1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Kami segenap staff IDWS mengucapkan, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436H. Kami juga mengumumkan libur layanan Customer Support dan Membership IDWS pada tanggal 16 s.d. 26 Juli 2015
  3. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
  4. Gratis Gift Maximum 30 hari dengan cara membeli dua Gift VIP 30 hari. Berlaku kelipatan. Informasi lebih lanjut masuk ke sini
  5. Kini kamu bisa mengupload files menggunakan PC, Mac dan Android ke Maknyos IDWS, informasi lebih lanjut cek: Maknyos IDWS Uploader
  6. Jangan lewatkan kesempatan untuk mendapatkan tiket pulang pergi Indonesia - Korea bagi mereka yang sudah mendaftar konsultasi di klinik wonjin. Informasi lebih lanjut: Tanya Jawab Soal Plastic Surgery Bareng Klinik Wonjin.
  7. Gratis VIP selama 5 Hari khusus untuk member Registered dan MVU, syaratnya hanya login di sini.

Other Fenomena lagu gendjer gendjer

Discussion in 'History and Culture' started by blacksheep, May 4, 2009.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    blacksheep Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Nov 23, 2008
    Messages:
    4,613
    Trophy Points:
    212
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +24,581 / -0
    Fenomena lagu gendjer gendjer
    Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler/ Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler/ Emake thole teka-teka mbubuti gendjer/ Emake thole teka-teka mbubuti gendjer/ Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih/ Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih.

    Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar/ Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar/ didjejer-djejer diunting pada didasar/ dudjejer-djejer diunting pada didasar/ emake djebeng tuku gendjer wadahi etas/ gendjer-gendjer saiki arep diolah.

    Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob/ Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob/ setengah mateng dientas digawe iwak/ setengah mateng dientas digawe iwak/ sega sa piring sambel penjel ndok ngamben/ gendjer-gendjer dipangan musuhe sega.


    artinya:
    Genjer2 tumbuh liar di selokan.Ibu datang mencabut genjer.Dapat sekarung lebih tanpa ragu.Genjer sekarang bisa dibawa pulang

    Genjer pagi2 dibawa ke pasar.Dijajar dan dibeberkan di lantai.Si Ibu beli genjer ditaruh di tas.Genjer2 sekarang akan diolah

    Genjer2 dimasukkan ke panci air panas.Setengah matang ditiriskan untuk lauk.Nasi sepiring sambal di tempat tidur.Genjer2 dimakan dengan nasi


    Sebelum pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942, wilayah Kabupaten Banyuwangi termasuk wilayah yang secara ekonomi tak kekurangan. Apalagi ditunjang dengan kondisi alamnya yang subur. Namun saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada tahun 1942, kondisi Banyuwangi sebagai wilayah yang surplus makanan berubah sebaliknya. Karena begitu kurangnya bahan makanan, sampai-sampai masyarakat harus mengolah daun genjer (limnocharis flava) di sungai yang sebelumnya oleh masyarakat dianggap sebagai tanaman pengganggu.
    Situasi sosial semacam itulah yang menjadi inspirasi bagi Muhammad Arief, seorang seniman Banyuwangi kala itu untuk menciptakan lagu genjer-genjer. Digambar oleh M Arif bahwa akibat kolonialisasi, masyarakat Banyuwangi hidup dalam kondisi kemiskinan yang luar biasa sehingga harus makan daum genjer. Kisah itu tampak dalam sebait lagu genjer-genjer di atas.
    Seiring dengan perkembangan waktu dan Indonesia mencapai kemerdekaan, Muhammad Arief sebagai pencipta lagu genjer-genjer bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memiliki hubungan ideologis dengan Partai Komunis Indonesia. Maka lagu ini pun segera menjadi lagu popular pada masa itu, bahkan dalam pernyataannya kepada penulis, Haji Andang CY seniman sekaligus teman akrab M Arief di Lekra serta Hasnan Singodimayan, sesepuh seniman Banyuwangi menyebutkan bahwa lagu genjer-genjer menjadi lagu populer di era tahun 1960-an, di mana Bing Slamet dan Lilis Suryani penyanyi beken waktu itu juga gemar menyanyikannya dan sempat masuk piringan hitam.
    Kedekatan lagu genjer-genjer dengan tokoh-tokoh Lekra dan komunis memang tak dapat dipungkiri. Bahkan dalam sebuah perjalanan menuju Denpasar, Bali pada tahun 1962, Njoto seorang seniman Lekra dan juga tokoh PKI sangat kesengsem dengan lagu genjer-genjer. Waktu itu Njoto memang singgah di Banyuwangi dan oleh seniman Lekra diberikan suguhan lagu genjer-genjer. Tatkala mendengarkan lagu genjer-genjer itu, naluri musikalitas Njoto segera berbicara. Ia segera memprediksikan bahwa lagu genjer-genjer akan segera meluas dan menjadi lagu nasional. Ucapan Njoto segera menjadi kenyataan, tatkala lagu genjer-genjer menjadi lagu hits yang berulang kali ditayangkan oleh TVRI dan diputar di RRI (Lihat Jurnal Srinthil Vol. 3 tahun 2003).


    Fobia gendjer gendjer
    Entah apa yang salah dengan genjer-genjer sebagai sebuah produk kebudayaan? Selepas PKI dan orang-orang PKI, berikut anak cucunya dihancurkan oleh Orde Baru, tak terkecuali pula lagu genjer-genjer yang sebenarnya adalah lagu yang menggambarkan potret masyarakat pada zaman pendudukan Jepang. Mungkin steriotype lagu genjer-genjer menjadi lagu komunis dan patut dihancurkan muncul atas beberapa faktor. Pertama, sejak awal lagu ini berkembang dan dikreasi oleh kalangan komunis dan dikembangkan oleh kalangan komunis pula. Walaupun pada perkembangannya pada era tahun 1960-an lagu ini tidak hanya digemari oleh kalangan komunis, tetapi juga masyarakat secara luas. Namun Orde Baru menerapkan politik bumi hangus, maka seluruh produk apa pun yang dilahirkan oleh orang-orang komunis haram hukumnya dan patut dihabisi. Kedua, ketika peristiwa G 30 S tahun 1965 terjadi, Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) mempelesetkan genjer-genjer menjadi jenderal-jenderal. Dalam catatan pribadinya Hasan Singodimayan, seniman HSBI dan teman akrab M Arief menuliskan bahwa lagu "Genjer-genjer" telah dipelesetkan.

    endral Jendral Nyang ibukota pating keleler
    Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
    Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh
    Jendral Jendral saiki wes dicekeli

    Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa
    Dijejer ditaleni dan dipelosoro
    Emake Germwani, teko kabeh milu ngersoyo
    Jendral Jendral maju terus dipateni



    Akibat penulisan lagu "Genjer-genjer" menjadi jenderal-jenderal, maka kian kuatlah alasan Orde Baru untuk membumihanguskan lagu ini. Pada perkembangannya, siapa pun yang tetap menyanyikan lagu ini akan ditangkap oleh aparat keamanan, tentu dengan tuduhan komunis. Karena larangan menyanyikan lagu genjer-genjer, maka beberapa seniman gandrung di Banyuwangi juga dilarang untuk menyanyikan lagu genjer-genjer, dan beberapa lagu dan gendhing yang memompa kesadaran politik massa rakyat.
    Para seniman gaek pada masa itu seperti Hasnan Singodimayan, dan Haji Andang CY juga merasa heran dengan munculnya lirik lagu genjer-genjer yang sedemikian mendeskreditkan petinggi-petinggi militer waktu itu. Namun apalah kuasa orang-orang lemah waktu itu. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin itulah ungkapan yang patut untuk menggambarkan kondisi seniman-seniman rakyat yang kebanyakan berafiliasi dengan Lekra. Jangankan mengoreksi lagu genjer-genjer, menyelamatkan diri mereka saja susah



    [​IMG]
    [​IMG]
    [​IMG]

    Luka yang dirasakan selama bertahun-tahun hidup sebagai anak anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) memang sudah mengering. Namun, kehidupan yang tak kunjung berubah membuat Sinar Syamsi, anak pencipta lagu Genjer-Genjer Muhammad Arief, memilih pindah kewarganegaraan. “Saya ingin pindah ke Belanda atau China,” katanya.

    ................................

    Lembaran di tiga buku catatan lagu itu tidak lagi utuh. Kertasnya lapuk dimakan usia. Meski masih bisa terbaca jelas, tulisan yang tergores di atas kertas itu pun mulai memudar. Di tiga buku itulah tertuang naskah asli lagu Genjer-genjer (Gendjer-Gendjer) milik sang penciptanya, Almarhum Muhammad Arief .

    Lagu berjudul Genjer-genjer menjadi salah satu penggalan cerita yang mengiringi peristiwa Gerakan 30 September atau yang dikenal dengan sebutan G30S-Partai Komunis Indonesia. Konon, lagu yang menceritakan tentang tanaman genjer (limnocharis flava) itu dinyanyikan oleh anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani)-PKI, saat menyiksa para petinggi TNI di Lubang Buaya.

    Cerita mengerikan versi Orde Baru yang lambat laun mulai diragukan seiring tidak terbuktinya penyiksaan para jenderal itu, membuat image lagu Genjer-genjer ikut pula mengerikan. Apalagi, G30S diikuti rentetan penculikan dan pembunuhan di beberapa kantong PKI. Termasuk di Banyuwangi, tempat pencipta lagu Genjer-genjer Muhammad Arief tinggal.

    Benarkah lagu Genjer-genjer identik dengan PKI? Pertanyaan lama yang selalu dibantah, namun tetap tidak menghapus stigma. Budayawan Banyuwangi Fatrah Abbal, 76, menceritakan, lagu Genjer-genjer diilhami oleh masakan sayur genjer yang disajikan Ny. Suyekti, Istri Muhammad Arief di tahun 1943.

    “M.Arief heran, tanaman yang awalnya dikenal sebagai makanan babi dan ayam itu ternyata enak juga dimakan manusia, akhirnya ia mengarang lagu Genjer-genjer,” katanya. Begitu terkenalnya lagu yang nadanya mirip dengan lagu rakyat berjudul Tong Ala Gentong Ali Ali Moto Ijo itu hingga Seniman Bing Slamet dan Lilis Suryani pun menyanyikannya.

    Kedekatan lagu itu dengan PKI tidak bisa dilepaskan dengan kondisi politik di tahun 1965. Masa di mana politik Indonesia membuka ruang bagi ideologi apapun itu membuahkan persaingan antar partai politik. Termasuk persaingan dalam hal berkesenian.

    Seperti Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan Lembaga Kesenian Nasional (LKN), Partai Nahdlatul Ulama (NU) dengan Lesbumi, Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) serta Masyumi dengan Himpunan Seni dan Budaya Islam (HSBI). “Lekra menggandeng seniman Banyuwangi, termasuk Muhammad Arief,” kata Fatrah yang dulu aktif di HSBI ini.

    Sejak digandeng Lekra, seni Banyuwangi-an semakin dikenal. Banyak lagu-lagu Banyuwangi yang sering dinyanyikan di acara PKI dan underbownya. Termasuk lagu Genjer-genjer yang diciptakan di tahun 1943, lagu Nandur Jagung dan lagu Sekolah.

    Muhammad Arief sebagai seniman pun ditawari bergabung dengan Lekra dan ditempatkan sebagai anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi. Seniman yang dulu bernama Syamsul Muarif itu juga diminta mengarang lagu yang senapas degan ideologi PKI. Seperti lagu berjudul Ganefo, 1 Mei, Harian Rakyat, Mars Lekra dan Proklamasi.

    “Kalau kita resapi, lagu Genjer-genjer memang tidak memiliki makna apa-apa, hanya bercerita tentang tanaman genjer yang dulu dianggap sampah kemudian mulai digemari,” kata Fatrah. “Genjer-genjer, nong kedok’an pating keleler, emak’e tole, teko-teko, mbubuti genjer, oleh sak tenong, mungkor sedot, seng tole-tole, genjer-genjer, saiki wis digowo muleh,” Fatrah menyanyikan bait lagu Genjer-genjer.

    Entah, siapa yang memulai, pasca G30S, syair lagu Genjer-genjer pun dipelesetkan dengan syair yang menceritakan aksi penyiksaan para jenderal korban G30S. “Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler, Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral, Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh, Jendral Jendral saiki wes dicekeli,” Begitu bunyi gubahan lagu itu. “Gubahan itu sebenarnya tidak ada!” kata Fatrah.

    Sinar Syamsi (53) anak semata mayang Muhammad Arief dan Suyekti menceritakan, tidak lama setelah peristiwa G30S meletus di Jakarta, terjadi demonstrasi besar di Alun-Alun Kota Banyuwangi. Demonstrasi itu menuntut agar para anggota PKI ditangkap. Muhammad Arief adalah salah satu target kemarahan massa. Di tahun itu mantan anggota TNI berpangkat Sersan itu adalah anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi dari PKI. Sekaligus aktivis lembaga kebudayaan di bawah PKI, Lembaga Kesenian Rakyat atau Lekra.

    “Orang-orang menyerbu ke rumah saya di Kawasan Tumenggungan Kota Banyuwangi, mereka membakar rumah dan seisinya,” kenang Syamsi yang ketika peristiwa itu terjadi sudah berumur 11 tahun. Muhammad Arief melarikan diri bersama anggota Lekra/PKI yang lain. Hingga akhirnya tertangkap dan markas CPM Malang. “Setelah itu nasib bapak tidak mendengar lagi hingga sekarang,” kenang Sinar Syamsi.

    Meski begitu, Syamsi tetap menganggap Muhammad Arief sebagai pahlawan keluarga. Naskah asli lagu yang hingga kini masih “tabu” untuk dinyanyikan itu pun disimpan. “Bagi saya, buku-buku catatan ini adalah sejarah keluarga yang harus dijaga, agar anak cucu saya kelak bisa mengetahui dengan pasti apa yang terjadi,” kata Sinar Syamsi.

    Sinar Syamsi menyadari, sejarah keluarganya hitam kelam akibat peristiwa itu. Ibunda Sinar Syamsi, Suyekti sempat stress karena stigma keluarga PKI. “Politik telah membuat keluarga saya harus mengalami peristiwa yang mengerikan selama bertahun-tahun, hingga ibu saya meninggal dunia 26 Januari 2007 lalu,” kenang Syamsi.

    Dengan alasan itu jugalah, laki-laki yang sempat di-PHK beberapa kali dengan alasan tidak jelas ini pun mulai berpikir untuk pindah kewarganegaraan. Belanda dan China adalah dua negara yang diliriknya. “Dengan membawa naskah asli ini, saya ingin pindah ke Belanda dan China. Siapa tahu di sana posisi saya sebagai anak pencipta lagu Genjer-Genjer lebih dihargai,” katanya.

    Keterangan foto:
    1. Gambaran sosok Muhammad Arief, mengarang lagu Genjer-Genjer.
    2. Naskah asli lagu Genjer-Genjer di catatan lagu Muhammad Arief.
    3. Sinar Syamsi, anak tunggal Muhammad Arief.
    Code:
    http://brasco-brasco.blogspot.com/2009/01/berbekal-genjer-genjer-lirik-negara.html
    Bangsa Indonesia akan selalu mengingat lagu Genjer-genjer sebagai lagu yang mungkin menakutkan pada jamannya. Sebelum tahun 1965 lagu ini begitu ‘populer’. Tetapi ironisnya, popular karena menjadi satu-satunya lagu yang sangat diharamkan oleh pemerintahan orde baru.

    Alasan pemerintahan orde baru melarang secara massive lagu ini adalah karena lagu ini ditenggarai memuat ajaran komunis. Jika ditelaah dari lirik lagu Genjer-genjer sendiri, sebenarnya sama sekali tidak mencerminkan ajaran komunis, tetapi lebih kepada ajaran agar masyarakat bersikap mandiri dan kreatif dalam menghadapi kesusahan hidup.

    Berikut lirik lagu Genjer-genjer.

    Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler

    Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler

    Emake thole teka-teka mbubuti gendjer

    Emake thole teka-teka mbubuti gendjer

    Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih

    Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih.


    Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar

    Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar

    didjejer-djejer diunting pada didasar

    dudjejer-djejer diunting pada didasar

    emake djebeng tuku gendjer wadahi etas

    gendjer-gendjer saiki arep diolah.


    Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob

    Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob

    setengah mateng dientas digawe iwak

    setengah mateng dientas digawe iwak

    sega sa piring sambel penjel ndok ngamben

    gendjer-gendjer dipangan musuhe sega.



    Arti Bahasa Indonesia :


    Genjer2 tumbuh liar di selokan

    Ibu datang mencabut genjer

    Dapat sekarung lebih tanpa ragu

    Genjer sekarang bisa dibawa pulang

    Genjer pagi2 dibawa ke pasar

    Dijajar dan dibeberkan di lantai

    Si Ibu beli genjer ditaruh di tas

    Genjer2 sekarang akan diolah

    Genjer2 dimasukkan ke panci air panas

    Setengah matang ditiriskan untuk lauk

    Nasi sepiring sambal di tempat tidur

    Genjer2 dimakan dengan nasi


    Sejarah Singkat

    Tidak banyak yang bisa memastikan kenapa alasan Muhammad Arief, sehingga menciptakan lagu tersebut. Tetapi situasi social pada saat itu yang mungkin menjadi inspirasi bagi Muhammad Arief, seorang seniman asal Banyuwangi, menciptakan lagu tersebut. Karena sebelum pendudukan tentara Jepang pada tahun 1942, wilayah Kabupaten Banyuwangi termasuk wilayah yang secara ekonomi tak kekurangan. Apalagi ditunjang dengan kondisi alamnya yang subur. Namun saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda pada tahun 1942, kondisi Banyuwangi sebagai wilayah yang surplus makanan berubah sebaliknya. Karena begitu kurangnya bahan makanan, sampai-sampai masyarakat harus mengolah daun genjer (limnocharis flava) di sungai yang sebelumnya oleh masyarakat dianggap sebagai tanaman pengganggu.

    Tergambarkan oleh M Arif bahwa akibat kolonialisasi, masyarakat Banyuwangi hidup dalam kondisi kemiskinan yang luar biasa sehingga harus makan daun genjer. Kisah itu tampak dalam sebait lagu genjer-genjer di atas.

    Seperti yang dikutip dari berbagai sumber. Dalam perjalan waktu, Muhammad Arief sebagai pencipta lagu genjer-genjer bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang memiliki hubungan ideologis dengan Partai Komunis Indonesia. Maka lagu ini pun segera menjadi lagu popular pada masa itu, bahkan dalam pernyataannya kepada penulis, Haji Andang CY seniman sekaligus teman akrab M Arief di Lekra serta Hasnan Singodimayan, sesepuh seniman Banyuwangi menyebutkan bahwa lagu genjer-genjer menjadi lagu populer di era tahun 1960-an, di mana Bing Slamet dan Lilis Suryani penyanyi beken waktu itu juga gemar menyanyikannya dan sempat masuk piringan hitam.

    Kedekatan lagu Genjer-genjer dengan tokoh-tokoh Lekra dan komunis memang tak dapat dipungkiri. Bahkan dalam sebuah perjalanan menuju Denpasar, Bali pada tahun 1962, Njoto seorang seniman Lekra dan juga tokoh PKI sangat kesengsem dengan lagu Genjer-genjer. Waktu itu Njoto memang singgah di Banyuwangi dan oleh seniman Lekra diberikan suguhan lagu Genjer-genjer. Tatkala mendengarkan lagu Genjer-genjer itu, naluri musikalitas Njoto segera berbicara. Ia segera memprediksikan bahwa lagu Genjer-genjer akan segera meluas dan menjadi lagu nasional. Ucapan Njoto segera menjadi kenyataan, tatkala lagu Genjer-genjer menjadi lagu hits yang berulang kali ditayangkan oleh TVRI dan diputar di RRI (Lihat Jurnal Srinthil Vol. 3 tahun 2003).


    Fobia Tidak Logis Terhadap Genjer-genjer

    Pelarangan lagu Genjer-genjer sebenarnya sangat tidak beralasan, padahal jika disadari Genjer-genjer juga salah satu produk budaya. Tetapi karena Politik Pukul Rata yang diterapkan oleh pemerintahan orde baru, maka seluruh produk yang dilahirkan atau terkait dengan orang-orang komunis haram hukumnya dan patut dihabisi.

    Beberapa stereotype lagu Genjer-genjer menjadi lagu komunis disebabkan oleh beberapa factor. Pertama, seperti yang diketahui, sejarah lagu Genjer-genjer berkembang dan dikreasikan oleh kalangan komunis di masanya, walaupun masyarakat luas yang tidak komunis pun sangat menyukai lagu tersebut. Dan factor lanjutannya adalah, ketika peristiwa G 30 S tahun 1965 meledak, Harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) menjadikan lagu Genjer-genjer sebagai media kritik, hal ini dilakukan dengan memplesetkan lagu Genjer-genjer menjadi Jendral-jendral. Seperti yang dikutip dari catatan pribadi Hasan Singodimayan, seniman HSBI, menuliskan lagu plesetan Jendral-jendral tersebut.


    Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler

    Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral

    Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh

    Jendral Jendral saiki wes dicekeli


    Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa

    Dijejer ditaleni dan dipelosoro

    Emake Gerwani, teko kabeh milu ngersoyo

    Jendral Jendral maju terus dipateni


    Mungkin karena plesetan lirik tersebutlah, yang menjadi satu-satunya alasan tunggal yang memperkuat Orde Baru untuk menghancurkan lagu tersebut.

    Semoga pada perkembangan bangsa Indonesia kedepan tidak ada lagi suatu produk budaya yang diharamkan oleh pemerintah. Karena produk budaya adalah produk budaya, tidak bisa dikaitkan dengan perkembangan suatu ideology atau pergerakan terlarang seperti yang terjadi pada PKI yang diharamkan oleh pemerintah orde baru pada saat itu.
    Code:
    http://perlawanan-hati.blogspot.com/2008/11/lagu-genjer-genjer.html
    apa sih genjer itu?
    Cerita Si "Genjer-Genjer"

    Sayuran Genjer
    [​IMG]

    Banyak orang mulai lupa dengan sayur daun bernama genjer. Padahal sayuran ini pernah menjadi lirik lagu "Genjer-Genjer" yang begitu populer di era 60 an. Bahkan sempat dilarang pada saat pemberontakan Partai Komunis di negeri ini. Lantas apa kekistimewaan sayuran ini?

    Genjer (Limnocharis flava) merupakan tanaman terna, tumbuh di rawa atau kolam berlumpur yang banyak airnya. Konon asalnya dari Amerika, terutama bagian negara beriklim tropis. Selain daunnya, bunga genjer muda juga enak dijadikan masakan. Genjer cocok diolah menjadi tumisan, lalap, pecel, campuran gado-gado atau dibuat sayur bobor.

    Warna daunnya hijau dengan lapisan lilin sehingga terlihat mengkilat. Sifat sayur ini liat dengan rasa yang lezat. Genjer kaya akan unsur gizi. Setiap 100 g genjer mengandung energi 39 kkal, protein 1.7 g, karbohidrat 7.7 g, kalsium 62 mg, fosfor 33 mg dan zat besi 2.1 mg. Sayuran ini juga kaya akan serat yang baik untuk menjaga saluran sistem pencernaan. Jika rajin mengkonsumsi sayuran ini, dipercaya kanker kolon dan sembelit akan jauh dari Anda. Teks & foto: Budi Sutomo
    Code:
    http://budiboga.blogspot.com/2007/11/cerita-si-genjer-genjer.html

    sejarah Komunisme di Indonesia
    Code:
    http://www.marxist.com/periode-pertama-partai-komunis-indonesia.htm
     
    Last edited: Sep 14, 2009
  2. Ghattotkacha Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.


  3. Offline

    xaea Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 17, 2008
    Messages:
    1,534
    Trophy Points:
    211
    Ratings:
    +14,693 / -0
    kalo jaman sekarang dah boleh diputer boss?
    kayanya masi pada fobia komunis ya?
    orba, orba.. ada² aja..
     
  4. Offline

    ScapeXxX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 7, 2008
    Messages:
    1,006
    Trophy Points:
    132
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +1,480 / -0
    lho?
    mang lagu genjer ne kontroversial ya?

    kok smpe ga bleh d'puter?
    knp?
     
  5. Offline

    neckline Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Apr 17, 2009
    Messages:
    603
    Trophy Points:
    191
    Ratings:
    +14,841 / -0
    baru tw ada lagu yg ga bole di putar
    mana ga pernah dengar lagi
     
  6. Offline

    NuRaider Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Sep 24, 2008
    Messages:
    3,923
    Trophy Points:
    212
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +54,091 / -0
    lagu ini klo ga salah pas jaman2 komunis dulu yah...

    Sampe masuk piringan hitam.. :top:
     
  7. Offline

    ladai Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 31, 2009
    Messages:
    418
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +296 / -0
    biasalah..... mentang2 dulu katanya pernah dinyanyiin sama orang2 PKI, di banned deh.... Ketakutan yang sama sekali tidak beralasan.............
     
  8. Offline

    meneng Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Feb 22, 2009
    Messages:
    435
    Trophy Points:
    56
    Ratings:
    +19 / -0
    kayak apa ya lagu nya?? kok lagu nya di ban cuma gara2 diplesetkan?? ga adil kan!!
     
  9. Offline

    doplank Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 2, 2007
    Messages:
    449
    Trophy Points:
    112
    Ratings:
    +1,126 / -0
    itu sejarah brooo

    emanknya ngga pernah di ceritain ama ortu kalo lagu itu, dinyanyikan oleh para eksekutor para jendral sewaktu di lubang buaya. tuh lagu kalo ngga salah di dinyanyiin ama grub cewe par pendukung PKI, gw lupa apa namanya tuh. pokoknya sewaktu para jendral lagi "Digituin" lagu itu dinyanyikan.
     
  10. Offline

    unclegemboel Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jul 9, 2008
    Messages:
    643
    Trophy Points:
    191
    Ratings:
    +19,192 / -0
    cerita lama, g gitu minat soalnya g ada bukti sejarah yg valid tentang kejadian dimasa itu. heran kayaknya cuma negara kita aja nich yg g pernah sejarahnya jelas, pasti penuh bumbu penyedap.....keluh... emang dah budaya kali ya??
     
  11. Offline

    fuadpahing Lurking Around Veteran

    Joined:
    Oct 30, 2008
    Messages:
    1,635
    Trophy Points:
    251
    Ratings:
    +9,881 / -0
    wuih, ada mp3nya ngga yah? hihihihi
     
  12. Offline

    blacksheep Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Nov 23, 2008
    Messages:
    4,613
    Trophy Points:
    212
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +24,581 / -0
    di youtube ada bro tulis ajagh genjer genjer
     
  13. Offline

    idriz Silent Reader Members

    Joined:
    May 2, 2009
    Messages:
    15
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +4 / -0
    gara2 ni lagu gak sengaja gw puter, nenek gw ampe nagis...
    orde baru bisa dokrin ampe kayak gini... :((
     
  14. Offline

    taishou Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    Apr 18, 2009
    Messages:
    3,783
    Trophy Points:
    212
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +33,732 / -0
  15. Offline

    godlob Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Apr 2, 2009
    Messages:
    596
    Trophy Points:
    192
    Ratings:
    +8,132 / -0
    yang terkenal tuh versinya bing slamet (ada di youtube) n lilis suryani...

    coba googling ada yg bikin sampling pake bagian intronya aja. nah versi remixnya ini yang masih kucari... ada yang punya??? di reverbnation, accountnya serenadaiblis...
     
  16. Offline

    supergundala Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 23, 2010
    Messages:
    174
    Trophy Points:
    26
    Ratings:
    +546 / -0
    baru tau klo lagu genjer nih dari banyuwangi. pernah beberapa kali makan, di kereta jurusan jember banyuwangi pas di stasiun mrawan pasti ada yg jual nasi pecel sayurnya genjer ma kerupuk.
     
  17. Offline

    dannyachmadfauzi Beginner Members

    Joined:
    Feb 9, 2010
    Messages:
    293
    Trophy Points:
    16
    Ratings:
    +106 / -0
    kalo ga salah nama grup cewenya tuh GERWANI..
    CMIIW
     
  18. Offline

    jaul Silent Reader Members

    Joined:
    Mar 31, 2010
    Messages:
    116
    Trophy Points:
    16
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +13 / -0
    gw suka serem kl denger lagu ini...ky ada aura mistiknya....:takut:
     
  19. Offline

    tuwier Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 24, 2010
    Messages:
    48
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +2 / -0
    kalo nyanyi lagu ini pas jaman orba pasti "hliang" dari muka bumi. kalo sekarang masih sama gak ya????
     
  20. Offline

    akira_kurosaki Silent Reader Members

    Joined:
    Feb 19, 2010
    Messages:
    75
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +3 / -0
    wah wah wah...
    sejarah ni lagu serem jg y
     
  21. Offline

    momoghie Silent Reader Members

    Joined:
    Dec 2, 2009
    Messages:
    56
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +39 / -0
    kalo di bayangin, ngeri jg ya, malem2 lagi sepi teriak2 dengan buas, mengeksekusi manusia, sambil nyanyi2 lagu genjer.... seremm:hang:
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS.ID

Indowebster, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.