1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Gadis Kecil Di Pesta Ulang Tahun

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by kiefs, Jan 10, 2010.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    kiefs Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    1,194
    Trophy Points:
    131
    Ratings:
    +747 / -0
    Hari ini adalah hari ulang tahun pertama putriku, peri kecilku yang amat ku nanti kelahirannya. Aku sudah mempersiapkannya sejak lama, ku pilih kartu undangan lucu dan menarik untuk mengundang teman-temanku datang, dan aku memilih sebuah restoran cepat saji sebagai tempat untuk merayakannya.

    Sore ini tampak cerah, aku dan keluarga serta beberapa kerabatku datang lebih awal untuk mempersiapkan tempat dan sedikit acara yang akan kami adakan. Beberapa tamu undangan mulai berdatangan sampai pada akhirnya semua tamu telah datang.
    Suasana begitu meriah dan ramai dipenuhi suara tepuk tangan dan nyanyi, tak kalah ramainya dengan suara tawa anak–anak dan kegembiraan mereka dengan meloncat dan berlari. Di tengah kegembiraan itu, tanpa sengaja aku menoleh ke halaman luar lewat dinding kaca, dan mataku bertumpu pada seorang gadis kecil berpakaian lusuh tanpa alas kaki sedang berdiri terpana. Sepertinya dia juga menikmati kegembiraan kami, sesekali dia menelan air liurnya dan aku menangkap rasa lapar tergambar pada wajahnya yang tirus. Aku terhenyak melihatnya, aku pandangi kembali wajahnya yang mungil, senyumnya yang polos, dan kemudian pandanganku memutar menatap keramaian di sekelilingku, betapa suatu keadaan yang sungguh berbeda.
    ***

    Terbayang masa kecilku, ketika aku dan ibuku melintasi sebuah rumah, rumah yang begitu ramai, banyak anak kecil seusiaku dengan berpakaian bagus bernyanyi dan bertepuk tangan, tertawa riang, meloncat-loncat. Sesaat aku berhenti dan terpaku menatapnya, ketika tangan ibuku menarikku. Aku menatap mata ibuku dan bertanya “Itu apa bu? Kenapa banyak anak-anak di sana?” Ibuku menghela nafas, sambil menatapku ia berkata, “Itu pesta ulang tahun, anakku.” “Ulang tahun?? apan aku ulang tahun, bu?” Mendadak timbul sebersit harapan bahwa suatu saat aku pun akan merasakan kegembiraan pada pesta ulang tahunku.
    Ibuku berjongkok, sambil memegang pundakku ia berkata, “Setiap tahun pada setiap tanggal kelahiranmu itulah hari ulang tahunmu nak, tapi maafkan ibu karena sampai saat ini ibu belum mampu mengadakan pesta untuk ulang tahunmu.” Aku melihat kesedihan pada raut wajah ibuku. “Ayo nak, kita pulang.”
    Aku mengikuti langkah ibuku sambil beberapa saat sesekali aku masih menoleh ke rumah yang ramai itu, rumah yang ibuku bilang ada pesta ulang tahun, pesta yang ramai, pesta yang penuh kegembiraan.
    ***

    Aku melangkah keluar menghampiri gadis kecil itu,sedikit membungkuk aku menyapanya. “Halo adik kecil.” Gadis kecil itu tersentak dan membalikkan badannya bergegas pergi. Aku memegang pundaknya dan dia tampak ketakutan. “Ayo masuk, kamu mau ikut pesta ulang tahun ini kan?” Mata beningnya menatapku dengan ragu, aku mengulangi pertanyaanku, “Kamu mau ikut pesta ulang tahun ini kan?” Ia mengangguk dan aku menggandengnya masuk.
    Aku memintanya duduk lalu memberinya satu porsi makanan. Wajah lugunya terlihat gembira, tapi mata beningnya seperti menyimpan sesuatu. “Makanlah dik.” Dia menatap makanan itu lalu menggelengkan kepalanya. “Kamu tidak suka makanan itu?” Ia kembali menggelengkan kepalanya. “Kenapa?” “Aku ingat ibu,” jawabnya. “Aku mau memberi makanan ini untuknya.” “Ada apa dengan ibumu?” “Ibuku sakit. Aku tidak tahu apa ibuku akan mempunyai kesempatan untuk bisa makan makanan enak seperti ini.”
    Dia tertunduk dan dari mata beningnya aku melihat air matanya mengalir…
    ***
    Aku tersentak mendengarnya, terbayang olehku saat ibuku terbaring sakit, apa pun yang aku sediakan tidak lagi bisa membuatnya berselera untuk makan.
    Demikian juga seringkali saat aku membayar mahal untuk satu porsi makanan yang aku makan, terbayang olehku ibu yang duduk di dipan kayu sedang menghitung lembar-lembar uang lusuhnya. Ketika aku hampiri, dia berkata, ”Maafkan ibu nak, karena ibu tidak pernah bisa memberimu makanan yang enak dan bergizi. Mungkin uang ini hanya cukup untuk kita makan beberapa hari saja.”
    Setiap kali aku melihat ibu menghitung uang belanjanya yang lusuh, aku membatin dalam hatiku bahwa jika aku besar nanti aku akan memberi ibu makanan-makanan yang enak dan bergizi. Aku juga ingat, bahwa aku berjanji dalam hati bahwa jika aku besar nanti aku mau membeli sebuah rumah yang nyaman untuk kami tinggal, mau membeli sebuah mobil dan mengajak ibu jalan-jalan.
    Aku berjuang untuk mewujudkan harapanku itu, tapi ternyata aku tak pernah sempat membelikan ibu sebuah rumah yang nyaman, apalagi membeli sebuah mobil untuk mengajaknya jalan-jalan.
    Aku bekerja apa saja yang penting halal, aku mencari uang karena ingin bisa kuliah dan bekerja di kantoran. Setamat SMA aku juga bekerja dan malamnya aku kuliah, tidak jarang sepulang kuliah aku belajar dengan penerangan lampu minyak yang redup.
    Aku bahkan jarang membelikan ibu makanan enak dan bergizi seperti janjiku waktu aku kecil. Karena saat aku belikan, ibuku selalu berpesan agar sebaiknya uangku itu ditabung untuk biaya kuliahku. Aku mengikuti sarannya, menabung untuk biaya kuliahku. Maklumlah gajiku tidak seberapa, tapi ternyata hal ini akhirnya terkadang menjadi sebuah penyesalan karena aku tidak pernah bisa memberinya apa-apa.
    Sekarang kehidupanku sudah lebih baik, aku juga sudah mempunyai sebuah mobil, tapi mobil ini tak pernah sempat aku gunakan untuk mengajak ibu jalan-jalan. Setiap aku pergi rekreasi terkadang aku ingat ibu, dalam mobilku tidak pernah ada ibu yang dulu aku bayangkan akan tersenyum gembira jika aku ajak jalan-jalan.
    ***
    “Tante…” Sapaan gadis kecil itu membuyarkan lamunanku. “Boleh aku bawa pulang makanan ini?” Aku mengangguk. Aku memesan satu porsi lagi dan memberikan padanya, “Ini untuk Ibumu.”
    Bola mata bening gadis kecil itu berbinar. Sambil tersenyum ia mengucapkan terima kasih padaku. Dengan menenteng bungkusan makanan, langkah kecilnya berlari menjauh dariku.
    Saat kita tertawa gembira dalam pesta, ada begitu banyak sesama kita yang menangis dan kesepian.
    Saat kita menyia-nyiakan waktu dan uang sekolah kita, ada begitu banyak sesama kita yang tidak mampu untuk sekolah.
    Saat kita membayar mahal untuk satu porsi makanan yang kita makan, ada begitu banyak sesama kita yang tidak mampu membeli makanan walau hanya sekedar mengganjal rasa lapar. Mungkin uang yang kita keluarkan untuk membayar satu porsi makanan kita sama besar dengan penghasilan mereka satu minggu.

    Saat kita mengeluarkan uang untuk membeli sepotong pakaian mahal ada banyak sesama kita yang bahkan tidak mampu membeli pakaian.

    Saat kita tidak bersyukur atas pekerjaan yang kita miliki, ada banyak sesama kita yang tidak mempunyai kesempatan untuk bekerja.

    Saat kita tidak bersyukur atas kesehatan kita, ada banyak sesama kita yang sakit dan tidak mampu berobat.

    Saat kita tidak bersyukur atas tubuh kita yang normal, ada begitu banyak sesama kita yang cacat.


    Saat kita kurang bersyukur atas pendamping hidup yang kita miliki, atas istri atau suami, ada begitu banyak orang yang sampai saat ini masih berjuang untuk bertemu dengan pendamping hidupnya.

    Saat kita menyia-nyiakan orang tua dan kurang memperhatikannya, ada begitu banyak anak-anak yang sejak lahir bahkan tidak pernah tahu siapa orangtuanya.


    Saat kita menyia-nyiakan anak dan kurang memperhatikannya, ada begitu banyak orang-orang yang tidak pernah bisa melahirkan anak-anaknya.
    Jika kita pernah mengalami berbagai kesulitan dan sekarang kita telah bisa keluar dari kesulitan itu, hendaklah hal itu membuat kita lebih memahami kesulitan orang lain dan bukan mencemoohnya.

    Mungkin memang ada banyak orang yang kurang berjuang dari kesulitannya itu, tapi ada banyak juga yang sudah berjuang tapi tidak mendapatkan hasil yang maksimal atau mungkin tidak mendapat hasil sama sekali, karena memang kemampuan tiap orang tidak sama dan kesempatan tiap orang berbeda.

    Tuhan menciptakan matahari untuk semua orang, bukan saja untuk orang kaya, tetapi juga untuk orang miskin. Maukah kita menjadi perpanjangan berkat bagi sesama? Karena dari apa yang Tuhan berikan dan kita terima ada sebagian yang Tuhan ingin kita bagikan kepada mereka, agar mereka pun dapat juga merasakan hangatnya sinar matahari itu.
     
    Last edited: Jan 10, 2010
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.