1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Cerpen Detik Terakhir

Discussion in 'Fiction' started by megamixparty, Jun 14, 2011.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    megamixparty Silent Reader Members

    Joined:
    Mar 23, 2011
    Messages:
    23
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +3 / -0
    Hai kawan2

    Ini cerpen pertama ane yang dipost di forum Fiction ini
    mohon maaf bila ada salah ketik/kata dan tidak berkenan di hati agan2 sekalian :maaf:

    Let's reading~~~

    Detik Terakhir​


    Seorang cewek nampak berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan air mata yang bercucuran tanpa henti, ‘Tolong… tolong jangan tinggalin gua!!!’ Detik demi detik, waktu untuk bersama dengan separuh hatinya akan segera sirna.
    ‘David…’
    ***

    Felicia berlari dari rumahnya—berseragam putih abu-abu—dengan membawa tas selempang bewarna pink. Ia menggenggam sebuah kartu—seperti Flazz—yang digunakannya untuk naik bus Transjakarta. Ia segera menuju sebuah halte bernuansa putih, tempat bus Transjakarta itu berhenti. Ia segera meletakkan kartu tersebut disebuah layar pendeteksi kartu. Sebuah palang besi yang menghalanginya itu bisa didorong—memberikan kesempatan untuk Felicia masuk.

    Sambil menunggu bus, ia memainkan Blackberry-nya yang baru saja dibelinya. Pandangannya tidak pernah lepas dari sebuah benda kecil penuh dengan warna itu. Terdengarlah suara aungan bus ditelinga Felicia. Ia segera memasukkan benda itu ke dalam tasnya dan bersiap-siap untuk masuk ke dalam bus.

    Datanglah bus berwarna Kuning dan merah itu. Terbukalah pintu bus itu dan… ‘astaga ramai sekali. Udah ah langsung terobos ajah.’ Felicia langsung masuk ke dalam bus itu. Ia berusaha untuk pergi kebagian belakang bus tetapi dihalangi oleh banyak sekali manusia-manusia—mulai dari pelajar sampai karyawan perusahaan—yang tidak mau memberi jalan kepada Felicia. Akhirnya ia pasrah dan menunggu disamping pintu bus itu.

    Sambil menunggu bus itu berhenti di halte terakhir—tempat sekolah Felicia berasal, ia mengambil sebuah kantong plastik bening yang berisi sebuah roti lapis berisikan mentega dan selai stroberi. Diambilnya roti itu dengan tangannya yang berhiaskan cincin emas. Digigitnya roti itu secara perlahan-lahan, dirasakannya sensasi selai dingin yang masuk kedalam mulutnya. Ditelannya roti itu perlahan-lahan dan benar-benar dirasakan sensasinya. Ia menyantapnya dengan gembira mengingat bahwa ia belum sempat sarapan dirumahnya.

    “Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi bus Transjakarta akan tiba di halte terakhir. Perhatikan barang bawaan anda dan hati-hati melangkah saat keluar dari bis. Terima kasih, anda telah menggunakan bus Transjakarta busway.” Felicia segera memasukkan kantong itu kedalam tasnya dan bersiap-siap keluar. Pintu bus—yang terletak disebelah Felicia—terbuka dengan agak tersendat. Ketika ia beranjak keluar, serasa ada yang menarik rambutnya sehingga ia tidak bisa pergi keluar. Ia menoleh kebelakang dan…

    Ahh—rambutnya yang panjang tersangkut di jaring-jaring kawat—dibelakang tempat Felicia menunggu. Seorang ibu dan anaknya berusaha membantu Felicia melepaskan rambutnya dari jeratan kawat-kawat tak tahu malu itu. Sudah 2 menit ia berusaha untuk melepaskan rambutnya tetapi tanpa hasil yang memuaskan.

    Kring!!! Bel sekolah telah berbunyi. Felicia bingung harus bagaimana lagi. Dengan terpaksa, ia menarik rambutnya dan segera berlari kesekolahnya. Terlihat beberapa helai rambut bertinggal di kawat itu. Ia berlari seakan-akan dikejar oleh waktu. Tetesan keringat tidak luput dari wajahnya. Dan akhirnya, ia berhasil melewati gerbang sekolah—yang hampir ditutup itu. Fiuh… Felicia menghembuskan nafas yang panjang.

    ‘Ah coba aja nggak masuk jam 6.30, gua pasti nggak telat masuk seperti ini,’ pikir Felicia dalam hati sambil berjalan menuju kelasnya yang terletak didekat pintu masuk sekolahnya. Felicia langsung duduk dibagian belakang kelas itu—disamping teman terbaiknya, Kiara.

    “Hai Fel, kok tumben telat?” tanya Kiara yang sedang memakai lensa kontaknya. Setelah selesai memakai itu, ia menoleh dan melihat muka Felicia yang menunjukkan rasa kesal, “Lu kenapa sih Fel? Masa cuma gara-gara telat lu jadi badmood. Oh iya, lu beli kalung baru yah?”

    Felicia hanya tertunduk—sambil melihat kalung tipis bertahtakan intan kecil—tidak menanggapi kata-kata temannya. Ia hanya menunggu guru matematika—yang sangat ia benci—datang untuk menambah penderitaannya. Suara hentakan kaki mulai datang ke kelas Felicia. Ia menoleh ke arah jendela dan melihat dua orang yang berjalan—1 gurunya dan 1 lagi ia tidak kenal.

    “Pagi anak-anak.” Datanglah guru matematika ”favorit” Felicia dengan senyuman yang khas, “Hari ini, kita kedatangan teman baru.” Pak guru itu memanggil murid baru itu dan mengajaknya ke dalam, “Perkenalkan, dia adalah David, teman baru kita yang baru saja balik dari program pertukaran pelajar setahun yang lalu.”

    Felicia terpana melihat wajah nan ganteng yang terpampang di samping gurunya itu. Dalam hatinya, segala penat yang menyiksa dia langsung ditebas oleh perasaan suka Felicia yang begitu menggema dihatinya, ‘Mimpi apa gua semalam bisa bertemu cowok tercakep yang pernah gua lihat.’

    “Hai, salam kenal.” David menyapa teman-temannya dengan senyuman yang indah, “Mohon kerjasamanya!” Kemudian pak guru menunjukkan letak tempat duduk disamping Felicia.

    Felicia mulai salah tingkah. Ia memiringkan posisi duduknya menuju Kiara dan berbisik, “Gila! Cakep banget itu anak baru. Kesambet apa coba gua.”

    “Nah mulai kan kumatnya,” Kiara tetap menatap kedepan melihat David yang berjalan menuju tempat duduknya, “Tuh udah datang anak barunya, selamat salah tingkah.”

    “Hai, boleh saya duduk disebelah kamu?” Tanya David kepada Felicia yang berusaha menatap matanya itu.

    “Emm… silahkan.” Felicia langsung membuang mukanya jauh-jauh dari David, ‘aduh-aduh kok gua jadi salah tingkah begini yah?’

    “Hei Feli!” Sahut seseorang dari depan. Felicia menoleh dengan pelan—disertai keringat dingin—mencari suara itu dan- “Kamu suka yah sama anak baru itu?” Goda pak guru.

    Cieee cieee. Felicia hanya bisa tertunduk malu mendengar godaan dari teman-temannya—termasuk Kiara. ‘Wah… tuh guru parah banget. Salah apa coba gua sama dia’ akhirnya iapun angkat bicara, “Bapak jangan ngegodain saya terus dong.”

    “Ohh kamu melawan bapak sekarang? Baiklah. Kerjakan soal yang bapak berikan.” Pak guru mengambil spidol disakunya dan mulai menulis di papan tulis yang mulai kehitaman akibat sering ditulis dan dihapus. Felicia hanya bisa pasrah menerima soal yang diberikan guru itu. ‘Coba kalau otak gua seperti otak Kiara, segala soal kan kutebas semuanya.’

    Saat pulang, Felicia melihat David pergi keluar sekolah, “Dia mau ngapain yah, Rah?” Ia menoleh kebelakan melihat Kiara sedang asik memainkan Blackberry-nya dengan jarinya yang dihiasi sebuah cincin—bertahtakan berlian—yang diberikan oleh Felicia, “Eh, kita ikutin David yuk.”

    Mereka membututi David keluar sekolah. Ia berbelok menuju sebuah gang—yang berisikan banyak tukang jualan makanan—dan memasuki sebuah kedai tempat Felicia dan Kiara biasa memakan kerak telor, “Fel kebetulan nih gua lapar, makan kerak telor yuk.” Felicia sebenarnya sudah mengambil ancang-ancang untuk pergi dari sana, tetapi temannya itu menyeretnya kedalam kedai tersebut.

    Kiara memesan kerak telor pedas sementara Felicia hanya memesan kerak telor biasa. Ia tidak terlalu suka makanan yang pedas-pedas. Sesekali ia melihat David menyantap beras yang dimasak dengan telur bebek tersebut. “Eh David, lu suka makan kerak telor yah?” David hanya membalasnya dengan anggukan pendek. Iapun membayar makanannya yang tidak tersisa itu dan langsung pergi.

    “Tuh cowok dingin banget yah?” Kata Kiara sambil meminum es teh yang dipesannya itu, “mendingan lu nggak usah-“

    Kiara melihat Felicia yang ternganga melihat David pergi dari kedai itu. Kiara menjentikkan jarinya tetapi tidak dihiraukan oleh sahabat karibnya itu. ‘Ah mulailah kumat sahabatku ini. ‘

    “Ha ha ha . Siapa sih anak muda yang nggak mau jatuh cinta?” Gumam Felicia yang masih terpana kepada David, “Dia udah ganteng, tinggi, cool, ah suka banget gua sama cowok perfeksionis kayak dia.”

    Dasar Felicia….

    Hari demi hari dilalui Felicia dengan riang gembira. Ia berjalan sambil melompat-lompat kecil ketika ia mengingat David yang sangat ganteng itu. Ia selalu berusaha untuk mendekati David—walaupun David sering mengacuhkannya. Mukanya tidak pernah terlepas dari senyuman lebar nan indah. Disampingnya, Kiara hanya bisa memutar bola matanya melihat kelakuan sahabatnya. Ia tidak mungkin meninggalkan sahabatnya itu selama sebuah gelang hijau—tanda persahabatan mereka—menempel di pergelangan tangan Kiara dan Felicia.

    ***

    Suatu hari, Kiara sedang pergi mengikuti olimpiade fisika sehingga pada hari itu Felicia hanya sendirian menyantap kerak telor. Tiba-tiba David datang dan duduk disebelah Felicia, “Eh kok tumben sendirian? Si Kiara mana?” Tanya David sambil memesan sepiring kerak telor dan segelas es teh.

    “Iya katanya dia ikut lomba jadi nggak bisa masuk.” Felicia menyantap kembali kerak telor yang hampir habis itu. “Kenapa kok tanya-tanya?”

    “Hah? Enggak kok.” David melahap kerak telor itu dengan cepat—lebih cepat dari Felicia sehingga mereka berdua habis bersamaan, “Eh mau pergi ke mall nggak? Gua mau beli boneka buat seseorang.

    Apa? David mau membeli boneka? Felicia kembali berpikir yang aneh-aneh. ‘Buat gua kali yah? Kalo buat gua, gua balas apa yah? Aku senang sama boneka ini- ah enggak ah. Kedua, Kamu lebih manis dari boneka ini- kesannya gombal habis. Ketiga, Boneka ini manis—kayak perasaan gua ke lu- jangan deh.’

    “Mau nggak temenin gua oi!” David melambai-lambaikan tangannya didepan Felicia yang masi berada di pulau khayalan, “Gua tinggal yah!” kata David sambil beranjak pergi dari kedai tersebut.

    Felicia pulang dengan rasa gembira tak terhingga. Keadaan sesak di dalam bus Transjakarta tidak sebanding dengan perasaan cinta yang begitu tergali didalam hati Felicia. Bahkan segala tugas-tugas dirumah dikerjakan penuh dengan semangat cinta yang membara bagaikan api yang berkobar-kobar.

    Keesokan harinya pada saat pulang sekolah, Felicia melihat kerumunan orang didepan gerbang sekolah. Ia berusaha untuk menerobos kedalam dan melihat David sedang berlutut dan memberikan boneka beruang bewarna pink kepada… Kiara?

    “Kir, sebenarnya gua sayang sama lu. Cintaku kepadamu— semerah mawar yang akan kuberikan ini.” David mengeluarkan setangkai mawar merah dan memberikannya kepada Kiara seraya berkata, “Would you be my girlfriend?”

    “Emm-“ Kiara—yang sedang memegang piala juara 1 lomba olimpiade fisika—tak dapat berkata apa-apa. Dalam hatinya ia bimbang, apakah harus memilih David—yang ia sukai—atau Felicia—sahabat karibnya itu sejak lama. Konflik yang terjadi dalam hatinya itu benar-benar sangat membingungkan, “David, gua-“

    Felicia mulai menitihkan air matanya. Ternyata sahabatnya karibnya itu telah menghianati dia dalam hubungan cinta ini. Ia langsung berlari dari kerumunan itu, ‘Nggak adil! Semuanya nggak adil!!!’

    “Feli!” Kiara berusaha keluar dari kerumunan orang-orang itu tetapi sahabatnya itu terlanjur menghilang dari pandangannya, ‘Feli… gua- gua nggak bermaksud…’

    Dirumahnya, Felicia mengacak-ngacak kamarnya. Segala jenis foto, vas bunga, bahkan parfum mahal dibuang olehnya. Kerugian material itu tidak sebanding dengan sakit hati yang dirasakan olehnya. Pada keadaan seperti ini, ia mulai melihat foto kenangan persahabatannya dengan kiara. Semua fotonya bersama Kiara—kira-kira setebal buku pelajaran—ia bakar dihalaman belakangnya, “Buat apa gua punya teman kalau akhirnya seperti ini!!!” Ia kembali menangis—meratapi nasibnya itu.

    Keesokan harinya, Kiara tidak melihat Felicia dikelas, ‘Apa mungkin ia masih marah sama gua?’ Bel masuk berbunyi dengan kencang. Kiara hanya bisa menunggu sahabatnya itu, ‘Pokoknya, harus minta maaf sama Feli. Gua nggak mau-‘

    “Eh lihat! Ada yang berdiri di atap sekolah!”

    Kiara yang mendengar hal itu segera keluar dari kelas. Ia melihat teman-temannya sedang menengadah ke atas—melihat sesuatu yang ajaib di atas. Kiara ikut melihat ke atas dan- “FELI!!! Lu- lu ngapain!!!”

    “Udah nggak ada alasan gua untuk hidup lagi.” Felicia menangis dengan sangat kencang meratapi nasibnya, “Lebih- lebih baik gua mengakhiri hidup yang kejam, keji, tidak berhati ini!!!”

    Tunggu, Fel!

    Feli tercengang mendengar kata-kata itu. Ia membalikkan badannya dan melihat- “David! Buat- buat apa kesini! lu udah menghancurkan hidup gua— hati gua!!!”

    “Nggak, gua nggak bermaksud seperti itu.” David mendekati Felicia secara perlahan-lahan, “Tolong… jangan sampai seperti ini, temanku.”

    Felicia mulai tenang. Ia sadar bahwa perbuatannya itu tidak menyelesaikan masalahnya bahkan menambah masalah baru. Ia perlahan-lahan berjalan menuju tangan David yang siap membantu dia dan- “Ahhh David!!!” Felicia terpeleset dari atap dan jatuh ke bawah.

    “Feli!!!” dengan sigap David melompat dan menggapai tangan Felicia. Apakah mereka berdua selamat—terjatuh dari lantai 4 sekolah mereka? ‘Nggak, cuma ada satu cara dan itu…’ David memeluk Felicia dan memposisikan dirinya dibawah Felicia.

    “Feli… aku sayang sama kamu.”

    GUBRAK!!!

    Felicia—yang baru saja terjatuh—berusaha membuka matanya. Namun, sesuatu membuat matanya tertutup. Ia hanya bisa bergumam tak jelas dimulutnya yang mulai melemah

    ‘David…’

    Felicia terbangun di sebuah ruangan bercatkan putih. ‘Di-dimana gua? apakah di surga?’ Ia merasakan bahwa di tangan kirinya tertancap selang infus. Ia berusaha menoleh kesamping dan melihat sahabatnya sedang menangis tidak karuan, “Ra, kenapa?”

    Dengan tangisan yang tiada henti-hentinya, ia membalas, “David- David kritis, Fel.” Ia kembali menangis tersedu-sedu dan tidak menyadari bahwa sahabatnya itu telah meninggalkan ranjang putih itu—dengan selang infus yang terlepas.

    Felicia berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan air mata yang bercucuran tanpa henti, ‘David!!! Tolong… tolong jangan tinggalin gua!!!’ Detik demi detik, waktunya untuk bertemu dengan dia semakin menipis, ‘David- tolong!”

    Ia memasuki ruangan di ujung koridor rumah sakit tersebut. Ia melihat David terkulai tak sadarkan diri di ranjang dengan selang infus ditangannya. Felicia menggenggam tangan David dan mulai menangis ditangannya. Keadaan diruang itu hanya diselimuti oleh suara tangisan Felicia dan mesin EKG yang menunjukkan detak jantung David.

    “Vid, gua minta maaf sama lu. Karena gua, lu jadi seperti ini…” Felicia tetap menangis tanpa henti melihat David yang mengorbankan nyawanya bagaikan merpati yang melindungi anaknya, “David-“

    Suara EKG semakin lama semakin kencang—menandakkan bahwa hidup David tidak lama lagi, “David! Gua- gua sayang sama lu, David,” Tetesan air mata Felicia semakin deras mengenai tangan David, “Tolong- tolong jangan tinggalin gua!!!”

    Sesaat dia teringat saat-saat dimana ia pertama kali melihat wajah idamannya itu. dia yang suka bercanda, yang selalu membuat teman-teman tertawa. Dan pada detik itu juga...

    Suara melengking flatline terdengan dari EKG. Tangan David terlepas dari genggaman Felicia.

    Air matanya mengalir deras penuh dengan kesedihan. dalam kepedihan yang dirasakan hatinya ia berteriak sangat kencang, "DAVID!!!
     
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    murasaki Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    May 17, 2009
    Messages:
    2,140
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +12,589 / -0
    ceritanya simpel dan pendek ya? :haha:
    Berasa cepet bgt bacanya td.
    Walopun kesannya ngga bertele2, tp lebih baik pengembangan perasaan per tokoh lebih dijelaskan...

    Contohnya:
    1. Perasaan Kiara ke David. Kayaknya tau2 muncul pas David nembak dia...
    2. Perasaan si David yang klo dari yang saya tangkep, dia awalnya suka sama Kiara. Tp ko pas insiden Feli kepeleset dari atap, dia sempet bilang suka sama Feli?

    Klo soal penulisan udah cukup bagus ko :peace:
     
  4. Offline

    red_rackham Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jan 12, 2009
    Messages:
    757
    Trophy Points:
    76
    Ratings:
    +355 / -0
    Wah...meski bukan penggemar cerpen roman kayak gini, gw numpang komen deh

    Here i go!
    Ceritanya pendek dan lugas, bagus juga karena ga bertele2 dan berputar2. Tapi akan lebih bagus kalau emosi karakternya ditonjolkan / digali lagi. Apalagi karena endingnya rada sad-ending, jadi biar endingnya bener2 terasa oleh pembaca.

    Idem sama komen diatas, karakter rival Felicia (Kiara ya namanya), mending dijelaskan dari awal. Siapa dia, apa kedekatannya ama karakter utama dan si cowok. Jadi pembaca ngerti siapa Kiara itu. Biar konflik ama twistnya lebih manstab ^___^

    Keep on creative!
     
  5. Offline

    megamixparty Silent Reader Members

    Joined:
    Mar 23, 2011
    Messages:
    23
    Trophy Points:
    1
    Ratings:
    +3 / -0
    wah udah ada 2 yang komeng hehehe.

    @murasaki
    iya aku takut na kalo dijelasin nanti terlalu bertele2
    iya aku pengen ngebuat kaya nilai bahwa cinta itu baru dirasakan di detik terakhir. tapi jadinya aneh yah??? hehehe

    @red_rackham
    yah aku juga agak ngebatasin penjelasan karakter karna ini cerpen. kalo bertele2 kaya novel(yang dari awal ampe ending dijelasin mlulu) takutnya kepanjangan

    Bingung jga aku sama pengungkapan emosi. maunya kerasa tapi nggak lebay. hehe
     
  6. Offline

    murasaki Post Hunter Most Valuable Users

    Joined:
    May 17, 2009
    Messages:
    2,140
    Trophy Points:
    212
    Ratings:
    +12,589 / -0
    ohh... Maksudny gitu toh...
    Tp berasa aneh sih. Ngga usa takut kepanjangan, jelasin aja sesimpel mungkin.

    Btw aku kira judul cerpennya di maksudkan buat si tokoh utama, ternyata buat si David toh...
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.