DiTaman Nasional Bromo Tengger Semeru, tumbuhan ini dinyatakan punah.


    Sayangnya keserakahan serta harapan-harapan yang salah telah mengorbankan banyak populasi, terutama populasi yang terletak di jalan-jalan setapak. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa edelweis dapat diperbanyak dengan mudah melalui pemotongan cabang-cabangnya. Oleh karena itu potongan-potongan itu mungkin dapat dijual kepada pengunjung untuk mengurangi tekanan terhadap populasi liar.


    Salah satu tempat terbaik untuk melihat edelweis adalah di Tegal Alun (Gunung Papandayan), Alun-Alun Surya Kencana (Gunung Gede), Alun-Alun Mandalawangi (Gunung Pangrango), dan Plawangan Sembalun (Gunung Rinjani).





     
    Last edited by a moderator: Jan 4, 2015
  13. Offline

    mufaya dnanbl Most Valuable Users

    Joined:
    Dec 28, 2013
    Messages:
    8,983
    Trophy Points:
    152
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +3,004 / -0
    Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae)







    Perkenalan
    Harimau sumatera (bahasa Latin: Panthera tigris sumatrae) adalah subspesies harimau yang habitat aslinya di pulau Sumatera, merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di taman-taman nasional di Sumatera. Uji genetik mutakhir telah mengungkapkan tanda-tanda genetik yang unik, yang menandakan bahwa subspesies ini mungkin berkembang menjadi spesies terpisah, bila berhasil lestari.

    Penghancuran habitat merupakan ancaman terbesar terhadap populasi saat ini. Pembalakan tetap berlangsung bahkan di taman nasional yang seharusnya dilindungi. Tercatat 66 ekor harimau sumatera terbunuh antara tahun 1998 dan 2000.


    Karakteristik
    Harimau sumatera adalah subspesies harimau terkecil. Harimau sumatera mempunyai warna paling gelap di antara semua subspesies harimau lainnya, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet. Harimau sumatera jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut atau sekitar 250 cm panjang dari kepala hingga kaki dengan berat 300 pound atau sekitar 140 kg, sedangkan tinggi dari jantan dewasa dapat mencapai 60 cm. Betinanya rata-rata memiliki panjang 78 inci atau sekitar 198 cm dan berat 200 pound atau sekitar 91 kg. Belang harimau sumatera lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Warna kulit harimau sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua. Subspesies ini juga punya lebih banyak janggut serta surai dibandingkan subspesies lain, terutama harimau jantan. Ukurannya yang kecil memudahkannya menjelajahi rimba. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat. Harimau ini diketahui menyudutkan mangsanya ke air, terutama bila binatang buruan tersebut lambat berenang. Bulunya berubah warna menjadi hijau gelap ketika melahirkan.


    [TH="background-color: #D3D3A4"]Harimau Sumatera[/TH]



    [TH="background-color: #D3D3A4"]Klasifikasi ilmiah[/TH]


    [​IMG]






















    Kerajaan: Animalia
    Filum: Chordata
    Kelas: Mammalia
    Ordo: Carnivora
    Famili: Felidae
    Genus: Panthera
    Spesies: P. tigris
    Habitat
    Harimau sumatera hanya ditemukan di pulau Sumatera. Kucing besar ini mampu hidup di manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Hanya sekitar 400 ekor tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan sisanya tersebar di daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang 250 ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia. Harimau sumatera mengalami ancaman kehilangan habitat karena daerah sebarannya seperti blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan pembangunan jalan. Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia, dan seringkali mereka dibunuh dan ditangkap karena tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia.



    Makanan
    Makanan harimau sumatera tergantung tempat tinggalnya dan seberapa berlimpah mangsanya. Sebagai predator utama dalam rantai makanan, harimau mepertahankan populasi mangsa liar yang ada di bawah pengendaliannya, sehingga keseimbangan antara mangsa dan vegetasi yang mereka makan dapat terjaga. Mereka memiliki indera pendengaran dan penglihatan yang sangat tajam, yang membuatnya menjadi pemburu yang sangat efisien. Harimau Sumatera merupakan hewan soliter, dan mereka berburu pada malam hari, mengintai mangsanya dengan sabar sebelum menyerang dari belakang atau samping. Mereka memakan apapun yang dapat ditangkap, umumnya babi hutan dan rusa, dan kadang-kadang unggas atau ikan. Orangutan juga dapat jadi mangsa, mereka jarang menghabiskan waktu di permukaan tanah, dan karena itu jarang ditangkap harimau. Harimau sumatera juga gemar makan durian.

    Harimau sumatera juga mampu berenang dan memanjat pohon ketika memburu mangsa. Luas kawasan perburuan harimau sumatera tidak diketahui dengan tepat, tetapi diperkirakan bahwa 4-5 ekor harimau sumatera dewasa memerlukan kawasan jelajah seluas 100 kilometer di kawasan dataran rendah dengan jumlah hewan buruan yang optimal (tidak diburu oleh manusia).



    Save Harimau Sumatera!!
    Perdagangan bagian tubuh harimau di Indonesia saat ini semakin memprihatinkan. Penemuan tentang perdagangan harimau tersebut tercermin dalam survei Profauna Indonesia yang didukung oleh International Fund for Animal Welfare (IFAW) pada bulan Juli - Oktober 2008. Selama 4 bulan tersebut Profauna mengunjungi 21 kota/lokasi yang ada di Sumatera dan Jakarta.

    Dari 21 kota yang dikunjungi Profauna, 10 kota di antaranya ditemukan adanya perdagangan bagian tubuh harimau (48 %). Bagian tubuh harimau yang diperdagangkan meliputi kulit, kumis, cakar, ataupun opsetan utuh.

    Harga bagian tubuh harimau yang dijual itu bervariasi. Untuk yang utuh dijual seharga Rp. 5 juta per lembar sampai dengan 25 juta per lembar. Sedangkan taring harimau ditawarkan seharga Rp. 400.000 hingga Rp. 1,1 juta.

    Kebanyakan bagian tubuh harimau tersebut dijual di toko seni, penjual batu mulia, dan penjual obat tradisional. Untuk perdagangan bagian tubuh harimau paling banyak terjadi di Lampung.

    Masih maraknya perdagangan bagian tubuh harimau tersebut sudah dilaporkan Profauna ke Departemen Kehutanan melalui Dirjen PHKA pada bulan April 2009, dengan harapan pemerintah bisa mengambil langkah-langkah tegas untuk mengatasi perdagangan satwa langka yang dilindungi tersebut. Beberapa tindakan nyata telah diambil pemerintah untuk memerangi perdagangan bagian tubuh harimau di Jakarta.

    Pada tanggal 7 Agustus 2009, Satuan Polhut Reaksi Cepat dan Satuan Sumdaling Polda Metro Jaya berhasil menggulung sindikat perdagangan kulit harimau di Jakarta. Selain mengamankan 2 kulit harimau sumatera utuh, polisi juga menyita 6 awetan burung cendrawasih, 2 kulit kucing hutan, 12 awetan kepala rusa, 1 surili, 5 tengkorak rusa, 1 kepala beruang dan 1 kulit rusa sambar. Sindikat perdagangan satwa langka itu diduga juga melibatkan sejumlah kebun binatang di Jawa dan Sumatera.

    Terungkapnya sindikat perdagangan harimau dan satwa langka lainnya di Jakarta tersebut membuktikan bahwa laporan Profauna tentang perdagangan harimau adalah sebuah fakta. Fakta tersebut seperti fenomena gunung es, hanya tampak di permukaannya saja. Fakta sebenarnya diyakini jauh lebih besar dari yang sudah terdektesi.

    Perdagangan bagian tubuh harimau di Indonesia adalah perbuatan kriminal, karena melanggar Undang-Undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Berdasarkan pasal 21 dalam undang-undang nomor 5 tahun 1990 poin (d) bahwa "setiap orang dilarang untuk memperniagakan, menyimpan atau memiliki, kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia". Pelanggar dari ketentuan tersebut dapat dikenakan sanksi pidana berupa hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimum 100 juta.
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.