1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Halo IDWS Mania, forum Indowebster ada Super Moderator baru lho di lihat di sini
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Cerbung: "Love Go Blog: Cinta Berawal Dari Blog..."

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by glory2go, Jul 5, 2010.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    glory2go Silent Reader Members

    Joined:
    Sep 24, 2009
    Messages:
    35
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +12 / -0
    Chapter 1 - Part 1

    Berawal dari sebuah blog saya mengenalnya—saya jatuh cinta padanya… Jatuh cinta rasa-rasanya kata itu terlalu aneh untuk diucapin, karena sebelumnya saya gak pernah ’melihatnya’. Hhh…!— Mungkin saya udah gila kali ya? Jatuh cinta pada seraut wajah dalam foto dan tulisan-tulisan dalam sebuah layar kotak bernama komputer.

    Kalo biasanya di sinetron-sinetron seorang pemeran utama jatuh cinta pada pandangan pertama—love at the first sight gituu… Lain halnya dengan saya. Kalo boleh dikatakan, saya jatuh cinta pada komentar pertama. Gara-garanya hari itu saya lagi kesel minta ampun sama atasan saya…

    Dia itu, supervisor saya, Bu Ami, bener-bener seorang yang—uhhh…!—menjengkelkan dan nyebelin abiss…!! Seorang penjilat sejati, kalo boleh saya bilang. Tukang main perintah sana-sini, dan kerjaannya ngomel melulu kalo ada yang gak disukainya. Sebagai bawahan langsungnya, saya selalu disuruhnya membuat laporan ini-itu (“Kenapa gak sekalian minta dipijitin pundaknya atau dikikirin kuku kakinya?” pikir saya bila lagi kesel-keselnya sampe ke puncak Gunung Bromo!). Mintanya diprioritaskan, dikerjain dengan cermat, padahal saya masih punya (gak banyak sih, cuma beberapa, tapi menuntut perhatian ekstra) pekerjaan lain yang menunggu untuk dikerjakan. Dan mereka bilang—dalam khayalan-imajinatif-lantaran-upset-dan-lelah saya: “Renna, saya dong dikerjain… Saya dong duluan…!” kata tugas saya, dengan nada anak SD yang berebut jajan es cendol di kantin sekolah.

    Lalu laporan Bu Ami bakal nyahut: “Eh, lo tuh mikir yee! Gue ini punya atasan lo, dan gue maunya cepet diselesain urusan gue… kalo gak ‘Krekk!’”—dia menyilangkan telunjuknya di antara lehernya (emang punya leher??), ngancem—“Gue aduin ke Big Boss finish lo semua!”

    Dan tugas-tugas saya yang polos dan lugu serta gak berani berontak itu, cuma terdiam dan ngangguk pasrah…

    TIDAAAAKK…!!

    Oke, back to the reality! Sementara dia sendiri, Bu Ami, asyik ongkang-ongkang kaki di depan laptop, menerima telepon dari relasi gak-begitu-penting-nya a.k.a temen ngegosip via telepon dengan diselingi suara “Huahahaha…!” yang mengelegar—kadang saya pengen banget bilang, “SADAR, BU! DI SINI TUH KANTOR, BUKAN KEBUN BINATANG… Udah kayak gorila nemu pisang setandan aja lo!” tapi takut digampar dan karir saya tamat. Membuat gatel kuping yang mendengarnya, dan gondok di hati saya tak terperi: penuh penderitaan mengerjakan tugas yang bertumpuk.

    Padahal saya butuh banget konsentrasi tingkat tinggi. Sementara dia asyik ketawa-ketiwi di HP. Sesekali mencomot camilannya di atas meja, yang membuat tubuh gembrotnya makin melesak ke dalam kursi putarnya. Kan gaik fair tuh? Pikiran jahat saya yang tak pernah terungkapkan, namun butuh pelarian, segera aja menyumpah serapah: “Huh! Saya sumpahin semoga tubuhnya makin gembrot dan kursi putarnya gak mampu lagi nahan bobot tubuhnya, sehingga kursinya akan patah dan jatuh terjerembah ke belakang dan saya akan tertawa tergelak-gelak dalam hati. Hahaha…!”

    “Sebentar, Pak…” Bu Ami menurunkan HP-nya, menutupnya dengan tangannya. Kemudian memandang siniske arah saya dari mejanya, “Renna, kamu tuh dikasih kerjaan bukan buat bengong!”

    “Eh… i-iya… Maaf, Bu…” Saya cuma tertunduk dam kembali berkutat ke pekerjaan saya.

    Suatu kali Big Boss memeriksa laporan-laporan yang telah saya kerjakan dan keluar dari ruangan Bu Ami dengan wajah puas. Seulas senyum cerah tergantung di bibirnya. Bu Ami yang mengantarnya keluar, dan melewati meja saya, segera mengatakan kalo itu adalah hasil kerja kerasnya membimbing, mercermati, serta memperbaiki laporan yang telah saya kerjakan sehingga menjadi lebih rapi dan lebih baik. Bahh! Padahal itu adalah hasil kerja keras saya… sendiri.

    “Wah… kamu memberikan teladan yang baik buat anak buah kamu,” puji Big Boss. “Pertahankan itu.”

    “Terima kasih, Pak…” Bu Ami tersenyum sumringah.

    Huh, thank God Big Boss gak nambahin: “Bagus. Gaji kamu bulan ini saya naikin dua kali lipat!” Kalo gak, melihat pemandangan itu ingin sekali rasanya saya menonjok muka Bu Ami. Mencakar-cakarnya bak kucing betina kesetanan (“Miauww… Miaauww…!”), melipat-lipatnya, kemudian memasukkannya ke dalam kotak kardus, terus di-packing lantas dikrim ke Papua Nugini sekalian—uuh… biar tau rasa dia!—saking keselnya saya yang udah nyampe ke ubun-ubun.

    Satu yang pasti kenapa dia bisa meraih posisinya yang sekarang adalah karena upaya kerasnya menjilat selama ini. Everybody knows that. Tapi gak ada satu pun yang berani memprotesnya. Sebagai (cih!) tangan kanan Big Boss, Bu Ami juga terkenal sebagai tukang ngadu. It means kalo ada yang gak disukainya, dia bakal ngelakuian apa aja untuk nyingkirinnya. Amit-amit cabang bayi banget ‘kan tuh orang! Dan saya tau pasti mencari pekerjaan zaman sekarang bak mencari jarum di tumpukan jerami, sulitnya minta ampun. Jadi saya cuma bisa ngelus dada dan menahan gondok dalam hati—yang makin lama makin membara, makin bertubi-tubi… dan membabi buta!

    Suatu kali, selepas makan siang, saya iseng membuat coretan gambar Bu Ami di atas selembar kuarto. Gambar itu, menurut saya, mengekspresikan mural kemarahan yang terendap dalam hati saya selama ini. Seorang expert akan bilang penuh dengan corat-coret kebrutalan. Ujung penanya ditekan sekuat mungkin hingga tampak tintanya terputus-putus di beberapa bagian, yang nunjukin betapa jelas kedongkolan saya selama ini. Gambar itu menceritakan saya berhasil ngempesin badan Bu Ami dengan suatu cara yang saya sendiri gak tau caranya dan gak perlu saya jelasin panjang lebar—anggap aja saya nemuin tongkatnya Harry Potter tergeletak di sudut kantin dan gak sengaja menggunakannya dengan sekali sabetan ‘Triing…’ !—dan melipat-lipatnya ke dalam sebuah koper besar. Koper itu berwarna coklat tua serta bertuliskan bold dan besar:

    DESTINATION:
    TO PAPUA NEW GUINEA…

    And never comin’ back!!​


    Latar belakang gambar tersebut adalah sebuah padang rumput dan tampak bintang jatuh dengan background goresan tinta hitam di atasnya. Lalu di bagian bawah gambar tersebut ada tulisan tambahan, bunyinya: “NOTE: This is my wish! Hihihi… jahat ya?—Biarin!!”

    [​IMG]
    Tongkat sihir Harry Potter untuk ngempesin tubuh Bu Ami...

    Saya lalu memfotonya dengan kamera HP saya dan mem-posting-nya ke blog saya. Dunia dimana saya bisa bebas menumpahkan segalanya; uneg-uneg saya, kekesalan saya, curhat saya. Tempat pelarian saya dari dunia nyata dimana saya merasa hari-hari dan kehidupan saya makin suck. Day by day! Inilah dunia dimana saya bisa bebas berekspresi dan merasa nyaman dengan tulisan-tulisan saya, dan orang-orang bebas membacanya. Blog pribadi saya.

    (Bersambung...)

     
    Last edited: Jul 6, 2010
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.




    Promotional Content
  3. Offline

    glory2go Silent Reader Members

    Joined:
    Sep 24, 2009
    Messages:
    35
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +12 / -0
    sundul dulu ahh...

    :idwspiss: :idwspiss:
     
  4. Offline

    glory2go Silent Reader Members

    Joined:
    Sep 24, 2009
    Messages:
    35
    Trophy Points:
    6
    Ratings:
    +12 / -0
    Chapter 1 - Part 2

    Keesokan harinya ketika saya mengecek e-mail saya, saya mendapati notifikasi di inbox bahwa seseorang telah meninggalkan comment2 di posting blog saya. Saya membukanya dan meng-klik link3 yang menuju ke posting blog saya. Bener. Terdapat sebuah comment. Comment yang kelak membuat saya jatuh cinta pada bacaan pertama. Comment itu berbunyi:

    ridhoridho said:
    “Hahaha… ^_^
    Lucu! Kenapa gak lo aja sekalian yang ke Papua. Take a vacation… Daripada membuang jauh-jauh ‘kejengkelan’ lo ke sana…”

    Segera saya menyoroti kata “Lucu!” di layar, dan seketika menjadi tersinggung. Lalu kalimat berikutnya “Kenapa gak sekalian lo aja yang ke Papua…” membuat saya berubah kesel. Maksudnya apa, coba?? Hah!?

    Saya segera mengetik add a reply4 dengan jari yang bergemeletak (“Bergemeletak”? Bahasa apaan sih? Maksudnya saking keselnya saya mengetik sampe berbunyi ‘gemeletak’-an di keyboard): “Ha-ha-ha…—lo tau apa?” ketik saya sinis, lalu segera meng-klik tombol ‘Submit’.

    ***​

    Malemnya, saat saya berada di depan laptop di kamar setelah makan malam, saya kembali mendapati notifikasi di kotak e-mail saya ”RE: rhidoridho add a reply on your post…”—saya kembali mendapatkan jawaban atas komentar untuk posting di blog saya. Saya segera membukanya dan membaca:

    ridhoridho said:
    “Gue emang gak tau apa-apa. Lo gak ngasih tau gue apa-apa… Lo gak cerita! Lo gak pernah ngomong ke atasan lo kalo lo tuh kesel. Lo gak pernah ngomong kalo lo tuh capek diginiin, diperalakuin tidak adil…
    Lo gak pernah ngomong! Jadi dia gak pernah tau perasaan lo yang sebenernya…
    C’mon, speak out!!—itu jauh lebih baik… ”

    Saya terhenyak. Kali ini dia bener. Bener banget…. Selama ini saya cuma diem—dan pasrah diperlakuin seperti itu. Dengan tidak hormat dan sangat tidak adil, menurut saya. Saya terlalu takut untuk berontak. Dan ngebiarin diri saya sendiri semakin terinjak, semakin ‘kecil’, tak berdaya diperlakuin seenaknya. So, how come… gimana bisa saya mengkritisi penilaian orang asing tentang saya, yang ternyata bener-bener jujur…

    Tapi saya lantas jadi penasaran, dan didorong oleh rasa keingintahuan yang besar dalam otak saya: “Siapa sih sebenernya ridhoridho ini?”, seketika saya mengklik ‘nickname’-nya yang juga merupakan pranala alias link yang menuju ke halaman sebuah personal blog. Blog itu berjudul “Ridho and The Reality…” Di bagian atas sidebar6 sebelah kanan terdapat seraut wajah dalam foto tengah tersenyum, yang tak lain tak bukan adalah si empunya blog (lumayan cute sih, kalo menurut saya—ehemm…!). Di bawahnya tertera sebuah nama M. Ridho Satria. Lalu di bawahnya lagi tertulis: online now.

    Saya balik lagi ke tab halaman blog saya, mengetik balasan singkat di bawah komentar terakhir yang saya terima:

    “Ya. Kamu ada benernya juga…” Lalu submit.

    Tak lama kemudian, “Tring!” beberapa menit setelahnya saya kembali dapet balon notifikasi berupa balasan atas komentar saya muncul di sudut taskbar komputer saya. Isinya:

    ridhoridho said:
    “Thank’s…!
    Sorry ya kalo comment gue kemarin nyinggung perasaan lo. Gue sok ikut campur urusan orang, padahal gue cuman orang luar yang gak tau apa-apa, hehehe…
    Salam kenal, Renna!”

    Saya segera membalas:
    “Gak juga kok…
    Di satu sisi sebenernya gue seneng. Seneng banget, malah! Ada yang ngerespon postingan gue. Tapi di sisi lain gue gak tau mesti gimana nanggepinnya, bawaan kemaren masih bete pula… Hehehe…
    Salam kenal balik, Ridho!”

    Ridho membalas:
    “Gak bisa ngekspresiin apa yang ada dalam kepala ya?
    Jadi salting dan bikin salah paham, hihihi… “

    Saya balas lagi:
    Hihihi… lo kayak psikolog aja!
    Suka (sok) nebak perasaan orang lain, tapi emang bener juga sih…”

    Tak lama Ridho kembali membalas:
    “Hebat ya gue…! (narsis mode: ON)
    Hahaha…!!“

    Begitulah Ridho. Begitulah awal pertama kami ‘berjumpa’. Begitulah, selanjutnya kami jadi deket—well, gak secara kasat mata sih!—satu sama lain lewat blog. Lewat blog kami berinteraksi dan ‘berkata-kata’.

    (bersambung...)
     
  5. Offline

    benih Beginner Most Valuable Users

    Joined:
    Nov 11, 2009
    Messages:
    484
    Trophy Points:
    141
    Ratings:
    +2,282 / -0
    baru tau kk

    biasanya yang umum dari game onlen ma situs jejaring sosial
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.