1. Sssst, ada Administrator baru di forum Indowebster lho... cek di sini
  2. Silahkan Login atau Register, untuk melihat konten-konten menarik lainnya.
  3. Hai IDWS Mania, membership gatotkaca telah hadir kembali lho, kalau mau info lebih lanjut klik di sini
    Dismiss Notice
  4. Indowebster membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator Zona Movies and TV Series. Open Recruitment Moderator Zona MTV (SF Movies, TV Shows, Profile, Fansubs & Encoders, Movie Maker)
    Dismiss Notice
  5. Tertantang untuk menjadi bagian dari staff forum? Indowebster Corner membuka kesempatan bagi kamu-kamu yang berminat untuk melamar menjadi moderator. Open Recruitment Moderator Indowebster Corner
    Dismiss Notice
  6. Mau bergabung dan mengembangkan forum Female Insight Indowebster? Daftar diri kamu menjadi moderator Female Insight! Informasi lebih lengkap, buka link ini
    Dismiss Notice

OriFic Apa Adanya

Discussion in 'Fiction' started by high_time, Jan 10, 2017.

  1. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,058
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,990 / -1
    Sinopsis : kisah seorang biasa yang mulai menulis guna mengubah hidupnya.

    Genre : SoL, macam-macam

    Status : Completed

    ===

    List Chapter​

    ARC 1 : Keinginan untuk Berkuasa (Completed)

    Page 1 s/d Page 4

    Prolog

    Bab 1 : Karena tak Bahagia, Aku Mengambil Pena

    Bab 2 : Mimpi

    Bab 3 : Hanya untuk Kesenangan

    Bab 4 : Serius tapi Santai

    Bab 5 : Aku dan Duniaku

    Bab 6 : Redup

    Bab 7 : Dagelan Warung Kopi

    Bab 8 : Waktu Luang

    Bab 9 : Kebahagiaan

    Bab 9.5 : Apa Boleh Buat

    ARC 2 : Metamorfosis (Completed)

    Page 4

    Bab 10 : Hiatus

    Bab 11 : Mengapa?

    Bab 12 : Jangan Tertawa

    Bab 13 : Bebas

    Bab 14 : Tiket tanpa Tujuan

    Bab 15 : Pemalas

    Bab 16 : Arah

    Bab 17 : Cerita Santai

    Page 5

    Bab 18 : Percayalah (END)
     
    Last edited: Apr 19, 2017
    • Like Like x 3
    • Semangat! Semangat! x 1
  2. Ramasinta Tukang Iklan

    Silahkan upgrade akun anda menjadi VIP atau Gatot Kaca untuk menghilangkan tulisan dan iklan di bawah ini. Satu klik iklan dari anda, sangatlah berarti bagi forum tercinta ini.







    Promotional Content
  3. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,058
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,990 / -1
    ARC 1 :

    Keinginan untuk Berkuasa

    Prolog

    Salah satu temanku pernah bertanya, "Kenapa kau mulai nulis lagi?"

    Kujawab simpul, "Ya karena terinspirasi sama teman-teman penulis di internet. Aku sering baca karya mereka, dan aku kepingin nulis juga."

    "Sayang terpotong waktu kerja lumayan banyak. Kau pernah curhat juga 'kan, kerjaan yang kau dapat gak pernah ada yang enak." sahut temanku.

    "Ya makanya, sambil nyambung hidup aku nyambi aja. Siapa tau, nantinya aku bakal jadi penulis terkenal dan bisa hidup dari situ."

    "Jangan terlalu ngarep aja deh, tau aja kalau orang sini pada jarang baca buku. Kapan terakhir kau ngeliat orang-orang ngomongin buku selain di internet? Diantara temen-temenku saja rata-rata pada post foto dan segala hal gak penting. Jarang, dan hampir sama sekali gak pernah mereka ngomongin buku."

    "Makanya aku mau coba terjang dunia luar sana. Kalau di sini gak ada pembaca, mungkin saja, di luar negeri aku punya kesempetan."

    Temanku menimpali mimpi kecilku dengan senyuman memaksa, "Belum tentu juga sih. Standar di luar mungkin jauh lebih tinggi juga. Kalau kau tulis sesuatu yang fenomenal, mungkin bisa terkenal juga di sini."

    "Sulit juga sih, soalnya seleraku beda jauh dengan selera pasar. Rasanya nyiksa kali mesti bikin romantika begundal yang super lebay gitu."

    "Gak mesti gitu juga kali. Situ aja yang gak pernah ngikutin sastra dalam negeri, aku juga nggak sih. Kalau buat yang terkenal bukannya dulu ada cerita tentang anak daerah yang jalan-jalan ke Inggris gitu?"

    "Ya itu dulu, selera orang sekarang bisa beda lagi."

    "Kalau soal cerita klasik macam Shakespeare, Goethe dan Twain masih dibaca tuh. Ya itu luar negeri , tapi kalau mang itu karya fenomenal bukannya bakal dibaca terus dan lekang zaman?"

    "Paling seputar pecinta literatur kalau di sini, jumlahnya mungkin gak seberapa. Gak tau sih kalau yang luar negeri gimana. Yang kutahu, mereka di kelas sering dapet tugas ngebaca klasik. Tapi soal suka gak suka, rata-rata mungkin benci juga. Meski tugas sekolah, selera gak bisa dipaksakan.

    Mungkin kalau beberapa penulis itu bisa melihat dari sana, aku yakin mereka bakalan miris juga ngeliat bacaannya dipaksa baca wajib hingga orang-orang pada sebel."

    "Aku jadi ingat pas SMA dulu disuruh bikin laporan buku literatur klasik, cuma beli buku dan asal rangkum aja. Habis itu aku biarin tergeletak entah di mana. Gak nahan liat gaya bahasa lama."

    "Ya, untung aja kita udah lulus sekolah. Sistem pendidikan nanti bakalan dibikin semakin rumit aja—bisa jadi nanti anak-anak kita disuruh seharian mendekam di sekolah ngerjain laporan buku begituan."

    "Aku saja yang pakai sistem dulu saja nyesel. Coba aku dulunya lahir di Finlandia, sekolah di sana enak tuh."

    "Nasi udah jadi bubur, udah lahir di tanah air tercinta. Kalau kau punya duit dan udah fasih bahasanya, kau ma istrimu pindah ke Finlandia aja. Biar generasi anakmu gak ngerasain derita kek kita-kita."

    "Gak terlalu persuasif ah, lantaran situ belum dapet istri, pacar pun gak pernah ada. Kapan kawin?"

    "Kapan-kapan lah. Ini kerjaan aja gak ada hari libur, gimana mau ngegaet cewek."

    "Situ juga kalau ada libur paling ngegim aja di rumah."

    "Tau aja."

    Entah bagaimana, obrolan yang awalnya berisi curhatan tentang mimpi besarku, berujung pada pertanyaan 'kapan kawin' lagi. Memang usiaku sudah tidak muda lagi dan teman sepantaranku rata-rata sudah punya istri dan anak. Tapi yah, untukku, mengejar mimpi jauh lebih penting. Untuk saat ini, berkeluarga hanya menambah beban hidup saja.

    Paling aku dijodohkan oleh keluargaku, tapi aku cari-cari alasan saja deh supaya aku bisa fokus kerja dan nyambi.

    Mentari sore menyinari warung kopi, dimana aku yang pulang kerja bercakap dengan kawanku. Kami sesama anak semester tua. Ia mengundurkan diri pas kuliah dan di semester yang sama aku lulus setelah skripsi diawasi terus-menerus oleh orangtuaku.

    Alasan temanku mengundurkan diri ya, karena ia sudah jenuh dengan kuliah dan sedang nyambi buka usaha. Sekarang dia sudah kaya dan kalau datang tinggal monitor anak buah bentar, terus nongkrong sana sini.

    Kalau tahu kerjaan bakal gak enak gini, aku seharusnya serius nulis saat masih kuliah. Diliputi rasa sesal yang amat mendalam, aku menyeruput kopi terakhir dan membayar bagian temanku yang sekarang sudah cabut entah kemana.

    "Makanya cari istri dulu, biar semangat kerja dan semangat ngejar mimpi. Kau melamun lama banget jadi kutinggal aja, makasih kopinya ya." begitu isi pesan yang temanku

    Udah kubilang, boro-boro cari istri, waktu luang buat ngegim aja gak sempet gara-gara kerjaan ini. Aku bisa ngegim seharian sih.

    Aku berjalan sempoyongan ke rumah kontrakan ku.

    Andai saja aku lebih giat membaca dan menulis, ketimbang menghabiskan waktu sia-sia di kampus, mungkin kehidupanku jauh lebih baik dari sekarang.

    Diliputi rasa sesal dan kemauan untuk bebas, aku bertekad untuk mulai menulis lagi. Semoga aku bisa bertahan setidaknya untuk setahun lagi, atau bila aku beruntung, sebelum tahun ini berakhir aku dapat menyelesaikan karya tulis yang akan mengubah hidupku.
     
    Last edited: Mar 12, 2017
    • Like Like x 3
  4. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    514
    Trophy Points:
    107
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +907 / -0
    Sekilas baca judulnya kirain "Ada Apanya"
    Dibaca lagi ternyata "Apa Adanya." Kalau judulnya "Ada Apanya" barangkali diujung-ujung muncul twist absurd seperti biasanya :haha:

    dari sayanya kerasa prolog sudah langsung mulai berat merenungnya, nantinya struggle pas udah mulai cerita apa bakal lebih berat lagi ya :sepi:

    walau pun percakapan sekilas, tapi pembawaannya simpel jadi mencerminkan kenyataan, ano, gimana ngomonginnya ya?
    pokoknya jadi bahan refleksi juga bisa nyambung gitu, walau isinya simpel

    edit:
    btw, ini cerita somehow kelihatannya kayak slice of life gayanya film New Wave perancis 60an
    slice of lifenya bukan sekedar ketemu masalah kehidupan sehari-hari, tapi malah kejebak di masalah shari-hari
    ada masalah tapi there's little we can do, itulah kenyataannya, yang cuma bisa kita lakukan hanyalah menjalani hidup dan kabur ke pantai (kesan saya dari film perancis 400th blow)
    hmm, tapi mungkin ceritanya pas maju agak condong lagi ya... :iiii:

    berharap sih nanti orifict ini gak sekedar cerita penulis yang ditolak editor terus dan akhirnya tiba-tiba keterima, tapi kayaknya style ceritanya gak ngarah ke situ juga

    diliat aja ditunggu aja deh lanjutannya :top:

    tapi jujur aja, somewhat kondisi saya juga agak agak mirip cerita di sini, merasa sia-sia selama kuliah karena gak dipake nulis dan baca :sepi:
    coba dari dulu lanjutin nulis aja, barangkali saya ada kesempatan juga yang seenggaknya tulisan saya bisa lebih power up lagi daripada sekarang :sepi:
    sekarang mah gara-gara muak kuliah satu tahun gak masuk kampus, bahkan temen-temen siap skripsi saya cuma bisa nonton film klasik / anime yang di DL dari internet, terus baca LN yang beralih ke wn china :sepi:

    baru-baru dua bulan ini juga semangat nulis saya balik, tapi timingnya pas sudah nyesel dan malah semakin lama gak kontak temen akhir jadi NEET total juga :sepi:

    kapan ya saya bisanya bikin karya yang bisa mengubah hidup saya :sedih1:
    daripada gini terus hidup menyesal, yang hanya bisa saya lakukan cerita orang lain dan maksain mood buat rajin nulis :sedih:
     
    Last edited: Jan 10, 2017
    • Like Like x 2
  5. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,058
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,990 / -1
    itu dikasih judul apa adanya soal'e nanti ada kaitan ama gaya nulis si mc nya, kalau judul'e 'ada apanya' mungkin lebih pada suatu misteri yg absurb juga :hihi:

    kalo soal cerita mungkin gk bakal terlalu terpaku ama plot ato kehidupan sehari2 nya dia, tiap bab nya rata2 semacam homage akan suatu karya/peristiwa yg mayan berkesan.

    ya gw sebenernya mirip2 gitu juga. jarang ngerasain bener2 struggle jadinya pas mau usaha malesan trus. sekarang pengen mulai berkarya lagi.

    anyway, thx udah mampir ya :yahoo:
     
    • Like Like x 2
  6. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    514
    Trophy Points:
    107
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +907 / -0
    pasukan malesan :yahoo:

    semangat nulisnya om, biar bisa kelar sampai akhir :yahoo:
     
    • Like Like x 1
  7. Offline

    noprirf Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    Mar 14, 2014
    Messages:
    1,258
    Trophy Points:
    87
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +416 / -0
    Komentar deh
    kalau kulihat bakal jadi cerita SoL, dengan beberapa konflik ringan. Awal cerita baru penjelasan tentang perasaan main character, cerita mungkin akan berkembang setelahnya. Ditunggu cerita selanjutnya Mod :lalala:
     
    • Like Like x 1
  8. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,058
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,990 / -1
    tengkyu, moga2 bisa dapet mood buat update berkala :top:

    okelah, thx bt mampir dimari jg ya :hihi:
     
    • Like Like x 1
  9. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,058
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,990 / -1
    Bab 1 : Karena tak Bahagia, Aku Mengambil Pena

    Aku malas nulis.

    Rasanya memulai cerita baru begitu sulit. Ada ide bagus tapi pas dituliskan kerasa sungguh membosankan. Kadang aku berpikir, sebenarnya aku serius ingin jadi penulis atau tidak sih? Rasa malas ini mulai beranjak saat hari ini, PLN setempat benar-benar sedeng. Bayangkan saja, dari jam sembilan pagi hingga sembilan malam mati lampu, dilanjutkan dengan mati lampu dari duabelas malam hingga satu pagi.

    Sungguh, apabila rumah orangtuaku tidak di sini aku pasti sudah pindah dari kota ini, PLN kota ini sungguh seperti makan gaji buta saja. Saat berada di ibukoa, aku tak pernah merasakan mati listrik yang begitu sering dan jangka waktunya lama lagi. Di tempat kerja, bosku mengomel terus, namun tidak sampai mengeluarkan kata-kata kasar. Untung saja pekerjaan itu tidak begitu bergantung dengan listrik, meski begitu ya, gak enak juga gak bisa baca novel di laptop saat lagi senggang, bahkan internet hp saja tidak konek terus entah bagaimana.

    Sudah PLN nya sedeng, koneksi internet juga bikin diriku mengelus dada. Tapi aku tahu, ini hanyalah alasan konyol mengapa diriku malas menuliskan sesuatu. Di dalam hati, aku ingin sekali bisa kembali menjadi seorang NEET. Tidak perlu berurusan dengan jam kerja tinggi dan tak ada hari libur. Namun, kenyataan nya saja, saat aku kembali ke sini aku jarang-jarang menekuni hobiku. Bahkan saat masih di ibukota, aku juga malas, terutama saat aku sudah lulus skripsi.

    Mengapa ya? Terkadang aku berpikir, bila menekuni dunia tulis menulis pun tidak jaminan aku bisa sukses. Ada yang namanya talenta dan takdir. Kadang orang yang berusaha sekeras mungkin, ujung-ujung bakal dijatuhkan juga sama orang berbakat yang bisa jadi hanya sekedar lewat. Bahkan, mereka yang punya bakat tidak ada jaminan bakal sukses juga, apabila kesempatan mereka untuk menambah jam terbang saja tidak sampai ke tangan.

    Bisa dibilang, aku tidak tahu apa aku punya keduanya—mungkin saja tidak. Saat aku menyisakan waktu untuk menulis, aku takut saja besoknya telat bangun dan telat masuk kerja. Bila korting waktu tidur pun, rasanya bakalan seperti mau pingsan saja.

    Aku kembali menyesal.

    Saat aku dibekali dengan waktu dan fasilitas memadai, aku tidak menggunakannya sebaik mungkin. Ketika aku bersemangat untuk menulis, listrik malah mati seharian.

    Sungguh terlalu.

    Ya sudahlah, saatnya aku berlatih menulis lagi.

    Xxx

    Saat aku menjadi seorang gagal di perkuliahan, aku terjerumus pada jebakan buku motivasi. Hal tersebut berakar dari sebuah pepatah untuk berpikir positif, meski kau harus memaksakannya. Nyatanya, hal tersebut tidak membuat hidupku lebih baik—malah sebaliknya. Pelajaran motivasi itu hanya membuatku menyadari, hal itu semuanya bodoh.

    Terutama saat aku menyadari kata-kata dari seorang Youtuber bernama Fredrik. Ia salah satu orang yang menjadi sukses karena memaksakan sikap positif, namun sekarang ia berani berbicara apa adanya saja—mengenai apa yang sungguh ia pikir dan rasakan.

    "Sikap positif yang dipaksakan sungguh menyiksaku. Aku tidak mau harus bermain game yang kubenci dan memaksakan senyum, seakan game itu menyenangkan. Apabila aku diminta bermain game samcam itu, aku akan bilang: tidak, game itu sampah, aku tak akan memainkannya."

    "Aku bahagia tentang perasaanku yang tak bahagia. Mungkin hal ini membingungkan, tapi hal ini jauh lebih baik ketimbang memenuhi pikiranku dengan perasaan palsu. Aku tahu, dibalik segala rasa positif itu, semua orang akan menyadari bahwa aku hanya berakting dan bersikap seperti badut. Sudah cukup."

    "Para peneliti dari Harvard juga sependapat denganku, apabila orang yang jauh lebih pintar dariku saja berpendapat demikian, apakah kau mau tetap tak setuju denganku? Ya, aku tahu ada beberapa orang yang sepertinya lebih bahagia daripada orang lain. Aku tak menyuruhmu untuk tak bahagia. Yang kubilang adalah: jika kau tak bahagia, jangan berpura-pura, jujur saja."

    "Apabila sikap positif benar-benar bisa menyembuhkan kanker, maka statistik penderita kanker di negara ini akan menurun drastis—nyatanya tidak. Artikel tersebut bahkan menyayangkan sikap naif pasien yang serta-merta menggantikan pengobatan dan pencegahan yang efektif dengan delusi sikap positif. Buka matamu dan lihatlah kenyataan itu. Berlari darinya tak akan menyelesaikan masalahmu."

    Begitulah kira-kira cuplikan dari hal yang dikatakan Fredrik. Video itu cukup populer di Youtube, dan mungkin kau sudah pernah menontonnya juga.

    Hal itu membuatku sadar akan suatu hal, tentang alasan aku mulai menulis. Aku punya banyak hal yang ingin kuutarakan, terutama bila aku merasa tidak bahagia. Saat aku lulus skripsi dan tidak punya kegiatan lain, aku merasa sungguh bahagia dan melupakan begitu banyak hal penting. Bila aku medengarkan hati kecilku yang tak bahagia, mungkin aku tidak akan jatuh ke lubang ini.

    Saat aku kembali ke tempat orangtuaku, segala serasa bahagia. Tidak perlu repot-repot harus masak sendiri, cuci baju sendiri dan bahkan di tempat kerja juga rata-rata santai dan ada koneksi internet yang memadai. Makan siang juga cukup bergizi dan enak-enak. Rasanya sungguh bahagia, jadinya aku tidak menulis ataupun menekuni hobiku yang lain. Aku menjadi lalai saat bekerja dan akhirnya disuruh pindah ke tempat lain. Aku terus berpindah kerja sampai akhirnya aku sampai ke tempat sekarang.

    Karena hidupku sudah bahagia, maka tidak perlu mengasah bakatku—segalanya akan baik-baik saja.

    Aku salah. Semakin aku menyadari sikapku yang menutup diri pada hati kecilku—aku orang lemah, dan merasa diri kuat, lantaran dihadapkan pada suatu jalanan lurus untuk sekian lama.

    Kebahagiaan bukanlah segalanya, meski demikian, hidup terasa begitu menyiksa bila aku tak diperbolehkan bahagia. Aku berpikir, tidak apa untuk bahagia dan bersikap positif, namun segala kesedihan dan sikap negatif yang ada sama pentingnya. Aku tak tahu pasti seberapa penting setiap perasaan dalam hati, namun kurasa, hal terpenting untuk membuatku maju dalam menulis adalah mendengarkan setiap perasaan itu dan menuangkannya ke bentuk tulisan.

    Tak apalah harus merasakan sakit. Aku hanya ingin berjalan pada kehidupan yang kudambakan, tapi hal terpenting buatku saat ini bukanlah hasil akhir, tetapi bagaimana aku berusaha untuk sampai ke sana.

    Diriku yang dahulu hanya berfokus pada hasil akhir dan tidak ingin berusaha.

    Aku ingin berubah menjadi seorang yang dapat menggapai impiannya. Aku mungkin memang tidak memiliki talenta maupun takdir, namun aku juga tak melawan mereka yang lebih berbakat. Yang kulakukan hanyalah menjadikan kata-kata ini sebagai batu loncatan.

    Kira-kira, apa yang akan aku alami dan rasakan sembari di jalan? Entahlah, yang dapat aku lakukan hanyalah terus menulis.
     
    • Like Like x 3
  10. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    514
    Trophy Points:
    107
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +907 / -0
    masih serasa kayak pembukaan ini

    ditunggu apdet berikutnya om :ngacir:
     
    • Like Like x 1
  11. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,058
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,990 / -1
    plot nya sebenernya gk runut juga sih :hihi: mungkin ini mirip cerita gw yg dolo judul'e blog penulis anonim tapi ini ada plot utamanya.

    buat ke depan mungkin bakalan ada cerita absurb yg berhubungan ma kehidupan irl nya si mc.
     
    • Like Like x 1
  12. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    514
    Trophy Points:
    107
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +907 / -0
    ada absurdnya, jadi gak jauh-jauh juga dari akarnya :haha:
     
    • Like Like x 1
  13. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,058
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,990 / -1
    cuman sekedar rencana dulu, mungkin hasil akhirnya bisa beda lagi :hihi:
     
    • Like Like x 1
  14. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,058
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,990 / -1
    Bab 2 : Mimpi

    a.n : rada panjang dan sekarang belum diedit full, mungkin nanti lah kalau udah tamat semua.

    Aku malas nulis, membaca tulisanku belakangan ini--sungguh membosankan. Memang itu berisi apa yang ingin kusampaikan, tapi hal tersebut membuatku jenuh. Kejujuran dalam menulis tidak membuat hidupku lebih baik, aku malah sadar bahwa aku tidak bahagia. Menulis seperti ini tidak menyelesaikan masalah sedikitpun, justru menambahnya.

    Apabila aku menjadi terkenal menulis seperti ini, mungkin setelah menulis beberapa lama, aku bakalan depresi dan sakit jiwa. Ya, memang perkataan Fredrik itu benar, namun aku tak bisa senang karena tidak bahagia. Aku tak dapat menerima ketidakbahagiaan itu dalam hidupku. Aku tak dapat nyaman dengan segala perasaan negatif yang berkecamuk di benakku. Hal yang ingin kurasakan dalam sebagian besar waktu adalah rasa nyaman, tenang, bahagia, semacamnya.

    Ya, memang perasaan positif yang dipaksakan itu tidak efektif. Hal itu semata-mata karena perasaan negatif yang terpendam tidak serta merta hilang saat kau menimpanya dengan paksaan sugesti positif. Jadi, hal yang ingin coba kulakukan adalah memakai emosi negatif tersebut sebagai motivasi. Membuatnya muncul keluar, dan terus memutar otak bagaimana menghilangkan rasa itu secara efektif.

    Aku tahu, perasaan negatif bersumber dari sesuatu, seperti segala keyakinan yang saat ini kuanut. Misalnya: aku ingin tidur sepuasnya; aku ingin main sepuasnya; aku ingin hari libur. Sedangkan pekerjaan ini membuatku tidak dapat tidur, bermain sepuasnya, dan sama sekali tak ada hari libur. Diriku yang dahulu mungkin begitu frustrasi hingga ingin bunuh diri, karena hidupku tidak berlangsung seperti yang kumau.

    Kusadari kemudian, hidup tak selalu harus berlangsung sesuai dengan yang kuinginkan. Jauh lebih penting jika, tak peduli apa yang terjadi, selalu ada cara untuk bahagia di tengah kesedihan yang ada. Pentingkah untuk bahagia? Bagiku, jelas. Merasakan pedih di hati untuk sekian lama itu ibarat jatuh sakit dan mengundang penyakit-penyakit lainnya yang dapat membuat hidupku jauh lebih menderita. Entah penyakit secara literal maupun suatu kejadian menyedihkan yang lain.

    Contohnya saja ya, saat aku marah-marah dalam hati lantaran koneksi internet hp ku begitu lemot dan baru-baru ini mati lampu seharian. Besoknya, aku begitu susah buang air besar. Tubuhku juga terasa lebih lemah dari biasanya—semangat kerjaku pun kendur. Yang ada di benakku hanyalah ingin tidur seharian, mati saja pun tidak apa-apa.

    Aku tidak mau jadi orang seperti itu lagi, tiap hari cari penyakit. Lebih baik sadari masalah yang ada dan gunakan segala yang kupunya untuk mengobati hal tersebut hingga tuntas.

    Jadi ya, untuk sementara waktu dan untuk selanjutnya lagi, aku ingin menulis hal yang menyenangkan bagiku. Memang jujur itu penting, tapi jauh lebih baik bila apa yang kutulis dapat menyelesaikan suatu masalah yang tengah kuhadapi dalam hidup, salah satunya rasa pedih dan kecewa yang kurasakan saat ini.

    Ya begitulah, selamat menikmati tulisan kali ini.

    Xxx

    Aku terbangun di malam hari--rasanya seperti setengah mabuk. Langkahku berat dan gontai beranjak dari kasurku. Aku sudah lama tidak minum lagi, namun segala perasaan mabuk kembali muncul. Mungkinkah hal itu terjadi karena aku mimpi minum bir tadi malam? Atau bisa saja karena aku sungguh letih dan sebenarnya ingin tidur lagi.

    Dari tempat tidur, aku seketika meninggalkan rumah kontrakanku di daerah.

    Aku teringat pernah berjalan kaki menuju toko duapuluh empat jam yang sekarang sudah tutup. Di sana aku menemui seorang kakek tua yang tengah mabuk. Di toko itu memang dijual beragam minuman keras, entah bir, wine maupun jus buah beralkohol.

    Kakek tua itu meracau.

    "Buat apa sih cari jodoh! Yang penting aku sehat sepanjang waktu, dan bisa main sepuasnya. Sendiri lebih baik, hahaha. Orangtuaku sudah meninggal dan adikku sudah jadi kakek, paman dan bibiku juga sudah meninggal semua. Tidak ada yang lebih tua dariku di keluarga ini—tak ada dari mereka yang berhak mendikte caraku hidup."

    Terserah kau lah saja kek. Enak juga sih bisa hidup selama itu tanpa harus mengandalkan pasangan hidup.

    Yang ia minum bukanlah bir ataupun minuman beralkohol lainnya. Ia minum air putih dan di meja hanya terdapat botol air putih ukuran satu setengah liter dan sebuah kotak makanan berisi nasi dan ayam fillet, dengan sajian selada renyah dan taburan saus mayones yang cukup menggugah selera. Di sana terdapat dua atau tiga orang lainnya.

    Satu berada dekat pintu masuk sedang mengetik di laptop—ia tengah serius mengerjakan sesuatu. Di kursi sampingnya terletak sebuah tas besar dan di atas meja ada semacam karya tulis yang dijilid, dengan logo sebuah kampus terpampang di depan. Ia anak muda yang usianya berapa tahun di bawahku.

    "Tanda tangan.....revisi lagi...kapan aku bisa istirahat."

    Keluh kesahnya mengingatkan diriku pada masa-masa menjadi pejuang skripsi. Meski sudah lama, tapi aku tidak ingin mengingat detil masa itu—sungguh kelam.

    Salah seorang lagi adalah seorang pemudia berusia tiga puluh tahunan yang berdiri malas di belakang konter pegawai. Seragam yang ia kenakan tidak rapi dan ia mungkin tak peduli juga apabila ia dipecat keesokan harinya. Setiap beberapa menit sekali aku dapat melihatnya bersungut-sungut.

    "Pekerjaan ini sungguh tolol. Masa' yang lain dapat libur dan aku tidak? Jam mereka sedikit sedangkan aku harus berada di sini sepanjang hari? Dapat bayaran yang sampah lagi. Tahu begini aku lebih baik mati kelaparan saja. Ah, dewa langit, tolong cabut nyawaku."

    Sebenarnya ia tidak berbicara hal demikian, tapi ekspresi kelamnya menyiratkan hal itu. Mungkin, lantaran saat ini aku tengah stress karena tidak ada libur, maka aku bersimpati dengannya. Kadang aku berpikir, mungkin hidupku lebih baik jika aku bunuh diri saja dan langsung terjun ke dunia anime. Ah, aku memang seorang pengecut.

    Orang ketiga di tempat itu adalah diriku sendiri, tidak bukan aku yang tengah berdiri di tempat ini, tapi diriku yang lain. Ia tengah berdiri di dekat tempat es-krim yang berada di pojokan toko, dekat tangga lantai dua tempat makan dan kongkow. Aku mendengarnya berkeluh kesah tentang hidup:

    "Semalam mati lampu lagi, belum lagi koneksi internetku sungguh sampah. Ah, aku tidak peduli lagi, lebih baik aku jadi NEET saja ketimbang kerja seminggu penuh dengan bayaran tak seberapa. Aku tak peduli harus malu, bila harus dipaksa terus kerja lebih baik mereka langsung pecat aku saja."

    Ya, aku kadang berpikir demikian. Bila uang sama sekali tidak penting, maka aku lebih baik menggangur saja. Mati kelaparan pun tak apa-apa.

    Setiap orang di tempat ini sepertinya punya hal yang berkaitan denganku dalam hidup. Hal itu membuatku kembali depresi—sampai aku melihat pasangan ayah dan anak yang berjalan masuk malam-malam begini.

    Sang ayah mengenakan jaket motor hitam dan tengah menenteng helmnya ke dalam. Si anak punya postur tubuh yang tinggi besar untuk anak seusianya, meski ia tidak banyak bicara, gerak langkahnya yang enerjik membuatku sadar—anak ini belum tercemar oleh keputusasaan hidup, atau tidak menampakannya saja.

    Punggung sang ayah mengingatkanku pada ayahku sendri. Meski ia sudah lama tiada, namun aku masih tetap mengingat sebagian besar kenangan tentang dirinya. Bila ia masih hidup, ia pasti sudah marah besar jika aku malas-malasan saat kuliah. Mungkin saja, karena takut akan kemarahannya dan terlebih lagi rasa kecewanya yang sungguh percaya denganku—aku pasti akan lebih giat belajar.

    Hidupku pasti akan berbeda jauh apabila ayahku masih hidup sampai sekarang. Namun, aku juga merasa, bila ia masih hidup, mungkin aku tak akan berpikir untuk hidup sesuai dengan keinginanku sendiri. Sampai akhir hayatnya, mungkin saja aku hidup untuk membuatnya bangga. Tapi ya, entahlah juga. Apakah jadinya hidup seorang manusia, tidak ada yang tahu pasti.

    "Pa...pa, beliin burger dong."

    Sembari aku melamun, anak itu tengah makan burger bersama ayahnya. Mereka berdua mungkin terlihat bahagia, tak seperti apa orang-orang yang berada di sini. Namun, saat aku melihat ekspresi sang ayah dan sang anak secara tersendiri—mereka sepertinya tersiksa akan satu atau dua hal yang mereka alami.

    Lantaran atmosfir toko ini sungguh muram, aku keluar tanpa membeli apapun. Pegawai toko itu juga tak acuh juga dengan keberadaanku. Aku seketika kembali di rumahku. Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Besoknya aku sudah harus berangkat kerja jam delapan dan pulang kembali jam enam sore.

    Berjalan lagi ke tempat tidur, dalam hati aku berharap, semoga tidur kali ini, aku tak harus bangun lagi.

    Xxx

    Pagi itu aku masih sempat terbangun. Aku tak lagi berada di rumah kontrakan melainkan di rumah orangtuaku. Saat tubuhku masih lemas terbaring di kasur, ibuku datang membangunkanku. Ia masih sehat walafiat untuk usianya sekarang ini, seperti yang kuingat.

    Ibuku biasa berangkat pagi untuk membuka toko kelontong. Usahanya sekarang cukup maju, dan sebenarnya ia bisa bersantai di rumah saja lantaran anak buahnya cukup kompeten, tapi ia terus bekerja, katanya biar tidak pikun pas tua nanti. Biasa ia pergi jam tujuh pagi dan pulang jam empat atau lima sore. Tokonya sendiri buka dari jam delapan hingga jam enam.

    Ia bilang padaku sekilas bahwa ada yang membawakan pizza untukku, dan juga ada hidangan stik daging beserta selada untuk sarapan.

    Sewaktu aku kecil, aku sering dikerjai oleh ayahku sehingga cepat bangun. Salah satu siasatnya adalah meneriakkan 'ada pizza' di bawah. Yang ada ternyata hanya pisang. Dengan malas aku terbangun, di tempat nasi benar ada sepotong pizza di situ. Disajikan dengan stik daging, selada dan juga spaghetti—rasanya seperti kembali makan sepuasnya saat kuliah. Bahkan kali ini rasanya lebih mewah lagi.

    Jam menunjukkan pukul tujuh pagi saat aku selesai sarapan. Ibuku menyuruhku siram tanaman di depan rumah. Saat aku keluar ke halaman, udara sejuk menerpa sekujur tubuhku, membuat rasa kantuk hilang seketika. Lalu aku mandi dan berganti baju. Bosku tadi kirim sms akan jemput jam setengah sembilan. Aku main komputer hingga ia telepon lagi. Aku bergegas keluar dan kami berdua berhenti langsung depan gudang tempatku biasa bekerja.

    Hari itu, gudang tersebut sudah dipasang internet, dan tumben barang yang masuk dan keluar hampir tidak ada. Bos juga suka keluar sana-sini jadinya aku dapat sendirian bermain laptop dan mengakses internet sesuka hati. Bos paling balik ke gudang saat makan siang dan sore saja. Makanan kali ini bisa dibilang cukup mewah dan bergizi: nasi merah, sayuran cap cay yang enak nya luar biasa ditambah dengan tahu bakar yang renyah. Meski makan siang dan sore menunya kurang lebih sama, tapi aku masih ketagihan.

    Hari itu sungguh santai. Ada satu dua barang yang masuk dan keluar—kebanyakan waktu diisi di depan laptop. Aku membaca novel yang kuunduh di rumah, cerita petualangan seorang pria dewasa yang terperangkap di dunia game sendirian. Sepanjang hari aku bermain game RPG yang kuinstall di hp dan membaca novel seri tersebut di laptop.

    Seusai makan sore sekitar jam lima, bosku bilang sudah tidak ada barang yang masuk. Aku dipersilahkan pulang, jadi aku langsung pulang naik ojek saja. Dalam perjalanan pulang, aku mendapat pesan dari adikku bahwa ia tengah magang di perusahaan IT. Pekerjaannya sungguh cemerlang dan ia mungkin akan ditraining di luar negeri.

    Kakak perempuanku juga mengirim kabar ia tengah hamil anak kedua. Keluarganya masih tinggal di Australia, tapi nanti tahun baru bakal pulang ke sini. Suami kakakku baik benar membantuku di skripsi—dia dosen juga. Memang ibuku yang mengawasiku tapi ia lebih banyak jalan-jalan. Aku lebih sering bercakap dengan suami kakak.

    Aku hanya dapat menjawab, ya baguslah—lantaran sedang naik ojek juga.

    Saat aku pulang, ibuku sedang menyiram tanaman di luar. Tanaman jeruk yang seharusnya mati tahun kemarin kini berbuah lagi. Aku lihat tanahnya juga sudah diganti dari yang gersang kering berpasir menjadi tanah coklat yang terlihat subur.

    "Papa hari ini pulang dari Amrik, bawa oleh-oleh burger ama kue-kue."

    Mendengar sesuatu tentang mendiang ayahku, diriku rasanya ingin menangis. Saat aku baru lulus SMA, dan baru saja mengambil tes masuk perguruan tinggi, ayahku jatuh sakit. Ia masih sehat saja beberapa bulan lalu, memang ia kadang sakit tapi belum pernah sampai separah ini.

    Aku, kakakku dan adikku semuanya menunggu di luar ruang UGD. Aku hanya sempat tidur sebentar di sofa depan yang tak begitu nyaman. Saat ayahku sepertinya akan menghembuskan nafas terakhir, pamanku membawa aku dan adikku pulang ke rumah dan kami disuruh makan dulu, baru boleh kembali ke rumah sakit. Sebelum aku pergi, aku mendengar ayahku terbatuk, dan perasaanku sungguh tidak enak.

    Saat perjalanan kembali, pamanku mendapat telepon, dan dengan raut muka yang sungguh tergoncang, ia berkata bahwa ayah telah meninggal dunia. Aku sama sekali tidak percaya hal itu, dan adikku sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Sewaktu bergegas memasuki ruangan ayah, aku mendengar raungan tangis dari kakak perempuanku.

    Kata paman dan bibiku, ibu tengah mengurus dokumen pemakaman dan juga tanggungan polis asuransi jiwa dan kesehatan yang ada. Ayahku sejak dulu tidak setuju tentang asuransi. Ia bilang lebih baik uangnya ditabung untuk memulai usaha tersendiri, namun ibu tetap bersikeras hingga akhirnya ia mulai kerja sampingan guna membiayai asuransi ayah.

    Ia juga berlangganan asuransi untuk kakak, aku dan juga adikku. Biayanya cukup besar, sehingga ia kadang stress putar otak guna membiayai hidup kami setiap bulannya.

    Uang asuransi tersebut cukup untuk membiayai kuliah kakakku dan diriku sendiri. Namun aku malah bermalas-malasan sehingga kelulusanku mundur berapa lama. Mengingat semua peristiwa itu, aku dirundung rasa malu.

    Aku takut.

    Apabila ayahku benar-benar datang kemari, ia pasti marah besar karena kelalaianku di bangku kuliah. Ia bukanlah orangtua yang memukul anak sendiri, tapi perkataanya dapat membuatku merasa begitu bersalah.

    Aku masuk ke rumah, menuju kamarku dan tak lama kemudian hp ku berdering. Dari nomor pemanggil, itu adalah nomor lama ayahku. Saat kuangkat telepon, kudengar suara yang agak serak, beserta deru kendaraan bermotor di tempat.

    Itulah suara ayahku, seperti yang terakhir kali kuingat.

    "Kamu gimana sekarang, masih sehat 'kan?"

    "Ya, sehat selalu."

    "Kuliah udah lulus? Sekarang lagi kerja?"

    "Sudah kerja, ngebantuin gudang om A."

    "Baguslah, ini Papa pulang bawa burger. Kamu besok libur gak, nanti mau keliling kota naik motor."

    "Kayaknya gak ada hari libur, nanti aku tanya bos dulu ya apa gudang ada hari tutup."

    "Okelah, Papa bentar lagi sampai ke sana."

    Setelah kutelepon bos lagi, dia bilang gudang tutup hari Minggu. Lantaran besok Minggu jadi aku bisa keliling kota bareng ayah.

    Seketika, aku tahu kehidupan ini serasa sempurna. Meskipun demikian, hal ini tidak nyata. Aku tidak benar-benar hidup di dunia ini.

    Saat ayahku sampai di rumah, aku melihat tubuhnya yang terlihat muda seperti dulu. Aku tak melihat lagi ada rokok di sakunya. Yang ia ambil adalah kotak permen mint yang ia keluarkan sesekali dan ia kunyah perlahan.

    Ia bawa burger itu langsung dari Amerika, beserta kua-kue lainnya. Di kantong burger juga tersedia kentang goreng yang jumlahnya luar biasa banyak, dengan merk franchise seperti yang kutonton di Youtube. Ia membawa burger sebanyak empat potong. Awalnya sih dua buah itu buatku, satu buat ayah dan satu buat ibu. Tapi aku sekarang sudah tidak banyak makan lagi, jadi potongan burger itu untuk esok pagi sajalah.

    Setelah aku dan ayah selesai melahap hidangan di meja, keadaan hening sejenak. Aku yang kembali bertemu dengan ayah setelah sekian lama, tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Tetapi aku tahu, pertemuan ini tak akan berlangsung lama, entah kapan lagi aku dapat bercakap dengannya.

    Yang kuutarakan malahan hal ini:

    "Pa, aku tidak pantas jadi anak harapan lagi. Saat kuliah aku malas-malasan saja, lulus juga terlambat. Aku juga malas cari kerja dan gak punya keahllian juga, jadinya dapat yang seadanya."

    Ayahku hanya tersenyum sejenak, seakan apa yang kukatakan tidak begitu bermasalah untuknya.

    "Kamu ingat gak pas Papa masuk rumah sakit sebelum kamu masuk kuliah? Saat itu Papa benar-benar gak bisa ngomong, jadi Papa mau menuliskan pesan buatmu. Tapi ya, entah mengapa Papa gak bisa menuliskan apapun diatasnya. Bila Papa paksakan pasti tertulis sesuatu, tapi nyatanya tidak ada yang pantas ditulis. Sama sekali tidak ada yang terpikir untuk dituliskan."

    Sejauh ini, detil yang kuingat hampir serupa dengan kejadian saat ayahku meninggal, ia sama sekali tak bisa menuliskan apa-apa.

    "Sebelumnya Papa mau cerita dulu kenapa Papa gak kontak sama kamu dan yang lain selama ini. Untung saja, kakak Papa yang dokter itu punya kenalan di Amerika. Sebelum nyawa Papa melayang, pesawat sudah sampai di rumah sakit sana dan jiwa Papa tertolong lantaran pengobatan di sana lumayan canggih..."

    Mereka temukan bahwa organ dalam ayahku banyak yang rusak gara-gara minum, merokok dan gaya hidup yang tidak sehat, untungnya organ nya masih dapat pulih. Pengobatan ayah membutuhkan biaya besar, tapi semuanya ditanggung oleh asuransi Mama. Selama berapa tahun ayah ditempatkan di pusat rehabilitasi di mana setiap hari ia disuguhkan menu makan dengan minyak zaitun dan kaya nutrisi. Untungnya ayah tidak pilih-pilih kalau makan.

    "Sekitar satu dua atau tiga tahun Papa sudah kembali bisa beraktivitas seperti biasa, tapi perlu tiga tahun lagi bekerja di sana guna menggantikan biaya pengobatan. Papa kadang ada kirim email ke kamu sama kakak dan adikmu. Ya kamu jawab oke-oke saja kuliahmu dan Papa tidak tanyain lebih lanjut, kamu sudah dewasa sudah bisa menyelesaikan masalah sendiri. Cuma ya, kalau hasilnya begini juga ini mungkin kesalahan Papa sendiri gak bisa jaga kesehatan, jadinya gak bisa langsung mendukung kamu saat kuliah."

    Mungkin apa yang dikatakan ayahku kali ini ada benarnya juga. Lantaran semangat belajarku hilang karena tak ada lagi ayah yang selalu menyemangatiku. Meski demikian, kesalahan terbesar ada pada diriku sendiri. Meski aku tidak belajar giat, jika aku sungguh mengembangkan talenta yang kumiliki, hidupku pasti akan jauh berbeda.

    "Saat awal-awal pengobatan, Papa gak ingat tentang tulisan itu, dan sampai sekian lama baru keingat sekarang. Awalnya Papa nyesel juga, kenapa waktu kuliah kamu di sia-siakan gitu. Tapi saat ingat, ya sudahlah, biarlah ini jadi pengalaman berharga saja."

    Alasan mengapa ayahku tidak menulis adalah.

    Ia merasa tidak berhak mendikte takdir orang lain, meski itu anaknya sendiri dan meski keadannya mendekati maut. Biarlah diriku yang memilih cara menjalani hidup. Entah aku akan menjadi sukses ataupun gagal, itu hasil mengikuti pilihanku sendiri. Toh, aku sendiri yang menyesal, sedangkan orangtuaku akan tetap menjalani hidup, entah aku gagal atau sukses.

    Semakin waktu berlalu, figur ayahku kali ini menjadi berbeda dengan ayahku yang kukenal. Aku tak lagi merasa terharu mendengar perkataannya—ia seketika terasa seperti orang asing.

    Mungkin karena kemunculan ayahku tidak benar-benar nyata, melainkan hanyalah ilusi yang kubuat.

    Meski hal ini tidak nyata, aku jarang dipertemukan dengan ayahku seperti ini.

    Rasa sedihku kembali menusuk saat pemandangan rumahku dan sekitarku mulai pudar—yang tersisa hanyalah aku dan ayahku, yang tubuhnya perlahan-lahan memudar.

    "Jangan sedih, kamu nanti pasti lebih sering ketemu Papa lagi."

    Melihat senyumnya yang begitu tulus, aku hanya dapat berkata lirih:

    "Terima kasih...Pa."

    Xxx

    Segalanya perlahan memudar menjadi suatu ruangan putih. Kesadaranku seperti hilang seketika, sebelum akhirnya aku mendapati diriku di rumah kontrakan. Jam sudah cukup siang, makanan belum kumasak, dan sebentar lagi bos menjemput.

    Aku kembali lagi ke realita yang kubenci, tapi tak apalah.

    Dengan tulisanku, aku dapat menjelajahi dunia lain, dan hidup seperti kemauanku sendiri.

    Entah bagaimana aku sampai pada kesimpulan seperti ini, tapi aku berterima kasih banyak, atas segala hal yang membimbingku selama ini.

    Terima kasih.
     
    • Like Like x 2
  15. Offline

    NodiX Lurking Around Most Valuable Users

    Joined:
    May 7, 2011
    Messages:
    514
    Trophy Points:
    107
    Gender:
    Male
    Ratings:
    +907 / -0
    nice, taruh kenangan trivial seperti masalah pizza ternyata pisang, hal-hal kecil seperti itu bisa ngebangun buat impact klimaks chapternya jadi ngena :top:
     
    • Like Like x 1
  16. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,058
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,990 / -1
    dulu ada pepatah yang mengatakan hal2 kecil lah yang sebenarnya bermakna :cambuk: entah denger di mana :haha:

    anyway thx udah mampir lagi ya :hihi:
     
    • Like Like x 2
  17. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,058
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,990 / -1
    Bab 3 : Hanya untuk Kesenangan

    Berapa minggu telah berselang semenjak aku mulai bekerja. Aku mulai terbiasa akan segala rasa sibuk dan penat yang dialami sekarang. Setelah libur sehari lantaran tanggal merah, pekerjaan juga usai lebih awal. Meskipun begitu, aku tak bisa santai begitu saja. Lebih banyak waktu luang berarti kesempatan untuk mengembangkan diriku sendiri, terutama dengan kembali menulis.

    Aku ingin menulis banyak hal yang menyenangkan. Mungkin, aku harus kurangi keluhan dan perbanyak bersenang-senang.

    Kesenangan terbesarku di dunia ini adalah bermain game. Setelah aku nantinya menjadi orang kaya dan tak perlu bekerja lagi, apabila aku tidak menulis, sebagian besar waktuku mungkin dihabiskan bermain game. Permainan favoritku adalah RPG. Aku tidak terlalu mahir bermain game, jadinya aku tak menyukai permainan yang sulit.

    Alasan mengapa aku menyukai RPG adalah, proses membangun seorang karakter dari bukan siapa-siapa menjadi pahlawan super kuat. Belum lagi aku menyukai tipe cerita yang disajikan dalam permainan tersebut. Mengikuti kisahnya dari awal hingga akhir membuatku serasa tumbuh dan berkembang bersama karakter utama, dan teman-temannya seakan sahabatku sendiri.

    Untuk sekarang ya, lantaran disibukkan dengan pekerjaan, aku rata-rata membaca cerita saja. Entah mengapa, baru-baru ini aku selalu membaca cerita yang berbau seks. Bukan cerita orisinal, namun parodi dari beberapa anime maupun permainan yang kugemari. Mungkin karena aku merasa kesepian lantaran masih jomblo?

    Ya, tidak juga. Aku memang menyukai hal-hal semacacam itu, dan jika aku punya pacar sekalipun, kemungkinan besar impian bersanggama selevel alam fantasi juga tidak bakal terwujud. Terlebih lagi, lantaran tipe cerita seks kegemaranku, memiliki suatu hal tertentu yang tak realistik.

    Aku ingin menjadi seorang gadis kecil yang memiliki harem berisi gadis cantik. Bonus poin jika gadis kecilnya punya onderdil tambahan. Jangan tanyakan mengapa, tapi aku tidak begitu suka bila di banyak cerita, semuanya berpusat pada MC tipikal laki-laki yang membosankan. Meski memang tipe cerite yang karakter utamanya gadis kecil dan mereka suka begituan seperti kegemaranku, entah mengapa aku tidak kunjung puas juga.

    Iya itu cewek berdua ciuman terus aja duabelas episode, sambil naik truk bermotif bunga sakura.

    Ah, mengapa selera mereka jelek sekali. Aku tak mau romantika membosankan seperti itu, terlalu banyak sensor dan undertone. Hei H*m*ra cium M*d*ka sana, pergi ke tempat tidur dan lakukan adegan matras. Ah, cerita mereka begitu mengesankan secara absurd, sampai setiap karakternya juga dapat menjadi bahan imajinasi yang menyenangkan--terutama H*m*ra dan M*d*ka.

    Tanpa kusadari, aku mungkin benar-benar seorang maniak, makanya aku tidak mau cari jodoh—tidak ada yang bakalan cocok juga. Meski aku sendiri laki-laki, aku tidak bersyukur akan kebebasanku. Tidak bersyukur atas diriku yang hidup di dunia nyata, dan lebih memilih hidup di dunia anime di mana aku dapat menjadi seorang gadis kecil dengan ekstra dempul dan spare-part, pembuat harem waifu.

    Mungkin ya, karena aku merasa bosan dengan dunia nyata, aku jarang sekali jalan-jalan, bahkan saat aku masih NEET sekalipun. Bagiku, perjalanan paling menyenangkan ada di alam mimpi, dalam bumi imajinasiku.

    Ah, rasanya apabila aku dapat terus terjun ke dunia anime yang begitu menyenangkan, betapapun santainya aku saat ini, aku tidak apa-apa deh meninggalkan kehidupan ini. Mungkin beginilah mengapa cerita dengan trope 'dunia lain' begitu populer.

    Karena banyak orang pecinta anime yang kecewa dengan kenyataan juga sepertiku.

    Ya sudahlah, bila aku bicarakan topik ini, mungkin kegilaanku akan semakin jadi saja.

    Xxx

    Tahun 20XX, terdapat permainan game online virtual. Salah satu fiturnya adalah kapabilitas emulasi indra peraba yang begitu nyata. Segala sentuhan, bau dan raba akan terasa seperti sungguhan. Teknologi yang sungguh ideal untuk menjajakan permainan seks virtual.

    Tak peduli penampakan orang tersebut di dunia nyata, ia dapat menjadi apapun yang ia inginkan. Entah monster tentakel, sapi perah, tanaman hias, mesin ATM, gadis kecil dengan onderdil, nenek-nenek, maupun tiang listrik. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan sistem avatar dengan kustomisasi yang sangat mendetil.

    Mendesain perwujudan dirimu di dunia sana, sedetil apapun yang kau mau. Bahkan ada yang dapat menghabiskan waktu berminggu-minggu hanya untuk mendesain karakter idaman mereka dan sama sekali belum bermain. Selain mode online, pemain juga dapat berinteraksi dengan dunia offline, yang rata-rata diisi karakter AI.

    Meski demikian karakter AI sudah berkembang sangat canggih sehingga agak sulit membedakannya dengan pemain manusia. Selain daripada karakter AI yang disediakan oleh game dan jumlahnya sangat banyak, pemain juga dapat menciptakan karakter AI tersendiri, sama seperti membuat avatar, namun ada kustomisasi lebih lanjut, yaitu preset kepribadian juga.

    Apabila mendesain avatar dapat memakan waktu berminggu-minggu, karakter AI bisa berbulan-bulan. Dengan perkembangan sharing data, segala macam avatar maupun AI dapat di-share dan setiap aspeknya bisa dimodifikasi sesuka hati.

    Pemain juga dapat membuat karakter AI dengan desain yang sama dengan avatarnya, dan di akhir-akhir mungkin akan terlihat aneh memacari klon sendiri, tapi ya, selera setiap orang berbeda-beda.

    Hal yang membedakan offline dan online adalah mode 'cheat'. Dengan menggunakan command tertentu, pemain dapat langsung melakukan seks dengan AI tanpa perlu menjalin hubungan romantis terlebih dahulu, ataupun secara instan menjadi romantis ataupun me-reset progress hubungan, sehingga AI tidak mengikuti pemain lagi.

    Intinya, permainan ini adalah dunia virtual. Kau dapat melakukan apa aja layaknya dunia nyata.

    Suatu hari, terdapat seorang pemain. Ia laki-laki berusia tigapuluh tahunan, dan masih lajang. Ia menciptakan avatarnya sendiri, gadis berusia remaja dengan tubuh semampai, dada sedang, rambut perak sepinggang, namun diantara selangkangannya terdapat onderdil mesin sepanjang duapuluh sentimeter. Gadis itu mengenakan pakaian gotik, namun tanpa pakaian dalam.

    Sejauh ini, tidak ada yang mengherankan. Ada banyak pemain pria yang membuat avatarnya begitu provokatif bahkan di dunia online, dan lantaran suara mereka dalam permainan dapat diubah sesuka hati, menyesuaikan dengan karakter, dan mereka tidak bicara langsung di dunia nyata saat mengeluarkan suara—ya, banyak yang mencoba-coba mengeluarkan suara aneh dengan karakter mereka.

    Mungkin terasa menjijikkan jika membayangkan apa yang terjadi di dunia nyata saat itu, tapi untungnya mereka hanya sekedar merebahkan diri di kasur.

    Ya, pada kenyataan, pemain pria melakukan seks bersama pemain pria yang lain, dengan kamuflase gadis cantik dengan gaya provokatif, entah sendiri; berdua; bertiga; maupun berseratus--itu sudah biasa. Untung saja di sana tidak ada penyakit kelamin. Kadang mereka tahu identitas masing-masing di dunia nyata, tapi tetap ada yang menikah juga, hanya untuk di sana.

    Hal yang tidak biasa adalah, seorang pemain pria yang membuat avatar pria dengan penampilan tidak menarik, datar, dan hidup tanpa melakukan seks sekalipun, layaknya diri mereka di kehidupan nyata—bahkan di mode offline.

    Yang dilakukan pemain pria berusia tiga puluh tahunan ini lebih tidak biasa lagi.

    Ia berjalan bugil dengan avatar gadis dengan dempul nya di tengah jalan, lalu menggunakan tool copy paste untuk menempelkan klon onderdilnya pada setiap pixel di dunia itu.

    Setelah ia selesai, maka ia akan mengekspor dunia tersebut untuk di download pengguna dari seluruh bumi.

    Seaneh apapun hobi seseorang, dalam suatu komunitas yang besar, pasti ada setidaknya satu atau dua peminat.

    Untuk karyanya yang diunggah, setelah satu minggu telah diunduh sebanyak dua ratus juta kali.

    Ya, begitulah. Mungkin melakukan sesuatu untuk kesenangan dapat berakibat positif.
     
    Last edited: Jan 29, 2017
    • Like Like x 1
  18. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,058
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,990 / -1
    Bab 4 : Serius tapi Santai

    Kadang aku berpikir demikian mengenai suatu fenomena 'writer's block'.

    Hal tersebut muncul apabila ada ketidakcocokan antara penulis dengan apa yang mau ditulis, sehingga mereka buntu. Alhasil bila dipaksakan, tulisan tersebut malah jadi semakin hambar.

    Mungkin bisa dibilang, tulisan yang bagus tidak semata-mata muncul lantaran penulis itu hebat. Bila cemerlang dalam segi teknis sekalipun, tak menjamin tulisan tersebut dapat memikat hati. Seorang penulis dikatakan hebat lantaran ia membuat karya yang spektakuler, namun tak ada jaminan karya selanjutnya akan sama baiknya.

    Aku tak tahu bagaimana pastinya seorang dapat menelurkan karya fenomenal. Yang kutahu ya, alangkah nikmatnya jika apa yang dituliskan terasa begitu cocok—seperti karya untuk dibuat diriku seorang. Memang, orisinalitas suatu karya dapat dpertanyakan, tapi bila untukku, tak perlu karya yang terasa orisinal untuk memikat.

    Intinya kurang lebih sama dengan mencari jodoh. Apabila kutemukan cerita yang cocok, aku akan jatuh hati padanya. Berbeda dengan jodoh, cerita tak perlu menerima ataupun menolak cintamu, kau hanya cukup memilih yang tepat saja untuk mendapatkannya.

    Aku suka cerita fantasi lantaran saat kecil aku begitu tertarik dengan permainan RPG, namun jika sedang merasa letih, aku menikmati cerita santai dan tenang saja—cerita komedi juga kugemari.

    Aku bukan fans romantik maupun drama layaknya sinetron. Buatku hal tersebut tidak terlalu enak bila dibuat ruwet panjang lebar, mending dibuat simpel sajalah lalu dikemas dengan adegan seks sesuai preferensi masing-masing. Jika segi romantik nya jadi tempelan buat cerita kesukaanku juga tidak apa. Tapi ya, tergantung ceritanya juga.

    Ada beberapa yang kurang lebih memikat hati, meski kulitnya tidak terasa menarik. Daya tarik suatu kisah memang begitu misterius. Awalnya memang sekitar 'kutahu yang kumau' namun bisa saja kenyataan nya lebih mendalam.

    Ya sudahlah, anggap saja aku dapat menikmati berbagai cerita tergantung mood.

    Xxx

    Ada seorang gadis kecil berdiri di padang salju. Tubuhnya diselimuti cahaya putih, dan sejauh mata memandang, tidak ada rumah maupun pepohonan. Sejauh mata memandang, hanya dataran putih tanpa ujung, disertai angin dingin yang membekukan tulang. Ia tetap berjalan lurus tanpa merasakan adanya hawa dingin.

    Berada dalam cahaya putih membuatnya hangat, seperti berendam di bak air hangat kala hujan. Langkahnya lunglai dan matanya berat—gadis itu ingin tidur. Akankah ada rumah tinggal di depan mata? Meski hawa dingin tak terasa, desir angin sengit membuatnya tak tenang.

    "...tolong, siapa saja....tampakkan rumah.....mau tidur..."

    Sembari berjalan, si gadis menangkupkan tangan, memohon pada dewa untuk diberi mukjizat. Doa itu serpancar kuat hingga menembus langit, membangunkan sang dewa yang tengah tertidur sejenak di ruang takhta. Ia melihat seorang gadis kecil yang imut dan manis, terjebak di tengah gurun salju. Pemandangan itu terpancar dari cermin ajaibnya.

    "Ini zaman es tahu. Mana ada orang, monyet aja belom." katanya sebal.

    Sang dewa bingung: bagaimana mungkin ada manusia? Sekarang belum zaman mereka. Pasti gadis itu bukan manusia, namun anak dewa lain yang terjatuh dari surga. Ia menangkupkan tangan pada dagunya sembari menelisik gadis itu. Rambutnya yang perak seperti salju, matanya biru tuanya bak laut dalam, tanpa sehelai benang pun di badannya selain cahaya putih. Paras begitu menawan hingga membuat sang dewa menatapnya seksama.

    "Itu anakku!" teriaknya, ia langsung menyuruh segenap bawahannya ke bumi untuk membawa anaknya kembali.

    Tak lama kemudian, sang gadis dihadapkan pada ayahandanya di ruang takhta. Sekarang ia mengenakan baju tidur yang mewah layaknya tuan putri.

    "Pa."

    "Apa sayang?"

    "Di bawah gak ada burger."

    "Belum zamannya sayang."

    "Sekarang adanya apa dong?"

    "Pizza."

    "Buat besok aja deh, aku mau tidur dulu."

    "Pizza nya ada di kulkas ya, nanti minta bibi panasin dulu."

    "Iya."

    Dengan langkah gontai, tak mempedulikan ajudan ayahandanya yang bingung seribu bahasa, sang gadis pergi ke kamarnya, minum air putih, gosok gigi lalu tidur.

    "Mengapa aku di sini? Aku 'kan sebenarnya wibu tiga puluh tahunan—tapi di sini aku jadi loli."

    Wibu adalah para pencinta anime tingkat kronis. Loli itu istilah wibu untuk gadis kecil nan imut.

    Tak peduli di sini tak ada laptop, komputer, koneksi internet dll, si gadis tertidur lelap. Ia bermimpi tentang kehidupan masa lampaunya yang indah. Dengan kerja sampingannya di internet, ia hidup tanpa bantuan orangtua. Meski rumahnya jelek, sempit dan tidak bersih—ia bahagia dapat menyetel bokep, anime dan hentie sebanyak apapun yang ia mau.

    Ia terbangun di sebuah ruangan batu keabuan dan di sekat-sekatnya tertambat kerikil mengkilat redup. Cahaya mentari berhambur masuk dari jendela—dari tempat itu hanya terbujur areal kastil dan di bawahnya terdapat awan.

    Yang membuatnya sadarkan diri ialah sinar terang dari jendela. Ia sontak menyelipkan tubuh kecilnya ke selimut; memeluk guling erat-erat dan bergulir di kasurnya. Meski cahaya mentari masuk, hari tetap dingin. Ia mulai rasakan seantero tubuhnya menggigil—ia masuk lebih dalam pada selimut tapi hawa dingin tak kunjung reda.

    Terdengar ketuk pintu sebanyak tiga kali; suara tersebut menggema di seantero ruangan.

    "Tuan putri. Pizza nya sudah dimasak. Ada roti bawang, saus tomat, susu dan juga salad."

    Suara wanita yang bisa dibilang tak muda. Apabila itu wanita muda, mungkin si gadis akan langsung nafsu. Meski ia sekarang jadi loli, tapi di dalam ia masih perjaka wibu tiga puluh tahunan. Lantaran ia menggigil dalam selimut, ia tak langsung keluar untuk melihat rupa si pengantar makanan. Pintu dibuka sejenak, dan terdengar denting piring yang ditaruh di atas permukaan kayu.

    Berapa menit kemudian, si tuan putri merasakan deru api lembut dan seketika udara menjadi hangat. Ia teringat akan panasnya kota besar, lingkungan sekitar kampus yang begitu terik pada sore hari, namun di sini panasnya lebih seperti berjemur kala pagi.

    Ia mengambil sendok garpu dan mulai makan. Rasanya agak aneh lantaran tak ada nasi. Biasanya pagi ia tak disuguhkan makanan seperti ini—ia jalan ke warteg dekat rumah dan makan nasi dengan tahu tempe, telur dadar dan kuah kari ayam.

    Sudahlah, syukur tak perlu ditolak, batin si tuan putri.

    Meski tubuhnya kecil, ia rasakan nafsu makannya yang besar masih ada. Seperti lelaki dewasa yang kelaparan ia lahap hidangan yang tersedia. Sudah semenjak lama ia terakhir kali begitu lapar. Mungkin lanataran makanannya sungguh enak, pikirnya.

    Seperti mengawasi tuan putri makan hingga selesai, wanita yang mengantar makanan langsung membuka pintu dan berjalan kearahnya. Wanita itu parasnya cantik bukan main dan terlihat muda; suaranya saja yang agak berat. Saat pengantar makanan itu bertemu pandang dengannya—si tuan putri merasakan panas di wajah.

    Rasa hangat itu seketika menjalar hebat saat wanita itu mengelap wajah si putri dengan tisu sambil tersenyum lugu.

    "Apa tuan putri tertarik denganku?"

    Mendengar pertanyaan itu tiba-tiba, si gadis kecil langsung merah padam. Ia di dalam masih seorang lelaki yang suka wanita cantik, tapi tak berani mengutarakannya. Sekarang, menyadari tubuhnya adalah seorang gadis, anak-anak lagi—perasaannya jadi tidak enak.

    Tapi yang keluar dari bibir mungilnya adalah:

    "Kamu cantik."

    Entahlah apabila ia keceplosan bicara, mungkin lebih seperti—ia sungguh tak ingin mengatakan itu, tapi sesuatu yang tak ia sadari membuatnya bicara apa adanya.

    "Terima kasih."

    Si pelayan memeluk tuan putri, hingga wajah mungil itu bersandar pada dadanya yang besar. Ia lalu mencium pipi gadis tersebut kemudian berjalan keluar membawa piring bekas makan; ia terlihat riang.

    "...apa yang sebenarnya terjadi?" gumam si gadis

    Setelah makan ia berkumur sejenak dengan larutan biru; ia rasakan nafasnya segar dengan sensasi mint. Lantaran dirinya sudah terjaga, ia sadar akan penampakkan wajah dan tubuhnya depan cermin kamar mandi. Gadis berambut perak sebahu dan mata biru tua yang berkilau. Rambuta tak rapi lantaran baru bangun tidur dan piyama yang berantakan. Tubuhnya kecil mungil dan dadanya masih rata.

    "Wah, seperti karakter anime saja." batin si tuan putri, mukanya begitu merah seperti saat ia menggunakan kacamata virtual untuk menjadi waifu idamannya sendiri.

    Tak perlu mencubit pipi maupun menampar wajah imut itu. Yang ia lakukan hanyalah membuat ekspresi aneh depan cermin: menjulurkan lidah seperti meledek; tersenyum lebar; mulut mengganga, maupun pandangan seorang adik kecil yang ingin menyatakan perasaannya.

    Lantaran melihat ekspresinya yang sungguh kaku, tuan putri tertawa cekikikan.

    "....beginilah rasanya menjadi seorang loli? Untung saja aku bukan permen." ucapnya pelan, menganggap lelucon nya menggelikan tapi agak memalukan.

    Menyadari suaranya lucu, dengan nada tinggi layaknya karakter anime, ia coba menyuarakan kalimat yang biasa dikeluarkan karakter loli.

    ....namun ya, lantaran ia tak pernah berakting suara demikian, malah jadinya terdengar aneh dan tak natural; Ia cekikikan lagi. Ia sedikit menyesal mencoba hal itu—rasa malu menyelimuti si gadis kecil dengan rupa karakter loli tapi tak mahir berakting jadi loli.

    "Gaya bicara naturalku memang lebih pada kuudere sih. Ya sudahlah, bawa santai saja."

    Kuudere adalah istilah wibu untuk karakter yang kalem dan relatif tak banyak bicara.

    Omong-omong soal bujang, tuan putri merasa takut apabila nanti dijodohkan dengan seorang lelaki. Ia tak nafsu dengan laki-laki, mending sih kalau mereka itu model Trap alias kelihatan seperti wanita saja, tapi bila dihadapkan dengan om-om mesum pedo, ia langsung ingin terjun dari jendela.

    "Si mbak tadi keliatannya agak lesbi, tapi buat yang lain gimana ya, entahlah."

    Apakah itu berarti om-om full armor yang membawanya ke sini ternyata homo? Rasanya belum cukup pengamatan sih.

    Ia penasaran, dunia macam apakah yang ada di luar sana? Tapi kebiasaan lamanya muncul—ia tidak ingin keluar ruangan. Saat matanya mensuri seantero kamar, ia tak temukan ada laptop maupun komputer dan TV. Yang ada hanyalah rak buku yang setengah penuh. Ada juga meja makan tempatnya tadi beserta meja rias—ia tidak begitu tertarik soal itu.

    Kadang ia bingung juga: biasanya karakter utama di anime, saat mereka berubah menjadi gadis, hal pertama yang biasa dilakukan adalah meraba-raba tubuh sendiri. Kalau di komik bokep biasanya lebih lagi, tapi kelanjutannya tidak begitu disukai tuan putri—ujungnya juga jadi PSK dan digilir sama om-om tidak dikenal.

    "Apa aku suka loli? Entahlah. Yang kutahu wanita tadi memang tipeku."

    Gadis itu mulai berpikir mesum tentang si pengantar makanan. Biasanya saat ini, akan ada suatu benda keras yang menyembul dari celana—tapi kali ini tak ada apapun. Meski sayang onderdil itu tak ada lagi, artinya ia dapat berpikir mesum sesuka hati, hore.

    Sebelum dirinya mulai bergairah dan melakukan hal yang aneh-aneh, terdapat ketukan di pintu. Muncul seorang pria tanpa wajah dan suaranya seperti arwah penasaran.

    "Tuan putri. Tuan besar memanggilmu ke ruang takhta."

    Melihat penampakkan orang yang berjas, berdasi dan tanpa wajah membuat nafsu birahi si gadis hilang seketika. Ia menarik tangan kanan dari roknya lalu tersenyum simpul.

    "Baiklah." ucapnya lirih.

    Dari belakang kelaki tanpa wajah yang ternyata kepala pelayan, berjalanlah berapa orang pelayan wanita yang muda dan cantik. Pikiran mesum si tuan putri menyembul lagi.

    "Mereka akan menggantikan pakaian tuan putri."

    "....aku mandi saja belum."

    "Okelah, nanti mereka juga akan memandikan---"

    "Asyik." ujarnya

    Saat dipulangan ke tempat ini pertama kalinya, ia juga dimandikan dahulu, lantaran kondisinya yang memprihatinkan saat itu, ia tak ingat jelas apa yang terjadi. Ia kembali memikirkan skenario yang tidak-tidak, membuatnya bersin sejanak.

    Kenyataan tidak demikian, lantaran yang dilakukan para pelayan hanyalah membukakan pakaian, menaruh tuan putri di tangki penuh air lalu menuang berbagai cairan dalamnya. Ia bahkan tak dapat melihat tubuhnya sendiri lantaran dihalangi cahaya putih. Setidaknya ia bisa bernafas lancar di air dan matanya tdiak pedih sama sekali.

    Praktis hal dimana si gadis bernafsu ialah saat pakaiannya dibuka, dan juga saat dipakaikan baju baru, terutama pakaian dalam. Ia hampir mimisan berkali-kali lantaran ia dipakaikan baju depan cermin.

    Tak lama kemudian ia selesai berpakaian. Bajunya yang bernuansakan lolita gotik dengan ikat rambut di samping membuatnya terlihat seperti E*il*a, yang membuat dirinya sebal—lantaran yang ia suka itu R*m.

    "Ah menjengkelkan sekali." batinnya.

    Memang penampilannya saat ini begitu memikat hati, bahkan pelayan yang memakaikan baju tadi sampai terlihat bernafsu, meski sesama gadis. Untuk tuan putri sendiri, ia masih kesal lantaran penampilannya saat ini mengingatkannya pada karakter itu.

    Saat ia keluar, berbaris gerombolan pria berbaju zirah. Untung saja mereka tidak berkata 'wahai tuan putri' setiap kali ia lewat. Saat mereka diam pun perasaannya tidak enak. Sebagai seorang yang tidak suka jadi pusat perhatian, hal itu sungguh menyiksa. Berbagai pandangan mata tertuju ke arahnya; mungkin karena kecantikan si putri, tapi ia pikir lebih baik balik kembali jadi perjaka wibu saja. Syukur-syukur bila ia keluar rumah juga tak akan ada yang peduli.

    Jalannya agak sempoyongan meski ia sudah mengganti sepatu hak tinggi dengan sendal jepit. Ruang takhta rasanya jauh sekali—ia ingin kembali ke kamar terus tidur lagi. Saat ia sudah sampai, sang dewa menyambutnya biasa saja.

    "Udah makan?"

    "Iya."

    "Ya udah, kamu istirahat lagi aja."

    Tuan putri melongo. Jadi sang dewa memanggilnya hanya untuk bertanya dia sudah makan atau belum? Yang benar saja. Dia tahu kalau SMS itu ada 'kan? Tidak? Eh, bila dipikir-pikir dunia ini masih primitif. Tidak ada internet, komputer saja belum ada.

    Awalnya ia mengira panggilan ini perihal penting seperti perjodohan, tapi bila demikian, ia juga tak mau banyak mengeluh.

    Saat tuan putri cepat berjalan ke arah pintu, sang dewa berkata sejenak.

    "Oh iya."

    "Ada apa?"

    "Apa kau ingin kembali ke duniamu?"

    Seperti mengetahui isi pikiran si tuan putri, sang dewa berkata lantang.

    "Sebenarnya sih nggak. Aku cuma bosan saja tanpa internet dan komputer."

    "Hmm....."

    Sang dewa berpikir sejenak. Setelah diam seribu bahasa berapa lama, ia berkata lagi.

    "Apa kau yakin tidak ingin menikmati hidup sebagai seorang loli?"

    Pertanyaan yang agak sulit. Selain dari internet dan komputer, kehidupannya tak begitu nyaman. Di sini kamarnya besar, bersih serta rapi. Dunia ini cukup menarik juga untuk dijelajah.

    "Sebenarnya aku bosan juga hidup tigapuluh tahun dan tidak menjadi apa-apa. Biarlah aku coba tetap di sini."

    Setidaknya di sini aku menjadi loli, pikirnya.

    "Baiklah, tapi sebelum kau mengambil keputusan final. Kuceritakan dulu mengapa kau sampai berada di tempat ini."

    Menurut legenda urban, seorang yang tak pernah berhubungan seks sampai berusia tiga puluh tahun akan terlahir kembali menjadi seorang peri ataupun gadis kecil. Ada juga yang mengatakan bahwa ia akan langsung menjadi tukang sihir. Kedua legenda ini benar adanya, namun tak semua orang yang bernasib demikian akan mendapat hasil yang sama.

    Kenyataannya, hanya sebagian kecil orang yang serta-merta dipanggil menjadi peri ataupun tukang sihir. Ritus ini terjadi melalui kematian, entah saat masih muda ataupun sudah berusia cukup lanjut untuk mendapat ajal.

    Sebenarnya, tak mesti seorang yang perjaka ataupun perawan saja yang mendapatnya. Alam semesta mencari jiwa dengan vibrasi yang cocok, dan hanya sedikit dari mereka yang memilikinya, dan berada pada kondisi yang optimal untuk 'dipanen'. Saat itulah ajal datang menjemput, dengan campur tangan para dewa, untuk mendapatkan peri maupun penyihir baru.

    Mereka dianggap sebagai anak para dewa sendiri, dan tugasnya adalah membantu mengelola dunia yang ditinggali dewa tersebut.

    "Di seantero alam semesta paralel, dunia berada pada zaman yang berbeda-beda. Terdapat tempat semacam ini yang tak terhitung jumlahnya. Maaf sekali aku memberimu ilsui bahwa kau punya pilihan."

    Tuan putri hanya menghela nafas. Setidaknya ia tahu dua hal:

    Ia tetap bisa terus hidup sebagai loli imut.

    Kedua, ia punya kekuatan magis. Mungkin dengan hal tersebut ia dapat mengembangkan komputer dan internet, lalu menghubungkannya ke alam semesta lain untuk mendapatkan hiburan.

    "Aku ingin main komputer."

    "Baiklah, akan kubentuk tim riset. Jadikan keinginanmu bersenang-senang sebagai tonggak keberhasilan kerajaan kita, tuan putri."

    "Oke, pa."

    "...dan meski ini zaman es, mari kita buat riset tentang burger. Sudah lama sekali aku tak makan burger."

    Sebelum sang dewa selesai berkata, tuan putri sudah keluar kamar dan langsung berdiskusi dengan para cendekiawan untuk membuat komputer dan jaringan internet untuk dihubungkan ke alam semesta lain.

    Ia sungguh ingin menonton anime dan terutama hentie lagi.

    Semangatnya yang membara, sungguh akan menjadi salah satu tonggak keberhasilan kerajaan itu.

    Di sisi lain, si pengantar makanan merasa begitu bersalah. Apakah ia kini menjadi seorang pedo? Tak apalah, ia ingin menjadi lebih baik lagi, sampai ia pantas untuk menikah dengan tuan putri. Dalam tidurnya, ia mimisan memikirkan dirinya menggendong si gadis kecil, keduanya dengan gaun pengantin yang indah.

    ...sedangkan tuan putri sendiri berpikir tentang makanan lezat apalah yang akan dibawa si pelayan.

    Hari terus berlalu tiada ujung, dan ini hanyalah awal dari perkembangan suatu peradaban dewa yang baru.

    Dengan berbagai pikiran mesum, tuan putri meninggalkan kehidupan perjaka wibunya dan hidup kembali sebagai loli imut.

    Begitulah.
     
    • Like Like x 1
  19. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,058
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,990 / -1
    Bab 5 : Aku dan Duniaku

    Kadang aku berpikir: betapa indah jika menulis dapat mengubah hidupku menjadi lebih baik. Salah satu keinginanku adalah berganti kerja yang lebih santai dan ada hari liburnya. Hari ini, sepertinya sibuk sekali dan saat aku pulang hari sudah larut malam--rasanya sungguh letih. Sebenarnya sih, aku hanya bekerja sebagai status sosial saja, dan orangtuaku selalu ikut campur masalah ini. Aku hanya ingin menyenangkan hati mereka semata.

    Bila mereka bilang aku tak harus bekerja, ya aku tak akan seperti ini juga. Mungkin setiap hari aku hanya akan bermalas-malasan. Kadang aku sebal juga, mengapa sih semua orang harus kerja? Boleh tidak, ada orang yang punya bakat alaml, sehingga uang datang sendiri dengan mudah, sampai ia begitu kaya dan bisa berkata demikian: 'aku sudah kaya, dan bakal terus kaya, ngapain capek-capek bekerja lagi'.

    Jika aku sudah punya keahlian itu, pasti orangtuaku akan tutup mulut--kakakku akan berhenti mengomel juga. Tapi ya, meski aku letih, setidaknya aku tak merasakan depresi sebanyak ketika aku masih menjadi seorang NEET. Di sini juga aku tak perlu peduli akan perut lapar.

    Ya, seletih-letihnya aku, masih lebih sengsara juga apabila aku letih dan tidak dapat makanan lagi. Begitulah perasaanku saat berada di kota besar dan mencoba mengasah keahlian menulisku. Terkadang aku merasa sungguh stress mesti begini begitu, namun di sini, saat bekerja di gudang, yang aku perlukan hanyalah berkonsentrasi dan letih yang ada hanya letih badan saja. Praktis tidak ada pekerjaan yang begitu menguras otak.

    Mungkin bila bekerja kantor akan ada hari libur, tapi beban pekerjaannya mungkin jauh melebihi di gudang, yang praktis hanya mencatat barang masuk dan keluar—terkadang membantu angkat barang juga. Jam kerja di gudang kurang lebih sama dengan orang kantoran, namun di sini jarak dari rumah dan tempat kerja pendek, tidak macet dan tak berpolusi, belum lagi saat tidak ada barang masuk maupun keluar aku masih bisa mengakses laptop maupun bermain hp.

    Saat di kantor, pekerjaan jalan terus, dan saat bermain hanya pas istirahat saja. Sedangkan di gudang, pekerjaan rata-rata hanya datang saat ada truk yang masuk. Kadang bisa sibuk sekali, tapi selebihnya nongkrong saja. Gajinya memang tidak seberapa, tapi pekerjaannya tidak begitu membebani pikiran, plus sebagian besar biaya sudah dapat tanggungan dari gudang nya.

    Gudang tempatku bekerja biasa mengangkut barang pesanan dari toko milik pamanku. Di sana tersedia makanan yang lezat, dan kalau mau makan di luar, ada warung yang biaya makannya ditanggung mereka. Saat sore hari kadang dikasih gorengan atau kue-kue.

    Aku belum pernah merasakan benar-benar kerja kantor. Sebelum aku berakhir di tempat ini, aku memang pernah bekerja sedikit di kantor saudaraku. Tempatnya cukup jauh dan berat di ongkos untuk pulang pergi. Memang bila makan siang tempatnya cukup mewah dan jamnya cukup santai, tapi ya, sebenarnya aku tidak bisa dibilang bekerja juga, hanya sekedar membantu saja.

    Di sana, saat aku meminta pekerjaan, hanya sedikit saja yang diberi, dan sebagian besar aku tak melakukan apa-apa. Setelah sekitar satu setengah bulan berlalu, aku juga tidak ada kabar mendapat bayaran sama sekali. Sepanjang hari aku agak merasa was-was untuk bermain—aku juga kadang kena marah dari orangtuaku gara-gara ini.

    Berbeda saat di gudang, saat tidak ada barang masuk, tak ada rasa bersalah untuk bersantai dan bemain. Bosku sendiri cukup santai kok, tapi apabila ada pekerjaan ia sigap sekali. Apabila ia tidak memperbaiki kesalahanku, mungkin gudang bakal jadi kacau. Kuli gudang di tempat ini juga rata-rata kompeten dan dapat dipercaya.

    Sejauh ini pekerjaan lancar saja, namun aku ingin sesuatu tentang pengelolaan stok gudang. Jadi setiap data masuk bisa diarsip melalui file dan disimpan online lewat 'cloud saving' di mana data akan awet sepanjang masa. Kalau dengan hal yang kukerjakan sekarang.

    Lantaran aku biasa pulang duluan sebelum bos tutup gudang, mungkin ada barang yang masuk jadi data kemarin kurekap keesokan harinya. Biasanya kutulis dulu pendataan barang yang masuk dan keluar di sebuah buku, lalu kupindahkan data tersebut ke laptop. Bila laptop maupun buku itu hilang, jadinya bakalan gawat.

    Aku juga agak merasa kasihan dengan bosku sebelum ini, apakah dia kerjanya seorang diri? Memang dulunya ia menjadi asisten pamanku yang sekarang fokus mengelola toko, tapi tak tahu seberapa keraskah ia bekerja saat dulu. Pas aku berhenti bekerja tahun depan dan kembali lagi menulis, aku harap ia akan mendapat pengganti yang kompeten, tidak sepertiku.

    Saat hal itu terjadi, aku juga berharap, bahwa aku punya alasan yang kuat untuk berhenti, dan akhirnya dapat mulai merealisasikan mimpiku sendiri.

    Akhir kata, mungkin pekerjaan ini bukanlah yang paling enak, namun untuk orang sepertiku ini bisa jadi hal terbaik yang dapat kukerjakan saat ini.

    Tapi yqa, kadang aku berpikir demikian: apakah aku dapat hidup dengan menulis? Di internet saja aku hampir sama sekali tak punya orang yang mau membaca, entah baik atau buruk tulisanku. Peminat baca rata-rata menghabiskan waktu mereka melihat karya yang sudah terkenal dakan bentuk Web Novel maupun yang sudah dipublikasikan. Ataupun dikenal dari adaptasi dalam bentuk anime dsb. Yang mendapat respon positif.

    Aku tetap tak tahu apakah pengarang ceritanya dapat hidup nyaman. Di negara mereka, biaya hidup begitu mahal. Mereka harus bekerja setengah mati hanya untuk membiayai hidup di kota besar.

    Aku yang hampir seumur hidup tinggal di kota besar juga merasa demikian. Biaya hidup tiap bulan untuk diriku yang hanya tinggal di tempat kos dan tak pernah jalan-jalan saja sudah selangit, apalagi yang suka kesana-kemari. Untuk gajiku sekarang saja, paling-paling hanya cukup untuk membayar kos tiap bulannya saja, makan saja tidak dapat.

    Tempat kos ku di kota besar bisa dibilang cukup berfasilitas sih, namun kamarnya memang kecil tak seperti kamarku di rumah kontrakan sekarang, dan juga saat di tempat orangtuaku.

    Alangkah enak jika sebagai penulis aku hanya perlu mengandalkan koneksi internet, dan hidup di kota kecil dengan biaya rendah.

    Tapi lagi, aku tak terkenal dan mungkin seumur hidupku akan terus demikian—tak dihargai. Bila aku kerja gudang, bila tak sempurna pun aku mendapat makan siang dan bayaran juga. Nah ini? Aku sudah bertahun-tahun giat menulis dan aku tak mendapatkan uang sepeserpun, bahkan yang membaca saja jarang-jarang.

    Mengapa sih aku begitu bodoh dan terus menulis juga? Apakah sekedar karena hobi aku harus membuang waktu menghasilkan sesuatu yang berakhir percuma, lantaran sekedar keseangan belaka?

    Untuk apa berusaha jika tidak akan ada hasil yang berarti? Sudah bertahun-tahun, masih begini saja.

    Mungkin itulah masalahnya, aku tidak berusaha. Saat melihat tips mengenai bagaimana cara menulis, aku tidak begitu tertarik. Aku hanya mau menulis berdasarkan apa yang kuyakini saja, persetan kata orang. Saat berjumpa dengan penulis lain, aku kerapkali merasa idealisme yang kuanut selalu berbeda jauh dengan mereka.

    Terkadang aku merasa, bahwa dunia ini diciptakan untuk para pemenang, namun tak semuanya dapat menang hanya dengan berusaha. Tapi ya, aku tetap sanksi melangkah maju apabila itu tidak sesuai dengan kata-hatiku sendiri.

    Sebenarnya aku ingin melakukan ini atau tidak sih?

    Entahlah.

    Mungkin yang kuinginkan hanyalah kehidupan santai, dan aku ingin agar tulisanku dapat mengubah sesuatu yang ada di alam semesta ini—melepaskan satu persatu belenggu yang membuat hidupku menderita.

    Di akhir perjalanan, seluruh waktu luangku akan ada untukku sendiri. Aku dapat melakukan apapun yang kumau, dan hidup sesuai dengan kehendakku.'

    Begitulah, salah satu impian terbesarku saat ini.

    Hari ini, aku pulang kerja dengan rasa letih. Terkadang, hari-hari yang santai pun akan jadi melelahkan.

    Setidaknya aku akan berusaha lagi, agar tulisanku saat ini menjadi lebih baik. Aku akan mencoba kembali, sampai aku akan berhasil.
     
    • Like Like x 1
  20. Offline

    high_time Senpai Moderator

    Joined:
    Feb 27, 2010
    Messages:
    6,058
    Trophy Points:
    237
    Ratings:
    +5,990 / -1
    Bab 6 : Redup

    Akhir-akhir ini, aku khawatir bahwa talenta yang kumiliki tak akan pernah bersinar. Bahwa segala cerita yang kuharap akan jadi mahakarya, kemungkinan besar tak akan menjadi kenyataan. Keberadaanku sebagai penulis pun jauh dari sekedar diakui. Semangatku kian mengendur, dan hidupku serasa kehilangan arti.

    Terlebih lagi, melihat teman seperjuanganku kandas di tengah jalan. Satu persatu dari mereka berhenti, hingga seluruhnya meninggalkan situs tempatku biasa menulis. Apabila aku seorang diri saja berjalan seperti ini, aku merasa seperti orang gila saja.

    Apakah kegilaan ini ada manfaatnya? Mungkin saja. Beberapa orang terkenal di dunia ini menjadi sukses semata-mata karena mereka berani mengambil suatu tindakan gila. Bila harus menyebutkan suatu contoh, aku mengingat seorang yang memotong sebuah gunung seorang diri selama enambelas tahun.

    Apakah aku mempunyai dedikasi dan kegilaan yang cukup untuk melakukan hal yang sama seorang diri selama enambelas tahun? Ia punya dorongan kuat untuk membantu orang lain. Aku sendiri bagaimana? Sebagian besar hal itu lantaran kepentingan diriku sendiri. Aku ingin karyaku bersinar, dipandang dan membuat berbagai mahakarya—suatu tulisan yang dapat memberikan hal baru nan segar.

    Mungkin, keadanku saat ini ibarat seorang gila yang mencoba memotong sebuah gunung seorang diri. Apakah aku dapat mendedikasikan diriku selama enambelas tahun? Tidak, gunung yang kupotong bisa jadi jauh lebih tebal dan tinggi. Mungkin aku harus mendedikasikan diriku sampai kerja kerasku terlihat. Untuk itu, agar aku tak menyerah, aku ingin melihat suatu bukti bahwa usahaku selama ini tidak sia-sia.

    Segala yang kulakukan ada hasil yang nyata. Seluruh keputusan yang kuambil dari hidup, ada yang baik dan buruk—kuharap aku selalu dapat memilih yang terbaik.

    Biarlah, tak apa aku menjadi gila.

    Apabila kegilaan ini dapat memotong sebuah gunung yang terlihat mustahil, bila ada hasilnya, aku rela kok seumur hidup menjadi orang tak waras.

    Tapi ya, ada satu hal yang sungguh tak pantas mendapatkan dedikasi.

    Permainan gacha.

    Seberapa keras pun kau berusaha, tidak akan ada hasil yang berarti.

    Lantaran semuanya berdasarkan peruntungan, dan hampir seratus persen tidak berpihak padamu.

    Persetan gacha itu.

    Barangsiapa dapat pensiun bermain gacha, niscaya ia akan hidup tenang dan damai.

    Amin.
     
    Last edited: Feb 21, 2017
    • Like Like x 1
  21. Offline

    spinx04 Lurking Around Veteran

    Joined:
    Nov 22, 2009
    Messages:
    1,674
    Trophy Points:
    217
    Ratings:
    +2,535 / -0
    Baru baca sampe bab 2, but this story soooo damn interesting!
    ada banyak moment dimana aku merasa ketusuk karena sempat merasakan hal yang sama. dan ada banyak juga moment yang membuat aku merasa bersyukur
    orific dari high kali ini bener2 bikin pangling karena nuansa yang aku rasakan sama sekali berbeda dengan cerita2 high yang dulu aku baca. Berat, dalam, dewasa, n serasa real banget yang sering bikin aku merasa "itu adalah aku" di banyak tempat.
    bagi aku cerita ini lebih motivating daripada positive thingking bullshit yang aku baca di banyak buku. membuat aku bener2 pingin kelarin project2 yang kebanyakan aku tinggalkan di tengah jalan, termasuk plan buku tutorial yang udah ketunda berapa tahun hanya karena aku terlalu tergantung pada mood, sedangkan aku tahu persis bahwa mood bukanlah sesuatu yang mudah aku dapatkan terlebih dengan kehidupan pekerjaan saat ini.
    I honestly feel really glad that I encounter this story, or may be I'll wasted another year..or years in delaying habit to exact my long forgotten plan with half ass effort.
    Thank you for the story high! [^_^]
     
    • Like Like x 1

Share This Page

About Forum IDWS

IDWS, dari kami yang terbaik-untuk kamu-kamu (the best from us to you) yang lebih dikenal dengan IDWS adalah sebuah forum komunitas lokal yang berdiri sejak 15 April 2007. Di bangun sebagai sarana mediasi dengan rekan-rekan pengguna IDWS dan memberikan terbaik untuk para penduduk internet Indonesia menyajikan berbagai macam topik diskusi.