1. Sssst, ada Administrator baru di forum Indowebster lho... cek di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Four letters word, called LIFE

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by LinKL, Jun 3, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    LinKL Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Oct 24, 2009
    Messages:
    515
    Trophy Points:
    191
    Ratings:
    +7,141 / -0
    [​IMG]

    Apa jawaban yang Anda berikan bila anak Anda bertaya, "Mengapa Ayah atau Ibu harus bekerja?". Lazim terjadi, kita sebagai orangtua berkata, "Mencari uang!". Jawaban ini tentu saja memang sangat logis dan masuk akal. Di sisi lain, tidakkah kita kemudian jadi tergelitik dengan jawaban tersebut? Betulkah prioritas dan alasan kita bekerja membanting tulang dan memeras otak semata mencari uang? Bukankah kegiatan mencari uang bisa terdengar sumbang bila asal dari jumlah jutaan, miliaran, bahkan triliunan rupiah yang dikorupsi atau direkayasa dengan cara "insider trading" dari oknum tertentu? Bila uang diperoleh, tetapi kualitas hidup dan karakter pribadi tidak menjadi lebih baik, serta ada pihak-pihak yang dirugikan, masihkan bermakna kerja yang kita lakukan?

    Banyak orang tidak bisa membayangkan untuk apa uang miliaran atau triliunan dimiliki dan bagaimana jumlah sebanyak itu dibelanjakan. Meski tidak selamanya makna mencari uang atau mengejar keuntungan sama dari individu yang satu dari yang lain, kita juga sering menyaksikan betapa orang pada zaman sekarang tergila-gila pada uang. Orang yang "berada", bermobil keren, berdandan dengan barang-barang branded, diperlakukan lebih terhormat. Orang-orang merasa kekurangan uang terus dan mengeluarkan pernyataan bahwa kebutuhan tidak ada habisnya. Seolah-olah kita mencari excuse untuk bersikap materialis. Kadang-kadang kita bingung sendiri mengapa kita terjebak dalam collective-greed seperti ini. Seorang ahli filsafat menggambarkan situasi sekarang sebagai berikut : 'How much is enough, and why are people willing to risk so much to get more? If money is so alluring, how is it that so many people of great wealth also seem so unhappy?'.

    Pada zaman ketika anak-anak muda berusia antara 20-30 tahun dengan mudah menjadi kaya raya, tantangan untuk mencari makna uang atau kepemilikan pun seakan semakin tidak diprioritaskan. Dengan tawaran-tawaran pinjaman tanpa agunan, janji-janji keuntungan reksadana, pinjaman KPR yang semakin dipermudah, gadget teknologi informasi yang selalu baru, orang jadi lupa untuk mempertanyakan keberadaannya di dunia ini, apa misi dan tujuan hidupnya, apa makna hidup dan makna bekerja. Padahal, seperti kita saksikan sendiri, uang bisa menjadi sumber malapetaka, ketimbang sumber daya untuk mengembangkan hubungan interpersonal dan memperkaya makna hidup. Kalau pada saat berkekurangan kita mencemaskan "besok mau makan apa?", pada waktu berkecukupan, kecemasannya berbentuk, "bagaimana bila uang saya hilang?". Seorang profesor filsafat, Jacob Needleman mengatakan, 'Being rich does not make you smart - especially about things other than money." Bila tidak pernah memahami hubungan kita dengan uang dan harga, kita tidak pernah mengenal diri sendiri.

    Sukses = banyak duit?

    Istilah "jadi orang" yang sering digunakan oleh orang-orang tua kita dulu sebetulnya mengandung makna yang dalam. Pada zaman dahulu, jelas "jadi orang" tidak selamanya "jadi orang kaya". Jadi guru yang hidup sederhana pun sudah "jadi orang". Sebetulnya, konsep sukses dari dulu dan bahkan sampai sekarangpun tidak bisa kita samakan dengan banyak uang saja. Orang bisa dikatakan sukses bila ia jelas-jelas menyadari dan menggunakan semua fungsi, semua bagian dan seluruh kapasitas dalam dirinya untuk kebaikan orang lain dan masyarakat, bukan semata untuk kepentingan dirinya pribadi. Dalam mengembangkan diri, menjadi karakter yang utuh barulah seseorang bisa merasakan kenikmatan, perjuangan dan tantangan dalam bekerja. Teman saya, seorang pengusaha dan pekerja keras yang memiliki perusahaan beromzet triliunan pernah mengatakan, "Saya tidak bisa membayangkan uang bermiliar-miliar dalam bentuan uang kertas. Hal yang saya kejar dan upayakan hanya prestasi."

    Seseorang yang mendapatkan promosi atau kenaikan gaji dengan berjuang keras dan berkompetisi dengan sesama rekan, memiliki pengalaman mengerahkan sumber daya, melatih nyali, bahkan menguji hati nurani. Kenikmatan hasil jerih payahnya ini tentu tidak semata karena akhirnya ia meraih jabatan atau uang, tetapi juga karena terjadi pematangan kepribadian. Lain halnya bila seorang mendapatan jabatan ataupun uang dengan cara gampang, bahkan tanpa usaha. Ia melewatkan kesempatan untuk berdialog dengan dirinya. Spiritnya tidak berkembang. Demam masyarakat dalam dunia yang serba instan inilah yang mempengaruhi mental dan spirit kita semua. Kita sepertinya perlu mengembangkan "antibodi" agar tidak dijangkiti "demam" yang memastikan ini.

    Kualitas kerja sebagai daya tarik

    Kita memang tidak bisa menghindari kebutuhan akan uang. Terlepas dari kebutuhan orang untuk memenuhi rasa amannya melalui pemilikan rumah atau kendaraan yang memeadai untuk mendukung aktivitas sehari harinya, kita juga perlu merancang kaulitas perbaikan kualitas hidup sambil jalan. Bila selama ini ingin lebih dan lebih, kita perlu memberi penekanan pada kualitasnya. Bukan sekadar berjuang demi bonus, tetapi bekerja demi merasakan kebahagiaan kerja bersama. Bukan sekadar berkompetisi dengan melihat hasil akhir, tetapi justru memahami mengapa orang lain lebih bijak, lebih berkualitas kerja, dan lebih efisien. Dalam iming-iming mengajak calon pekerja untuk bergabung, bukan gaji besar yang ditonjolkan, tetapi bagaimana suasana kerja,hubungan antarkaryawan, dan apresiasi yang dipentingkan. Kita rasanya tidak perlu merasa kalah bersaing secara finansial, kalau saja mengetahui betul bagaimana mengupayakan agar para pekerja diarahkan untuk melakukan kualitas kerja yang baik. Dalam hal ini upah pasti akan menjadi konsekuesi positifnya. "In tough times, meaningful work seems more than ever to demand attention."

    Eileen Rachmand & Sylvina Savitri
    EXPERD (http://jobs.experd.com)
    EMPLOYEE ENGAGEMENT SURVEYDisalin dari Kompas cetak edisi, Jumat 27 Mei 2011.

    Berikut adalah cuplikan yang dirangkum dari laman Inspiration and Chai : Penulis artikel itu mengambil 5 poin yang paling sering disesali oleh orang-ornang yang sudah mendekati ajalnya. Ini adalah 5 hal yang paling mereka sesalkan, karena mereka tidak lakukan semasa hidupnya.
    1. Saya berharap saya akan punya keberanian untuk hidup menjadi diriku sendiri, bukan hidup sebagai orang lain yang diharapkan dari saya.
    2. Saya berharap saya tidak bekerja terlalu keras.
    3. Saya berharap saya akan punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan saya.
    4. Saya berharap saya tetap berhubungan dengan teman-teman saya.
    5. Saya berharap saya membiarkan diriku lebih bahagia.


    [​IMG]

    Life is a choice. It is YOUR life. Choose consciously, choose wisely, choose honestly. Choose happiness.

    = )
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    teddzzzz Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 16, 2010
    Messages:
    574
    Trophy Points:
    162
    Ratings:
    +5,435 / -0
    Yg pasti kalo dah kaya,jgn lupa diri :swt:
    Banyak"lah beramal :hehe:
    Jgn cuma foya" :lempar:
    Nice share TS :top:
     
  4. Offline

    far Silent Reader Members

    Joined:
    Aug 24, 2008
    Messages:
    101
    Trophy Points:
    31
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +37 / -0
    hmmm...
    mencari uang jangan sampai melupakan arti kerja dan kualitas hidup
     
  5. Offline

    deeje89 Silent Reader Members

    Joined:
    May 25, 2011
    Messages:
    158
    Trophy Points:
    32
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +27 / -0
    hem... uang emang bukan segalanya gan tapi segalanya butuh uang
    manusia gk isa terlepas dr keinginan dan nafsu gan jd kita sebagai manusia yg baik harus belajar untuk melepaskan nafsu duniawi gan
     
  6. Offline

    rickykapri Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Aug 14, 2009
    Messages:
    740
    Trophy Points:
    141
    Ratings:
    +8,337 / -0
    perenungan ni..kebayakan klo udah kerja lupa dengan passion sebuah pekerjaan itu hanya memikirkan uang-uang dan uang...tp ngak bisa dipungkiri d jaman sekarang semua menggunakan uang..sangat sulit buat menemukan passion sebuah pekerjaan di bawah tekanan sosial
    nice post :terharu:
     
  7. Offline

    Setchi Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 12, 2012
    Messages:
    468
    Trophy Points:
    27
    Ratings:
    +976 / -0
    Berikut adalah cuplikan yang dirangkum dari laman Inspiration and Chai : Penulis artikel itu mengambil 5 poin yang paling sering disesali oleh orang-ornang yang sudah mendekati ajalnya. Ini adalah 5 hal yang paling mereka sesalkan, karena mereka tidak lakukan semasa hidupnya.
    1. Saya berharap saya akan punya keberanian untuk hidup menjadi diriku sendiri, bukan hidup sebagai orang lain yang diharapkan dari saya.
    2. Saya berharap saya tidak bekerja terlalu keras.
    3. Saya berharap saya akan punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan saya.
    4. Saya berharap saya tetap berhubungan dengan teman-teman saya.
    5. Saya berharap saya membiarkan diriku lebih bahagia.


    [​IMG]

    Life is a choice. It is YOUR life. Choose consciously, choose wisely, choose honestly. Choose happiness.

    :terharu::top:
     
  8. Offline

    cat Silent Reader Members

    Joined:
    May 2, 2009
    Messages:
    35
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +0 / -0
    ada bukunya yang bisa di baca, Life Is A Choice ... bagus buat memompa smangad...
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.