1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Eh, eh.. IDWS punya kebijakan baru dan Moderator in Trainee baru loh!. Intip di sini kuy!
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

Asal Mula Kerang di Nimboran (Sambungan)

Discussion in 'Motivasi & Inspirasi' started by kiefs, Jan 30, 2010.

Thread Status:
Not open for further replies.
  1. Offline

    kiefs Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Jun 8, 2009
    Messages:
    1,194
    Trophy Points:
    131
    Ratings:
    +747 / -0
    Sejak peristiwa itu, Wei semakin tidak betah berada di tempat itu. Kakinya terasa panas jika menginjak tanah. Akhirnya, ia memutuskan untuk pindah ke tempat lain. Ia mencabut pohon ajaibnya dan mengambil beberapa buah bijinya yang sudah tua. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada neneknya dan kedua gadis itu.

    “Jagalah rumah ini! Aku akan pergi ke Teluk Nubai. Jika kalian dan anak-cucu kalian kelak mendapat kesulitan, suruhlah mereka datang ke Teluk Nubai, agar persahabatan kita selalu terjalin. Kita bangun Teluk Nubai bersama-sama,” ujar Wei.

    Usai berpesan, berangkatlah Wei seorang diri menuju ke arah barat. Menurut empunya cerita, Wei berenang menyusuri pantai menuju Teluk Nubai dengan mengenakan pakaian kulit ikan jenis hiu. Setelah berhari-hari berenang melewati Hol Thaikang Nafri dan Tabati, akhirnya ia pun tiba di perairan Teluk Nubai di dekat Pulau Kayu Injau. Karena kelelahan, ia memutuskan untuk beristirahat di perairan itu. Ketika sedang asyik beristirahat, tiba-tiba sebuah anak panah melesat begitu cepat dan menancap di punggungnya.

    “Aduh... sakitnya!” teriak Wei sambil mengerang kesakitan.

    Begitu Wei menyembulkan kepalanya di permukaan air, tiba-tiba sebuah anak panah lagi kembali menancap di kepalanya. Ia pun semakin mengerang kesakitan. Lama-kelamaan, tubuhnya semakin lemah dan terapung di permukaan air. Siripnya yang menyerupai sirip ikan hiu itu berkilauan diterpa sinar matahari. Dengan pandangan yang mulai kabur, ia melihat sebuah perahu sedang menghampirinya. Ketika perahu itu mendekat, barulah ia sadar bahwa orang yang telah memanahnya adalah seorang nelayan. Nelayan itu bernama Sadembaro dari Pulau Kayu Injau. Namun, Wei tidak dapat berbuat apa-apa, karena tenaganya semakin lemah.

    Sadembaro kemudian mengangkat tubuh Wei naik ke atas perahu. Di atas perahu itu, ia mengamati wajah Wei. Ketika melihat kedua mata Wei masih berkedip, dengan sigap ia segera mengambil busur dan anak panahnya, lalu mengarahkannya ke kepala Wei. Mengetahui nyawanya terancam, Wei pun segera berteriak dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.

    “Jangan, Tuan! Jangan panah aku! Aku bukan ikan hiu!” iba Wei.

    Mendengar teriakan Wei, Sadembaro tersentak kaget. Ia tidak jadi memanah kepala Wei.

    `Hai, kamu siapa? Kenapa kamu bisa berbicara seperti manusia?” tanya Sadembaro.

    “Maaf, Tuan! Tolong lepaskan dulu anak panah yang menancap di tubuhku ini! Biar aku bisa menjawab pertanyaan Tuan dengan baik,” pinta Wei sambil menahan rasa sakit.

    Sadembaro pun membawa tubuh Wei ke daratan Pulau Kayu Injau, dan segera mencabut anak panah yang menancap di tubuh Wei, lalu mengobatinya dengan akar-akar kayu yang telah dilumat dengan dedaunan. Beberapa saat kemudian, luka Wei pun sembuh dan tenaganya kembali pulih. Perlahan-lahan, ia membuka kulit penutup kepala ikannya, sehingga tampaklah wajah tampannya. Ia kemudian menceritakan asal-usulnya kepada Sadembaro.

    Setelah itu, Wei kemudian bertanya kepada Sadembaro.

    “Tuan sendiri siapa dan dari mana asal Tuan?” tanya Wei.

    “Aku Sadembaro. Aku tinggal di pulau ini bersama kakakku yang bernama Sibi,” jawab Sadembaro.

    Setelah mendengar cerita Sadembaro, Wei pun menyampaikan ucapan terima kasih kepadanya karena telah menolongnya.

    “Terima kasih atas pertolonganmu, Sadembaro! Sebagai ucapan terima kasih, aku akan membuatkan kamu sebidang kebun sagu di daerah ini,” kata Wei.

    Sadembaro pun menerima pemberian Wei dengan senang hati. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Wei berhasil membuat sebidang kebun sagu dalam waktu sekejap. Wei menamai kebun itu Yachmani. Setelah itu, ia berpesan agar Sadembaro merawat tanaman sagu tersebut dengan baik, sehingga hasilnya dapat bermanfaat hingga anak- cucunya kelak.

    Usai berpesan, Wei segera mengenakan kulit ikannya dan berpamitan kepada Sadembaro hendak melanjutkan perjalanan menuju Nubai. Ketika ia hendak terjun ke laut, Sadembaro segera mencegahnya.

    “Wei, jangan pergi dulu! Aku mempunyai saran untukmu,” cegah Sadembaro.

    “Apakah saranmu itu, Sadembaro?” tanya Wei.

    “Sebaiknya kamu tinggal sini saja. Aku khawatir orang-orang di Nubai akan membunuhmu. Di sebelah barat Pulau Kayu Injau ini terdapat celah batu. Tempat itu sangat aman untuk berlindung,” ujar Sadembaro.

    Wei pun menerima saran Sadembaro. Mereka kemudian pergi ke tempat yang diceritakan Sadembaro itu untuk melihat keadaannya. Ternyata benar, di tempat itu terdapat sebuah celah batu. Wei segera terjun ke laut untuk memeriksa keadaan tempat itu. Setelah diperiksa, ternyata celah batu itu sangat sempit, tidak dapat mampu memuat tubuhnya. Oleh karena itu, Wei memutuskan untuk tetap meninggalkan daerah itu.

    “Maafkan aku, Sadembaro! Aku terpaksa harus pergi. Jika aku tinggal di sini, pasti keluargaku akan mengetahui keberadaanku. Izinkanlah aku mohon diri,” ucap Wei.

    “Jangan pergi, Wei! Tinggallah di sini, aku akan melindungimu!” seru Sadembaro.

    Meskipun Sadembaro telah berusaha keras mencegahnya, namun Wei bersikeras untuk pergi meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi, ia berpesan kepada Sadembaro agar memberikan sebagian hasil sagu tersebut kepada kelurganya. Ia juga berpesan kepada Sedambaro, jika memotong pohon sagu hendaknya jangan sampai dihabisi semua. Tapi, sebaiknya disisakan satu atau dua batang, kemudian beralih menebang pohon sagu yang lain. Dengan demikian, tanaman sagu tersebut dapat terus tumbuh dan berkembang biak, sehingga Sadembaro dan anak-cucunya kelak tidak kekurangan makanan.

    Setelah menyampaikan pesan tersebut, Wei pun berangkat menuju ke arah barat menuju ke Kampung Tarfia. Ia ingin membantu penduduk kampung itu, karena menurut kabar dari Sadembaro, mereka sering kelaparan. Saat ia tiba di kampung Tarfia, hari masih sore. Penduduk setempat masih sibuk mencari ikan di laut. Ia pun mendekati seorang nelayan yang sedang duduk sendiri di atas perahunya.

    “Maaf, Pak Tua! Aku datang untuk membantu kalian,” kata Wei.

    Betapa terkejutnya lelaki tua itu ketika melihat Wei yang berwujud ikan. Dengan panik, orang tua itu segera mengambil tombaknya dan mengarahkannya kepada tubuh Wei. Melihat ancaman itu, Wei hanya tenang-tenang saja.

    “Tombaklah aku, Pak Tua! Aku relah mati demi keselamatan penduduk dari bahaya kelaparan. Bagikan dagingku kepada semua penduduk! Tapi, kalian jangan makan perut besarku, tapi tanamlah di kebun belakang rumahmu! Kelak akan tumbuh sebuah pohon ajaib!” ujar Wei.

    Nelayan itu kebingungan dan hatinya masih ragu untuk menancapkan tombaknya ke tubuh Wei. Setelah didesak terus-menerus oleh Wei, tanpa ragu lagi, akhirnya nelayan itu menombak tubuh Wei berkali-kali. Wei pun mati seketika. Nelayan itu segera berteriak meminta bantuan kepada nelayan lainnya untuk membawa tubuh Wei ke daratan. Akhirnya, para nelayan beramai-ramai mengangkat tubuh Wei naik ke perkampungan. Mereka memotong-motong daging Wei dan membagikannya kepada seluruh penduduk Tarfia, sedangkan perut besarnya mereka tanam di kebun sesuai dengan permintaan Wei.

    Beberapa tahun kemudian, tumbuhlah sebatang pohon ajaib yang berbuat sangat lebat. Anehnya, buahnya mengeluarkan bau busuk seperti bau bangkai ikan. Bau tersebut membuat kepala seluruh penduduk Tarfia menjadi pusing, bahkan banyak yang muntah-muntah. Karena tidak tahan mencium bau bangkai yang menyengat itu, akhirnya mereka bersepakat untuk memindahkan pohon ajaib warisan Wei itu ke tempat lain. Para orang tua yang memiliki kesaktian segera mencabut pohon ajaib itu dan kemudian melemparkannya ke Kampung Nimboran di daerah pendalaman. Ajaibnya, buah-buah yang berbau busuk tersebut pecah berhamburan dan mengeluarkan kerang-kerang kauri, yaitu alat pembayar yang berharga (senilai uang) di masa itu.

    * * *

    Demikian cerita Asal Mula Kerang di Nimboran, Papua, Indonesia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, cerita di atas merupakan legenda yang mengisahkan tentang penyebab adanya kerang laut yang banyak terdapat di Kampung Nimboran, yaitu sebuah kampung yang berada di daerah pedalaman Papua.

    Cerita di atas memberi gambaran kepada kita betapa besar kemuliaan hati Wei. Hal ini terlihat pada sikapnya yang tidak pernah menaruh dendam kepada Lermoin yang telah masuk ke dalam rumah karawei-nya. Kemuliaan hati Wei juga terlihat pada sifatnya yang pandai membalas budi dan suka menolong yang membutuhkan. Ia rela mengorbankan tubuhnya yang berwujud ikan (sejenis hiu) untuk di makan para penduduk Tarfia yang sedang kelaparan. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat suka menolong ini sangatlah dijunjung tinggi, sebagaimana dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu berikut ini:

    wahai ananda dengarlah pesan,
    tulus dan ikhlas jangan tinggalkan
    jangan sekali takut berkorban
    kalau pun mati dipelihara Tuhan

    apalah tanda kayu bergetah
    bila ditebang getah meleleh
    apalah tanda Melayu bertuah
    rela berkorban pahin dan pedih

    ****
    Apa yang ada di dalam hati kita ketika kita mengulurkan tangan kita untuk membantu orang-orang yang kekurangan? Mari hari ini kita sama-sama memeriksa hati kita. Sudahkah kita memiliki hati yang tulus, suci dan murni dalam menjalani hidup ini?
     
Thread Status:
Not open for further replies.

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.