1. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  2. Maintenance Forum Indowebster: Jumat, 18 November 2016. Informasi mengenai maintenance ini baca di sini
    Dismiss Notice
  3. Dismiss Notice
  4. Halo IDWS Mania, forum Indowebster kedatangan Community Administrator yang baru, info lebih lanjut bisa di lihat di sini
  5. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  6. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  7. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice
  8. Ingin menjadi bagian dari Zona Music IDWS, Mari bergabung menjadi Moderator Zona Music (Indonesia, Asia, & West) Open Recruitment Moderator : Zona Music (Indonesia & West)
    Dismiss Notice

OriFic Apa Adanya

Discussion in 'Fiction' started by high_time, Jan 10, 2017.

  1. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,967
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,939 / -1
    Sinopsis : kisah seorang biasa yang mulai menulis guna mengubah hidupnya.

    Genre : SoL, macam-macam

    ===

    List cerita dimari.
     
    • Like Like x 2
    • Semangat! Semangat! x 1
  2. Ghattotkacha Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.




    Promotional Content

  3. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,967
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,939 / -1
    Prolog

    Salah satu temanku pernah bertanya, "Kenapa kau mulai nulis lagi?"

    Kujawab simpul, "Ya karena terinspirasi sama teman-teman penulis di internet. Aku sering baca karya mereka, dan aku kepingin nulis juga."

    "Sayang terpotong waktu kerja lumayan banyak. Kau pernah curhat juga 'kan, kerjaan yang kau dapat gak pernah ada yang enak." sahut temanku.

    "Ya makanya, sambil nyambung hidup aku nyambi aja. Siapa tau, nantinya aku bakal jadi penulis terkenal dan bisa hidup dari situ."

    "Jangan terlalu ngarep aja deh, tau aja kalau orang sini pada jarang baca buku. Kapan terakhir kau ngeliat orang-orang ngomongin buku selain di internet? Diantara temen-temenku saja rata-rata pada post foto dan segala hal gak penting. Jarang, dan hampir sama sekali gak pernah mereka ngomongin buku."

    "Makanya aku mau coba terjang dunia luar sana. Kalau di sini gak ada pembaca, mungkin saja, di luar negeri aku punya kesempetan."

    Temanku menimpali mimpi kecilku dengan senyuman memaksa, "Belum tentu juga sih. Standar di luar mungkin jauh lebih tinggi juga. Kalau kau tulis sesuatu yang fenomenal, mungkin bisa terkenal juga di sini."

    "Sulit juga sih, soalnya seleraku beda jauh dengan selera pasar. Rasanya nyiksa kali mesti bikin romantika begundal yang super lebay gitu."

    "Gak mesti gitu juga kali. Situ aja yang gak pernah ngikutin sastra dalam negeri, aku juga nggak sih. Kalau buat yang terkenal bukannya dulu ada cerita tentang anak daerah yang jalan-jalan ke Inggris gitu?"

    "Ya itu dulu, selera orang sekarang bisa beda lagi."

    "Kalau soal cerita klasik macam Shakespeare, Goethe dan Twain masih dibaca tuh. Ya itu luar negeri , tapi kalau mang itu karya fenomenal bukannya bakal dibaca terus dan lekang zaman?"

    "Paling seputar pecinta literatur kalau di sini, jumlahnya mungkin gak seberapa. Gak tau sih kalau yang luar negeri gimana. Yang kutahu, mereka di kelas sering dapet tugas ngebaca klasik. Tapi soal suka gak suka, rata-rata mungkin benci juga. Meski tugas sekolah, selera gak bisa dipaksakan.

    Mungkin kalau beberapa penulis itu bisa melihat dari sana, aku yakin mereka bakalan miris juga ngeliat bacaannya dipaksa baca wajib hingga orang-orang pada sebel."

    "Aku jadi ingat pas SMA dulu disuruh bikin laporan buku literatur klasik, cuma beli buku dan asal rangkum aja. Habis itu aku biarin tergeletak entah di mana. Gak nahan liat gaya bahasa lama."

    "Ya, untung aja kita udah lulus sekolah. Sistem pendidikan nanti bakalan dibikin semakin rumit aja—bisa jadi nanti anak-anak kita disuruh seharian mendekam di sekolah ngerjain laporan buku begituan."

    "Aku saja yang pakai sistem dulu saja nyesel. Coba aku dulunya lahir di Finlandia, sekolah di sana enak tuh."

    "Nasi udah jadi bubur, udah lahir di tanah air tercinta. Kalau kau punya duit dan udah fasih bahasanya, kau ma istrimu pindah ke Finlandia aja. Biar generasi anakmu gak ngerasain derita kek kita-kita."

    "Gak terlalu persuasif ah, lantaran situ belum dapet istri, pacar pun gak pernah ada. Kapan kawin?"

    "Kapan-kapan lah. Ini kerjaan aja gak ada hari libur, gimana mau ngegaet cewek."

    "Situ juga kalau ada libur paling ngegim aja di rumah."

    "Tau aja."

    Entah bagaimana, obrolan yang awalnya berisi curhatan tentang mimpi besarku, berujung pada pertanyaan 'kapan kawin' lagi. Memang usiaku sudah tidak muda lagi dan teman sepantaranku rata-rata sudah punya istri dan anak. Tapi yah, untukku, mengejar mimpi jauh lebih penting. Untuk saat ini, berkeluarga hanya menambah beban hidup saja.

    Paling aku dijodohkan oleh keluargaku, tapi aku cari-cari alasan saja deh supaya aku bisa fokus kerja dan nyambi.

    Mentari sore menyinari warung kopi, dimana aku yang pulang kerja bercakap dengan kawanku. Kami sesama anak semester tua. Ia mengundurkan diri pas kuliah dan di semester yang sama aku lulus setelah skripsi diawasi terus-menerus oleh orangtuaku.

    Alasan temanku mengundurkan diri ya, karena ia sudah jenuh dengan kuliah dan sedang nyambi buka usaha. Sekarang dia sudah kaya dan kalau datang tinggal monitor anak buah bentar, terus nongkrong sana sini.

    Kalau tahu kerjaan bakal gak enak gini, aku seharusnya serius nulis saat masih kuliah. Diliputi rasa sesal yang amat mendalam, aku menyeruput kopi terakhir dan membayar bagian temanku yang sekarang sudah cabut entah kemana.

    "Makanya cari istri dulu, biar semangat kerja dan semangat ngejar mimpi. Kau melamun lama banget jadi kutinggal aja, makasih kopinya ya." begitu isi pesan yang temanku

    Udah kubilang, boro-boro cari istri, waktu luang buat ngegim aja gak sempet gara-gara kerjaan ini. Aku bisa ngegim seharian sih.

    Aku berjalan sempoyongan ke rumah kontrakan ku.

    Andai saja aku lebih giat membaca dan menulis, ketimbang menghabiskan waktu sia-sia di kampus, mungkin kehidupanku jauh lebih baik dari sekarang.

    Diliputi rasa sesal dan kemauan untuk bebas, aku bertekad untuk mulai menulis lagi. Semoga aku bisa bertahan setidaknya untuk setahun lagi, atau bila aku beruntung, sebelum tahun ini berakhir aku dapat menyelesaikan karya tulis yang akan mengubah hidupku.
     
    • Like Like x 2
  4. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    Sekilas baca judulnya kirain "Ada Apanya"
    Dibaca lagi ternyata "Apa Adanya." Kalau judulnya "Ada Apanya" barangkali diujung-ujung muncul twist absurd seperti biasanya :haha:

    dari sayanya kerasa prolog sudah langsung mulai berat merenungnya, nantinya struggle pas udah mulai cerita apa bakal lebih berat lagi ya :sepi:

    walau pun percakapan sekilas, tapi pembawaannya simpel jadi mencerminkan kenyataan, ano, gimana ngomonginnya ya?
    pokoknya jadi bahan refleksi juga bisa nyambung gitu, walau isinya simpel

    edit:
    btw, ini cerita somehow kelihatannya kayak slice of life gayanya film New Wave perancis 60an
    slice of lifenya bukan sekedar ketemu masalah kehidupan sehari-hari, tapi malah kejebak di masalah shari-hari
    ada masalah tapi there's little we can do, itulah kenyataannya, yang cuma bisa kita lakukan hanyalah menjalani hidup dan kabur ke pantai (kesan saya dari film perancis 400th blow)
    hmm, tapi mungkin ceritanya pas maju agak condong lagi ya... :iiii:

    berharap sih nanti orifict ini gak sekedar cerita penulis yang ditolak editor terus dan akhirnya tiba-tiba keterima, tapi kayaknya style ceritanya gak ngarah ke situ juga

    diliat aja ditunggu aja deh lanjutannya :top:

    tapi jujur aja, somewhat kondisi saya juga agak agak mirip cerita di sini, merasa sia-sia selama kuliah karena gak dipake nulis dan baca :sepi:
    coba dari dulu lanjutin nulis aja, barangkali saya ada kesempatan juga yang seenggaknya tulisan saya bisa lebih power up lagi daripada sekarang :sepi:
    sekarang mah gara-gara muak kuliah satu tahun gak masuk kampus, bahkan temen-temen siap skripsi saya cuma bisa nonton film klasik / anime yang di DL dari internet, terus baca LN yang beralih ke wn china :sepi:

    baru-baru dua bulan ini juga semangat nulis saya balik, tapi timingnya pas sudah nyesel dan malah semakin lama gak kontak temen akhir jadi NEET total juga :sepi:

    kapan ya saya bisanya bikin karya yang bisa mengubah hidup saya :sedih1:
    daripada gini terus hidup menyesal, yang hanya bisa saya lakukan cerita orang lain dan maksain mood buat rajin nulis :sedih:
     
    Last edited: Jan 10, 2017
    • Like Like x 1
  5. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,967
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,939 / -1
    itu dikasih judul apa adanya soal'e nanti ada kaitan ama gaya nulis si mc nya, kalau judul'e 'ada apanya' mungkin lebih pada suatu misteri yg absurb juga :hihi:

    kalo soal cerita mungkin gk bakal terlalu terpaku ama plot ato kehidupan sehari2 nya dia, tiap bab nya rata2 semacam homage akan suatu karya/peristiwa yg mayan berkesan.

    ya gw sebenernya mirip2 gitu juga. jarang ngerasain bener2 struggle jadinya pas mau usaha malesan trus. sekarang pengen mulai berkarya lagi.

    anyway, thx udah mampir ya :yahoo:
     
    • Like Like x 1
  6. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    pasukan malesan :yahoo:

    semangat nulisnya om, biar bisa kelar sampai akhir :yahoo:
     
    • Like Like x 1
  7. Offline

    noprirf Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,250
    Trophy Points:
    87
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +416 / -0
    Komentar deh
    kalau kulihat bakal jadi cerita SoL, dengan beberapa konflik ringan. Awal cerita baru penjelasan tentang perasaan main character, cerita mungkin akan berkembang setelahnya. Ditunggu cerita selanjutnya Mod :lalala:
     
    • Like Like x 1
  8. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,967
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,939 / -1
    tengkyu, moga2 bisa dapet mood buat update berkala :top:

    okelah, thx bt mampir dimari jg ya :hihi:
     
    • Like Like x 1
  9. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,967
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,939 / -1
    Bab 1 : Karena tak Bahagia, Aku Mengambil Pena

    Aku malas nulis.

    Rasanya memulai cerita baru begitu sulit. Ada ide bagus tapi pas dituliskan kerasa sungguh membosankan. Kadang aku berpikir, sebenarnya aku serius ingin jadi penulis atau tidak sih? Rasa malas ini mulai beranjak saat hari ini, PLN setempat benar-benar sedeng. Bayangkan saja, dari jam sembilan pagi hingga sembilan malam mati lampu, dilanjutkan dengan mati lampu dari duabelas malam hingga satu pagi.

    Sungguh, apabila rumah orangtuaku tidak di sini aku pasti sudah pindah dari kota ini, PLN kota ini sungguh seperti makan gaji buta saja. Saat berada di ibukoa, aku tak pernah merasakan mati listrik yang begitu sering dan jangka waktunya lama lagi. Di tempat kerja, bosku mengomel terus, namun tidak sampai mengeluarkan kata-kata kasar. Untung saja pekerjaan itu tidak begitu bergantung dengan listrik, meski begitu ya, gak enak juga gak bisa baca novel di laptop saat lagi senggang, bahkan internet hp saja tidak konek terus entah bagaimana.

    Sudah PLN nya sedeng, koneksi internet juga bikin diriku mengelus dada. Tapi aku tahu, ini hanyalah alasan konyol mengapa diriku malas menuliskan sesuatu. Di dalam hati, aku ingin sekali bisa kembali menjadi seorang NEET. Tidak perlu berurusan dengan jam kerja tinggi dan tak ada hari libur. Namun, kenyataan nya saja, saat aku kembali ke sini aku jarang-jarang menekuni hobiku. Bahkan saat masih di ibukota, aku juga malas, terutama saat aku sudah lulus skripsi.

    Mengapa ya? Terkadang aku berpikir, bila menekuni dunia tulis menulis pun tidak jaminan aku bisa sukses. Ada yang namanya talenta dan takdir. Kadang orang yang berusaha sekeras mungkin, ujung-ujung bakal dijatuhkan juga sama orang berbakat yang bisa jadi hanya sekedar lewat. Bahkan, mereka yang punya bakat tidak ada jaminan bakal sukses juga, apabila kesempatan mereka untuk menambah jam terbang saja tidak sampai ke tangan.

    Bisa dibilang, aku tidak tahu apa aku punya keduanya—mungkin saja tidak. Saat aku menyisakan waktu untuk menulis, aku takut saja besoknya telat bangun dan telat masuk kerja. Bila korting waktu tidur pun, rasanya bakalan seperti mau pingsan saja.

    Aku kembali menyesal.

    Saat aku dibekali dengan waktu dan fasilitas memadai, aku tidak menggunakannya sebaik mungkin. Ketika aku bersemangat untuk menulis, listrik malah mati seharian.

    Sungguh terlalu.

    Ya sudahlah, saatnya aku berlatih menulis lagi.

    Xxx

    Saat aku menjadi seorang gagal di perkuliahan, aku terjerumus pada jebakan buku motivasi. Hal tersebut berakar dari sebuah pepatah untuk berpikir positif, meski kau harus memaksakannya. Nyatanya, hal tersebut tidak membuat hidupku lebih baik—malah sebaliknya. Pelajaran motivasi itu hanya membuatku menyadari, hal itu semuanya bodoh.

    Terutama saat aku menyadari kata-kata dari seorang Youtuber bernama Fredrik. Ia salah satu orang yang menjadi sukses karena memaksakan sikap positif, namun sekarang ia berani berbicara apa adanya saja—mengenai apa yang sungguh ia pikir dan rasakan.

    "Sikap positif yang dipaksakan sungguh menyiksaku. Aku tidak mau harus bermain game yang kubenci dan memaksakan senyum, seakan game itu menyenangkan. Apabila aku diminta bermain game samcam itu, aku akan bilang: tidak, game itu sampah, aku tak akan memainkannya."

    "Aku bahagia tentang perasaanku yang tak bahagia. Mungkin hal ini membingungkan, tapi hal ini jauh lebih baik ketimbang memenuhi pikiranku dengan perasaan palsu. Aku tahu, dibalik segala rasa positif itu, semua orang akan menyadari bahwa aku hanya berakting dan bersikap seperti badut. Sudah cukup."

    "Para peneliti dari Harvard juga sependapat denganku, apabila orang yang jauh lebih pintar dariku saja berpendapat demikian, apakah kau mau tetap tak setuju denganku? Ya, aku tahu ada beberapa orang yang sepertinya lebih bahagia daripada orang lain. Aku tak menyuruhmu untuk tak bahagia. Yang kubilang adalah: jika kau tak bahagia, jangan berpura-pura, jujur saja."

    "Apabila sikap positif benar-benar bisa menyembuhkan kanker, maka statistik penderita kanker di negara ini akan menurun drastis—nyatanya tidak. Artikel tersebut bahkan menyayangkan sikap naif pasien yang serta-merta menggantikan pengobatan dan pencegahan yang efektif dengan delusi sikap positif. Buka matamu dan lihatlah kenyataan itu. Berlari darinya tak akan menyelesaikan masalahmu."

    Begitulah kira-kira cuplikan dari hal yang dikatakan Fredrik. Video itu cukup populer di Youtube, dan mungkin kau sudah pernah menontonnya juga.

    Hal itu membuatku sadar akan suatu hal, tentang alasan aku mulai menulis. Aku punya banyak hal yang ingin kuutarakan, terutama bila aku merasa tidak bahagia. Saat aku lulus skripsi dan tidak punya kegiatan lain, aku merasa sungguh bahagia dan melupakan begitu banyak hal penting. Bila aku medengarkan hati kecilku yang tak bahagia, mungkin aku tidak akan jatuh ke lubang ini.

    Saat aku kembali ke tempat orangtuaku, segala serasa bahagia. Tidak perlu repot-repot harus masak sendiri, cuci baju sendiri dan bahkan di tempat kerja juga rata-rata santai dan ada koneksi internet yang memadai. Makan siang juga cukup bergizi dan enak-enak. Rasanya sungguh bahagia, jadinya aku tidak menulis ataupun menekuni hobiku yang lain. Aku menjadi lalai saat bekerja dan akhirnya disuruh pindah ke tempat lain. Aku terus berpindah kerja sampai akhirnya aku sampai ke tempat sekarang.

    Karena hidupku sudah bahagia, maka tidak perlu mengasah bakatku—segalanya akan baik-baik saja.

    Aku salah. Semakin aku menyadari sikapku yang menutup diri pada hati kecilku—aku orang lemah, dan merasa diri kuat, lantaran dihadapkan pada suatu jalanan lurus untuk sekian lama.

    Kebahagiaan bukanlah segalanya, meski demikian, hidup terasa begitu menyiksa bila aku tak diperbolehkan bahagia. Aku berpikir, tidak apa untuk bahagia dan bersikap positif, namun segala kesedihan dan sikap negatif yang ada sama pentingnya. Aku tak tahu pasti seberapa penting setiap perasaan dalam hati, namun kurasa, hal terpenting untuk membuatku maju dalam menulis adalah mendengarkan setiap perasaan itu dan menuangkannya ke bentuk tulisan.

    Tak apalah harus merasakan sakit. Aku hanya ingin berjalan pada kehidupan yang kudambakan, tapi hal terpenting buatku saat ini bukanlah hasil akhir, tetapi bagaimana aku berusaha untuk sampai ke sana.

    Diriku yang dahulu hanya berfokus pada hasil akhir dan tidak ingin berusaha.

    Aku ingin berubah menjadi seorang yang dapat menggapai impiannya. Aku mungkin memang tidak memiliki talenta maupun takdir, namun aku juga tak melawan mereka yang lebih berbakat. Yang kulakukan hanyalah menjadikan kata-kata ini sebagai batu loncatan.

    Kira-kira, apa yang akan aku alami dan rasakan sembari di jalan? Entahlah, yang dapat aku lakukan hanyalah terus menulis.
     
    • Like Like x 1
  10. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    masih serasa kayak pembukaan ini

    ditunggu apdet berikutnya om :ngacir:
     
    • Like Like x 1
  11. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,967
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,939 / -1
    plot nya sebenernya gk runut juga sih :hihi: mungkin ini mirip cerita gw yg dolo judul'e blog penulis anonim tapi ini ada plot utamanya.

    buat ke depan mungkin bakalan ada cerita absurb yg berhubungan ma kehidupan irl nya si mc.
     
    • Like Like x 1
  12. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    585
    Trophy Points:
    92
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +876 / -0
    ada absurdnya, jadi gak jauh-jauh juga dari akarnya :haha:
     
    • Like Like x 1
  13. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    5,967
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,939 / -1
    cuman sekedar rencana dulu, mungkin hasil akhirnya bisa beda lagi :hihi:
     
    • Like Like x 1

Share This Page

About Forum IDWS.ID

Indowebster, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.