1. Sssst, ada Administrator baru di forum Indowebster lho... cek di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Fenomena Masturbasi

Discussion in 'Pengetahuan Penting Penunjang Kesehatan' started by ichreza, Jul 18, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    ichreza Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Nov 8, 2009
    Messages:
    839
    Trophy Points:
    191
    Ratings:
    +8,767 / -0
    Fenomena Masturbasi
    Masturbasi adalah sebuah fenomena umum dan sering didiskusikan yang terdapat di
    mana-mana.. Pelakunya pun tidak terbatas pada jenis kelamin, usia maupun latar
    belakang sosial. Sebenarnya gejala masturbasi pada usia pubertas dan remaja,
    banyak sekali terjadi. Hal ini disebabkan oleh kematangan seksual yang memuncak
    dan tidak mendapat penyaluran yang wajar; lalu ditambah dengan rangsangan-
    rangsangan ekstern berupa buku-buku dan gambar porno, film biru, meniru kawan
    dan lain-lain.
    Oleh sebagian orang, masturbasi dianggap sebagai sebuah kebiasaan yang
    menyenangkan. Tetapi pada kelompok lain justru dianggap merupakan aktivitas
    penodaan diri yang dapat menimbulkan kelainan psikosomatik dan aneka dampak
    buruk lainnya. Masturbasi dilakukan oleh sebagian besar pria maupun wanita. Pada
    sebuah penelitian terungkap bahwa 95% pria dan 89% wanita dilaporkan pernah
    melakukan masturbasi. Masturbasi memunculkan banyak mitos tentang akibatnya
    yang merusak dan memalukan. Citra negatif ini bisa dilacak jauh ke belakang ke
    kata asalnya dari bahasa Latin, mastubare, yang merupakan gabungan dua kata
    Latin manus (tangan) dan stuprare (penyalahgunaan), sehingga berarti
    "penyalahgunaan dengan tangan". Anggapan memalukan dan berdosa yang terlanjur
    tertanam disebabkan karena porsi "penyalahgunaan" pada kata itu hingga kini masih
    tetap ada dalam terjemahan moderen - meskipun para aparatur kesehatan telah
    sepakat bahwa masturbasi tidak mengakibatkan kerusakan fisik maupun mental.
    Tujuan utama masturbasi adalah mencari kepuasan atau melepas keinginan nafsu
    seksual dengan jalan tanpa bersenggama. Akan tetapi masturbasi tidak dapat
    memberikan kepuasan yang sebenarnya. Berbeda dengan bersenggama yang
    dilakukan oleh dua orang yang berlawanan jenis. Mereka mengalami kesenangan,
    kebahagiaan, dan keasyikan bersama. Pada senggama, rangsangan tidak begitu
    perlu dibangkitkan secara tiruan, karena hubungan seksual antara laki-laki dan
    perempuan merupakan suatu hal yang alami. Dalam masturbasi satu-satunya
    sumber rangsangan adalah khayalan diri sendiri. Itulah yang menciptakan suatu
    gambaran erotis dalam pikiran. Masturbasi merupakan rangsangan yang sifatnya
    lokal pada anggota kelamin. Hubungan seks yang normal dapat menimbulkan rasa
    bahagia dan gembira, sedangkan masturbasi malah menciptakan depresi emosional
    dan psikologis.
    Istilah masturbasi berasal dari kata latin “manasturbo” yang berarti rabaan atau
    gesekan dengan tangan (manu). Masturbasi secara umum didefenisikan sebagai
    rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital untuk memperoleh
    kenikmatan dan kepuasan seksual. Namun pada kenyataannya, banyak cara untuk
    mendapatkan kepuasaan diri (self-gratification) tanpa mempergunakan tangan
    (frictionless masturbation), sehingga istilah masturbasi menjadi kurang mengena.
    Oleh karena itu, istilah “autoerotism” adalah istilah yang lebih mengena untuk
    menggambarkan fenomena ini.
    Ada beberapa istilah masturbasi yang dikenal di masyarakat, antara lain onani atau
    rancap, yang berarti melakukan suatu rangsangan organ seks sendiri dengan cara
    menggesek-gesekkan tangan atau benda lain ke organ genital kita hingga
    mengeluarkan sperma dan mencapai orgasme. Dalam ajaran Islam, masturbasi
    dikenal dengan nama ; al-istimna', al-istima'bilkaff, nikah al-yad, al-I'timar, atau
    'adtus sirriyah. Sedangkan masturbasi yang dilakukan oleh wanita disebut al-ilthaf. Di masyarakat istilah onani lebih dikenal. Sebutan ini, menurut berbagai ulasan yang
    ditulis Prof. Dr. Dr. Wimpie Pangkahila Sp, And, Ketua Pusat Studi Andrologi dan
    Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, berasal dari nama seorang laki-
    laki, Onan, seperti dikisahkan dalam Kitab Perjanjian Lama Tersebutlah di dalam
    Kitab Kejadian pasal 38, Onan disuruh ayahnya, Yehuda, mengawini isteri almarhum
    kakaknya agar kakaknya mempunyai keturunan. Onan keberatan, karena anak yang
    akan lahir dianggap keturunan kakaknya. Maka Onan menumpahkan spermanya di
    luar tubuh janda itu setiap berhubungan seksual (coitus interruptus). Dengan cara
    yang kini disebut sanggama terputus itu, janda kakaknya tidak hamil. Namun
    akibatnya mengerikan. Tuhan murka dan Onan mati.
    Onani atau masturbasi dalam pengertian sekarang bukanlah seperti yang dilakukan
    Onan. Masturbasi berarti mencari kepuasan seksual dengan rangsangan oleh diri
    sendiri (autoerotism), dan dapat pula berarti menerima dan memberikan rangsangan
    seksual pada kelamin untuk saling mencapai kepuasan seksual (mutual
    masturbation). Yang pasti pada masturbasi tidak terjadi hubungan seksual, tapi
    dapat dicapai orgasme. Freud (1957) mengatakan ada 3 fase dari masturbasi, yaitu
    (1) pada bayi; (2) pada fase perkembangan yang paling tinggi dari perkembangan
    seksual infantile yaitu pada kisaran umur 4 tahun, dan (3) pada fase pubertas.
    Menurut Freud, naluri seksual sudah terdapat pada permulaan kehidupan dan
    berkembang secara progressif sampai umur 4 tahun. Setelah ini berhenti maka tidak
    ada lagi perkembangan berikutnya (masa laten) sampai tiba saatnya masa pubertas
    pada kisaran umur 11 tahun.
    Berdasarkan cara melakukannya, masturbasi dapat dibedakan menjadi 3
    macam, yaitu :
    1. Masturbasi sendiri (auto masturbation); stimulasi genital dengan menggunakan
    tangan, jari atau menggesek-gesekkannya pada suatu objek
    2. Masturbasi bersama (mutual masturbation); stimulasi genital yang dilakukan
    secara berkelompok yang biasanya didasari oleh rasa bersatu, sering bertemu dan
    kadang-kadang meluaskan kegiatan mereka pada pencurian (stealing) dan
    pengrusakan (vandalism)
    3. Masturbasi psikis; pencapaian orgasme melalu fantasi dan rangsangan audio-
    visual.
    Sedangkan ahli psikologi lainnya, Caprio (1973), menggolongkan kegiatan
    masturbasi ke dalam 2 kelompok besar, yaitu :
    1. Masturbasi yang normal, meliputi pembebasan psikologik ketegangan seksual
    pada masa anak-anak muda yang normal; dilakukan tidak berlebihan; masturbasi
    yang dilakukan oleh seseorang yang belum kawin; masturbasi yang dilakukan antar
    pasangan-pasangan suami-istri sebgai selingan dari intercourse yang konvensional
    2. Masturbasi yang neurotic, meliputi masturbasi yang dilakukan terlalu banyak dan
    bersifat konvulsif; masturbasi antara pasangan-pasangan yang lebih menyukai cara
    ini daripada intercourse, masturbasi dengan gejala-gejala kecemasan, rasa
    salah/dosa yang amat sangat, masturbasi pemuasan yang berhubungan dengan
    penyimpangan seksual dan yang dapat diancam dipersalahkan oleh hukum.
    Banyak Mitos
    Agaknya masih banyak orang belum cukup mengerti tentang masturbasi. Padahal,
    banyak orang melakukannya. Yang pasti pula, banyak informasi salah yang beredar
    di masyarakat mengenai masturbasi. Memang banyak informasi yang salah tentang
    masturbasi, misalnya dapat menimbulkan berbagai akibat buruk. Agaknya informasi
    salah ini merupakan sebagian mitos tentang seks yang terus beredar di masyarakatsampai saat ini.
    Pada abad XVIII terbit sebuah buku yang ditulis oleh Tissot dari Prancis, berjudul
    Onana. Di situ diuraikan beberapa macam penyakit yang timbul sebagai akibat
    masturbasi. Ternyata dengan perkembangan ilmu pengetahuan, terbukti bahwa
    pendapat Tissot salah sama sekali.
    Tidak benar masturbasi dapat menimbulkan akibat buruk bagi kesehatan, termasuk
    sperma. Jadi, tidak ada gangguan kuantitas dan kualitas sperma yang disebabkan
    melakukan masturbasi. Memang, masturbasi yang dilakukan secara tergesa-gesa
    agar cepat mencapai ejakulasi dikhawatirkan dapat melatarbelakangi terjadinya
    ejakulasi dini pada pria. Sementara itu, kalau Anda terlalu sering melakukannya,
    tentu saja Anda akan merasa payah karena masturbasi. Sama seperti hubungan
    seksual, onani juga memerlukan energi.
    Masturbasi adalah ungkapan seksualitas yang alami dan tidak berbahaya bagi pria
    dan wanita, dan cara yang sangat baik untuk mengalami kenikmatan seksual.
    Bahkan, beberapa pakar berpendapat bahwa masturbasi bisa meningkatkan
    kesehatan seksual karena meningkatkan pemahaman seseorang akan bagian-bagian
    tubuhnya dan dengan cara bagaimana memuaskannya, membangun rasa percaya
    diri dan sikap dapat memahami diri sendiri.
    Dampak Terhadap Mentalitas
    Impuls-impuls autoerotic (masturbasi) terdapat pada semua manusia. Perbedaannya
    hanya terletak pada bagaimana cara kita menyelesaikan dorongan-dorongan
    tersebut. Beberapa dari kita merepresikan dorongan tersebut untuk memuaskan
    dirinya, sementara yang lain mengekspresikan keinginannya untuk mendapatkan
    pemuasan seksual.
    Salah satu dorongan manusia yang sering menyebabkan manusia mendapat
    kesulitan pribadi dan sosial adalah dorongan seksual, yang pada kenyataannya
    sering menghadapkan manusia kepada suatu keadaan yang mendesak dan sangat
    membujuk untuk memperoleh pemuasan seksual dengan segera. Adanya persoalan
    seksual pada individu dapat menyebabkan individu yang bersangkutan sering
    dihadapkan pada keadaan yang seolah-olah ada kecenderungan untuk jatuh ke
    tingkat yang immature atau infantil dan setiap usaha untuk bertingkah laku seksual
    yang matur terhambat karenanya.
    Yang terjadi adalah, sumber kepuasan seksual yang penting ini oleh beberapa
    kalangan masih ditanggapi dengan rasa bersalah dan kecemasan karena
    ketidaktahuan mereka bahwa masturbasi adalah kegiatan yang aman, juga karena
    pengajaran agama berabad-abad yang menganggapnya sebagai kegiatan yang
    berdosa. Terlebih lagi, banyak di antara kita telah menerima pesan-pesan negatif
    dari para orang tua kita, atau pernah dihukum ketika tertangkap basah melakukan
    masturbasi saat kanak-kanak.
    Pengaruh kumulatif dari kejadian-kejadian ini seringkali berwujud kebingungan dan
    rasa berdosa, yang juga seringkali sukar dipilah. Saat di mana masturbasi menjadi
    begitu berbahaya adalah ketika ia sudah merasuk jiwa (kompulsif). Masturbasi
    kompulsif - sebagaimana perilaku kejiwaan yang lain - adalah pertanda adanya
    masalah kejiwaan dan perlu mendapatkan penanganan dari dokter jiwa.
    Fase akhir jika masturbasi konfulsif tidak diselesaikan dengan tepat adalahmunculnya fenomena sexual addicted, sebuah ketagihan akan kegiatan-kegiatan
    seksual. Secara fisik, masturbasi dapat menyebabkan kelecetan atau rusaknya
    mukosa dan jaringan lain dari organ genitalia yang bersangkutan, baik akibat
    penggunaan ********** masturbasi atau hanya dengan menggunakan tangan dan
    jemari.
    Penelitian Kinsey di Amerika Serikat menunjukkan, bahwa hampir semua pria dan
    tiga-perempat dari semua wanita melakukan masturbasi pada suatu waktu dalam
    hidup mereka. Penyelidikan Orebio mendapatkan bahwa 83% dari anak laki-laki dan
    38% dari anak wanita melakukan masturbasi. Penyelidikan lainnya menunjukkan
    angka yang berbeda-beda pada setiap level umur responden, misalnya pada masa
    anak-anak (infantile *** play), adolescent, umur pertengahan dan kategori lainnya.
    Sebagian besar pria yang melakukan masturbasi cenderung melakukannya lebih
    sering dibandingkan wanita, dan mereka cenderung menyatakan 'selalu' atau
    'biasanya' mengalami orgasme ketika bermasturbasi (80 : 60). Ini adalah perilaku
    seksual yang paling umum nomor dua (setelah senggama), bahkan bagi mereka
    yang telah memiliki pasangan seksual tetap.
    Menurut penelitian, mereka yang biasanya melakukan masturbasi berumur antara
    tiga belas hingga dua puluh tahun. Pada umumnya yang melakukan masturbasi
    adalah mereka yang belum kawin, menjanda, menduda atau orang-orang yang
    kesepian atau dalam pengasingan. Anak laki-laki lebih banyak melakukan masturbasi
    daripada anak perempuan. Penyebabnya antara lain, pertama, nafsu seksual anak
    perempuan tidak datang melonjak dan eksplosit. Kedua, perhatian anak perempuan
    tidak tertuju kepada masalah senggama karena mimpi seksual dan mengeluarkan
    sperma (ihtilam) lebih banyak dialami laki-laki. Mimpi erotis yang menyebabkan
    orgasme pada perempuan terjadi jika perasaan itu telah dialaminya dalam keadaan
    terjaga.
    Usaha-usaha pencegahan
    1. Sikap dan pengertian orang tua
    Pencegahan abnormalitas masturbasi sesungguhnya bias secara optimal diperankan
    oleh orang tua. Sikap dan reaksi yang tepat dari orang tua terhadap anaknya yang
    melakukan masturbasi sangat penting. Di samping itu, orang tua perlu
    memperhatikan kesehatan umum dari anak-anaknya juga kebersihan di sekitar
    daerah genitalia mereka. Orangb tua perlu mengawasi secara bijaksana hal-hal yang
    bersifat pornografis dan pornoaksi yang terpapar pada anak.
    Menekankan kebiasaan masturbasi sebagai sebuah dosa dan pemberian hukuman
    hanya akan menyebabkan anak putus asa dan menghentikan usaha untuk
    mencontohnya. Sedangkan pengawasan yang bersifat terang-terangan akan
    menyebabkan sang anak lebih memusatkan perhatiannya pada kebiasaan ini; dan
    kebiasaan ini bias jadi akan menetap.
    Orang tua perlu memberikan penjelasan seksual secara jujur, sederhana dan terus
    terang kepada anaknya pada saat-saat yang tepat berhubungan dengan perubahan-
    perubahan fisiologik seperti adanya ereksi, mulai adanya haid dan fenomena sexual
    sekunder lainnya.
    Secara khusus, biasanya anak remaja melakukan masturbasi jika punya kesempatan
    melakukannya. Kesempatan itulah sebenarnya yang jadi persoalan utama. Agar
    tidak bermasturbasi, hendaklah dia (anak) jangan diberi kesempatan untukmelakukannya. Kalau bisa, hilangkan kesempatan itu. Masturbasi biasanya dilakukan
    di tempat-tempat yang sunyi, sepi dan menyendiri. Maka, jangan biarkan anak untuk
    mendapatkan kesempatan menyepi sendiri. Usahakan agar dia tidak seorang diri dan
    tidak kesepian. Beri dia kesibukan dan pekerjaan menarik yang menyita seluruh
    perhatiannya, sehingga ia tidak teringat untuk pergi ke tempat sunyi dan melakukan
    masturbasi.
    Selain itu, menciptakan suasana rumah tangga yang dapat mengangkat harga diri
    anak, hingga ia dapat merasakan harga dirinya. Hindarkan anak dari melihat,
    mendengar dan membaca buku-buku dan gambar-gambar porno. Suruhlah anak-
    anak berolah raga, khususnya olah raga bela diri, yang akan menyalurkan kelebihan
    energi tubuhnya. Atau membiasakan mereka aktif dalam organisasi kepemudaan dan
    keolahragaan.
    2. Pendidikan seks
    *** education (pendidikan seks) sangat berguna dalam mencegah remaja pada
    kebiasaan masturbasi. Pendidikan seks dimaksudkan sebagai suatu proses yang
    seharusnya terus-menerus dilakukan sejak anak masih kecil. Pada permulaan
    sekolah diberikan *** information dengan cara terintegrasi dengan pelajaran-
    pelajaran lainnya, dimana diberikan penjelasan-penjelasan seksual yang sederhana
    dan informatif.
    Pada tahap selanjutnya dapat dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yag lebih bebas dan
    dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung jawab dan menguasai bidangnya. Hal
    penting yang ingin dicapai dengan pendidikan seks adalah supaya anak ketika
    sampai pada usia adolescent telah mempunyai sikap yang tepat dan wajar terhadap
    seks.
    Pengobatan
    Biasanya anak-anak dengan kebiasaan masturbasi jarang dibawa ke dokter, kecuali
    kebiasaan ini sangat berlebihan. Masturbasi memerlukan pengobatan hanya apabila
    sudah ada gejala-gejala abnormal, bias berupa sikap yang tidak tepat dari orang tua
    yang telah banyak menimbulkan kecemasan, kegelisahan, ketakutan, perasaan
    bersalah/dosa, menarik diri atau adanya gangguan jiwa yang mendasari, seperti
    gangguan kepriadian neurosa, perversi maupun psikosa.
    A. Farmakoterapi:
    1. Pengobatan dengan estrogen (eastration)
    Estrogen dapat mengontrol dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak
    terkontrol menjadi lebih terkontrol. Arah keinginan seksual tidak diubah.
    Diberikan peroral. Efek samping tersering adalah ginecomasti.
    2. Pengobatan dengan neuroleptik
    a. Phenothizine
    Memperkecil dorongan sexual dan mengurangi kecemasan. Diberikan peroral.
    b. Fluphenazine enanthate
    Preparat modifikasi Phenothiazine. Dapat mengurangi dorongan sexual lebih
    dari dua-pertiga kasus dan efeknya sangat cepat. Diberikan IM dosis 1cc 25
    mg. Efektif untuk jangka waktu 2 pekan.
    3. Pengobatan dengan transquilizer
    Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-gejalan kecemasan dan
    rasa takut. Perlu diberikan secara hati-hati karena dalam dosis besar dapat
    menghambat fungsi sexual secara menyeluruh. Pada umumnya obat-obat
    neuroleptik dan transquilizer berguna sebagai terapi adjuvant untuk pendekatan
    psikologik. 1, 10B. Psikoterapi
    Psikoterapi pada kebiasaan masturbasi mesti dilakukan dengan pendekatan yang
    cukup bijaksana, dapat menerima dengan tenang dan dengan sikap yang penuh
    pengertian terhadap keluhan penderita. Menciptakan suasana dimana penderita
    dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi merupakan tujuan
    awal psikoterapi.
    Pada penderita yang datang hanya dengan keluhan masturbasi dan adanya sedikit
    kecemasan, tindakan yang diperlukan hanyalah meyakinkan penederita pada
    kenyataan yag sebenarnya dari masturbasi.
    Pada kasus-kasus adolescent, kadang-kadang psikoterapi lebih kompleks dan
    memungkinkan dilakukan semacam interview *** education. Psikotherapi dapat pula
    dilakukan dengan pendekatan keagamaan dan keyakinan penderita.
    C. Hypnoterapi
    Self-hypnosis (auto-hypnosis) dapat diterapkan pada penderita dengan masturbasi
    kompulsif, yaitu dengan mengekspose pikiran bawah sadar penderita dengan
    anjuran-anjuran mencegah masturbasi.
    D. Genital Mutilation (Sunnat)
    Ini merupakan pendekatan yang tidak lazim dan jarang dianjurkan secara
    medis.Pada beberapa daerah dengan kebudayaan tertentu, dengan tujuan
    mengurangi/membatasi/meniadakan hasrat seksual seseorang, dilakukan mutilasi
    genital dengan model yang beraneka macam.
    E. Menikah
    Bagi remaja/adolescent yang sudah memiliki kesiapan untuk menikah dianjurkan
    untuk menyegerakan menikah untuk menghindari/mencegah terjadinya kebiasaan
    masturbasi.
    Makin Muda, Makin Sering, Makin Baik
    Beginilah kesimpulan peneliti Australia soal masturbasi: the more and the earlier, the
    better. Makin muda dan makin sering Anda melakukan masturbasi, makin besar
    peluang Anda mencegah kanker prostat di usia tua.
    Tidak usah mahal-mahal membeli obat untuk mengurangi risiko terkena kanker
    prostat. Anda tidak perlu mengeluarkan uang sesen-pun. Makin sering Anda
    melakukan masturbasi (lebih dikenal dengan sebutan onani) ?terutama di usia
    muda? akan memperkecil risiko Anda terkena kanker prostat. Demikian hasil temuan
    ahli Australia bernama Graham Giles dari Cancer Council Victoria di Melbourne.
    Kesimpulan di atas dimuat di majalah New Scientist. Para peneliti tersebut
    melakukan riset terhadap 2.338 laki-laki Australia soal kebiasaan seks mereka
    dibandingkan risikonya terkena kanker prostat. Diantara jumlah tersebut, sebanyak
    1.079 laki-laki sudah didiagnosis terkena kanker prostat.
    Dalam laporan itu dituliskan: Makin sering Anda mendapatkan ejakulasi pada usia
    20-50 tahun, makin kecil kemungkinan Anda terkena kanker prostat. Laki-laki yang
    melakukan masturbasi --dan mendapatkan ejakulasi-- lebih dari 5 kali seminggu
    pada usia 20-an, peluangnya terkena kanker prostat berkurang sampai duapertiga,
    ketimbang laki-laki yang jarang-jarang melakukan onani.
    Dalam penelitian itu, tidak dijelaskan secara gamblang mengapa masturbasi bisamengurangi risiko terkena kanker prostat. Hanya digambarkan makin sering Anda
    ejakulasi, memungkinkan saluran pengeluaran tidak tersumbat. Sekaligus
    membersihkan kelenjar kelamin dari penumpukan zat-zat yang dapat memicu
    kanker prostat.
    Kanker prostat adalah kanker paling umum di kalangan laki-laki selewat usia 50
    tahun dan menjadi pembunuh terbesar kedua di antara kanker-kanker yang
    menyerang laki-laki. Penyakit ini, telah menewaskan sekitar 500.000 laki-laki setiap
    tahun. Kanker prostat jarang menyerang laki-laki di bawah 45 tahun, kecuali bila
    ada di antara keluarga Anda yang demikian. Penyakit ini biasanya dapat
    disembuhkan bila terdeteksi dalam tahap dini.
    Sumber: CBN
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.